Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 197


__ADS_3

Mendung menyertai perjalanan yang terasa amat panjang, tidak ada suara kecuali suara radio yang sengaja dinyalakan oleh Zahra Patricia untuk sekedar menenangkan jiwanya.


Sebuah pernikahan tanpa cinta adalah seperti mimpi buruk bagi siapa saja, tapi tidak ada yang pernah tahu bahwa mimpi buruk bisa menjadi manis bila takdir berpihak padanya.


Setelah mendengar Leon mengatakan jika hubungan mereka telah berakhir. Zahra Patricia menilai jika Leon menganggap dirinya adalah sebuah pengganggu di dalam hubungan rumah tangga yang telah dibangun oleh Leon dan sang istri.


Zahra Patricia memutuskan menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya yang sudah jatuh miskin dengan seorang pria kaya yang tidak lebih kaya daripada Leon.


Hari ini sebuah mobil mewah membawa dirinya pergi ke tempat acara pernikahan dirinya dengan pria yang tak ia kenali sebelumnya.


Zahra Patricia begitu terkejut ketika mendapati calon suaminya ternyata adalah teman baik Leon saat di SMA dulu dan juga pacar dari sahabatnya, Mona.


Zahra terlihat meremas kain kebaya yang membalut tubuhnya dengan indah. Tangannya berkeringat dan jantungnya luar biasa berpacu. Dilihat olehnya Mona tengah menatap dirinya dengan tatapan sendu.


"Maafkan aku," cicit Zahra saat tatapannya bertemu dengan Mona.


Mona hanya mengganggu dengan deraian air mata yang terus menetes membasahi pipinya.


Rasa bersalah begitu menguasai dirinya saat ini. Zahra mengakui ketegaran yang dimiliki oleh Mona saat ia menyaksikan sahabatnya menikahi pacarnya sendiri.


Saat semua rangkaian acara sudah selesai. Para tamu undangan sudah pergi. Andi menarik tubuh Zahra sedikit kasar ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke apartemen Louis. Ya mereka akan tinggal di apartemen yang telah disediakan kedua orang tua Andi untuk mereka.


Di dalam mobil Andi tak henti-hentinya memarahi dan mencaci maki Zahra.


"Bagaimana bisa lo menerima perjodohan ini? Bukannya Lo nggak akan mau menikah sama gue? Mana janji lo dulu Zah? Apa karena sekarang kehidupan keluarga lo yang sudah jatuh miskin lo jadi perempuan murahan? Dibayar berapa lo sama nyokap gue buat nikah sama gue? Lo udah menghancurkan mimpi-mimpi gue sama Mona." Cecar Andi yang sama sekali tak dapat sahutan dari Zahra.


Zahra hanya duduk terdiam dengan genangan air mata yang sebentar lagi akan jatuh tanpa mampu berkata apapun. Zahra tidak menyangka jika yang dijodohkan olehnya adalah Andi pria yang dulu memang pernah dijodohkan kedua orang tuanya pada dirinya. Zahra kira kedua orang tuanya akan menjodohkan Zahra dengan pria lain bukan Andi. Melihat Zahra terdiam Andi pun mulai melanjutkan kata-katanya yang menyakitkan.


"Jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini apalagi uang gue. Gue nggak akan memberikan lo uang sepeserpun tapi gue akan membuat lo merasakan sakitnya pernikahan yang dilandasi tanpa cinta ini." Ucap Andi penuh kebencian kemudian keluar dari mobil sambil membanting pintunya dengan keras.


Malam harinya, saat Zahra ingin beranjak tidur, tiba-tiba ponselnya berdering. Seseorang pria menghubunginya dengan ponsel Mona. Pria itu adalah Prasetyo, teman baru Mona yang pernah dikenalkan Mona pada Zahra, ia mengabarkan jika Mona tengah mabuk di dalam klub malam.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Zahra pun menyusul keberadaan Mona.


Dentuman musik yang terdengar keras membuat gendang telinga Zahra sakit. Zahra tidak pernah berpikir bagaimana orang-orang berada di klub ini tahan akan semua suara keras yang ada di sini dan juga lampu berwarna-warni yang menyilaukan.


"Prasetyo,"seru Zahra saat mendapati Prasetyo tengah menjaga Mona di bagian pojok club malam tersebut.


"Dia tampak tidak baik-baik saja,"ujar Prasetyo saat Zahra mendekati mereka.


"Ya. Dia sedang tidak baik-baik saja karena aku sudah menikahi kekasihnya."jawab Zahra yang membuat Prasetyo terbelalak.


Jika diingat ke belakang Prasetyo adalah seorang pria di masa lalu Nayla yang sangat mencintai Nayla.


"Apa aku tidak salah mendengarnya Zahra? Kau tidak sedang bercanda bukan?" Tanya Prasetyo yang tak percaya dengan apa yang dikatakan Zahra padanya.


"Aku tidak bercanda hari ini adalah hari pernikahanku dengan kekasihnya."ujar Zahra meyakinkan Prasetyo.


"Kau menikah dengan Andi pria kasar itu?" Balas Prasetyo yang dianggap oleh Zahra.


"Sebaiknya tolong aku bantu Mona untuk pulang!" Ucap Zahra yang kemudian mengambil tas jinjing yang dibawa oleh Mona.


"Mona maafkan aku, aku sungguh tidak tahu jika dia yang dijodohkan denganku. Aku kira kedua orang tuaku menjodohkan aku dengan orang lain bukan dengan Andi lagi."


"Aku tahu... aku tahu itu. Kau tidak bersalah begitu pula dengan Andi, tapi kedua orang tua kalianlah yang bersalah padaku." Ucap Mona sebelum ia tak sadarkan diri.


Dengan bantuan Prasetyo, Zahra pun membawa Mona ke apartemennya. Setelah mengantarkan Mona ke apartemennya, Prasetyo pun mengantarkan Zahra ke apartemen Louis di mana dirinya kini sekarang tinggal bersama dengan Andi.


Andi yang meninggalkan Zahra sejak sore tadi tiba-tiba melihat Zahra bersama dengan pria lain yang tak lain adalah Prasetyo pria yang selama ini membuatnya cemburu jika Mona berdekatan dengan dirinya.


"Dasar perempuan si4lan. Ternyata tak hanya diriku yang menjadi incarannya tapi juga dengan Prasetyo." Gumam Andi di dalam hatinya.


Karena keadaan lobby apartemen yang sepi Prasetyo pun beranisiatif untuk mengantarkan Zahra hingga ke pintu lift. Namun Baru beberapa langkah kakinya menginjak lobby apartemen. Andi yang memang tak menyukai Prasetyo pun langsung menghantam Prasetyo dengan pukulan dari belakang.

__ADS_1


Bugh


Bugh


Bugh


Prasetyo jatuh terkapar di atas lantai dengan luka lebam di sekujur wajahnya. Zahra berteriak sekuat tenaga. Kebetulan saat kejadian itu terjadi, rupanya Leon dan juga Anna baru saja pulang dari makan malam mereka.


Leon dan Anna yang tadinya memutuskan untuk berlibur demi menumbuhkan chemistry di antara mereka yang hilang karena kehadiran Zahra pun memilih untuk tinggal saja di apartemen louis untuk sementara waktu.


Namun tanpa dinyana, di apartemen inilah Leon dipertemukan kembali oleh Zahra yang kini sudah berstatus sebagai istri Andi.


"Hai apa yang kalian lakukan! Kenapa ribut-ribut di sini?" Tanya Leon pada keduanya yang tengah bergelut di atas lantai.


Zahra terus berusaha menghalangi Andi, sampai akhirnya ia terjatuh ke lantai karena terkena sikutan dari Andi yang emosi.


Leon begitu terkejut ketika melihat wanita di antara keributan dua pria itu adalah Zahra.


"Zahra???" Cicit Leon saat melihat wajah Zahra.


Anna yang berbaik hati, segera memberikan pertolongan kepada Zahra. Sementara Leon segera menghentikan perkelahian antara Prasetyo dan juga Andi.


"Hai kalian berhentilah untuk berkelahi di sini!" Ucap Leon sembari menarik tubuh Andi yang berada di atas tubuh Prasetyo.


Andi yang ingin meninju Leon langsung saja berdiri mematung ketika melihat siapa orang yang tengah berdiri di hadapannya.


"Leon," Cicit Andi saat melihat sosok pria berkuasa yang ada di hadapannya yang merupakan teman baiknya saat di SMA dulu.


"Hah kau lagi." Ucap Leon ketika melihat wajah Prasetyo yang ada di bawah lantai.


Leon membantu Prasetyo untuk berdiri.

__ADS_1


"Apa kau menjadi orang ketiga diantara mereka? Kenapa aku selalu bertemu denganmu dengan keadaan yang tak baik hah?" Tanya Leon pada Prasetyo.


Alih-alih menjawab pertanyaannya, Prasetyo yang sudah dibantu oleh Leon malah pergi meninggalkan mereka semua tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


__ADS_2