Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Bab 214


__ADS_3

Kelima para istri ini kini sudah turun dari bus. Mereka diturunkan di tempat yang terlihat cukup sepi, dan jarang ada kendaraan yang berlalu lalang.


Beberapa kali mereka mencari tumpangan dengan menyetop kendaraan mobil yang melewati mereka, namun tak ada satupun mobil yang berhenti untuk memberikan tumpangan pada mereka.


Lelah terus dibuat menunggu dan tak sabar untuk menyelamatkan kedua orang tuanya, Nayla kembali dengan ide gilanya. Ia menyobek kedua lengan baju dress panjang yang ia kenakan saat ini, dan tak sampai di situ dress sepanjang mata kaki itu, Nayla robek hingga atas lututnya.


Ketiga temannya dan satu kakak iparnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan apa yang dilakukan Nayla tanpa mencegah ataupun menyelanya.


Dengan bergaya layaknya wanita malam dipinggir jalan, dalam hitungan detik sebuah mobil sedan cukup mewah berhenti tepat di depan Nayla.


"Hai ladies, butuh tumpangan?" sapa seorang pria bertato dari dalam mobil sedan mewah itu.


"Tentu Honey." Jawab Nayla yang langsung menonjolkan bukit kembarnya yang padat berisi, karena Rebecca belum sempat meminumnya.


Nayla menempelkan bukit itu ke kaca jendela mobil pria itu. Hasrat Pria itu terpancing dengan apa yang dilakukan Nayla.


"Naiklah Ladies, aku akan siap mengantarkan kalian." Ajak pria itu pada kelimanya.


Otak pria mesum itu langsung saja bereaksi saat kelima wanita cantik masuk ke dalam mobilnya.


Endah memilih duduk tepat di belakang kursi pria itu dengan Amel di sampingnya. Mereka sudah siap untuk melakukan sesuatu di saat waktu yang tepat.


"Kalian mau kemana?" Tanya Pria bertato itu yang tak bisa fokus menyetir karena terus ingin melihat tubuh indah Nayla yang terpampang nyata di depan matanya.


"Bersenang-senang di kota J," jawab Nayla sembari meremaaaass sedikit bagian dadanya.


"Waw, boleh aku ikut Ladies?" Tanya Pria bertato itu yang tak lagi bisa duduk diam karena miliknya sudah mengeras.


"Tentu saja." Jawab Nayla.


Setelah dua jam perjalanan dengan pria bertato ini, tiba-tiba saja mobil berhenti disebuah jalanan sepi. Rupanya pria itu tak tahan untuk menikmati keindahan tubuh Nayla.


Nayla yang sudah melihat gelagat buruk pria itu padanya langsung memberi kode pada Amel.


"Kenapa berhenti Baby, kota J masih 20 Km lagi hum?" Tanya Nayla pada pria bertato yang mulai mengendurkan celana yang ia pakai. Hingga benda pusaka miliknya yang sudah on fire itu ia keluarkan.

__ADS_1


"Come on Baby, aku sudah tidak tahan." Ucap Pria bertato sembari menarik tangan Nayla.


Belum sempat wajah Nayla mendekat pada benda pusaka milik pria bertato itu. Amel langsung berdiri dan mematahkan batang leher pria itu.


Krekkk!!


Anna dan Jessica memejamkan matanya, melihat betapa sadisnya Amel.


"Turun!!" Perintah Amel pada Endah.


Endah turun dan membuka pintu kursi pengemudi, setelah itu ia menekan tombol untuk membuka pintu bagasi.


Setelah pintu terbuka. Amel dan Endah menarik tubuh pria bertato itu keluar.


Keempat wanita yang terdiri dari Nayla, Amel, Endah dan Anna mengangkat tubuh pria bertato itu ke dalam bagasi mobil, sedang Jessica melihat keadaan sekitar. Agar apa yang mereka lakukan tidak diketahui orang.


Usai memindahkan tubuh pria bertato itu, Amel langsung mengambil alih kemudi. Ia kembali ke kota J. Dengan ponsel Pae Parjo yang ia bawa, Amel menghubungi Dodo. Untuk membawa mobil motor home milik Nayla ke sebuah tempat yang mereka tentukan.


Satu jam kemudian, tepat pukul dua pagi mereka sudah sampai kembali di kota J.


"Lengkap Mel, seluruh macam senjata bahkan bom sudah ada di dalam mobil. Kami meletakkannya di bawah ranjang tidur." Jawab Dodo.


"Ok. Thans Do, katakan pada saudara-saudara kita, besok kita bertemu di club. Sekarang tolong kau buang mobil dan mayat yang ada di mobil itu, buat terkesan dia bunuh diri, kelaut."


"Beres Mel," jawab Dodo.


Usai berbicara, Amel naik ke dalam mobil kembali dimana keempat wanita lainnya sudah menunggu kedatangannya untuk naik.


Kali ini Nayla yang mengemudi mobil Motor homenya menuju villa milik Hendra dan mendiang istrinya.


Kembali dua jam perjalanan harus mereka lalui untuk menuju ke Villa milik Hendra dan mendiang istrinya.


Tempat pukul 03.00 pagi, kelima wanita ini sampai juga ke Villa milik Hendra dan mendiami istrinya.


Kehadirannya sudah ditunggu oleh para suami mereka yang berdiri tepat di depan Villa.

__ADS_1


Bayu dibuat memanas dengan pakaian yang dikenakan istrinya.


"Kamu apa-apa Mami?" Tanya Bayu saat Nayla sudah berdiri di depannya.


"Kalau tidak begini, sampai saat ini Mami tidak akan sampai di sini " jawab Nayla yang matanya langsung menelisik leher Bayu yang tersisa jejak perbuatan Patricia.


"Apaan nih?" Tunjuk Nayla pada bagian Leher suaminya yang memerah.


Bayu menyentuh bagian leher yang ditunjuk istrinya.


"Ini karena wanita itu, Papi terpaksa melakukannya karena tuntutan keadaan. Mami tidak perlu takut Papi tak melakukan lebih jauh. Karena kelanjutannya dilakukam oleh Septian." Jawab Bayu yag ditanggapi santai oleh Nayla.


Padahal hati Bayi sudab jedag-jidug taku istrinya marah dan mengambuk.


"Dimana dia? Kita butuh dia untuk lakukan barter." Tanya Amel pada suaminya.


"Dikamar, masih belum sadar setelah Septian menyuntikkan obat bius." Jawab Hendra.


Jimmy yang baru selesai vertukar saliva dengan Endah, kini berjalan menghampiri Amel dan Nayla.


"Besok malam kita akan saling bertemu di klub. Sebaiknya kita pura-pura tidak saling, karena kita akan bertemu dengan kubu berbeda." Ucap Jimmy yang segera diangguki oleh Amel dan Nayla.


Sedangkan Bayu dan Hendra apalagi Leon dan Andre, seperti orang bodoh yang tak tahu maksud dari ucapan Jimmy pada Nayla dan Amel.


"Iya." Jawab keduanya bersamaan.


Sementara itu di sebuah markas komplotan musuh. Daniel terlihat murka karena wanita yang dicintainya menghilang tanpa jejak.


Ingin rasanya ia membunuh kedua orang tua Bayu untuk meluapkan amarahnya dan emosinya. Namun Daniel mengurungkan niatnya itu, karena ia tahu jika ia melakukan hal itu maka dapat dipastikan Patricia tak akan selamat di tangan mereka.


"Apakah kedua pemilik asli klub malam itu sudah konfirmasi kehadirannya dalam pertemuan kita nanti malam?" Tanya Daniel pada Ernes.


"Bobon sudah konfirmasi mereka akan datang," jawab Ernes.


"Bagus. Club itu harus segera menjadi milik kita. Pangsa pasar penjualan kita sangat bagus di sana, kita juga akan menuntut ganti rugi pada Jimmy bersaudara itu. Ketiga pasang orang tua bau tanah dari teman-teman yang kita culik ini, pasti akan membuat Jimmy bersaudara itu mau tak maua akan mengganti kerugian yang kelompok kita alami." Ucap Daniel penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2