Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 86


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Pratama.


Subuh dini hari, Nayla baru dapat memejamkan mata. Mungkin karena ia sudah kelelahan terus saja menangis sepanjang malam, akhirnya matanya yang lelah membawanya ke alam mimpi.


Saat sang surya menyapa wajahnya dengan sinarnya. Mata Nayla masih enggan terbuka, namun pergerakan Sultan yang ada di dalam pelukannya. Membuatnya harus terbangun.


"Pagi Mami," sapa Sultan saat Nayla melepaskan pelukannya dan merubah posisi tidurnya.


"Pagi sayang," jawabnya dengan suara serak dan berat.


Sultan menatap wajah Nayla yang sembab dan masih enggan membuka matanya, namun tangan kirinya meraba sisi ranjang tidurnya yang ia rasa kosong. Suaminya tak berada di sana.


"Kemana Papi? Apa dia sudah bangun? Apa dia belum juga kembali sejak semalam meninggal kami?" Gumam Nayla dalam hati yang kemudian membuka matanya dengan berat.


Ia menoleh ke sisi kiri ranjang yang memang benar-benar kosong dan kemudian menatap wajah Sultan yang tengah memperhatikan wajahnya.


"Kamu lihat apa sayang?" Taya Nayla pada Sultan yang malah tersenyum memandangnya.


"Menatap wajah Mami yang cantik seperti bidadari." Jawab Sultan yang kemudian menutup mulutnya dengan kedu tangannya. Ia tersipu malu setelah memuji ibu sambungnya.


Nayla pura-pura terkejut mendapatkan pujian dari anak sambungnya itu.


"Benarkah? Mami sangat tersanjung dengan pujian anak Mami yang tampan ini hum..." Ucap Nayla yang kemudian memeluk tubuh Sultan yang masih malu-malu dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Buka dong mukanya, Mami mau cium anak Mami yang kecil-kecil sudah pandai memuji," pinta Nayla yang di turuti oleh Sultan.


"Cium yang banyak ya Mih,jangan sedikit. Kata Papi sedikit itu tidak berasa." Sultan malah memasang wajahnya agar Nayla mencium pipi putih tembem seperti bakpau miliknya itu.


"Tentu saja sayang, Mami akan menciumi mu hingga bibir Mami dower ya, humm." sahut Nayla yang menciumi pipi Sultan gemas hingga berulang-ulang kali.


Sultan yang kegelian terus tertawa namun tidak mau berkata sudah. Ia sangat suka diperlakukan seperti ini. Melihat sang putra terus tertawa bahagia, Nayla pun tak menghentikan aksinya. Nayla bahagia sudah melihat Sultan kembali tertawa tak muram dan bersedih seperti semalam.

__ADS_1


"Lupakan kejadian-kejadian buruk yang menimpa mu itu anakku sayang. Jika dia selalu mengukir kenangan buruk di hidup mu. Mami akan berusaha menghapusnya dan mengukir hari-hari indah yang akan kita lalui bersama." Gumam Nayla yang kemudian mendekap tubuh mungil Sultan dalam pelukannya.


"Sayang apa kamu lihat Papi?" Tanya Nayla pada Sultan yang sudah berhenti tertawa dalam pelukannya.


"Tidak Mih," jawab Sultan.


"Kemana Papi mu ya? Dia menghilang Nak, kita harus segera mencarinya. Jangan sampai dia diambil ataupun dirabut orang!" Ucap Nayla yang mengurangi pelukannya pada tubuh Sultan.


Ia mengingat betapa fans suaminya itu sungguh banyak. Setelah Angel the gengs sekarang ada Diana dan juga Linda yang terang-terangan datang menabuh genderang perang dengannya.


"Apa kita perlu bantuan Dora untuk mencari Papi, Mih?" Tanya Sultan dengan menggemaskan.


Nayla yang tahu akan maksud sang putra langsung saja menanggapi ucapan putranya yang terlalu banyak menonton film kartun hingga ia bisa berpikiran seperti itu. Memang di sinilah saat kita khawatir dan cemas, seorang anak akan menghibur kita dengan kepolosannya.


"Tentu saja sayang, kita akan butuh Boots dan Peta saat mencari keberadaan Papi," jawab Nayla yang menanggapi ucapan sang anak yang membuat Sultan tersenyum.


Ia sangat suka pada ibu sambungnya yang selalu mengikuti imaginasi kanak-kanaknya. Setelah menjawab pertanyaan Sultan, Nayla melirik jam dinding yang sudah mengarahkan waktu pukul 07.30 pagi ini.


"Mami apa Sultan gak sekolah hari ini? Kok, Suster Marni gak datang ke kamar ini?" Tanya Sultan pada Nayla yang sedang terdiam dan berpikir.


"Sepertinya kita perlu Omma untuk menjawab pertanyaan mu sayang, Kamu ingatkan, kalau Mami yang ajakin kau gak sekolah Papi marahnya seperti apa?"


"Iya ok Mami, ayo kita cari Omma."


Keduanya beranjak dari tempat tidur dan kekuar dari kamar. Di dapati kehebohan di lantai dasar dimana Ratna terus memekikkan nama sang suami dengan kesalnya.


Ratna yang melihat menantu dan cucunya menuruni anak tangga datang menghampiri.


"Apa suami mu sudah bangun? Jika belum bangunkan dia, Mami ingin mengajaknya mencari Daddy kalian," ucap Ratna yang menghampiri Nayla yang baru menuruni beberapa anak tangga bersama putranya.


"Mom, apakah Daddy hilang juga?" Bukannya menjawab pertanyaan ibu mertuanya, Nayla malah bertanya balik pada Ratna. Mata Ratna membola ketika mendengar pertanyaan menantunya itu.

__ADS_1


"Hilang juga? Berarti suami mu juga tidak ada di kamar kalian?"


Nayla dan Sultan yang ada di dalam gendongan Nayla menjawab dengan anggukan kepala bersamaan.


"Haitssss... Kemana mereka. Daddy mu tak bisa dihubungi, coba kamu hubungi suami mu!" Perintah Ratna pada menantu.


"Aku gak bawa ponsel Mom," jawab Nayla yang membuat Ratna mengelengkan kepalanya.


"Ya sudah , ayo kita turun dan sarapan dulu, baru nanti kita cari kemana mereka." Ajak Ratna yang mengambil Sultan dalam gendongan Nayla.


"Sultan jangan sering minta gendong samam Mami ya nak, karena di perut Mami ada dede bayinya yang akan jadi teman bermain Sultan nantinya ya," Ratna menasehati Sultan saat merea menuruni anak tangga.


Ketiganya menikmati sarapan tanpa para suami mereka. Sultan terlihat bahagia sekali melihat jarum jam yang terus berdetak.


"Yey...hari ini aku gak sekolah karena Opaa dan Papi hilang, yeyeyeyeyey..."batin Sultan yang kegirangan.


"Mungkin hanya hari ini sayang, kamu jangan senang dulu. Kamu tahukan Papi mu seperti apa?" Bisik Nayla di telinga Sultan yang kemudian tersenyum sembari menarik turunkan alisnya. Ia bisa menebak rona bahagia sang anak melihat jarum jam yang terus menambahkan waktu.


"Kalian sedang menikmati sarapan tanpa menunggu kami datang dulu hum?" Sapa Tuan Tama yang masih megenakan pakaian seperti semalam.


Langkahnya diikuti oleh Bayu, Pak Joni dan Suster Marni. Mereka pun sama, masih menggunakan pakaian yang semalam Nayla dan Sultan lihat.


"Yah, sekolah deh Mih," ucap Sultan yang terlihat loyo seketika melihat kehadiran sang Papi yang berdiri teoat di samping sang Oppa.


"Sepertinya begitu sayang, pupus sudah harapan mu Nak," bisik Nayla dengan senyum cengengesan melihat sang putra.


"Kalian sedang bicarakan apa hum?" Tanya Bayu yang tiba-tiba saja sudah berdiri diantara anak dan istrinya.


"Apa kita harus pergi ke sekolah Pih?" Tanya Sultan yang mendongakkan pandangannya menatap Bayu dengan wajah sedihnya.


"Mulai hari ini kalian berdua akan pergi kemanapun bersama Papi, jadi bersiaplah untuk pergi ke kantor ya!" Jawab Bayu yang kemudian menciumi kedua pucuk kepala istri dan putranya.

__ADS_1



__ADS_2