
Dibantu beberapa orang, Nayla di baringkan di atas sebuah ranjang yang berada di dalam ruangan observasi. Tak lama saat ia dibaringkan, seorang dokter pria tampan keturunan Indonesia-Jerman yang mengenakan pakaian serba biru itu datang menghampiri Nayla. Dokter tampan itu akan segera memeriksa kondisi Nayla yang sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit di kepalanya.
Saat sang Dokter tanpan itu ingin memeriksa kondisi Nayla. Ia begitu terkejut melihat wajah pasiennya yang ternyata seorang wanita yang sangat ia kenali.
"Ini gue mimpi atau ngelindur, nih anak ada disini?" tanya sang Dokter yang tak percaya dengan kehadiran cinta pertamanya yang dibiarkan menghilang begitu saja di kliniknya.
Ya. Nayla adalah cinta pertama dari sang Dokter tampan ini. Cinta pertama yang tak pernah ia nyatakan dan dibiarkan pergi menghilang demi menjaga persahabatan sepupunya dan wanita yang ia cintai ini.
Untuk memastikan ia mimpi atau tidak sang Dokter bukannya mencubit dirinya sendiri, ia malah mencubit lengan Nayla. Sontak tingkah kocak sang Dokter membuat Nayla meringis kesakitan, karena cubitan sang Dokter rasa cukup tak main-main.
"Aduhhhhh sakitt njirrr... bukannya di obatin malah di sakitin," Omel Nayla yang membuat sang Dokter tertawa terpingkal-pingkal.
"Beneran ini dia bukan mimpi tapi nyata," ucap sang Dokter yang membuat Nayla menatap dengan seksama wajah sang Dokter yang ia kenali itu.
Nayla dengan sisa kekuatannya bangun dari posisi tidurnya untuk memukul pipi putih mulus bersemu merah milik sang sang Dokter.
Plak!!! Suara tamparan di pipi sang Dokter nyaring terdengar di ruangan observasi ini.
Sontak saja, apa yang Nayla lakukan membuat suster perawat yang berada di antara mereka terheran-heran dengan Nayla. Berani sekali seorang pasien memukul seorang Dokter dengan tidak sopannya.
__ADS_1
"Aduuhh gila lo, kira-kira dong mukulnya," protes sang Dokter yang meringis kesakitan, tangan kiri sang Dokter sibuk mengelus pipinya yang sakit akibat pukulan Nayla di sisa tenaga terakhir yang Nayla miliki.
"Eh, Dokter gabut lo duluan yang nyakitin gue, lo cubit tangan gue gak kira-kira,"
"Ya sorry, gue cuma yakinin diri gue aja, kok bidadari dari pulau kadut bisa nyungsep di klinik gue?"
"Eh,Nel Amstrong jangan kebanyakan basa basi, waktunya kurang tepat untuk bahas sebab dan akibat gue datang kesini. Sekarang tolong cepat periksa gue, gue sakit, demam,pusing, kepala gue kunang-kunang, mata gue berat untuk terjaga karena gue habis minum obat demam dua butir sekaligus. Satu lagi tolong visum gue, gue habis di aniaya sama teman-teman kampus gue, kalau gue kenapa-kenapa tolong hubungin adik sepupu Lo, jangan keluarga gue atau siapa pun ok!" Perintah Nayla dengan beraninya pada sang Dokter. Disaat kondisinya sudah mulai beler karena minum obat penurun panas melebihi dosis.
Tak lama kemudian dalam hitungan detik Nayla tertidur begitu saja, karena matanya sudah berat untuk bertahan. Dokter bernama Neil yang merupakan kakak sepupudari sahabatnya yang bernama Amel itu segera memeriksakan kondisi Nayla. Tanpa banyak kata-kata setelah berhasil mengobservasi Nayla. Neil segera membawa Nayla ke rumah sakit dengan menggendong sendiri tubuh tak berdaya Nayla.
Kondisi Nayla sangat mengkhawatirkan, Nayla butuh penanganan lanjutan sesegera mungkin, dengan peralatan yang cukup canggih tentunya. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan seberapa parah luka memar yang ada di kepala Nayla yang terlihat oleh Neil saat memeriksanya tadi.
Dengan mengemudikan kendaraan pribadinya. Dokter Neil melaju dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di rumah sakit besar yang memiliki peralatan serba canggih, yang letaknya tak cukup jauh dari klinik miliknya.
Meskipun Amel sedih dan panik tapi akal sehatnya tetap berjalan dengan baik. Amel berusaha menenangkan diri untuk mencoba menghubungi Bayu, namun Bayu yang tertidur pulas pun tidak tahu suara ponselnya terus berdering. Amel yang cerdas segera mencari jejak dimana Nayla pernah singgah melalui ponselnya.
Amel mencari peruntungan dengan apa yang ia dapatkan dan nasib baik memihak padanya tepat pukul 01:00 dini hari. Amel mengobrak abrik kediaman dosen killernya itu. Setelah ia mendapati alamat dosen killer itu dari jejak ponsel Nayla yang terdikteksi olehnya.
Dengan waktu yang relatif cukup singkat, mungkin karena jalanan sepi, Amel cepat sampai di kediaman Bayu. Saat pintu pagar terbuka oleh satpam, Amel langsung meringsek masuk memanggil nama Pak Bayu dengan berteriak-teriak seperti berada di hutan. Suara tangisan Sultan karena mendengar teriakan Amel pun akhirnya membangunkan Bayu dari tidur lelapnya. Dengan mata yang mengerjap-ngerjap Bayu keluar dari kamarnya dan mendapati Amel yang sedang teriak-teriak tanpa henti memanggil namanya.
__ADS_1
"Amel mau apa kamu datang tengah malam seperti ini, berteriak-teriak tak sopan?" tanya Bayu sembari menuruni anak tangga menghampiri Amel.
Jangan tanya bagaimana raut wajah Bayu yang menatap Amel saat ini. Wajahnya sudah memerah dengan rahangnya yang nampak mengeras. Meperliahatlan aura kemarahan karena tidur lelapnya di ganggu dengan kedatangan tamu tak di undangnya ini.
"Gak usah marah-marah sama saya Pak. Simpen dulu amarah Bapak pada saya. Sekarang kondisi sedang gawat Pak, ayo kita kerumah sakit segera, karena Dokter bilang Nayla harus di operasi malam ini juga,"
"Apa?? Operasi kamu ini jangan mengada-ngada Amel! Teman mu itu sedang tidur di kamar, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu, kamu benar-benarsedang ngelindur Amel," Bayu merespon tak percaya dengan apa yang di ucapkan Amel, sahabat istrinya itu.
"Ah yang bener Pak? Jika Bapak merasa tidur bersama Nayla tadi, berarti Nayla sekarang udah inalillahi dong Pak? Saya terlambat bawa Bapak ke sana untuk menandatangani surat persetujuan tindakan," Amel malah duduk di lantai dan menangis meraung-raung.
"Eh, kamu jangan nangis kaya anak kecil disini! Sana pulang! Kembali ke tempat asal mu!" Perintah Bayu yang tak di indahkan oleh Amel.
"Ini semua karena Bapak, Bapak kenapa paksa dia kuliah Pak? Saya jadi kehilangan sahabat saya satu-satunya kan jadinya," tangis Amel sambil meraung-raung, ia masih mengira Nayla sudah tiada karena ucapan Bayu yang mengatakan bahwa Nayla ada sedang tidur di kamarnya.
"Eh, kamu jangan sama ngaconya ya sama Nayla! Saya gak ada waktu buat mendengarkan omongan ngaco kamu ini ya, Amel. Sekarang saya minta sekali lagi sama kamu, tolong tinggalkan rumah saya! Saya mau istirahat,"
"Nggak, saya gak mau pergi, saya mau di sini sampai jenzah Nayla datang," tolak Amel yang masih mengira Nayla sudah tiada.
Bayu mulai tak sabar menghadapi tingkah Amel yang hampir sebelas dua belas dengan istrinya. Ia juga tak suka dengan penolakan Amel yang katanya akan menunggu sampai jenazah istrinya itu datang. Bagaimana bisa jenazah istrinya itu datang, jika setahu dirinya, istrinya itu tengah tidur di dalam kamar bersama dengan dirinya tadi dan saat ini masih tertidur nyenyak tak terganggu dengan suara berisik akibat huru-hara yang di buat sahabatnya.
__ADS_1
"Bi, coba panggil Nayla kesini!" Perintah Bayu pada Bi Darmi yang juga ikut terbangun dan berada di antara mereka.
Bayu meminta Bi Darmi memanggil Nayla untuk meyakinkan Amel jika Nayla memang benar ada di rumah dan Amel sahabat istrinya itu, benar-benar ngelindur. Namun belum sempat Bi Darmi melangkah pergi, Sapri security keamanan kediaman Bayu menghentikan langkah Bi Darmi dengan pernyataannya.