Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 220


__ADS_3

Amel berjalan menghampiri Nayla. Ia menepuk bahu Nayla, saat ia telah berdiri tepat di belakang tubuh adik ipar nya itu.


"Kita sudah tahu dimana keberadaan orang tua kita, Nay. Mereka pasti membawa mereka ke villa itu." Ucap Amel ketika Nayla membalikkan tubuhnya.


"Jangan cemas Mel, kita akan menyelamatkan mereka. Mereka pasti akan baik-baik saja. Tak akan terluka sedikit pun." Ucap Nayla yang membaca gurat khawatir dan sedih Amel yang jelas terpancar di wajah kakak iparnya ini.


Meskipun kedua orang tua Amel sangat egois dan tidak memperdulikan dirinya selama ini, namun sebagai seorang anak tentunya ia merasa khawatir jika kedua orang tuanya diculik karena kesalahan yang pernah ia lakukan.


"Kapan kita akan membebaskan mereka Nay?" Tanya Amel yang selama ini selalu bergantung pada apa yang dikatakan Nayla.


"Setelah urusan kita dengan Daniel selesai." Jawab Nayla yang kemudian memeluk Amel.


"Kenapa tidak sekarang Nay? Kenapa harus menunggu urusan kita dengan Daniel selesai? Itu sangat lama, gue takut mereka akan menyakiti kedua orang tua kita. Lo tahu Barnes sangat dendam dengan kita." Amel mencoba mendesak Nayla untuk segera membebaskan kedua orang tua mereka.


"Jangan melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa Mel, percayalah sama gue. Mereka akan baik-baik saja." Ucap Nayla yang tiba-tiba melepaskan pelukannya pada tubuh Amel yang terus menangis dan tiba-tiba pergi meninggalkan Villa dengan mobil milik mendiang Silvi yang terparkir di garasi mobil.


Meski mobil itu jarang digunakan,namun mobil itu sangat terawat oleh penjaga Villa.


Bayu berusaha mengejar kepergian istrinya, namun langkahnya dicekal oleh Jimmy.


"Biarkan dia menyelesaikan urusannya, Bay! Jangan halang-halangi dia!" Cegah Jimmy.


Seketika Jimmy mendapatkan tatapan tajam dari Bayu.


"Sekuat apapun kemampuan istriku, dia tetap seorang wanita. Jangan coba-coba memanfaatkan kemampuannya Jimmy!" Sarkas Bayu dengan kata-kata yang cukup menohok Jimmy.


"Aku tidak memanfaatkan istrimu. Tapi dia punya cara sendiri untuk membebaskan kedua orang tua kalian." Balas Jimmy.


Tak sampai lima belas menit Nayla sudah kembali dengan sebuah ponsel ditangannya.

__ADS_1


"Majukan jadwal pertemuan gue sama manusia itu. Kalau lo gak bisa majukan. Bersiaplah habis di tangan gue, lo Bon!" Ancam Nayla saat ia menghubungi Bobon dari ponsel yang baru ia beli.


"Ya. Nay. Gue akan lakukan apa mau lo." Jawab Bobon.


Setelah mendengar jawaban kesediaan Bobon menerima perintahnya. Nayla segera menutup sambungan panggilan teleponnya.


"Arghhh...." Pekik Bobon frustrasi, ketika Nayla menutup sambungan panggilan teleponnya seenak jidatnya.


"Dasar pemaksa! Dasar wanita kejam! Bagaimana bisa dia menikah dan memiliki seorang anak? Jika karakternya seperti ini." Umpat Bobon yang kemudian dengan terpaksa mengatur jadwal pertemuan Nayla dengan Daniel, sesuai dengan permintaan Nayla.


Di villa, Bayu yang sejak tadi tetap berdiri di depan pintu. Terus menatap istrinya yang tengah berbicara di sambungan teleponnya dengan Andrew.


"Jam 20.00, Nay sudah di sana Bang, setelah itu kita lanjut ke villa keluarga Balson. Tolong siapkan keperluan Nay, Bang." Ucap Nayla yang sedang meminta pertolongan Andrew. Kakak angkatnya yang berasal dari dunia hitam.


"Kau tenang saja Nay, Abang siap bantu dan back up dirimu." Jawab Andrew diseberang sana.


Ya. Bayu pada akhirnya menghampiri istrinya, karena tak tahan terlalu lama dibuat menunggu.


"Maafkan Mami, Papi. Tapi Mami butuh Bang Andrew untuk kali ini. Karena lawan kita bukanlah orang dari kalangan biasa. Saat ini orang-orang yang bersama kita, belum tentu orang-orang yang setia pada kita. Mereka bisa saja berkhianat pada kita. Hanya orang-orang yang dimiliki Bang Andrew yang tak akan mengkhianati Mami apalagi Bang Andrew." Jawab Nayla.


Ia membalikkan tubuhnya menatap suami tercintanya yang sejak tadi terus menciumi curug lehernya tanpa henti.


"Papi kita perlu istirahat yang cukup untuk menghadapi nanti malam."


"Yes. I know Mami, Papi hanya memeluk Mami saja. Apakah itu salah?"


"Tidak salah Papi. Sama sekali tidak salah." Jawab Nayla yang seperti tak bisa mengontrol emosi dan rasa cemasnya.


Jujur saja Nayla paling tidak bisa melihat Amel menangis. Karena sahabat sekaligus kakak iparnya itu bukanlah tipe wanita yang mudah menangis.

__ADS_1


Nayla tahu betul apa yang kini Amel rasakan, tak jauh beda dengan dirinya saat ini.


"Mami. Kau terlihat sangat tegang dan terbebani. Ingatlah, satu hal Mami. Papi tak akan pernah menyalahkan ataupun membahas yang terjadi saat ini pada kita. Bukankah kita sudah sepakat untuk mengubur semua ingatan kita tentang apa yang terjadi pada kita saat ini? Papi juga tak akan pernah bertanya tentang masa lalu Mami. Tapi Papi akan menjadi pendengar yang baik, jika Mami bersedia untuk menceritakan dengan gamblang tentang masa lalu Mami." Ucap Bayu yang dapat membaca raut wajah kalut istrinya.


"Terima kasih Papi. Papi adalah suami terbaik untuk Mami. Untuk saat ini Mami belum. Bisa menceritakannya. Nanti paada saat yang tepat Papi akan menceritakan segalanya." Jawab Nayla yang kemudian mendaratkan kecupannya di bibir Bayu.


Tepat pukul 20.00. Kelima pria tampan beristri sangar ini kembali datang ke club yang kemarin malam ia datangi. Kelimanya tak menyangka akan kembali datang ke club tersebut.


Club yang tak mereka sadari adalah milik dari Nayla dan juga Amel.


"Ternyata si Naylul kaya juga. Memiliki club mewah seperti ini. Tapi kenapa dia masih hijau dengan uang?" Gerutu Leon saat berjalan ke sebuah ruangan yang sangat-sangat khusus di peruntukkan untuk sebuah pertemuan besar.


Ceklek.


Pintu ruangan yang mereka tuju terbuka lebar. Nampak Daniel sudah datang terlebih dahulu di sana. Pria itu kini tengah dikerubungi oleh wanita-wanita seksi dengan baju mini yang menampilkan kemolekan tubuh mereka.


"Dari semalam ini mata jajan terus... Hahaha... Gak dilihat sayang, dilihat dosa hahaha..." Ucap Leon pada Hendra, satu-satunya yang bisa ia ajak berguyon. Karena ketiga pria yang bersama dengannya sudah terlihat kaku seperti kanebo kering.


"Kau benar Leon. Jangan sia-siakan kesempatan ini! Hahahaha...." Balas Hendra yang juga ikut tertawa.


"Hallo Jimmy, akhirnya kau datang juga, kemana istri sadis mu itu hum?" Sapa Daniel pada Jimmy yang masih berdiri di depan Daniel dan para wanitanya.


"Kau mencari ku." Tiba-tiba Endah muncul dengan pakaian mini dengan sebuah pistol dan pisau yang melingkar dibagian kedua pahanya.


"Waw... Lihatlah betapa hotnya penampilan istri mu ini Jimmy! Aku tak dapat bayangkan bagaimana permainan istri hot mu ini di atas ranjang."


"Hahaha... Miris sekali hidupmu Daniel. Hanya bisa membayangkan tapi tak bisa merasakannya." Balas Endah.


Ia langsung menduduki salah satu sofa yang masih terlihat kosong.

__ADS_1


__ADS_2