
"Di mana nih kok tempatnya kayak bukan rumah sakit tapi kayak gudang kosong?" Ucap Amel yang sudah membuka matanya dengan lebar.
Saat ia ingin bergerak tubuhnya terasa kaku, ia baru sadar jika tubuhnya sudah terikat di atas sebuah kursi yang ia duduki.
"Fix, gue diculik? Tapi siapa yang nyulik gue? Perasaan gue nggak punya musuh dan kebanyakan rekam pengusaha Mami dan Papi nggak ada satupun yang kenal sama gue." Gumam Amel yang sadar jika kini dirinya sedang diculik dan dalam bahaya.
"Tunggu-tunggu, tadi gue di rumah sakit sama si Nayla, Kemana tuh anak? Apa dia juga ikut diculik atau cuma gue yang diculik?" Gumam Amel lagi yang mulai mengingat sahabat baiknya.
Dengan gerakan perlahan demi tak mengundang kecurigaan penjahat yang berada tak jauh dari mereka. Amel melihat ke arah samping kanan dan kirinya. Ia dapati Nayla yang masih tertidur dengan mulut terbuka dan kepala menanggak ke atas melihat langit-langit gudang kosong yang sudah banyak celah cahaya matahari masuk, alias bolong.
"Nayla...Nay...Nayla bangun!" Ucap Amel dengan suara berbisik dan menekan, berusaha membangunkan Nayla dari tidurnya.
"Hemmm apa?" Sahut Nayla dengan suara paraunya.
"Pelanin suara Lo, kita lagi disekap." Ucap Amel lagi dengan suara yang masih sangat pelan, bahkan nyaris tak terdengar.
"Gue amang lagi disekap sama laki gue Mel, disekap di rumah sakit selama dua minggu, itupun kalau gue jadi lahiran." Balas Nayla yang masih enggan membuka matanya.
"Ihsss... Nayla buka mata lo, lihat keadaan kita. Kita lagi gak di rumah sakit tapi di gudang kosong. Kita ngalamin yang Endah dan Jessica rasakan." Ucap Amel yang masih tak berhenti berusaha membangunkan Nayla.
Mendengar ucapan Amel. Sontak Nayla membuka matanya. Matanya terbelalak mendapati dirinya di ikat di sebuah kursi yang sedang ia duduki. Pandangannya berpindah pada Amel yang juga dalam keadaan yang sama seperti dirinya.
"Kita diculik nih Mel, kaya Jessica sama Endah dong? Ngerasain juga gue akhirnya ya." Tanya Nayla pada Amel yang membuat Amel terperangah dengan pertanyaan sahabat plus calon adik iparnya yang aneh. Bukannya sedih tapi malah senang.
"Lo waras kan Nay?" Tanya Amel pada Nayla yang jalan pikirannya entah oleng kemana.
"Waras gue. Udah sih gak usah takut, nikmatin aja pengalaman berharga kita diculik ini. Kapan lagi ya kan ngerasain diculik? Lagian gue yakin banget dalam beberapa jam kedepan. Babang Jimmy pasti akan nemuin kita. Secara calon mantunya ada di dalam perut gue." Seloroh Nayla dengan keyakinannya.
__ADS_1
Amel membuang pandangannya dengan lemas, baru kali ini, dia melihat orang yang bahagia dan senang dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Di dalam film action pun tidak ada karakter seperti Nayla, yang senang saat diculik penjahat ataupun musuhnya.
"Terserah lo deh Nay." Sahut Amel yang kemudian memilih diam dan berpikir untuk mencari cara untuk membebaskan diri.
Berbeda dengan Nayla yang terlihat santai, duduk dan melihat ke kanan dan kekiri lalu tertidur kembali karena jenuh dan mengantuk.
"Ya Tuhan. Mas Hendra, adikmu ini. Bisa-bisanya tidur lagi." Gumam Amel saat mendapati Nayla kembali tertidur dengan pulas, bahkan mulutnya kembali menganga seperti semula.
Hari pun cepat berlalu, senja sudah berganti dengan malam. Diana yang sudah bosan menunggu Nayla yang tak kunjung bangun pun akhirnya mengutus kedua anak buahnya untuk menyiram Nayla dan Amel yang juga ikut tidur kembali karena bosan dengan air seember.
Byurrr....
"Weh,,, hujan air wehh..." pekik Nayla yang kelagapan.
Ini bukanlah hal pertama bagi Nayla, dibangunkan dari tidurnya dengan air seember. Pasalnya saat ia belum menikah dulu. Ia kerap kali dibangunkan oleh Hendra ataupun sang Ayah dengan cara seperti ini. Jadi saat ia sudah sudah sadar bukannya marah, dia malah tertawa. Karena dapat merasakan lagi moment dibangunkan dengan cara yang seperti ini.
Melihat Nayla malah tertawa Diana malah terlihat heran dan menyernyitkan kedua alisnya.
"Cih, apa istri Bayu ini sudah tidak waras? Diperlakukan seperti ini dia malah tertawa." Diana berdecih dengan menatap jijik wajah Nayla.
Nayla yang masih menatap Amel, tersenyum geli dengan ekpresi wajah sahabatnya yang tengah menahan marah.
"Enak gak Mel, lagi tidur di siram? Siap-siap lo terbiasa dengan ini ya, karena calon suami lo sering banget ngelakuin ini sama gue. Hahahaha..." tawa Nayla menggelegar. Masih sempat-sempatnya dia melakukan hal ini di saat tiga orang yang berniat jahat berada di depannya.
"DIAM!!" Pekik Diana yang meminta Nayla untuk menghentikan tawanya yang menggelitik pendengarannya.
"Owhhh.... hai Tante, kita ketemu lagi. Kangen ya sama aku. Sampai-sampai buang-buang waktu, uang dan tenaga untuk menculik aku. By the way makasih ya udah nyulik aku. Soalnya aku emang ngidam diculik tapi gak kesapean, tapi berkat Tante kesampean juga ngidamnya aku ini." Ledek Nayla saat pandangan matanya melihat kearah Diana yang tengah menatap tajam dirinya.
__ADS_1
"Apa?" Cicit keempat orang yang ada di dalam gudang kosong itu saat mendengar ucapan Nayla.
"Kita salah nyulik orang gak sih ini Bang?" Tanya salah satu anak buah bayaran Diana pada Kakaknya. Ya, kedua penjahat ini ternyata seorang kakak beradik.
"Kenapa lo ngomong begitu Li?" Tanya Pendi, sang Kakak.
"Soalnya kita kaya nyulik pasien rumah sakit jiwa Bang." Jawab Jali dengan tatapan herannya pada Nayla yang masih bisa menebarkan senyum manisnya.
Jujur Pendi ingin sekali tertawa dengan penuturan sang adik. Namun tawanya yang hampir saja pecah, sengaja ia tahan dengan menggigit bibir bawahnya.
Sementara itu Diana yang kesal karena ejekan Nayla pun datang menghampiri kursi duduk Nayla.
Plak....plak...plak...[Suara tamparan yang mendarat di pipi kanan kiri Nayla].
Bukannya meringis kesakitan. Nayla marah tersenyum mengejel dan menjilat darah segar yang keluar dari sudut pipi kirinya yang mendapat double tamparan dari tangan lentik Diana.
"Hai, Tante, pipi kanan ku baru mendapatkan saru tamparan dari mu, apa kau tak berniat adil dengam memberikan satu tamparan lagi." Pekik Nayla pada Diana yang mulai berjalan menjauh dari dirinya.
"Aku tak ingin mengotori tanganku dengan menyentuh lagi tubuhmu yang hina itu." Jawab Diana dengan tatapannya yang nyalang.
"Hahaha...." Nayla merespon dengan tertawa ucapan Diana yang menghina dirinya.
"Apa kau menculikku karena ingin mendapatkan suamiku humm?" Tanya Nayla pada Diana yang masih menatap dirinya dengan tatapan jiji.
"Tentu saja, aku tak hanya akan menculikmu tapi aku juga akan membuang mu jauh dari hidup Bayu. Karena akulah yang akan menggantikan posisimu setelah kamu tiada Nayla." Jawab Diana dengan penuh keyakinanannya.
"Hahahaha benarkah... Kau bisa membuangku jauh dari hidup suamiku? Sepertinya kau terlalu bermimpi terlalu jauh Tante. Kau tahu saat kau menculikku dari rumah sakit Central Kusuma, itu artinya kau sudah menentukan malaikat pencabut nyawa mu sendiri hahahahaha..." balas Nayla dengan tawanya yang menggelegar. Memecahkan kesunyian malam di gudang kosong tak berpenghuni ini.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Diana yang tak mengerti dengan ucapan Nayla.