Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 64


__ADS_3

Suasana bahagia kembali mewarnai keluarga kecil Bayu dan Nayla. Sedang di sudut ruang rawat yang berbeda, ada kepedihan dari seorang wanita kesakitan yang mengetahui dan menyadari jika selama ini suaminya hanya memberikan kepalsuan padanya.


Sebenarnya Silvi sudah sadarkan diri, namun ia lebih memilih untuk memejamkan matanya saat ia mengetahui masih ada kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya di ruang rawatnya kini.


Ya, Silvi memang sedang menunggu kedua orang tuanya dan kedua mertuanya pergi dari ruang rawatnya. Karena banyak hal yang ingin ia bicarakan pada suami yang sangat ia cintai itu. ia ingin bicara dengan suaminya tanpa diketahui baik oleh kedua orang tuanya maupun kedua mertuanya.


Beberapa jam Silvi terus memejamkan matanya, menunggu mereka pergi dan akhirnya ketika hari menjelang malam, mereka pun berpamitan untuk kembali pulang ke kediaman mereka masing-masing, mereka pun berjanji pada Hendra akan kembali pada esok hari untuk menemani dan merawat Silvi bersama-sama.


Setelah mereka berpamitan pada Hendra, Baik Riska maupun Sari mendekati Silvi yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan segala kesakitan yang ia rasakan kini. Keduanya berpamitan pada Silvi yang mereka lihat tengah beristirahat padahal ia hanya sedang memejamkan matanya.


Hendra mengantarkan kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya yang beranjak pergi dari ruang rawat istrinya hingga di muka pintu. Hendra kembali masuk ke dalam ruang rawat istrinya setelah bayang kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya telah menghilang dari pandangan matanya.


Sedang di dalam ruang perawatannya, Silvi yang merasa suasana ruang rawatnya telah sunyi sepi akhirnya membuka kedua matanya. Ya kedua bola mata yang akan kembali melihat kepalsuan suami yang teramat sangat ia cintai.


Pandangan mata Silvi yang sendu kini menatap langit-langit ruang rawatnya, dengan pikiran yang mulai terasa runyam karena merasa tertipu dan dicurangi oleh suaminya.


Samar-samar suara sang suami yang ia dengar pada malam itu kembali muncul dipendengarannya. Membuatnya kembali menitikan air mata kesedihannya. Hendra yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Silvi, mendapati Silvi sudah membuka matanya segera datang menghampiri.


"Kamu sudah sadar sayang?" Tanya Hendra yang duduk ditepi ranjang Silvi.


Silvi yang sedang menatap langit-langit kamar rawatnya menolehkan pandangannya, ia mentap suaminya yang tengah duduk di tepi ranjangnya sembari memegangi tangan kanannya yang terdapat jarum infus.

__ADS_1


"Ya Mas, aku sudah sadar jika selama ini kamu berpura-pura mencintai ku, padahal di dalam hati mu sama sekali tidak ada aku," jawab Silvi di dalam hatinya, jujur ia belum memiliki keberanian untuk bicara to the poin dengan suaminya itu.


"Ya Mas, aku sudah sadar, sangat sadar malah," jawab Silvi dengan senyum kecut pada pertanyaan yang di lontarkan suaminya pada dirinya.


"Sekarang apa yang kamu rasakan sayang? Apa kamu mau Mas panggilkan Dokter hum?" Tanya Hendra lagi dengan lembut. Ia belum menyadari perubahan pada diri Silvi.


"Kamu tanya apa yang aku rasakan Mas, tentunya aku merasa sakit hati dan kecewa, tertipu dengan semua sikap manis mu pada ku. Aku tak perlu Dokter untuk mengobati luka hati ini Mas, aku hanya perlu Tuhan secepatnya mencabut nyawa ku, agar kamu bisa bahagia dengan cinta mu," batin Silvi yang merasa hancur dengan kenyataan yang tak ia inginkan. Namun lagi-lagi jawaban yang terucap di batin Silvi tak berani ia utarakan langsung pada suaminya.


"Aku tidak merasakan apa-apa Mas, aku baik-baik saja dan aku tak ingin Mas memanggilkan Dokter untuk ku. Aku hanya butuh istirahat sekarang," jawab Silvi yang memilih kembali memejamkan matanya. Ia berusaha mengendalikan dirinya yang ingin marah pada suaminya, meskipun hatinya ingin sekali mencaci bahkan menampar wajah tampan suaminya.


Hendra yang sadar istrinya sedang menutup-nutupi sesuatu, terus saja memandangi wajah istrinya penuh dengan rasa curiga. Ia sangat mengenal bagaimana karakter sang istri. Ia mengelus punggung tangan Silvi dengan lembut, kemudian menghela nafasnya berat sebelum ia kembali melontarkan pertanyaan pada istrinya itu. Ia ingin mengetahui ada apa dengan istrinya.


"Aku atau kamu Mas yang harus jujur?" Silvi malah balik bertanya pada Hendra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku? Kenapa dengan aku?" Hendra tak sadar jika Silvi sudah mengetahui jika dirinya sangat mencintai sahabat adik kandungnya sendiri, Amel.


"Tak perlu lagi kamu menutupi semuanya Mas. Tertipu dengan kepalsuan itu rasanya sakit," tutur Silvi dengan air matanya yang berderai. Hendra berusaha menghapus air mata itu, namun tangan Silvi menepis tangannya begitu saja.


"Aku tidak pernah menipu mu sayang," kilah Hendra yang masih meyakini Silvi bahwa semua yang ia berikan adalah sebuah ketulusan.


"Masih pantaskah aku, kamu panggil sayang. Padaha di hatimu hanya ada rasa kasihan pada ku. Sedang rasa sayang dan cinta mu untuk wanita lain yang juga masih mencintai mu." Timpal Silvi yang membuat Hendra terkejut.

__ADS_1


Ia membulatkan kedua matanya. Gerakan mengelus tangan Silvi pun ia hentikan. Hendra terdiam tanpa kata-kata, ia membeku seketika itu juga. Ia tak mengerti harus menjelaskan darimana semua ini pada Silvi. Jika benar istrinya itu sudah mengetahui segalanya.


"Kenapa diam Mas? Tak bisakah kamu menanggapi ucapan ku dengan satu patah kata pun," tanya Silvi dengan wajah kecewa, matanya sembab karena kelopak matanya terus saja mengeluarkan kucuran air mata.


"Silvi aku bisa menjelaskan semuanya, tolong jangan seperti ini!"


"Apa yang harus kamu jelaskan Mas! Aku sudah mengetahui semuanya, jika hati mu itu adalah milik wanita yang selama ini dekat dengan keluarga mu. Selama ini aku seperti orang bodoh dan di buat bodoh oleh kalian agar tak mengetahui semuanya, apa lagi tentang hubungan mu dengan Amel. Aku rasa hanya aku yang tak mengetahui hubungan kalian yang terjalin sebelum kita menikah Mas,"


"Silvi," Hendra berusaha menghentikan ucapan Silvi dengan memanggil namanya.


"MAS!!!" Silvi membalas memanggilnya dengan nada tinggi. Hendra terdiam melihat wajah marah yang tak pernah ia lihat sebelumnya di wajah Silvi.


"Sakit Mas rasanya, sakit sekali hati ini tertipu dengan cinta palsu mu itu. Tak ku sangka sekejam ini kamu pada ku. Salah apa aku pada mu Mas? Hingga setega ini kamu lakukan semua ini pada ku, membohongi ku tanpa rasa iba, memberikan kepalsuan tanpa henti pada istri penyakitan seperti diri ku." Sambung Silvi dengan kata-kata yang menyudutkan Hendra.


Saat ini Hendra merasa sangat bersalah dan merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia ini. Ia hanya bisa diam membeku mendengar semua unek-unek yang di miliki Silvi.


"Selama ini aku selalu mengabaikan semua firasat buruk ku tentang ketulusan cinta mu pada ku, Mas. Karena apa? Karena aku terlalu percaya pada mu. Aku mengira kamu yang datang kembali pada ku sebagai anugrah dari Tuhan untuk ku, Mas. Ternyata mungkin bukan seperti ini kenyataan yang aku kira. Jika waktudapat diulang kembali, aku tak akan mau menikah dengan mu. Lebih baik tidak bersama daripada bersama tapi hanya rasa sakit yang ku rasa."


"Silvi!" Panggil Hendra lagi yang berusaha ingin menghentikan ucapan Silvi. Ia khawatir dengan kondisi emosional Silvi yang meledak-ledak seperti saat ini yang akan berakibat fatal pada kesehatannya nanti. Karena Hendra mengingat bagaimaa pesan Dokter Mateo padanya siang tadi. Jika istrinya itu dilarang berfikir keras ataupun stress. Namun usahanya untuk menghentikan Silvi bicara tak berhasil. Silvi terus saja mengutarakan segala unek-unek yang ada di hatinya. Agar suaminya itu mengetahui perasaannya.


"Kamu tahu sekarang aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku merasa tak ingin menggenggam dirimu, karena aku tahu hati mu itu milik orang lain dan yang aku miliki pada dirimu hanya tubuh mu ini. Tapi betapa egoisnya aku, meskipun aku mengetahui perasaan mu ini, aku tak juga ingin melepaskan mu untuknya, karena aku merasa ingin terus memiliki mu. Karena apa Mas? karena aku sangat mencintaimu dan kamu tahu Mas aku memiliki apa yang dia tak miliki dari mu. Aku memiliki bagian dari dirimu yang kini tumbuh di rahimku. Sekarang aku seperti orang bodoh yang siap hancur demi keegoisan diriku untuk tetap memiliki mu." Tutur Silvi dengan mata sedih yang memancarkan luka hati seorang istri yang merasa kepedihan hati karena merasa tertipu dengan kesemuan yang diberikan suaminya pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2