
Dua hari sudah Nayla merajuk dengan Bayu, dua hari pula ia hanya mengikuti kegiatan Bayu di kantor dengan diam membisu. Ia hanya mau berbicara dengan putra sambungnya.
Jika ingin berkomunikasi dengan sang suami. Ia gunakan Sultan sebagai perantara. Seperti saat ini. Saat dimana Nayla merasa cacing-cancing dan kecebong Bayu merasa lapar di dalam perutnya dan juga merasa kesal karena Amel tak bisa dihubungi olehnya. Segera melancarkan aksinya. Menurutnya Amel tak akan berani menolak panggilan Bayu seperti ia menolak panggilan Nayla seperti saat ini.
"Sultan katakan pada Papi, Mami lapar, ade mu di dalam perut minta makan." Perintah sang anak yang sedang asyik bermain legonya.
"Siap Mami, Sultan bilang Papi dulu." Sultan segera meninggalkan mainannya dan berlari menghampiri Bayu yang tengah sibuk di meja kerjanya.
"Ada apa sayang?" tanya Bayu saat Sultan menarik lengan bajunya.
"Mami dan Ade bayi di dalam perut mami lapar, mereka sudah minta makan lagi Pih," ucap Sultan yang berbisik.
Sultan tak mau Nayla mengetahui apa yang di obrolkan dirinya dengan sang Papi, pasalnya ia takut Nayla tersinggung, karena belum satu jam Nayla sudah menghabiskan 20 pcs dim sum seorang diri, kini sudah teriak lapar lagi.
"Biarkan saja sayang, adik mu di dalam perut itu sedang dalam masa pertumbuhan. Jadi Mami mu pasti akan terus merasa lapar." balas Bayu yang tersenyum manis pada putranya, sembari mengusap-usap kepala Sultan yang mulai di tumbuhi rambut.
"Apa kalau sedang masa pertumbuhan, kita akan terus merasa lapar, Papi?" tanya Sultan dengan polosnya.
"Tentu saja sayang, karena makanan yang kita makan akan membuat tubuh kita semakin bertumbuh bisa keatas juga bisa ke samping."
"Ke samping?" Sultan membeo tak mengerti.
__ADS_1
"Sultan Mami sudah lapar sayang!" pekik Nayla ketika Bayu ingin menjelaskan apa maksud kata-katanya dengan kata tumbuh ke samping.
"Iya Mami," Sultan segera menyahut, sebelum ia berlari menghampiri Nayla. Bayu meminta Sultan untuk menanyakan, makanan apa lagi yang ingin Nayla makan kali ini.
"Mami, kata Papi, Mami mau makan apa?" tanya Sultan yang menyampaikan pesan dari Bayu.
Nayla tersenyum licik yang kemudian mengutarakan keinginan palsunya pada putranya.
"Sultan katakan pada Papi mu, Mami mau rujak kangkung buatan Tante Amel. Tapi mau sambal rujaknya di buat langsung di sini sama Tante Amelnya." Jawab Nayla dengan suaranya yang cukup keras, sembari melirik kearah suaminya dengan tatapan penuh arti.
"Ok Mami." Jawab Sultan yang segera ingin berlari menghampiri meja kerja Bayu. Namun Bayu yang merasa kasihan dengan Sultan meminta anaknya tetap berada di sana.
"Sultan sayang, tetaplah di sana. Papi akan mengabulkan permintaan Mami mu." ucap Bayu yang mendapi dua jempol dar putranya dan senyuman yang begitu manis dari Sultan untuk pertama kainya..
Segera Bayu menghubungi Amel, tidak sampai dua kali nada dering berbunyi. Amel segera mengankat panggilan telepon dari Bayu. Dosen sekaligus suami sahabatnya.
"Hallo Mel, bisakah kamu buatkan rujak kangkung untuk Nayla sekarang. Dia sedang ngidam rujak kangkung buatan mu, tapi kamu buatkan sambalnya langsung di kantor saya ya!" perintah Bayu yang membuat Amel terdiam di seberang sana.
Amel tak dapat berkata-kata untuk menjawab perintah dari Bayu.
"Sial, gue kena perangkap lo Nayla. Lo memang sangat cerdas kalau masalah menjebak orang. Seberapa ingin gue menghidari lo, seberapa gencar lo mau tangkap basah gue." gumam Amel di dalam hatinya.
__ADS_1
Sementara itu Nayla tersenyum sinis saat suaminya berhasil menghubungi suaminya.
"Sialan lo Mel, pake menghindar dari gue. Jadi makin yakin gue sama kalian semua. Ada sesuatu yang sedang kalian tutupi sama gue tentang Mas Hendra dan Mbak Silvi." gumam Nayla di dalam hatinya.
Amel menerima perintah dari Bayu, ia berjanji pada Bayu jika dia akan datang dalam waktu empat puluh menit ke depan. Bayu yang sudah menutup sambungan teleponnya dengan Amel, segera menghampiri sang istri yang tengah berbaring di sebuah permadani yang di atasnya terdapat sebuah kasur lantai yang empuk dan bantal hamil yang sangat nyaman untuk Nayla bersandar sambil berbaring.
Bayu membuka sepatunya saat ia sudah berjalan di atas permadani itu. Jangan tanya kenapa Bayu membuka sepatunya. Jelas saja karena Nayla berusaha bersikap higienis demi calon sang buah hati.
Bayu berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia duduk tepat di dekat kedua kaki Nayla. Bayu melirik Nayla yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Bayu ikut merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Nayla menjadi tumpuan kepalanya.
"Mami, Papi ada meeting hari ini dengan karyawan. Mami jangan kemana-mana ya sayang, tetaplah di sini. Tapi kalau Mami cari dimana keberadaan Papi, Papi ada di ruang meeting." ucap Bayu yang masih di acuhkan Nayla.
Sambil menunggu waktu meeting tiba, Bayu memejamkan matanya di pangkuan Nayla. Tak butuh waktu lama, rasa nyaman berada di dekat Nayla membuatnya cepat terlelap dan masuk ke alam mimpinya.
Tiga puluh menit berselang. Sekertaris Bayu datang dengan mengetuk pintu. Nayla yang mengetahu jika itu adalah Safana segera mempersilahkan Safana untuk masuk ke dalam.
Panas. Ya. Seketika hati Safana panas melihat pria yang sangat ia kagumi dan ia cintai sedang berbaring di atas pangkuan seorang wanita yang merupaka istri dari pria yang ia cintai.
Tatapan kecemburuan Safana yang tak bisa disembunyikan, membuat Nayla mengerti apa yang sedang dirasakan Safana pada suaminya. Dengan sengaja, Nayla menunjukkan kemesraannya pada Bayu, padahal sebenarnya ia sedang merajuk pada suaminya itu.
Dibelainnya kepala plontos suaminya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang di depan Safana. Membuat Safana yang melihatnya semakin panas hatinya. Terlebih bayu yang merasakan belaian Nayla malah merengkuh pinggang Nayla dengan tangannya.
__ADS_1
Bayu yang masih terpejam menyangka jika hati Nayla telah luluh, padahal kenyataanya tidak seperti itu.