
Tepat pukul 12 siang. Diana mendatangi ruangan Bayu. Diana mengetuk pintu ruangan Bayu. Ia sangat mengetahui Bayu berada di dalam. Karena ia baru saja melihat Bayu ke dalam membawa lebar tugas Mahasiswanya, sepertinya ia baru saja memberikan kuis pada Mahasiswanya saat mengisi mata kuliahnya tadi.
"Masuk," jawab Bayu dari dalam.
Perlahan Diana membuka pintu yang ada dihadapannya. Ia dapati Bayu tengah duduk menatap laptopnya.
"Ada peru apa?" Tanya Bayu dingin tanpa menatap wajah Diana.
Diana menggeser kursi yang ada di depan meja Bayu. Ia duduk di kursi itu sebelum Bayu mempersilahkan dirinya.
Bayu menaikan sebelah alisnya meskipun pandangannya masih lurus menatap laptop yang ada di hadapannya.
"Siapa yang menyuruh kamu untuk duduk disini? Lancang!!" Tanya Bayu dengan ketusnya.
Seolah terbiasa dengan sikap ketus Bayu. Diana malah tersenyum manis pada Bayu yang masih enggan menatap dirinya.
"Bayu.... Aku__" ucapan Diana terhenti karena Bayu memotongnya.
"Aku apa? Cepat katakan yang ingin kamu katakan! Saya tidak ada banyak waktu untuk mendengarkan perkataan mu. Jika sudah selesai silahkan pergi. Pintunya ada disebelah sana!" Sambung Bayu dengan tangan kirinya yang menunjuk arah pintu ruangannya.
"Bayu tolong beri aku kesempatan untuk bicara,"
"Ya silahkan bicaralah," balas Bayu yang sama sekali enggan menatap Diana.
"Tolong jangan seperti ini Bayu! Tolong lihat aku sebentar saja!" Pinta Diana yang memohon pada Bayu dengan menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.
Diana berharap Bayu menoleh dan melihat permohonannya. Namun sayang, tatapan Bayu tetap fokus pada laptop yang menyala dihadapannya.
"Cepat bicara! Atau jika tidak silahkan keluar!" Usir Bayu kembali.
"Bayu!" Diana memanggil nama Bayu, ketika ia kembali mendapati pengusiran dari Bayu.
Bayu mengangkat ke dua tangannya seakan ia menyerah sudah mengusir Diana yang tak kunjung mau pergi.
"Aku sudah meminta mu pergi dari ruangan ku baik-baik. Aku tak akan menanggung bagaimana kamu akan menerima amukan istriku yang melihat mu menangis dan memohon tak jelas pada suaminya ini." Ucap Bayu saat mendengar suara isak tangis Diana yang malah memecahkan kesunyian di ruangan kerjanya.
__ADS_1
Risih sekali Bayu mendengarkan tangisan Diana. Berkali-kali ia terlihat mendengus kesal, namun Diana tetap menangis meraung-raung, berharap Bayu menenangkannya dan memeluk tubuhnya yang haus akan belaian Bayu.
"Bayu. Aku sangat mencintai mu." Ucap Diana tanpa rasa malu. Padahal ia mengetahui dengan jelas Bayu telah memiliki istri.
"Ya aku tahu, tapi sayangnya aku tidak." Jawab Bayu yang sibuk dengan kegiatannya memasukkan nilai mahasiswanya kedalam laptop.
"Kenapa kamu tak bisa mencintai ku, Bay? Jika karena kesalahan yang pernah aku buat. Aku minta maaf dengan semua kesalahan ku pada rumah tangga mu yang terdahulu Bayu," ucap Diana dengan tangan memohon.
"Aku tidak bisa memaafkan kesalahan mu yang membuat diriku dan putraku harus menderita selama ini." Balas Bayu yang kini menatap tajam Diana.
"Kamu tahu, sejaka kamu membawa mantan kekasih istri ku kembali ke kehidupannya. Membuatnya berbuat nekat meninggalkan kami begitu saja. Putra ku yang baru saja ia lahirkan sampai tak sudi ia berikan asi barang setetes pun. Aku sangat tahu, kamu sengaja melakukannya bukan," sambung Bayu yang menggebrak meja kerjanya.
"Bay, maaf kan aku. Itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu." Balas Diana, ia menatap Bayu yang marah dengan linangan air mata.
"Jika kamu mencintai ku, tidak seharusnya kamu berbuat kejam pada ku, Dian! Tak hanya diri ku yang ikut menderita karena perbuatan mu, tapi juga dengan putra ku yang malang pun harus ikut menderita karena mu! Dan sekarang karena perbuatan mu, aku harus menanggung malu di depan mahasiswa ku, atas kemarahan istri ku atas sikap kelancangan mu pada ku." Bayu bicara dengan nada tinggi dan berdiri menatap Diana dengan tatapan mengintimidasi.
Nada bicara Bayu yang tinggi hingga terdengar keluar ruangan. Diana makin terisak saat Bayu terlihat marah padanya. Kedatangan Diana saat ini, sama saja mengingatkan kembali luka hati Bayu yang sudah terlupakan sejak Nayla hadir di hidupnya.
Nayla dan Sultan yang sejak tadi sudah ada di depan pintu ruangan Bayu hanya terdiam di depan pintu. Mendengar semua pembicaraan mereka di dalam sana. Seakan tak ingin telinga anak sambungnya terkontaminasi dengan suara pekikan Bayu. Ia segera menutup telinga putra sambungnya itu dengan kedua tangannya.
Kesal, baru sebentar ia meninggalkan suaminya untuk menjemput putranya yang ada di tempat parkir, ia sudah kecolongan seperti ini. Dosen cantik dan gatel ini dengan berani-beraninya mendatangi suaminya dan menyatakan perasaannya yang tak tahu diri itu.
"Cewek gatel gak tahu diri, udah jelas-jelas laki gue udah punya bini, masih bisa-bisanya dia nyatain perasaannya. Ughhh..." Kesal Nayla di dalam hatinya.
"Eh, tapi dia udah tahu belum ya? Kalau belum kayanya gak mungkin banget. Kan jelas-jelas tadi di kelas gue panggil laki gue dejgan sebutan Papi masa dia gak ngerti. Kayanya harus gue labelin nih suami gue di jidatnya kalau dia udah sold out," batin Nayla lagi.
"Aku berbuat seperti itu, karena aku ingin hanya aku yang mendampingi dirimu Bay, bukan wanita lain, termasuk mahasiswi botak itu, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan aku Bay!" ucap Diana dengan tangisnya yang terdengar begitu menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.
Namun tidak menyayat hati bagi Nayla, malah memuakkan di telinga Nayla yang mendengarnya. Bisa-bisanya wajita pengemis cinta itu, membandingkan dan merendahkan dirinya.
"Sialan banget gue di panggil mahasiswi botak, emang botak sih. Tapi tetap aja sialan tuh dia pakai banding-bandingin gue sama dia. Mau coba-coba mendepak gue dari laki gue nih romannya ni Bu Dosen,"
"Egois!" Ucap Bayu singkat menanggapi ucapan Diana.
Bayu yang semula berdiri karena kesal, kemudian kembali duduk karena melihat bayangan tubuh istrinya di balik pintu. Ia dapat melihatnya dari kaca yang terdapat di tengah pintu ruang kerjanya.
__ADS_1
"Masuk sayang, jangan terlalu lama berdiri di sana!" Pekik Bayu yang meminta Nayla untuk masuk ke dalam.
Nayla yang mendengar suara suaminya segera masuk dengan menggandeng tangan Sultan.
"Cium tangan sama Papi sayang! Perintah Nayla pada putra sambungnya.
Ia melepaskan tangan Sultan yang berpegangan erat dengan tangannya. Sultan melangkah mendekati Bayu dengan tatapan kebencian, menatap Diana yang masih terisak tangis tanpa rasa malu. Seolah dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan ibu sambungnya terhada wanita yang tengah duduk di hadapan Papinya.
Melihat Sultan mendekati Bayu. Sesekali Diana melirik Nayla yang berdiri tak jauh dari kursi duduknya.
"Siapa tante itu Papi?" Tanya Sultan yang terus melirik Diana yang terisak tangis.
"Teman kerja Papi Nak," jawab Bayu.
"Kenapa Tante itu menangis? Apa dia nakal dan dimarahi Papi?" Tanya Sultan dengan polosnya. Ia melirik Diana yang tengah menatap Nayla dengan tatapan kebencian.
Diana yang duduk sambil terisak terus memperhatikan pergerakan Sultan yang terlihat tak bersahabat dengannya, hingga Sultan berjalan kembali ke arah Nayla yang ingin mendaratkan bokongnya di sofa panjang yang ada di ruangan Bayu.
"Mami, pinjem ponselnya, Sultan mau main game," ucap Sultan yang menarik -narik tas kuliah Nayla.
"Ok sayang, setengah jam ya? Gak boleh lebih." Nayla berucap sembari memberikan ponselnya yang ada di dalam tasnya pada Sultan. Ia juga memasangkan airphone di telinga Sultan.
Bayu yang melihat apa yang dilakukan istrinya sudah mengerti, dengan apa yang akan dilakukan istrinya itu selanjutnya.
Saat Nayla hendak menatapnya, buru-buru bayu memalingkan pandangannya kembali ke depan laptop.
"Aku gak lihat, aku gak lihat," ucap Bayu yang membuat Diana menyernyitkan kedua alisnya tak mengerti dengan ucapan Bayu yang tak kunjung berhenti itu.
Sedang Sultan malah berkata, "Jangan lama-lama Mami menyelesaikannya! Rasa es cream coklat sudah terasa di ujung lidah ku saat ini, ingat janji Mami tadi kan?" Pekik Sultan karena ia merasa suaranya hampir tak terdengar.
Terang saja Sultan bicara dengan memekik, karena ia merasa suaranya hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri. Karena Nayla memasangkan lagu anak di airphone yang digunakan putranya dengan volume yang cukup tinggi. Meskipun demikian volume suara itu masih terdengar aman di telinga Sultan.
Nayla mengangguk setuju dengan mengembangkan senyum manis pada ucapan sang putra sambungnya itu. Kemudian ia berjalan menghampiri kursi yang ada di samping Diana. Ia duduk di kursi yang berada di samping Diana tersebut.
"Aku tak lihat, aku tak lihat. Jangan salahkan aku Mami. Aku tak salah, aku yang dihampiri bukan aku yang memintanya kesini." ucap Bayu yang melirik sang istri yang tengah menatap tajam Diana. Diana yang di tatap sang istri malah tak melepaskan pandangannya pada Bayu.
__ADS_1
"Hei, Ibu Diana yang terhormat, lihat apa kau hum?" Tanya Nayla dengan nada membentak yang membuat Diana menoleh menatap Nayla yang kini duduk di sampingnya. Nayla menunggu jawaban Diana dari pertanyaannya dengan alis mata yang ia tarik ke atas berkali-kali.