
Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Pak Jono memiliki keberanian untuk menatap wajah datar Tuan mudanya yang duduk berdampingan dengan Tuan Besarnya. Keduanya sama-sama memberikan tatapan mengintimidasi pada Pak Jono dan juga Suster Marni.
Jangan tanyakan bagaimana kondisi Suster Marni sekarang. Tubuhnya sudah bergetar hebat, apalagi dengan ritme detak jantungnya yang naik turun tak menentu. Giginya terus saja mengatup-ngatup karena gugup. Ia seperti maling yang sudah tertangkap basah saja.
Melihat Suster Marni yang tak mungkin menjelaskan Pak Jono menghela nafas panjangnya kemudian mulai menjelaskan dengan suara yang bergetar.
"Sebenarnya kami tidak ada niat untuk menutup-nutupi masalah ini Tuan, hanya saja____" ucap Pak Jono yang tiba-tiba saja terhenti, karena ia mulai ragu apakah kedua Tuannya ini akan menerima penjelasannya dan tidak menuduhnya melakukan pembelaan diri, ataupun bersekongkol dengan kedua wanita yang menyebabkan ia dipanggil oleh kedua majikannya ini.
"Hanya saja apa Jon?" Tanya Tuan Tama yang tak sabar menunggu kelanjutan ucapan Pak Jono.
"Hanya saja kau takut di laporkan ke polisi oleh mereka, bukan begitu Jono?" Tebak Bayu yang seketika membuat Pak Jono menunduk.
"Jawab Jono!! Apa benar begitu? Kau lebih takut pada manusia dari pada Tuhan mu sendiri? Kau sembunyikan dosa dan kesalahan seseorang demi menyelamatkan diri kalian sendiri. Saya sangat merasa kecewa pada kalian berdua." Ucap Tuan Tama dengan tegas yang kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
Meskipun ia belum tahu duduk permasalahannya namun dari ucapan sang putra ia sudah dapat menebak, kedua pekerjanya ini sudah melakukan kesalahan dan berkhianat pada keluarganya demi menyelamatkan diri mereka masing-masing.
"Maafkan kami Tuan, kami memang salah dan pantas diberikan sangsi, tapi tolong jangan pecat kami." Ucap Pak Jono yang duduk bersimpuh memohon maaf pada Tuan Tama dan juga Bayu.
__ADS_1
"Duduklah Jono! Jelaskan pada kami kronologi kejadian dengan runtun dan dengan sebenar-benarnya tanpa ada yang dikurang-kurangi atau pun ditambah-tambahkan. Saya akan mempertimbangkan layak atau tidaknya kalian berdua bekerja untuk kami selanjutnya. " Timpal Bayu.
Ia menyentuh bahu Pak Jono yang tengah duduk bersimpuh di hadapan sang Daddy yang tak perduli dengan permohonan maafnya.
Jujur saja tubuh Pak Jono saat ini begitu lemas, seakan tak memiliki tulang belulang. Ketika ia mendengar Bayu mengatakan akan mempertimbangkan layak atau tidaknya mereka untuk berkerja lagi pada keluarga kecil Bayu.
Pak Jono kembali duduk dan berusaha menenangkan dirinya untuk menjelaskan dengan baik kronologi kejadian yang ingin diketahui oleh Bayu dan juga Tuan Tama.
Gurat kekecewaan begitu nampak di raut wajah Tuan Tama, belum di jelaskan saja dia sudah nampak kecewa apalagi sudah mengetahui kejadiannya. Tak dapat dibayangkan bagaimana nasib Miss Claudia dan juga Linda mantan menantunya nanti.
"Kejadian ini terjadi kemarin Tuan, saya seperti biasa menunggu kedatangan Den Sultan di parkiran mobil bersama rekan sesama supir. Tiba-tiba saya mendengar teriakan Suster Marni berteriak memanggil nama saya dan minta tolong. Saya segera menghampiri dan mendapati Den Sultan yang tengah menangis karena di paksa masuk ke dalam sebuah mobil oleh seorang wanita yang di sebut-sebut sebagai ibu kandung dari Den Sultan. Wanita itu melakukan pemaksaan dibantu oleh Miss Claudia, gurunya Den Sultan." Tutur Pak Jono dengan suara yang gemetar
Tuan Tama yang tadinya malas mendengarkan penuturan Pak Jono malah terkejut dan menghentakkan kakinya ke lantai. Ia terlihat mengelus dagunya berkali-kali dengan jemarinya. Rahang tegasnya terlihat mengeras dan otot-otot wajahnya terlihat terus bergerak. Suara gigi dikeratkan makin menambak mencekamnya ruangan televisi ini.
Suster Marni yang terkejut dengan pekikkan Tuan Tama hampir saja di buat terkencing-kencing karena rasa takutnya pada Tuan besarnya itu.
"Sabar Dad!" Ucap Bayu yang mengusap lengan sang Daddy. Ia sadar betul jika sang Daddy tengah berusaha mengontrol emosinya yang ingin segera meledak, ketika mengetahui kenekatan Linda yang ingin membawa pergi cucunya dan ia pun tak habis pikir dengan Miss Claudia yang ikut campur dalam urusan keluarganya.
__ADS_1
"Ini tak bisa dibiarkan Bay, kita harus segera bertindak," balas Tuan Tama yang menatap serius wajah putranya.
"Ya aku tahu itu Dad, tapi aku butuh penjelasan mereka terlebih dahulu yang akan aku menguatkan laporanku nantinya." Timpal Bayu yang kemudian kembali menatap kedua pekerjanya.
"Lanjutkan cerita mu, Jon!" Pinta Bayu pada Pak Jono untuk melanjutkan kembali ceritanya.
"Baik Tuan." Jawab Pak Jono yang terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. Ia perlu menetralkan diri dari rasa ketakutannya saat ini pada Tuan Tama yang makin marah karena penuturannya barusan.
"Saat saya hampiri mereka dan saya berusaha mengambil Den Sultan, mereka terus melakukan perlawanan pada saya. Orang disekeliling kami tak ada satu pun yang membantu saya dan Suster Marni, karena Miss Claudia terus saja memprovokasi mereka yang ada disana, agar teman-teman seprofesi saya tidak ada yang ikut campur membantu saya, begitu pula dengan orang tua murid yang datang menjemput pada saat itu. Mereka hanya bisa menonton bagaimana saya merebut Den Sultan dari wanita yang menyebut dirinya sebagai ibu kandung dari Den Sultan." Ucap Pak Jono yang mulai menitikan air mata ketika mengingat kejadian itu.
"Saya mau tak mau saat itu harus melawan dua wanita yang terus saja memukul bahkan menjambak rambut saya agar melepaskan Den Sultan yang sudah ada di dalam dekapan saya. Saya rasa beberapa bagian tubuh Den Sultan pun banyak yang terluka karena mereka tak sengaja mencakar Den Sultan saat mereka ingin mencakar dan memukul saya. Saat itu saya tak lagi banyak berpikir, saya segera membawa Den Sultan menuju parkiran mobil yang di ikuti oleh Suster Marni. Saya kira mereka tak mengikuti kami tapi ternyata mereka mengikuti kami, Tuan." Ucap Pak Jono yang berhenti dan kembali terdiam.
"Lantas apa yang terjadi selanjutnya Jon? Tolong ceritamu jangan sepotong-sepotong! Kamu mau gaji kamu saya potong hah?" Tanya Tuan Tama yang begitu penasaran dan antusias mendengarkan cerita Pak Jono.
"Di sinilah kesalahan saya yang menyebabkan saya takut dilaporkan ke kantor polisi Tuan. Sewaktu saya ingin memasukkan Den Sultan ke dalam mobil. Tiba-tiba Miss Claudia datang ingin memukul saya dengan pekulan besbol. Saya merebutnya dan memukulnya hingga terjatuh dan tersungkur. Melihat hal itu saya awalnya memgancam mereka jika saya akan mengadukan kejadian ini pada Tuan dan Nyonya namun Wanita yang mengaku-ngaku sebagai ibu kandung Sultan mengancam balik saya karena sudah melakukan penganiayaan pada Miss Claudia, hingga menyebabkan dia terluka dan kehilangan beberapa giginya." Tutur Pak Jono yang masih menitikan air matanya.
"Tak akan ada yang bisa mempidanakan mu Jon, meskipun itu akan terjadi. Saya akan menjamin dirimu dan membebaskan mu tentunya." Ucap Tuan Tama pada Jono.
__ADS_1
Ia berdiri menghampiri Pak Jono dan menepuk-nepuk tubuh pria itu yang tengah menitikan air mata.
"Jangan pernah takut berkata jujur Jon! Dan jangan pernah menutup-nutupi kesalahan orang lain, hanya karena ingin menyelamatkan diri mu sendiri! Tak selamanya ancaman yang diberikan seseorang pada kita harus kita takuti. Satu hal lagi dalam hidup ini jangan mau menuruti permintaan orang lain yang akan membuat kita menjadi seorang pecundang." Pesan Tuan Tama yang kemudian mengajak Bayu, Pak Jono dan juga Suster Marni pergi malam ini juga ke kantor polisi.