
Pagi ini sesuai waktu yang di jadwalkan Bayu dan Nayla pergi kesalah satu perusahaan milik Adijaya Group. Perusahaan terbesar kedua di negri ini. Nayla dengan berat hati ikut bersama dengan Bayu, pasalnya kali ini ia ikut Bayu bekerja tanpa Sultan, ana sabungnya.
"Pih, hari ini libur deh sehari Mami gak ikut Papi kerja, boleh ya?" pinta Nayla dengan suara merengeknya.
"Gak boleh. Kamu harus ikut kemana pun Papi kerja. Karena kamu adalah sumber semangat Papi." Jawab Bayu dengan diakhir sebuah senyum manis diakhir kalimatnya.
"Sumber semangat. Sumber semangat nidurin di kantor iya." sahut Nayla dengan wajah di tekuknya.
Memang benar, Nayla adalah sumber semangat Bayu. Dikala Bayu sudah mumets dengan pekerjaan, hanya dengan memeluk bahkan meniduri Nayla. Bayu kembali menemukan semangat bahkan jalan keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Ya, kalau gak nidurin Mami, Papi harus nidurin siapa lagi? Memangnya boleh nidurin wanita lain." balas Bayu yang seakan meledek singa betina untuk mengamuk.
"Coba saja kalau berani, siap-siap pisang raja mu itu, aku buat jadi toping crepes." balas Nayla dengan wajah garangnya, yang malah membuat Bayu tertawa.
Keduanya saat ini telah tiba di perusahaan Adijaya Group. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh para karyawaman di sana.
Dengan saling bergandengan tangan keduanya berjalan menuju ruang kerja Leon yang berada di lantai atas. Tanpa diduga, Nayla melihat Om Wirya orang tua Amel yang sedang berada di ruang tunggu.
Om Wirya terlihat berdiri, saat melihat kedatangan Bayu.
"Selamat Pagi, Tuan Bayu. Senang bertemu Anda di sini." sapa Om Wirya yang langsung saja menjulurkan tangan knannya untuk berjabat tangan dengan Bayu.
"Pagi Tuan Wirya, apa Anda ada janji bertemu juga dengan Tuan Leon?" Balas Bayu yang juga bertanya maksud kedarangan Om Wirya keperusahaan ini, sembari menerima uluran tangan Om Wirya untuk berjabat tangan.
"Benar Tuan, tapi janji pertemuan saya dengan beliau tepat jam 10 nanti, saya sengaja datang lebih awal, agar tidak terlambat." jawab Om Wirya yang melirik kearah Nayla yang berdiri tepat di samping kiri Bayu.
"Mami sayang, kenalkan ini Tuan Wiryawan," Bayu mengenalkan Nayla pada Om Wiryawan yang tercengang mendengar Bayu memanggil Nayla dengan kata Mami sayang.
"Mami sayang?" Om Wiryawan membeo dengan panggilan yang tak ia sagka dan duga sebelumnya.
"Mami mengenalnya Pih, Om Wiryawan ini Papinya Amel, Pih." ucap Nayla yang kemudian menjulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Om Wiryawan.
__ADS_1
Om Wiryawan pun menerima uluran tangan Nayla untuk berjabat tangan, Nayla mencium tangan Om Wiryawan sebagai tanda hormatnya pada orang tua.
"Oh, benarkah. Ini Papinya Amel?" taya Bayu yang seolah terkejut namun sebenarnya ia sudah tahu jika Om Wiryawan adalah orang tua dari Amel.
"Benar Tuan, apa anda mengenal putri saya?"
"Tentu saja saya mengenal Amel, dia adalah sahabat istri saya dan mantan Mahasiswi saya dulu, saat saya menjadi dosen di kampus milik saya."
"Istri? Ternyata Nayla adalah istri dari Tuan Bayu. Gagal sudah rencanaku untuk menjodohkan Amel nantinya dengan Tuan Bayu, salah satu pengusaha terbesar nomor tiga di negri ini." batin Om Wiryawan yang menatap keduanya dengan tatapan aneh.
"Tuan dan Nyonya, silahkan kedatangan Anda sudah ditunggu-tunggu oleh Tuan Leon dan istri." Ucap seorang wanita yang mengantarkan mereka untuk sampai keruang kerja Leon.
Setelah berpamitan dengan Om Wiryawan, keduanya melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerja Leon yang berada di ujung ruang tunggu.
Tok... tok...tok [Suara ketukan pintu ruangan Leon].
"Masuk!" Suara Leon yang mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk keruang kerjanya.
Nayla terperangah dengan design ruang kerja Leon yang terlihat mewah dengan area bermain anak seperti ruang kerja suaminya, yang ia design sendiri.
"Nayla sini!" Sapa Anna yang sedang duduk santai disebuah sofa panjang.
"Hai Anna, kau tidak ikut balik kandang hum?" ucap Nayla yang main masuk saja, ia melangkahkan kaki jenjangnya mendekati Anna.
"Tidak. Aku kan punya rumah di kota ini, tidak seperti mereka hahaha..." jawab Anna yang tersenyum penuh arti.
Ya. Alasan Andre dan Jimmy kembali ke kota D adalah untuk melaksanakan keinginan para istri mereka untuk bercinta di dalam kolam renang terbuka hanya dengan menggunakan bikini.
"Waw gimana rasanya, enak kan? Syahdu gimana gitu?" tanya Nayla dengan tawa cengirannya.
"Hahaha... aku melakukannya saat malam hari, lebih enak dari pagi hari Nay." Jawab Anna dengan senyum dan tawa malu-malu kucing yang tak lepas dari wajah cantiknya.
__ADS_1
"Waw, benarkah. Sepertinya patut di coba. Hai Anna, aku sepertinya berencana melahirkan menggunakan Water Bird. Sebelum lahiran aku aka meminta suamiku memberi jalan lahir untuk anakku dulu hahaha biar tidak terasa terllu sakit," ucap Nayla yang membuat Anna tertawa.
"Kami pun akan melahirkan dengan cara itu, tapi sayangnya kami akan melahirkan di kota D. Kau harus datang ya." ucap Anna.
"Jauh sekali, kenapa tidak di sini?" tanya Nayla yang menyayangkan ketiga teman barunya akan melahirkan di kota yang sangat jauh dari kota J.
" Ini sudah keinginan Kakek Abraham. Kami tidak bisa menolaknya." jawab Anna.
Keduanya terlibat percakapan seputar kehamilan sembari menunggu suami mereka sedang berdiskusi tentang pekerja mereka.
"Andre menyuruhku untuk membantu kakak ipar mu mendapatkan kekasihnya. Aku juga sudah menyuntik dana besar pada perusahaan milik keluarga istrimu. Aku akan membangun sebuah hotel yang tak terlalu besar di kota B. Yang melibatkan perusahaan Tuan Wiryawan dan perusahaan keluarga istri mu." terang Leon dengan wajah santainy menatap Bayu.
"Terima kasih atas kebaikan hati kalian." ujar Bayu dengan wajah datarnya.
Jujur saja apa yang dikatakan Leon barusan, membuat hatinya ketar-ketir. Tentunya pasti ada udang dibalik batu dari bantuan yang diberikan mereka.
"Kau tahu Bayu, tak ada yang gratis di dunia ini bukan, kencing pun harus bayar. Apalagi urusan bisnis seperti ini." tambah Leon dengan senyum penuh artinya.
"Benarkan firasatku, memang mereka itu selalu ada udang dibalik batu jika membantu seseorang," batin Bayu yang mulai kesal dengan senyum penuh arti yang diberikan Leon padanya.
"To the poin sajalah Leon, aku tak suka bicara yang bertele-tele." pinta Bayu yang malah membuat Leon tertawa.
"Hahaha.... sepertinya kau ini orang yang tidak sabaran ya Bayu. Permintaan Andre dan aku sangatlah mudah. Kau tahu pasti jika istri pentol korek mu itu, sangat disayangi oleh kedua adikku, bahkan mereka sudah menamai perkumpulan mereka dengan nama Geng Rebreck." terang Len dengan tawanya.
"Sembarangan sekali kalian mengubah nama istriku jadi pentol korek, namanya Nayla bukn pentol korek." protes Bayu yang tak terima istrinya dipanggil pentol korek.
"Hahaha.. Kau marah Bayu, bucin sekali kau dengannya."ucap Leon disela tawanya.
"Aish... menyebalkan sekali datang pagi-pagi keperusahaannya, hanya mendengar dia bicara seperti ini, sungguh tidak penting dan menyebalkan. Tertawalah dengan keras hingga kau puas Leon, tunjukkan jika kau sedang mengolok-olok diri ku, dan rasakan nanti pembalasan istriku yang akn membuat mu geleng-geleng kepala." gerutu Bayu di dalam hatinya.
__ADS_1