Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Penyelesaian


__ADS_3

Semilir angin menerpa lembut seorang pria yang termenung di tepian pantai. Seakan tak peduli kala rintik hujan mulai turun membasahi wajahnya yang muram durja. Gemuruh ombak yang mulai pasang terdengar riuh bagaikan perasaannya saat ini, pikirannya penuh akan kebimbangan dan juga kisah masa lalunya yang seakan belum terselesaikan.


Kring! Kring!


Suara ponsel miliknya berdering dengan nyaring, pria tersebut dengan cepat segera meraih alat telekomunikasi berbentuk persegi panjang itu dari dalam saku celananya.


"Hallo."


"Selamat pagi, Pak Nugraha. Kami dari pihak WO ingin memberitahukan jika ada sedikit masalah pada tempat resepsi. Apakah anda bisa segera datang ke kantor kami?"


"Saya sedang sibuk, jadi bisa tolong di email aja atau hubungi saya kembali nanti sore?" jawab Nuga berbohong.


"Baiklah, kami akan email Bapak, lalu nanti sore kami akan menghubungi kembali. Maaf telah mengganggu waktu anda, selamat pagi."


Tut! Tut! Tut!


Panggilan telepon yang bahkan tak lebih dari satu menit itu pun terputus, membuat Nuga kembali menghela napasnya seraya mengadakan wajah.


"Maafkan saya Siena," gumamnya bermonolog.


Pikiran pria yang berprofesi menjadi dokter spesialis penyakit dalam itu semakin kalut, terlebih kala ia menyadari jika hari pernikahannya semakin mendekat. Seandainya saja ia tak berhutang budi dan memiliki sedikit keberanian, mungkin semuanya takkan kacau seperti ini.


Bukan hanya itu, bayang-bayang wajah Siera yang menatap murka padanya pun terus berputar di dalam kepalanya. Sering kali ia berandai-andai, jikalau yang dijodohkan padanya adalah Siera mungkin setiap detik menuju hari pernikahannya adalah sesuatu yang sangat berharga dan membahagiakan.


Siera dan Siena memiliki paras bak pinang dibelah dua, bahkan suaranya pun nyaris sama terdengar telinga, tetapi entah mengapa begitu sulit bagi dirinya untuk belajar menerima Siena sebagai wanita yang akan menjadi istrinya.


Kring! Kring!


Lagi dan lagi ponsel miliknya berdering, tetapi kini menampilkan nama kontak yang paling tidak ia harapkan. Kembali dirinya menghela napas yang entah sudah keberapa kalinya, lalu dengan sangat terpaksa ia harus menerima telepon masuk dari Siena.


"Kamu dimana? Tadi orang WO hubungi aku katanya ada masalah. Aku minta tolong, kamu bisa ke sana gak?"


"Ya, tadi juga mereka menelpon. Maaf hari ini aku gak bisa ke sana, aku ada jadwal," ucap Nuga berbohong.

__ADS_1


"Loh, bukannya hari ini kamu gak ada jadwal praktek dimana-mana?"


"Iya, tapi barusan ada panggilan dari Rumah Sakit Royal Medical, kalau ada pasien gawat," ucap Nuga.


"Ya sudah deh, nanti aku minta tolong Mamih aja, kamu fokus kerja aja."


"Maaf ya, Siena."


"Iya, hati-hati kerjanya, Sayang. Love you Nuga."


Tut! Tut!


Tak pernah sekalipun Nuga membalas pernyataan cinta yang Siena ucapkan. Pria itu berusaha untuk bersikap baik tapi tak ingin jika harus berdusta untuk mengatakan kata cinta pada wanita yang sedikitpun tak pernah ada di dalam hatinya.


Perasaannya kian gelisah, pikirannya terus tertuju pada sosok wanita yang bertahun-tahun menguasai hatinya.


Pria itu segera kembali masuk ke dalam mobilnya, dan memutuskan untuk pergi kembali menuju di mana hatinya berada.


***


"Romi, coba jelaskan ada masalah apa di kantor ini?" tanya Jean yang merupakan CEO di perusahaan tempat Siera bekerja.


Romi selaku kepala HRD pun langsung menjelaskan duduk perkara, dan juga video yang Velly kirimkan di grup chat divisi.


"Kalian tahu siapa Siera ini? Dia adalah calon istri rekan Saya. Saya benar-benar tidak habis pikir, ada saja gosip murahan yang menimpa wanita terhormat seperti dia," ucap Jean menekankan setiap perkataannya.


Suasana di ruangan itu seakan penuh tekanan, terlebih Nuni yang memucat karena merasa akan terkena masalah yang cukup besar.


Namun berbeda dengan ketiga orang yang lainnya, Siera tampak mengerutkan keningnya dan menatap Nikolai yang tengah tersenyum ke arahnya. Gadis itu tidak habis pikir, mengapa Nikolai bisa mengetahui jika dirinya sedang dalam masalah, dan mengapa pria itu mengaku-ngaku sebagai calon suaminya.


Seakan mengerti apa yang tengah berkecamuk di dalam pikiran Siera, Nikolai meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dengan waktu yang singkat, seakan dirinya tengah memberikan kode kepada Siera untuk mengikuti alur yang sudah ia rencanakan matang-matang.


"Jika saja Nikolai tidak datang untuk menemui calon istrinya, mungkin Saya tidak akan pernah mengetahui jika ada keributan di perusahaan ini. Saya benar-benar merasa malu memiliki karyawan yang tidak ber-atitude. Terlepas dari latar belakang Siera, Saya harap tidak ada lagi kasus perundungan seperti ini, kalau ada gosip tidak jelas lebih baik bicarakan kejelasannya terlebih dahulu."

__ADS_1


Setelah interogasi yang memakan waktu nyaris empat puluh menit lamanya, akhirnya masalah pun terselesaikan dengan syarat Nuni harus meminta maaf secara terbuka kepada Siera, serta dia dan kedua temannya harus mendapatkan surat peringatan pertama yang dikeluarkan oleh divisi HRD.


Romi dan Nuni pun akhirnya keluar meninggalkan ruangan penuh tekanan tersebut, meninggalkan Siera bersama Jean dan juga Nikolai.


"Ehm ... jadi, sejak kapan Kalian menjalin hubungan?" tanya Jean tiba-tiba, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan itu.


"Kemarin," jawab Nikolai dengan santai setelah menengguk sedikit kopi yang dihidangkan untuk dirinya.


"Oh kemarin. A-apa, kemarin?" Jean terkejut dengan jawaban yang dilontarkan oleh sahabatnya.


Siera yang mendengar perkataan Nikolai hanya bisa menyengir kuda, lalu tiba-tiba tangannya digenggam oleh Nikolai dan membawanya berjalan menuju pintu.


"Ya sudah, Aku pulang dulu! Terima kasih atas bantuannya. Oh ya! Aku izin membawa Siera dulu, oke!" Nikolai tersenyum lebar lalu membawa Siera keluar dari ruangan Jean. Mimik wajahnya yang tak seperti Nikolai biasanya sontak saja membuat Jean mematung dan membisu, kala melihat tingkah laku temannya yang aneh.


"Kamu hutang penjelasan ke Aku!" Siera berbisik dengan kedua matanya yang melotot kepada Nikolai.


Gadis itu melepaskan genggaman tangan pria yang sudah mengaku-ngaku menjadi calon suaminya itu.


"Hei Kamu mau ke mana?" tanya Nikolai kala melihat Siera berjalan ke arah lift yang diperuntukkan untuk karyawan umum.


"Turun lah, mau kemana lagi!" jawabnya dengan wajah kesal.


***


"Pakai lift sebelah sana! Masa pakai yang itu," ucap Nikolai sambil menunjuk sebuah lift yang dikhususkan untuk para tamu eksekutif dan dewan direksi.


Siera berdengus kesal dengan sikap Nikolai yang seenaknya, bukan tanpa alasan jika Siera merajuk. Dia pasti memikirkan hari-harinya akan berubah ketika seluruh rekan kerjanya mengetahui jika dirinya adalah calon istri dari teman karib CEO. Gadis itu sama sekali tidak mengindahkan perkataan Nikolai dan terus berjalan sambil berkata, "Aku tunggu di apartemen saja! Aku gak mau pulang bareng!"


Siera terus berjalan cepat hingga keluar dari gedung tempatnya bekerja. Gadis itu mengeluarkan payung lipat dari dalam tas miliknya dan kembali berjalan menerjang hujan yang kian deras menuju halte bus Transjakarta terdekat.


Tetesan hujan yang terbawa hembusan angin mulai sedikit demi sedikit membasahi parasnya yang cantik. Siera terus berjalan dengan pandangan fokus ke depan.


Suara mobil yang berhenti tepat di belakangnya tak menghentikan langkah kakinya yang berjalan menyusuri trotoar. Gadis itu tersentak dan spontan menoleh saat ada seseorang yang tiba-tiba saja menggenggam lengannya.

__ADS_1


"Mau apa lagi Kau di sini?"


...****************...


__ADS_2