
Sore hari di kediaman Bayu. Nayla nampak merajuk, ia duduk sendiri di tepi kolam renang. Dengan kedua kaki yang ia cemplungkan ke dalam kolam.
Bayu telah berusaha membujuknya, namun sekeras apapun ia berusaha membujuk Nayla , tetap saja tak berhasil.
Jika ditanya alasan apa yang membuat Nayla merajuk, tentu saja ia ingin menyambangi kediaman orang tuanya. Namun Bayu terus saja menolak untuk mendatangi kediaman mertuanya itu.
Nayla yang tak terima dengan penolakan Bayu, langsung marah dan merajuk sepanjang perjalanan. Sedangkan Sultan, ia yang seolah terbiasa dengan kebiasaan Ibu sambungnya memilih mengistirahatkan tubuhnya dalam dekapan Nayla di sepanjang perjalanan tadi.
Di kolam renang Nayla terus berpikir dan merasa, seperti ada yang sedang ditutup-tutupi oleh suaminya. Pasalnya selama pernikahannya dengan Bayu. Bayu tak pernah sedikit pun menolak ajakannya Nayla, jika itu menyangkut kedua orang tua Nayla.
Mengapa hari ini suaminya ini bersikeras menolak ajakan Nayla, hingga tanpa sadar Bayu membentak Nayla agar tak terus merengek meminta sesuatu yang tak akan Bayu berikan.
Meskipun Bayu sudah minta maaf hampir beribu-ribu kali, Naylaa tetap tak bergeming. Ia tetap diam membisu seperti patung.
Khawatir Nayla masuk angin, karena terlalu lama merendam kakinya di air. Bayu segera menghampiri istrinya yang sangat keras kepala itu.
"Sayang, sudah yuk! Nanti kamu masuk angin. Kasihan dedenya kedinginan. Masuk yuk!" Ajak Bayu yang berdiri di samping Nayla.
Nayla diam, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi ajakan sang suami.
"Sayang, Papi sudah hubungi Ayah dan Bunda, beliau sekarang dalam perjalanan ke sini. Jangan marah lagi ya! Kamu mau ketemu dengan dengan mereka bukan?"
Mendengar kedua orang tuanya ingin datang ke kediamannya, Nayla menengok ke arah Bayu yang sedang menatapnya sembari tersenyum.
"Berhasil," decit Bayu di dalam hatinya, saat ia melihat Nayla merespon ucapannya.
Senyum manis yang mengembang di wajah Bayu tiba-tiba saja luntur, ketika ia dapati tatapan sinis dari Nayla.
__ADS_1
"Sial, dia masih dalam mode singa betinanya." umpat Bayu di dalam hati dengan wajah yang mulai merengut karena kecewa.
"Aku itu mau ke rumah Ayah dan Ibu, bukan hanya ingin bertemu dengan kedua orang tua ku, tapi juga ingin bertemu dengan sepasang suami istri gesrek yang aku rindukan." gumam Nayla di dalam hatinya.
Entah bawaan kehamilan atau memang sebuah firasat, tiba-tiba saja air mata Nayla luluh lantang. ia menitikan air mata yang begitu deras. Membuat Bayu khawatir dan berusaha memeluknya namun di tepis Nayla.
"Hey, sayang. Kenapa menangis? Maafkan aku sayang. Aku minta maaf ya. Tolong maafkan aku. Kamu boleh meminta apapun asal jangan kerumah Ayah dan Ibu, hanya sementara waktu saja, tidak akan lama." tanya Bayu yang mulai merasa serba salah, harus bagaimana.
Di sisi lain, di sebuah perjalanan. Gunawan dan Riska yang sedang berada di dalam mobil mereka. Merasa bingung, jika Nayla akan bertanya mengenai Hendra dan Silvi.
Pasalnya semenjak kepergiaan Silvi, hingga saat ini keberadaan Hendra belum di ketahui rimbanya. Dia memang sempat pulang kerumah, saaat Amel mengantrnya. Namun setelah bertemu dengan sang Bunda. Hendra pergi lagi entah kemana.
"Ayah, apa kita harus terus berbohong pada putri kita Yah?" tanya Riska yang duduk di samping Gunawan, suaminya.
"Entahlah bu. Andai keadaan putri kita baik-baik saja. Mungkin jujur adalah sesuatu yang harus kita lakukan. Tapi kenyataannya Putri kita masih dalam proses penyembuhan dan tengah berbadan dua pula. Ayah tak mau disalahkan jika terjadi sesuatu yang buruk pada putri kita nantinya." jawab Gunawan panjang lebar.
"Tapi, Ayah tahu sendiri, jika putri kita ittu tidak suka dibohongi."
ia memalingkan wajahnya ke sisi jendela. Ia pandangi suasana pemandangan jalan yang ia lewati dengan hati gelisah. Seorang ibu mana yang tak khawatir tak mendapati keberadaan rimba sang putra hampir satu bulan lamanya.
Mobil yang dikendarai oleh Pak Paijo telah sampai di kediaman Bayu. Bayu menyambut kedatangan ke dua mertuanya dengan ramah.
Kedua orang tua Nayla memandang bingung dengan tak adanya Nayla yang menyambut kedatangan mereka.
"Istri mu mana Nak?" tanya Gunawan yang mencari keberdaan putrinya.
"Di tepi kolam sedang merajuk, saya sudah mencoba membujuknya, tapi tak berhasil Ayah." jawab bayu yang sedikit menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah biar Ayah yang membujuknya. Kamu bisa temani Ibu di sini sebentar." balas Gunawan yang menepuk pelan pundak Bayu.
Gunawan segera meninggalkan Riska dan Bayu. Ia melangkahkan kakinya ke arah kolam renang yang ada di sii sebelah kiri rumah.
"Nayla!!" panggil Gunawan saat ia berada di ambang pintu.
Nayla menoleh ke arah sang Ayah yang memanggilnya, Gunawan nampak tersenyum ke arah Nayla. Namun senyum itu luntur ketika Gunawan membaca raut kecewa sang putri yang kemudian memalingkan wajahnya, kembali mentap kolam dalam diam.
"Hufft... Ayah harap, kamu tidak sedang memainkan drama mu sayang," gumam Gunawan yang mulai berjalan kembali, menghampiri keberadaan sang putri.
"Untuk apa Ayah ke sini, aku tak ingin bertemu Ayah di sini. Aku sedang rindu rumah ku." ucap Nayla, saat ia merasa sang Ayah berdiri di belakangnya.
"Nayla, kamu sudah menikah Nak, rumah mu itu di sini bukan di rumah Ayah, nak." balas Gunawan, ia mencoba memberi pengertian pada putrinya.
"Kenapa aku merasa kalian tak mengizinkan aku pulang ke rumah? Apa ada yang sedang di tutup-tutupi oleh kalian?" Tanya Nayla yang mencoba menebak-nebak.
"Tidak ada yang kami tutup-tutupi, memangnya apa yang harus kami tutup-tutupi dari mu, Nak?"
"Entahlah, mungkin keadaan Mbak Silvi dan Mas Hendra?" tebak Nayla yang memabng benar adanya.
Gunawan tersenyum miring, mengetahui kepekaan putrinya. Namun ia tetap tak ingin memberitahu keadaan keluarganya yang sedang tak baik-baik saja pasca Silvi pergi untuk selama-lamanya.
"Untuk apa Ayah menyembunyikan keadaan mereka sayang. Mereka itu sedang pergi ke luar Negri untuk mengobati penyakit yang di derita kakak ipar mu." kilah Gunawan dengan berbohong.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia membohongi putrinya. Ini semua demi kebaikan Nayla juga. Tak dapat dibayangkan oleh Gunawan, jika putrinya ini mengetahui keadaan keluarganya yang sebenarnya.
Putrinya ini pasti akan bersedih berkepanjangan, sedangkan ia masih dalam pemulihan pesca operasi di kepalanya dan di tambah lagi, ia sedang berbadan dua. Keadaan Ibu hamil yang setres sangat tidak dianjurkan.Karena akan mengganggu pertumbuhan janin.
__ADS_1
"Bohong! Aku tahu Ayah sedang berbohong, jika memang Mas Hendra dan Mba Silvi sedang berada di luar Negeri pasti mereka akan bisa di hubungi. Mereka berduakan pasangan gesrek dan norak. Selalu pamer dimana pun mereka pergi." Gumam Nayla di dalam hatinya, sembari menatap wajah sang Ayah dengan intens.