
Bayu berteriak memanggil istrinya, ia ingin meminta bantuan pada istrinya. Namun Nayla yang sedang mendengarkan musik dengan headset, tak dapat mendengar suara teriakan suaminya. Padahal suaminya itu sudah on fire kembali karena efek obat perangsang yang diminumnya telah bekerja.
Bayu keluar dari kamar mandi tanpa m menggunakan handuk, ia menghampiri Nayla dan langsung saja menyerang Nayla.
"Hai Papi, apa-apain sih basah banget ah.. handukan dulu!" Ucap Nayla yag berusaha menghindari serangan Bayu.
"Aduh Mih, tolong Papi!" Rintih Bayu yang sudah tak tahan lagi dengen efek samping yang ia rasakan kini.
"Tolong apa sih? Tolong handukin? Ok tunggu, awas dulu Mami ambil handuknya dulu." Jawab Nayla yang mendorong kuat tubuh Bayu. Hingga Bayu jatuh ke samping tubuhnya.
"Bukan itu Mih, liat nih junior Papi!" Balas Bayu yang memperlihatkan juniornya yang menegang.
"Waw... Kok bisa, bukannya udah ke-ok Pih?" Respon Nayla yang malah mengagumi penderitaan suaminya kini. Ia mengelus-elus si pisang raja yang biasa tak akan bangun lagi sampai esok pagi jika ia sudah pakai sampai habis-habisan.
"Gak tahu, kayanya tadi Diana nyampurin obat perangsang ke minuman yang dia kasih ke Papi deh Mih. Dia mau jebak Papi,"
"Hahaha benarkah? Dia yang menanam aku yang panen nih. Cuslah yuk Pih... Papi mau berapa ronde?" Tanya Nayla yang sangat excited dengan pisang raja milik Bayu.
"Terserah, yang pasti sekarang Papi udah gak tahan." Jawab Bayu.
Kembali mereka melakukan penyatuan tiada henti, hingga efek obat yang diminum Bayu telah hilang ditubuhnya. Sang Fajar datang menyapa dengan sinar matahari yang begitu terik pagi hari ini. Nayla bangun dengan tubuhnya yang terasa remuk. Karena permainan ranjang Bayu semalam tidak seperti permainan Bayu pada hari biasanya.
"Aduhhh remuk banget nih badan, kaya habis di gebukin." Keluh Nayla yang merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
"Plak!" [ Tangan Nayla tak sengaja mendorong kencang wajah Bayu yang tertidur di sampingnya].
"Aduh Mami!" Pekik Bayu yang masih memejamkan matanya. Ia mengusap pipinya yang sakit karena kena dorongan tangan Nayla.
"Maaf gak sengaja Pih. Duh badan Mami remuk nih gara-gara Papi semalam. Mami di puter-puter kaya komedi putar. Mudah-mudahan kecebong Papi di sini baik-baik saja ya." Ucap Nayla yang mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
"Dia pasti kuat seperti Maminya, jangan khawatir." Jawab Bayu yang malah membenarkan posisi tidurnya, ia nampaknya masih enggan untuk beranjak dari tidurnya.
__ADS_1
"Pih bangun, Mami dah laper tahu,"
"Emmm... laper makan Mih, Papi gak punya nasi." Sahut Bayu yang masih saja tak mau membuka matanya.
"Ishhhh... Ayo bangun! Kita makan di bawah yuk, udah jam 7 nih!" Ajak Nayla yang berusaha sekuat tenaga membangunkan suaminya.
"Mami, Papi ngantuk banget, please sekali ini saja Mami biarin Papi tidur ya? Mami kalau mau sarapan duluan aja ya?" Tolak Bayu yang memohon pengertian sang istri.
"Ih, gak bisa gitu Papi. Masa sendirian sih kaya anak hilang tahu gak sih," Nayla pun menolak untuk sarapan sendiri tanpa sang suami.
"Aduh Papi ngantuk berat banget Mih, tenaga Papi udah habis terkuras perlu dicharger dengan tidur Mih,kalau gak tidur Papi bisa sakit," tolak Bayu.
"Ihh.. Papi lemah banget sih jadi suami... Ayo cepat bangun kecebong kamu udah lapar banget ini Pih.." umpat Nayla yang masih memaksa Bayu untuk bangun.
"Ya udah makan duluan aja Mih kalau anak kita udah lapar, sekali ini saja Papi gak temenin kamu sayang. Katanya kamu mau sarapan bareng Anna kan pagi ini? Ya udah sama dia saja dulu ok sayang." Saran Bayu yang menangkupkan kedua tangannya di dada dan menampakkan kedua bola matanya yang merah karena masih mengantuk dan perlu beristirahat tidur.
Nayla yang tak tega dengan Bayu pun, akhirmya memutuskan untuk pergi sarapan tanpa Bayu. Ia segera pergi mandi. Betapa terkejutnya, ia melihat stempel cinta yang dibuat Bayu hampir di semua bagian tubuhnya kecuali lengan dan tangannya.
Nayla pun turun ke restoran seorang diri tanpa Bayu. Ia berjalan menuju meja Anna dan Leon. Terlihat keduanya tengah di layani oleh para pelayan.
"Nay, Kak Bayu mana?" Tanya Anna saat melihat Nayla hanya seorang diri.
"Masih ada di alam mimpi." Jawab Nayla yang langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Tepatnya ia mengambil makanan milik Leon. Leon hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah Nayla yang asal ambil makanannya.
"Lapar banget Nay, habis macul?" Tanya Anna lagi.
"Bukan macul lagi, gue habis bercocok tanam berjam-jam lamanya, apa gak lihat nih badan gue udah kaya macan tutul." Jawab Nayla yang membuat Anna tertawa dan Leon memincingkan matanya. Leon melihat jelas curug leher Nayla yang terdapat banyak tanda merahnya.
"Wahahaha..." tawa Anna pecah.
__ADS_1
"Pantesan kelaparan," cetus Leon yang kembali menyeruput kopinya.
"Ini tuh gara-gara Bang Leon dan Kak Andre. Gara-gara nanganin proyek dari kalian. Semalam Mas Leon bringas banget." Tuduh Nayla yang menunjuk Leon dengan sendok ditangannya.
"Loh kok kamu nyalahin Abang si Nay?" Ucap Leon tak terima.
"Emang iya, gara-gara proyek itu suami Nay jadi ketemu sama Cewek yang terobsesi sama dia. Tuh cewek kayanya ngasih obat perangsang ke minuman Mas Bayu. Jadi deh dia kaya semalam. Bringas tapi mantap juga sih... jadi mau lagi. Serius Ann enak banget lo harus coba. Lo kasoh deh suami lo obat itu, dijamin lo gak bisa lupa dengan permainannya yang bikin gemes." Terang Nayla yang mulai memancing Anna untuk mencoba apa yang ia rasakan.
"Iya kah? Gimana-gimana coba cerita dulu gimana rasanya?" Tanya Anna yang bersemangat.
"Ann, please jangan dengerin omongan dia!" Ucap Leon yanh diabaikan oleh Anna. Anna malah menepuk lengan Leon untuk diam.
Nayla dengan senang hati menceritakan semuanya dari A-z, Anna terus melirik Leon dan meremas tangan Leon yang ia genggam.
"Mas, ayo!" Ajak Anna pada Leon.
"Anna please!" Tolak Leon dengan lirikan mata tajam kearah Nayla.
"Mas, ayo! Kalau kamu gak mau aku cari suami baru deh," ancam Anna yang sudah inging merasakan yang dirasakan Nayla.
Melihat Anna memaksakan keinginannya pada Leon. Nayla bersorak di dalam hatinya. Misi membalas kekesalan suaminya pada Leon akhirnya berhasil.
"Jangan coba macam-macam Ann, kalau kamu gak mau aku jadi seorang pembunuh berdarah dingin seperti Jimmy." Balas Leon yang segera menghubungi seseorang.
"Ya, tolong bawakan saya obat perangsang. Sekarang ke hotel Grand Adams." Perintah Leon pada seseorang yang ia hubungi di sambungan teleponnya.
Anna teesenyum senang mendengar Leon memesan obat itu untuk memenuhi keinginannya. Aneh tapi nyata. Tapi inilah yang terjadi jika berhubungan dengan Nayla. Jujur Leon sangat malu pada dirinya sendiri. Dia yang memesan obat itu dan ia juga yang akan meminumnya demi keinginan sang istri.
"Arghhh....pasti ini aksi balas dendam.si pentol korek karena aku membangunkan suaminya pakai tutup panci." Gumam Leon di dalam hatinya.
"Yey, kena kau Abang Lion." Gumam Nayla.yang bersorak gembira dengan kemenangannya.
__ADS_1