Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 226


__ADS_3

"Aku percaya pada Nayla. Ia tak akan melakukannya dengan sungguh-sungguh." Jawab Tuan Tama pada istrinya.


Ratna menangis sedih, dengan apa yang akan dilakukan menantunya demi menyelamatkan dirinya, suaminya dan juga kedua besannya.


"Jangan Nayla! Jangan Nak!" Pekik Ratna di dalam hatinya. Ia tak berani bersuara, takut dengan pria bersenjata di sekitar mereka.


Sementara itu Barnes memanggil Tanker putranya untuk mencicipi manis tubuh ibu dua orang anak ini.


Tanker yang bertubuh tinggi tegap dan berotot segera mendekat pada Nayla. Ia menarik tubuh kecil Nayla dengan agresif.


"Slow down honey...!" Ucap Nayla yang meraba bagian dada bidang Tanker.


Sementara Tanker terus memandangi wajah Nayla dengan tatapan mesumnya.


"Aku lebih suka di atas, berbaringlah!" Pinta Nayla dengan suara sensualnya.


Tanker yang terpesona dengan kecantikan dan body gols Nayla, terbuai hingga ia akhirnya segera menuruti segala yang diperintah Nayla padanya.


Ia segera berbaring di atas hamparan rerumputan yang hijau itu. Dan setelah itu Nayla naik di atas tubuhnya.


Saat Tanker ingin membuka pakaian Nayla. Nayla malah mengarahkan tangan kekar Tanker ke arah bagian dadanya.


"Make me burn Honey, please! Touch it!" Pinta Nayla dengan suara berbisik yang hanya dapat di dengar keduanya.


"Press harder Honey! Faster oh ya Ok. Go to the Hell, Honey.... Hehehe...." Ucap Nayla pelan dengan senyumnya yang menyeringai.


Ketika Tanker terus mengikuti arahannya, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, saat cairan kimia mematikan berhasil masuk ke dalam pembuluh darahnya.


"Nayla! Apa yang kau lakukan pada putraku?" Geram Barnes, saat melihat putra satu-satunya memejamkan mata di tangan kosong Nayla.


Kini seluruh senjata mengarah pada Nayla. Siap untuk menembus tubuh mungil tanpa rompi anti peluru itu.


"Aku tidak melakukan apapun Om, dia tak sadarkan diri saat menyentuh milikku. Mungkin ini sebuah kutukan dari suamiku. Siapapun yang menyentuhku akan pingsan atau mati." Elak Nayla yang kini bergelayut manja dengan Barnes.

__ADS_1


"Kau bohong Nayla!" Tuding Barnes lagi tak percaya.


"Buat apa aku bohong? Di sini aku datang untuk menyerahkan diri. Apa ada gunanya aku berbohong?" Balas Nayla yang kembali meyakinkan Barnes. Ia menyadarkan dagunya dengan manja di bahu Barnes.


"Bebaskan orang tuaku Om, mari kita bersenang-senang setelah itu." Rayu Nayla lagi sembari meraba milik Barnes, tanpa diketahui oleh kedua orangtuanya maupun mertuanya karena posisi Nayla dan Barnes membelakangi mereka.


"Ok, akan ku bebaskan mereka, tapi kau harus menepati janjimu. Jangan kau bohongi aku lagi. cukup kala itu Nayla." Akhirnya Barnes menyetujui permintaan Nayla karena sesuatu di bawah sana berhasil menegang sempurna karena tangan nakal Nayla.


"Ya tentu saja. Aku akan membuatmu mengerang setiap detiknya nanti Om ...hahahaha...." Balas Nayla dengan tawanya yang mengelegar.


Setelah tawa Nayla reda. Barnes segera memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan seluruh tawanan mereka. Amel segera membantu kedua orang tuanya, Nayla, dan juga kedua mertua Nayla untuk membebaskan diri.


Sementara itu Endah yang ada di dalam mobil segera keluar dari pintu yang tak terlihat oleh mereka. Ia membawa keluar Patricia yang dalam kondisi beler itu untuk bersembunyi sejenak di samping mobil milik mendiang Silvi ini.


"Mommy, Daddy pergilah sampai kalian menemukan Mas Hendra di ujung jalan sana dengan mobil ini. Jangan khawatirkan kami! Cepat pergilah!!" Perintah Amel saat mereka semua telah masuk ke dalam mobil dengan saling berhimpitan.


Dengan berat hati kedua orang tua Amel meninggalkan putri semata wayang mereka yang kini dalam bahaya. Begitu pula yang dirasakan kedua orang tua Nayla dan juga mertuanya.


Sesampainya mobil yang dikendarai oleh Tuan Wiryawan, Daddy Amel ini di tempat dimana Jimmy, Andrew, Hendra dan Bayu berada. Mereka segera turun, berlari dengan semangat untuk memukuli menantu mereka.


"Kenapa bukan kau yang menyelamatkan kami, kenapa harus putri kami?" Pekik Tuan Wiryawan,Gunawan dan Pratama dengan kompak.


"Hendra kamu itu bagaimana, pengecut sekali jadi laki-laki? Kenapa harus istri dan adikmu yang menolang Ayah?" protes Riska menambahkan.


"Ampun!" Ucap Hendra dan Bayu yang meringis kesakitan. Karena tak henti-hentinya di siksa orang tua mereka dan mertua mereka.


Saat mereka berdua ingin menjelaskan, sebuah asap berwarna merah mengepul, bertanda Endah sudah maju membawa Patricia kepada mereka. Perang pun akan segera dilangsungkan.


"Bergerak!" Perintah Jimmy dan Andrew berbarengan.


Seluruh anak buah mereka langsung naik ke mobi menuju ke Villa yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat mereka saat ini.


"Nanti saja kami jelaskan, Nayla, Amel, dan Endah membutuhkan kami." Ucap Bayu yang segera naik ke dalam mobilnya bersama Hendra.

__ADS_1


Sementara itu, di Villa.


"Barnes tunda dulu untuk bersenang-senang mu sayang, lihatlah siapa yang aku bawa saat ini!" Ucap Amel dengan suara yang lantang.


Jika tadi dia hanya berdiam diri saat ada kedua orang tuanya berbeda dengan saat ini. Amel sama sekali tak ingin menunjukkan jati dirinya yang hitam pekat pada kedua orang tuanya bahkan pada mertuanya.


"Patricia!" Pekik tiga keluarga Balson yang tersisa.


Seketika Barnes ingin menjadikan Nayla sanderanya, namun gerakan tangan Nayla lebih cepat dari Barnes yang mulai melemah karena pengaruh obat.


Nayla mengacungkan senjata yang ia rebut dari Barnes tepat pada bagian kepala Barnes.


"Don't shoot babe!" Pekik Nayla pada anak buah Barnes dan kedua anggota keluarga Balson lainnya yang ia tak ketahui namanya.


Nayla mulai memundurkan langkahnya menghampiri kedua sahabatnya yang sudah melempar tubuh tak berdaya Patricia di atas hamparan rumput hijau.


"Apa yang kau lakukan pada keponakanku?" Pekik Antonio yang merasa panas melihat satu-satunya darah Alvin, sang Kakak. Terlihat begitu mengenaskan dan teronggok tak berdaya seperti itu.


"Aku hanya bersenang-senang bersama dengan dia Om tamvan, dia sudah menyentuh bibir suamiku yang seksi itu, sudah sepantasnya aku meronta deretan giginya dan juga menyobek-nyobek bibirnya yang ranum itu hahahaa...." Jawab Nayla dengan tawanya.


Antonio yang marah langsung saja ingin menekan pelatuk senjata apinya, namun saat ia baru ingin menekan pelatuk, dengan gerakan cepat. Endah menembak tangan Antonio. Hingga senjatanya terpental jauh dan terdengar pekikan kesakitan yang memekakkan telinga.


"Arghhhh......"


"Sudah ku bilang don't shoot, Babe." Ucap Nayla saay melihat Antonio berguling-guling kesakitan di hamparan rumput hijau yang kini berubah warna menjadi merah.


"Kalian benar-benar kumpulan wanita gila yang kejam." Pekik Chaplin, anggota keluarga Balson yang masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Kami gila karena tingkah keluarga mu!" Jawab Amel dengan geramnya.


"Tutup mulutmu wanita jal4n9!! Karena Alben terpincut wanita murahan seperti mu, kami jadi kehilangan sosok pemimpin!" Pekik Chaplin tak kalah lantang dengan Amel.


Chaplin terus melangkah maju menghampiri keberadaan mereka dengan keberanian yang besar dan dendam yang membara. Karena mereka berdua dirinya harus hidup dengan kemiskinan, hingga ditinggalkan kedua anak dan istrinya yang tak bisa menerima kondisi ekonomi dirinya yang sedang terpuruk.

__ADS_1


__ADS_2