
"Papa, apa kau masih mau terus berdiri disitu? Kalian ini seperti tiang listrik saja. Duduklah di sini bersama ku." Endah mengajak suami dan yang lainnya untuk duduk bersamanya, si sebuah sofa panjang yang cukup kosong.
Endah menepuk-nepuk sofa yang kosong di samping kanan dan kiri dirinya itu berkali-kali hingga mereka mendatanginya.
Kelimanya kini duduk di dekat Endah. Jimmy langsung melepas jas yang ia kenakan, demi menutup bagian tubuh istrinya yang hanya diperuntukan untuk dirinya yang sejak tadi terekspos dengan jelas.
"Kenapa pakai baju macam ini, ke sini Endah?" tegur Leon sembari mencubit paha adiknya.
"Sakit, jangan menjatuhkan kewibawaan ku, Bang! Tidak mungkin aku pakai batik ke sini. Kita tidak sedang kondangan."
"Salahmu pakai pakaian macam seperti ini." Balas Leon yang tak henti-hentinya mencubiti adiknya yang melawan kata-katanya.
Merasa sakit terus dicubiti oleh Leon. Endah akhirnya meminta Daniel untuk cepat mengutarakan apa yang ingin ia bicarakan.
"Cepatlah bicara dan jangan buang waktuku! Apa yang ingin kau bahas di sini Daniel!"
"Sabar dulu Nyonya Jimmy, kita masih menunggu kehadiran dua tamu penting ku." Jawab Daniel dengan senyum jumawanya.
Daniel masih menaruh rasa penuh percaya diri. Ia masih mengira jika malam ini, ia akan mendapatkan apa yang ia dan kelompoknya inginkan dari kedatangan mereka.
Sementara itu di Mansion Abraham. Kini Angela dan Bowo tengah dihadapkan oleh Ferdy dan juga Tuan Adam, yang merupakan paman dari Leon, Endah dan juga Jessica.
"Katakan apa mereka dalam masalah besar hingga menitipkan anak-anak mereka ke sini?" Tanya Tuan Adam dengan tatapannya yang tajam seperti sedang menguliti Angela dan Bowo.
"Iya Tuan, kedua orang tua Nyonya Nayla, Amel dan Tuan Bayu di culik. Mereka sedang dalam misi penyelamatan. Masalah ini terjadi karena karena Nona Endah membunuh salah satu anggota mafia bernama Joseph. Sebagian dari anggota gengster tidak terima atas kematian Joseph karena Joseph adalah tambang emas mereka dalam penjualan Narkoboy." Jawab Angela jujur apa adanya.
"Siapa mereka Fer, yang sudah berani bermain api dengan keluarga kita?"
"Keluarga besar Bolen, Daniel, dan komplotan Tuan Charles Darwin." Jawab Ferdy yang sudah mencari tahu siapa saja lawan keluarga Adijaya dan Kusuma.
__ADS_1
"Hubungi Brata, eksekusi semua penghianat yang ada di sekitar keponakanku, sekarang. Aku akan urus Tuan Charles, dia akan jadi lawanku, sekarang." Perintah Tuan Adam pada Ferdy.
"Baik Tuan, tapi Tuan Brata sudah berada di kota J, Tuan. Beliau sedang menyiapkan peti kemas untuk membuang orang-orangnya yang berkhianat."
"Dia gerak cepat rupanya. Ok kalau begitu siapkan pesawat, aku akan segera bertolak ke kota J." Perintah Tuan Adam lagi.
Malam itu, Tuan Adam segera bertolak ke kota J. Demi membantu keponakannya. Ia tak mungkin membiarkan keponakannya sendirian menghadapi masalah yang cukup besar.
Sementara itu di kota J. Seluruh orang-orang yang bekerja bersama kelima pasangan suami istri ini sudah dikumpulkan di dalam area peti kemas milik Tuan Brata.
Ratusan orang berbaris di sana. Termasuk para pembantu rumah tangga mereka.
Satu persatu nama mereka di panggil dan diberikan amplop oleh orang kepercayaan Tuan Brata.
Mereka dipisahkan di sisi kanan dan juga sisi kiri. Sesuai dengan isi amplo tersebut. Barisan orang-orang yang sudah renta dan cukup umur yang berada di barisan kanan, diminta untuk naik ke dalam bus. Dimana mereka akan dipulangkan terlebih dahulu.
Setelah itu tersisalah mereka yang tak terlalu tua di barisan kanan dan juga barisan kiri yang jumlahnya tak berkurang satu pun, setelah bus yang mengangkut bagian kanan telah pergi.
Ya mereka mendapatkan jumlah uang sesuai dengan bayaran yang dijanjikan dan akan diberikan oleh musuh Tuan muda mereka, ketika musih Tuan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Tuan mereka.
Jangan panggil Tuan Brata, jika tidak bisavmengetahui sedetail ini, hingga jumlah nominal yang dijanjikan para musuh pun ia ketahui.
Setelah menerima sejumlah uang, wajah sumringah terpancar jelas dari wajah pengkhianat ini.
"Bagaimana apa kalian senang dengan apa yang kalian dapat malam ini?" Tanya Stephan asisten Tuan Brata.
"SENANG!!" Pekik mereka dengan euforia.
"Bagus kalau begitu, tolong kumpulkan seluruh senjata yang melekat pada diri kalian, disana!" Perintah Stephan asisten Tuan Brata.
__ADS_1
Mereka semua tanpa merasa curiga, langsung saja mengikuti perintah Stephan.
Usai meletakkan senjata mereka kembali berbaris di tempat semula. Dan lagi-lagi Stephan kembali memberikan perintah pada mereka.
"Kalian lihat ada dua pintu di ujung sana! Kalian bebas bebas pilih pintu yang mana. Berjalanlah terus ke dalam tanpa berteriak ataupun bersuara karena kalian akan melewati lorong sebelum menemukan wanita-wanita cantik yang akan memuaskan kalian. Terimalah hadiah yang dipersembahkan oleh Tuan Brata untuk kalian." Ucap Stephan yang kemudian melutuskan satu tembakan ke udara, agar mereka segera berlari menuju temoat yag Stephan tunjuk.
Mereka berlari dengan riang gembira, menuju tempat yang Stephan tunjuk. Tuan Brata tertawa dengan lepas. Saat mereka terlihat bahagia menyambut kematian mereka.
Usai semuanya masuk, kedua pintu itu di tutup dan tirai pun di buka. Nampak kedua peti kemas yang langsung diangkat Portainer masuk ke dalam kapal yang sudah di siapkan sebelumnya.
Terdengar sayup-sayup jeritan suara mereka yang minta dibukakan pintu. Orang-orang yang berada di barisan kanan bergidik ngeri dengan apa yang mereka dengar. Apa lagi saat Tuan Brata mulai memberikan perintah untuk membuang mereka di lautan dalam.
Setelah sebuah kapal container ship pergi ke tempat yang sudah diperintahkan Tuan Brata. Tuan Brata segera meninggalkan area bongkar muat peti kemas.
Stephan mulai memberikan perintah dan ultimatum pada seluruh pekerja yang ada di sana. Jika ada diantara mereka berani berkhianat seperti mereka, bisa dapat di pastikan mereka akan merasakan apa yang teman-teman mereka rasakan saat ini.
Kembali lagi ke club malam, dimana mereka semua masih menunggu kedatangan Nayla dan juga Amel yang belum juga kunjung datang sosok batang hidungnya.
"Kemana mereka lama sekali? Apa istrimu tidak bersama dengan istriku?" Tanya Bayu pada Jimmy.
"Kau ini bagaimaa Bay, bukannya kau tahu sendiri. Istri mu dan Istri Hendra naik mobil terpisah dengan istri-istri kita." Jawab Jimmy.
Jujur saat ini Bayu dilanda ke khawatiran mendalam pada istrinya. Ia terus berpikir dan bertanya-tanya kemana istrinya yang tak juga kunjung datang hingga saat ini.
Brakkk!
Suara pintu ruangan terbuka dengan lebar dan kasar.
Muncul sosok seorang pria yang berusia terpaut lima tahun lebih tua dari mereka, berjalan menghampiri mereka yang terlihat tak mereka kenali.
__ADS_1
Siapakah dia?