
"Ndah, cerita dong gimana lo bisa merojolin dua bocil imut ini, pas lagi disodok sama pisang babonnya Kak Jimmy, kocak banget lo Ndah sumpah." Tanya Nayla tanpa menyaring ucapannya.
"Lo pengen tahu banget, apa pengen tahu aja?" Tanya Endah yang tersenyum meledek Nayla.
"Bangetlah, kali aja cara itu recommended, kalau sampai iya, gue pasti akan pakai cara itu buat lahirin calon mantu lo nanti, biar mereka samaan cara lahirnya, kan nanti pas mereka sudah mnikah dan mau punya anak, mereka bisa saling tukar cerita tentang pengalaman kita ngelahirin mereka dengan cara yang sama huahahaha..."
"Dasar orang bener lo ya Nay, ngidam apa nyokap lo pas ngidam lo, hah? Mikir lo kejauhan banget." Sahut Endah yang memukul Nayla menggunakan bantal. Endah tak menyangka Nayla bisa memikirkannya hingga jauh ke sana.
"Sakit Ndah, lo menyakiti calon mantu Lo nih?" Protes Nayla yang pura-pura kesakitan. Agar Enda merasa bersalah telah memukulnya.
"Ah, iya kah?" Tanya Endah tak percaya namun, mimik wajah bersalahnya terbaca oleh Nayla.
"Kena kau," gumam Nayla dalam hatinya, karena melihat jelas wajah bersalah yang tergambar di wajah Endah.
"Heem," jawab Nayla dengan muka sok imutnya.
__ADS_1
"Maafkan Mama ya sayang, habis Mami mu ini sakit gak ada obatnya." Ucap Endah sembari mengusap perut Nayla yang terlihat membuncit.
"Ada kok obatnya." Sahut Nayla dengan senyum seringai tipisnya. Ia mulai menjalankan aksinya.
"Apa obatnya, kalau ada gue akan beli berapapun harganya?" Ucap Endah dengan sombongnya. Endah tak menyadari jika ia sudah masuk perangkap akal bulus Nayla.
"Serius, Ndah?" Tanya Nayla bersemangat, ia senang sekali karena ketiga istri orang penting di dunia bisnis, selalu mudah terkena perangka darinya.
"Hem, lo mau apa?" Tanya Endah.
"Hanya itu?" Tanya Endah yang seakan menganggap enteng permintaan super mahal dari temannya, ymg harganya mungkin bisa membeli dua mobil tipe MPV.
"I-iya hanya itu," jawab Nayla terbata. Ia tak yakin dengan permintaannya yang akan di kabulkan temannya yang super kaya itu.
"Oke, nanti gue beliin, asal anak lo tetap akan jadi menantu gue ok, mau cowok atau cewek, dia harus tetap jadi menantu gue." Sahut Endah yang kembali mengelus perut Nayla dengan penuh cinta.
__ADS_1
Entah mengapa Endah, memiliki keinginan kuat untuk menjadikan buah hati Nayla dan Bayu menjadi menantunya. Bukan karena rasa ikut-ikutan tapi hatinya seperti terkena magnet dengan anak yang ada di dalam kandungan Nayla.
"Asiap besan, pokoknya anak gue udah dilabel jadi jodoh anak lo dah," jawab Nayla yang seakan menjual calon anaknya pada Endah.
Nayla menyetujuinya buah hatinya yang belum ia lahirkan berjodoh dengan salah satu anak Endah, bukan karena harta tapi ia menyukai sikap Endah dan Jimmy yang selalu melindungi orang-orang tersayang mereka. Jika ibu dan bapaknya seperti itu, tidak menutup kemungkinan keturunannya akan mewarisi sikap dan sifat kedua orang tuanya.
"Ngomong-ngomong Sultan mana? Kok gak keliatan dari tadi, cuma lo sama Kak Bayu yang ke sini. Harusnya dia ke sini, tengokin lah calon adik iparnya ini," Tanya Endah yang celangak-celinguk mencari keberadaan Sultan.
Ucapan keduanya memang tak ada yang benar. Semua asal bicara tanpa saringan.
"Di mansion si Njess, calon Mommy mertuanya, dimana lagi. Si Almera nggak mau di tinggal sama anak gue, Sultan pergi dikit ajah udah ngoek-ngoek. Lo tahu ngak sih Ndah, tampang adik ipar lo kalau lagi jealous sama anak gue, rasanya pengen gue tabok pakai wajan," Jawab Nayla dengan tawanya.
"Hahahaha... Kak Andre emang posesif banget orangnya, mungkin karena dia trauma dengan kejadian yang pernah terjadi, jadi wajarlah kalau dia begitu." Sahut Endah disela tawanya.
"Kejadian sama Fabian itu ya?" Tanya Nayla yang sudah mengetahui kisah mereka dari a-z.
__ADS_1
"Heem, dengar-dengar si Clara juga mau lahirankan, soalnya jarak kehamilannya gak beda jauh sama gue." Tutur Endah.