Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 181


__ADS_3

Setelah satu minggu pernikahannya, Amel kembali masuk kuliah. Kerepotan saat pagi hari pun ia rasakan ketika statusnya sudah menjadi Nyonya Hendra.


Ia harus memasak menyiapkan pakaian suaminya sebelum mandi dan bersiap kuliah. Sampai di kampus tenaga Amel sudah terkuras habis. Waktu pun seakan berputar lebih lama dari biasanya menurut Amel. Apalagi di kampus ia tak memiliki sahabat dekat, karena Nayla satu-satunya sahabatnya sudah tak lagi masuk kampus, alias cuti dalam masa waktu yang tidak bisa ditentukan.


Tepat pukul 12.00 siang Amel telah selesai mengikuti seluruh mata kuliahnya hari ini. Hendra berjanji akan menjemputnya untuk makan siang bersama di restoran yang dekat dengan kantornya.


"Kamu jalan ke sini lewat Aceh?" Tanya Hendra begitu Amel menutup pintu mobilnya.


"Kenapa emangnya mas?"Amel balik bertanya kembali melirik suaminya yang duduk di balik kemudi.


"Lama banget aku udah laper," jawab Hendra yang memang tidak bisa menahan rasa laparnya kecuali lagi puasa Ramadhan.


"Ya ampun Mas, nggak makan sehari nggak bakalan mati kali."balas Amel sambil memasang sabuk pengamannya.


Bibir Hendra mencebik mendengar balasan dari sang istri yang menyepelekan rasa laparnya.


"Ayo jalan nunggu apa lagi? Masih mau ngomel? Ya udah aku tungguin." Ucap Amel yang selalu menantang Hendra.


Tanpa menjawab Hendra pun langsung melajukan kendaraannya.


"Mau makan apa?"tanya Hendra dari balik kemudinya.


"Warteg aja deh, gimana?"


"Ok. Kamu yang bayar. Aku gak megang uang cash." Jawab Hendra yang membuat mata Amel mendelik.


"Nggak mau. Kamu curang. Di sini tuh suaminya kamu bukan aku. Yang berkewajiban menafkahi dan memberi makan itu kamu bukan aku. Yang kemarin aja belum diganti sekarang mau pakai uang aku lagi." Tolak Amel dengan wajah di tekuknya.

__ADS_1


"Aku nggak pernah minjem uang kamu kenapa aku harus ganti, kan aku bilang kamu yang bayarin, bukan aku pinjem dulu nanti aku ganti gitu, nggak usah ngomong masalah nafkah deh aku kan udah kasih kamu kartu ATM aku dan kartu kredit aku. Apa itu masih kurang?"


"Ya nggak kurang, tapi kalau misalnya lagi pergi bareng masa ya aku yang harus bayar, ya kamu lah. Emang kamu nggak malu apa?"


"Ngapain malu itu juga pakai uang aku kok. Kamu tuh perhitungan banget." Cebik Hendra yang melirik tajam Amel.


"Pastilah, uang istri itu hak istri, nah uang suami lima puluh persennya milik istri, tiga puluh persennya milik anak-anak nya dan dua puluh persennya lagi milik orang tuanya." Balas Amel dengan pemahaman anehnya yang membuat Hendra kesal bukan kepalang.


"Kamu yang benar aja Mel, buat aku-nya mana? Ishhh... Kamu tuh bikin aku gak nafsu makan aja. Sepertinya aku harus siap-siap kurus kering sebentar lagi." Sahut Hendra yang membuat Amel terkikik geli.


Kini Hendra seperti menikahi kembaran adiknya sendiri. Perempuan nyebelin, matre, absurd dan abstrak yang pernah ia temui di muka bumi ini, tapi dia sayang dan cinta.


Sepanjang jalan menuju perusahaan Hendra, Amel terus saja melihat gerobak mie ayam yang membuatnya lapar mata.


"Mas, makan mie ayam aja yuk! Tapi yang gerobakan aja ya, lebih menggoda soalnya. Kalau makan mie ayam aku traktir deh gak harus ganti." Tawar dan ajak Amel pada Hendra.


"Serius? Aku juga kepikiran buat makan mie ayam, kayanya enak."


"Jangan menggoda kalau ngak mau bereksperimen!" Ucap Hendra yang mengingatkan Amel. Bagaimana ia ingin melakukan apa yang Nayla ceritakan, jika dirinya pernah bermain di dalam mobil bersama Bayu. Di dekat danau komplek perumahan mereka saat ini.


Nayla memang kelakuannya paling-paling nyebelinnya. Amel kira, dia tak akan kena kejahilan adik iparnya ini, tapi ternyata. Ah sudahlah. Jika diingat lagi pasti akan bikin pusing kepala. Pasalnya semenjak Nayla menceritakan rahasia dapurnya, yang kita tak jadi rahasia lagi. Hendra jadi berimajinasi ingin melakukan seperti apa yang adiknya lakukan pada Amel.


Bukannya memenuhi keinginan Hendra. Amel malah menolak dan mengatakan itu hanya akal-akalan Nayla untuk mengerjainya. Namun saat Hendra menceritakan tentang masalah ranjangnya dan keinginannya yang di tolak Amel. Teman ngopinya sekaligus teman ngobrolnya yang tak lain dan tak bukan adalah empat hot Papa ini, membenarkan pernah melakukan apa yang Nayla ceritakan.


Bagi ketiga hot Papa dari keuarga Adijaya dan Kusuma, Nayla adalah seorang guru master dalam hal urusan ranjang. Pantas saja jika Bayu klepek-klepek dengan Nayla. Karena service dan imaginasi Nayla patut di acungi jempol.


Selesai makan mie ayam di pinggir jalan, Amel pun ikut sang suami bekerja di kantor. Siapa sangka kedatangan Amel ternyata sudah di tunggu oleh Tuan muda Andre, Jimmy dan juga Bayu beserta adik iparnya yang kini terlihat menyebalkan di matanya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Amel yang menaruh curiga dengan kehadiran mereka di ruang kerja suaminya.


"Habis makan apaan lo Mel, bibir lo merah banget?" Tanya Nayla pada kakak iparnya.


"Habis makan orok." Jawab Amel yang masih sewot dengan adik iparnya.


"Widih... Serem. Masih marah aja lo sama gue. Lebay lo Mel." Timpal Nayla yang malah kembali berbaring di sofa.


"Bianca mana? Gak dibawa?" Tanya Amel yang sangat menyayangi Bianca.


"Gak, di ambil orang tua Mas Bayu katanya kangen." Jawab Nayla santai.


Ya begitulah Nayla. Anaknya sering di ambil sana-sini. Ia hanya kebagian waktu full Bianca hanya dua hari, yaitu sabtu dan minggu.


"Ngapain lo ke sini?" Tanya Amel sedikit ketus dengan Nayla.


"Gak tahu, gue diajak sama laki gue ke perusahaan bokap. Ya gue mah ikut aja. Masalah ada apanya, gue gak tahu. Yang pasti katanya ada urusan bisnis." Jawab Nayla jujur.


"Lo bareng berangkatnya sama tuh bos-bos?" Tanya Amel sembari menunjuk Pandangannya pada Andre dan juga Jimmy.


"Nggak, dia duluan yang ada di sini." Jawab Nayla yang sama sekali tak merasa curiga, berbeda dengan Amel.


"Katakan kalian mau apa dari kami berdua?" Tanya Amel begitu lantang pada keempat pria yang tengah mengobrol santai di dekat meja kerja Hendra.


"Kau membocorkannya Bay?" Tanya Jimmy pada Bayu.


"Tidak. Aku tak mengatakan apapun pada istriku." jawab Bayu jujur.

__ADS_1


"Lantas bagaimana Amel bisa bertanya seperti itu jika ia tidak tahu sesuatu?" Timpal Andre.


"Amel itu lebih pintar daripada istriku, insting Dan logikanya itu jalan tidak seperti istriku. Insting dan logikanya hanya akan jalan jika ada uang." Terang Bayu yang di iyakan oleh Hendra sang kakak.


__ADS_2