Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 41


__ADS_3

Tok tok...[Nayla mengetuk pintu ruangan kerja Bayu].


"Masuk!" Suara Bayu dari dalam yang mempersilahkan Nayla untuk masuk.


Nayla membuka handle pintu dan masuk kedalam saat pintu sudah terbuka, dilihatnya suaminya tengah sibuk dengan istri utamanya, siapa lagi jika bukan laptop miliknya. Nayla menghampiri meja Bayu yang letaknya cukup jauh dari pintu.


"Mas, ini tugas aku, kamu tinggalin di meja dosen tadi," ucap Nayla yang menyodorkan lembar tugasnya pada Bayu.


Bayu tak mengindahkan keberadaan Nayla apalagi menerima pemberian Nayla di tangannya. Bayu membiarkan istrinya itu terus berdiri dengan lembar tugasnya yang tak kunjung ia terima hingga beberapa menit kedepan.


"Mas, ini mas. Aku harus letakkan dimana?" tanya Nayla akhirnya dengan nada yang sedikit meninggi. Karena kesal dan lelah terus berdiri menunggu suaminya menyahut dan menerima lembar tugasnya.


Bayu kembali melirik tajam Nayla yang berani bicara dengan nada suara yang cukup tinggi , seakan sudah biasa dengan lirikan Bayu, Nayla tetap memggoyangkan lembar kerja yang ia sodorkan kepada Bayu. Di dalam pikiran Nayla saat ini persetan dengan amarah Bayu yang penting suaminya itu menerima lembar tugas yang ia kerjakan semalam dengan memeras otaknya.


Bayu menatap lembar kerja yang ada di tangan Nayla dengan tatapan tak suka. Ia mengambilnya, lalu merobek-robek lembar kerja itu dan kemudian membuangnya ke tong sampah. Nayla tersenyum sinis melihatnya.


"Nah, begitukan enak, jadi aku tahu dimana letak terbaik tugas aku itu berada, otak aku emang pas-pasan, gak sepintar Miss Claudia, tugas yang ku kerjakan itu mungkin sangat buruk di mata mu, mungkin saja akan lebih baik jika Miss Claudia yang mengerjakan tugas dari mu itu, karena dia perempuan yang pintar tidak seperti aku," ucap Nayla dengan suara yang bergetar, kemudian memilih keluar dari ruangan Bayu.


Nayla berusaha berjalan seperti biasanya, seolah tak terjadi apa-apa di ruangan Bayu. Ya, memang tidak terjadi apa-apa di ruangan Bayu, yang terjadi di sana hanya Bayu yang merobek-robek lembar tugasnya hingg berkeping-keping.


Di saat Nayla berjalan di tengah lorong yang sepi, tiba-tiba Geng Angel muncul menghadangnya.


"Hei, pe.cun gue denger lo udah merid sama Pak Bayu?" tanya Angel sambil memainkan rambut Nayla yang tergerai panjang dan berjalan memutari tubuh Nayla.


"Kalau iya kenapa?" Jawab Nayla lantang tanpa rasa takut.


"Kenapa kata Lo? Ya jelas gue gak sukalah pastinya, cun,"


"Terus, kalau lo gak suka, emangnya lo mau apa sama gue? Suruh gue cerai sama dia, gih sana suruh dia cerain gue," tanya Nayla yang malah menantang Angel the geng.

__ADS_1


"Gue akan kasih lo pelajaran berharga karena selalu ngerebut cowok incaran gue," ucap Angel yamg kemudian menarik paksa tubuh Nayla ke dalam toilet.


Disana, di toilet itu menjadi saksi tempat dimana Angel dan kawan-kawannya merundung Nayla, dengan menampar pipi mulus Nayla, menjambak rambut hitam panjangnya, dan menenggelamkan wajah Nayla di lubang toilet yang berisi air seni mereka.


Nayla duduk terdiam di toilet itu, ia meratapi nasib buruk yang menimpanya dua hari ini. Amel yang mengira Nayla sedang enak-enak tidak menyangka, jika sahabatnya habis di siksa habis-habisan dengan Angels the geng.


Amel membawakan baju ganti dan sampo untuk Nayla membersihkan diri. Saat ini penampilan Nayla sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja luka lebam pada wajahnya belum juga hilang.


"Mel, gue pulang kerumah lo dulu bolehkan? Gue mau istirahat di rumah lo."


"Pintu rumah gue selalu terbuka buat Lo, lo tahu sendirilah gue cuma hidup sama pembantu. Nyokap bokap gue entah kemana, cuma duit meraka yang datang ke gue, merekanya sih au deh.. cape ngomong gue,"


Keduanya pun akhirnya pulang ke rumah Amel dengan membawa mobil masing-masing. Nayla benar-benar tertidur sesampainya di rumah Amel, menjelang sore Amel membangunkan Nayla untuk kembali pulang. Bagaimana pun sahabatnya itu sudah memiliki keluarga. Sebagai sahabat Amel hanya bisa menemani disaat sahabatnya membutuhkan dirinya dan memilih tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga sahabatnya.


Sesampainya Nayla di rumah hari sudah gelap, mobil Bayu sudah terparkir di garasi. Bertanda bahwa si empunya mobil sudah ada di rumah. Nayla yang merasa tubuhnya sakit semua langsung naik ke lantai atas ia langsung berjalan menuju kamarnya.


Ia merebahkan dirinya di sofa dan mengelus pipinya yang masih sangat terasa nyeri.


Dua jam berselang setelah Nayla pulang, Bayu baru masuk ke dalam kamar mereka. Ia baru saja selesai makan malam bersama putranya, lagi-lagi mereka melewati jam makan tanpa menunggu Nayla. Entah apa sebenarnya maksud Bayu melakukan itu semua. Tapi yang pasti saat ini, ia sedang menorehkan luka terus-menerus pada wanita yang selalu berusaha bahagia di dalam hidupnya.


Sekilas Bayu melihat Nayla yang tidur begitu gelisah di sofa dengan baju yang sudah berbeda dengan yang tadi pagi ia kenakan.


"Darimana dia? Sudah ganti baju saja, pasti habis main. Apa sih yang bisa dia lakukan kalau bukan membuang-buang waktu dengan hal yang tidak jelas." Gumam Bayu sembari mematikan lampu dan bersiap untuk tidur.


Brukk!!


"Au....sakit," Nayla terjatuh saat ia tertidur di sofa.


"Haduh apes banget sih ampun deh, udah gelap banget. Ini gue ada di kamar atau udah sampai di dunia lain ya?" Gumam Nayla yang mulai berjalan mencari saklar lampu.

__ADS_1


Ceklek! [Lampu menyala terang.]


Nayla dapati Bayu tengah menatapnya tajam, "Maaf, aku matikan lagi ya," ucap Nayla yang kemudian mematikan lagi lampu itu, karena ia merasa Bayu jadi terganggu karena ulahnya.


Nayla keluar dari kamar, ia merasa tubuhnya mulai demam, ia disini hanya seorang diri, tidak akan ada yang menolongnya jika terjadi sesuatu padanya. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya, Nayla memilih untuk pergi mencari obat sendiri.


Dengan mobilnya ia pergi ke apotik, sebelum pulang ia putuskan untuk cari makan. Ia hentikan mobilnya di tempat sate ayam yang biasa ia makan dengan Bayu, jika malam hari mereka masih merasa lapar. Nayla kembali tersenyum getir mengingat beberapa hari yang lalu yang ia lalui dengan manis. Sekarang semuanya sudah berubah menjadi pahit seperti empedu.


Dua puluh tusuk sate ayam beserta lontong ludes, masuk semua ke dalam perut Nayla. Saat sudah merasa kenyang Nayla langsung saja menenggak obat penurun deman. Bude penjual sate, belum terlalu hafal dengan wajah Nayla, tapi sejak tadi dia terus memperhatikan gerak-gerik Nayla.


"Lagi sakit ya mbak? Badannya panas banget," tanya Bude penjual sate saat tak sengaja menyentuh pergelangan Nayla saat memberikan kembalian pada Nayla.


"Iya Bude, kalau boleh tau, klinik 24 jam terdekat disini dimana ya Bude?" tanya Nayla pada Bude penjual sate.


"Itu disana, di ujung jalan sana, ada namanya Klinik Napoleon," tunjuk Bude penjual sate pada Nayla.


Nayla yang sudah tahu tempatnya, seketika manggut-manggut dan memgucapkan terima kasih pada Bude penjual sate yang berbaik hati mau membantunya menunjukkan klinik pengobatan untuknya.


Nayla yang sudah menyelesaikan pembayaran segera beranjak pergi meninggalkan warung sate itu, mobilnya ia lajukan ke arah klinik yang di tunjukkan oleh Bude penjual sate itu.


Dengan langkah berat karena tubuhnya yang mulai lemas, ia masuk ke dalam klinik 24 jam yang terlihat sepi pemgunjung karena waktu sudah menunjukkan pukul 22:30.


"Selamat Malam, ada yang bisa saya bantu," sapa staff bagian pendaftaran.


"Ya mbak, saya butuh bantuan, tolong obati saya Mbak, saya sakit,"


"Ada kartu kesehatannya Mbak,"


"Gak ada, saya umum aja, bisa kan mbak? Mbak boleh gak jangan banyak tanya, saya butuh dokter, kepala saya badan saya meriang banget nih," ucap Nayla yang sudah tak tahan lagi.

__ADS_1


"Oh,iya-iya..."


"Eh tolongin-tolongin mbaknya udah gak tahan, mau pingsan," ucap staff pendaftaran yang bernama Sri itu kepada kedua temannya yang segera keluar dari ruangan pendaftaran dan membantu Nayla ke ruangan observasi.


__ADS_2