
Tepat pukul 02.00 pagi, misi mereka telah selesai, tim sapu bersih pun sudah membersihkan area pembantaian yang berada di belakang rumah tua tersebut. Amel Endah dan juga Nayla kembali lagi ke rumah kepala desa.
Menyelesaikan sandiwara mereka di rumah kepala desa tersebut, tepat pukul 06.00 pagi. Amel, Endah dan juga Nayla yang sudah membersihkan diri mereka, berpamitan pada kepala desa yang baik hati itu.
"Kami pamit dulu Pak, jika kami tidak mendapatkan referensi tempat lain, kami akan datang kembali ke desa ini untuk melakukan tugas KKN kami di sini." Ucap Amel yang pandai berbicara di antara mereka bertiga.
"Terima kasih sudah merepotkan bapak dan ibu yang sudah menerima kami dengan baik di sini," ucap Nayla yang pandai berbicara manis pada orang-orang.
Bapak kepala desa pun menerima ucapan terima kasih dari ketiganya, hanya sebuah senyuman yang didapatkan ketiganya dari kepala desa yang sangat irit bicara itu.
Saat Endah mulai menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba Ibu kepala desa menjerit histeris dari dalam rumah. Tak ingin mendapat masalah Endah pun segera melajukan kendaraannya, seakan tak mendengar suara pekikkan Ibu kepala desa.
Padahal ibu kepala desa menjerit histeris, bukan karena menemukan anaknya Husein, yang sudah lemah tak berdaya, menjadi maya hidup di salah satu kamar di rumah tua,yang merupakan markas kawanan mereka. Ibu kepala desa itu menjerit karena tak melihat Husein di kamarnya.
"Bapak...Pak!!! Lihatlah ini!! Husein pergi lagi!! Anak itu jangan terus dimarahin Pak! Jadi dia pergi lagikan? Kalau terjadi apa-apa dengan Husein bagaimana Pak?" Tangis pilu Ibu kepala desa yang tak melihat Husein di kamar sang putra, yang masih tertata rapih.
Setelah meninggalkan desa tersebut, Endah Nayla dan Amel, segera kembali menuju ke kota J. Sedangkan proyek pembangunan mall dan apartemen di perbatasan kota itu tetap berjalan seperti biasanya dengan orang-orang baru tentunya.
Sementara Angela di rumah sakit Kusuma mendapatkan penanganan khusus dari rumah sakit tersebut. Angela berhasil melewati masa kritisnya, berkat semangat hidupnya yang tinggi.
Ketiga wanita super ini, ketika sudah sampai di kota J tepatnya di Mansion Endah, langsung saja merebahkan tubuh mereka di karpet permadani yang ada di ruang keluarga. Rasa lelah, letih, dan mengantuk kini mereka rasakan. Hingga dalam hitungan detik mereka langsung terlelap.
Sementara itu Hendra dan Bayu yang di landa kerinduan dan kecemasan pada istri-istri mereka, segera saja mendatangi mansion Leon, guna meminta bantuan. Pasalnya ponsel para istri mereka tak dapat di hubungi begitu pula dengan Endah dan Jimmy.
"Eh, kakak beradik tumben bertamu ke sini, hujan deh nih nanti," ledek Leon pada Hendra dan juga Bayu. Wajah keduanya terlihat kusut karena tidur tanpa guling hidup mereka malam ini.
"Leon, apa kau tahu kemana mereka pergi?" Tanya Hendra pada Leon.
"Tahu kenapa, Hen?" Jawab Leon, yang mulai membaca situasi kedua teman mainnya ini.
__ADS_1
"Tolong antar kami ke sana!"
Mendengar permintaan Hendra, Leon malah tertawa. "Antar kalian? Hahaha... TIDAK!" Tolak Leon tegas.
"Hei, kenapa kamu tidak mau menolong kami, Leon? Mereka itu sudah tidak bisa di hubungi." Cecar Hendra yang sedikit emosi mendengar penolakan Leon.
"Mereka pasti baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir! Aku tidak mau mengantar kalian, karena kalian hanya akan menyusahkan ku. Terutama dirimu Hendra." Jawab Leon santai sembari menyeruput secangkir kopi di tangannya.
"Tentu saja kami khawatir, mereka sudah tidak bisa di hubungi. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka bagaimana?" Tanya Bayu yang kali ini buka suara.
"Mungkin saja ponsel mereka habis baterai, sudah jangan terlalu di pikirkan. Aku percaya mereka akan kembali dalam keadaan baik-baik saja. Jika ada sesuatu yang buruk, pasti Andre sudah menghubungi ku." Jawab Leon yang tak lama kemudian ponsel miliknya berdering.
Orang yang baru saja di cerita oleh Leon, ternyata kini menghubunginya. Leon segera mengangkat panggilan telepon dari adik iparnya itu.
"APA?" Tiba-tiba saja Leon terkejut saat mendengar berita, jika Angel di bawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis.
Deg!
"Bagaimana bisa terjadi?" Tanya Leon dengan ekspresi wajah yang begitu serius. Makin membuat kedua pria dihadapannya, makin merasa cemas.
"Lalu bagaimana dengan keadaan yang lainnya?" Tanya Leon lagi yang makin membuat Bayu dan Hendra gusar.
Bayu dan Hendra sudah menampilkan wajah-wajah frustrasi mereka dengan pikiran buruk yang berkecamuk tentang istri-istri mereka.
"Ok..ok.. aku akan ikut dengan mu. Segera aku akan ke sana, sekarang. Tunggu aku akan bersiap." Ucap Leon yang segera menutup panggilan teleponnya dengan Andre.
Usai menutup panggilan teleponnya. Leon dihadapkan dengan kedua suami yang di kanda kegusaran hati karena memikirkan sesuatu yang buruk terjadi pada istri mereka.
"Leon, apa yang terjadi? Apa yang dibicarakan Andre di telepon tadi? Keadaan siapa yang buruk heh? Bagaimana keadaan istri kami? Dan sekarang kau mau kemana? Apa kau mau menyusul keberadaan istri-istri kami?" Cecar Hendra yang tak bisa menahan dirinya untuk terus bertanya pada Leon.
__ADS_1
"Banyak sekali pertanyaan mu, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan mu yang sebegitu banyak Hen." Protes Leon.
Ia sengaja tak menjawab pertanyaan Hendra dan malah memprotes Hendra yang dilanda kekalutan luar biasa saat ini. Leon memang keterlaluan, ia jahil di situasi yang tak tepat.
"Ok. Sekarang, tolong jawab pertanyaan ku. Kamu mau kemana? Apa mau menyusul istri dan adikku?" Tanya Hendra yang berusaha bersabar meski hatinya benar-benar gusar. Menghadapi dan berbicara dengan Leon memang membutuhkan kesabaran ekstra.
Alih-alih menjawab panjang lebar. leon hanya menjawab tiga kata. "Ke rumah sakit." Jawab Leon singkat, yang berhasil membuat kedua pria dihadapannya, makin cemas tak terkira.
"Siapa yang sakit Leon? Apa istri ku? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?" Tanya Bayu setelah berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan kasar. Karena Leon tak melanjutkan kata-katanya.
"Bukan istri mu," kembali Leon menjawab dengan santai dan wajah sok imut yang menyebalkan.
"Lalu siapa? Apa istriku?" Kini giliran Hendra mencecar pertanyaan pada Leon yang bersikap begitu menyebalkan. Ia bersenang-senang di atas penderitaan Bayu dan juga Hendra dengan kejahilannya.
"Bukan juga. Minggir lah aku harus bergegas pergi, Andre sudah menunggu ku." Jawab Leon sembari menyingkirkan tubuh keduanya, dari hadapannya.
"Jangan pergi dulu! Katakan kalau bukan istri kami lalu siapa yang dibawa ke rumah sakit?" Tanya Bayu yang berhasil mendorong tubuh Leon kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki.
"Aduhhh... Kasar sekali kau Bay!"
"Kesabaran ku habis Leon. Jawablah pertanyaan kami, jangan sepotong-sepotong!" Bayu berkata sambil berkacak pinggang.
"Sepertinya kau sengaja mempermainkan kami ya!" Ucap Hendra yang sudah mengambil ancang-ancang untuk meninju Leon.
Namun sayang ketika tangannya yang mengepal ingin meninju Leon, Anna datang dengan kedua suster pengasuh kedua putranya.
"Hei Kak Hendra hentikan! Ada apa ini hah? Kenapa ingin memukuli suami ku?" Anna datang menghampiri mereka dengan wajah marahnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Anna, Hendra yang di wakilkan Bayu malah bertanya, apakah Anna mengetahui kabar kedua istri mereka. Anna yang mengetahui jika kedua teman baiknya itu sudah pulang sejak empat jam yang lalu pun segera memberitahukan pada Hendra dan juga Bayu, jika istri mereka tengah tertidur pulas karena keletihan di Mansion Endah.
__ADS_1
Anna mengetahuinya karena dia, baru saja pulang dua jam yang lalu dari Mansion Endah dan Jimmy. Semalam Anna dan Leon, tidur di Mansion Endah dan Jimmy untuk menjaga kedua anak kembar Jimmy dan Endah.