Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 65


__ADS_3

"Maafkan aku, tak terpikirkan oleh ku jika kamu akan mengetahui semua ini, Silvi. Aku akui aku salah," tutur Hendra dengan menundukkan wajahnya, rasa bersalah pada Silvi membuatnya tak punya keberanian untuk menatap wajah istrinya saat ini.


Rasa bersalah? Ya. rasa bersalah yang kini ada di benak Hendra. Tak mungkin Hendra tak merasa bersalah. Ia dengan sadar dan sengaja menipu Silvi dengan semua perbuatannya yang seolah-olah mencintai dirinya.


"Tak terpikirkan? Bagaimana bisa kamu memikirkan perasaan ku Mas, jika dihatimu saja tidak ada aku. Selama ini kebersamaan kita hanya menyiksa batin mu, bukan?" Tebak Silvi yang mendongak pandang Hendra dengan mengangkat dagu suaminya itu.


"Tatap aku Mas!" Pinta Silvi pada Hendra yang malah memejamkan matanya, saat Silvi berhasil mengangkat pandangannya. Hendra seakan tak ingin melihat kesedihan Silvi yang juga mengoyakkan hatinya saat ini.


"Apa kelebihan yang ia miliki hingga kamu tak bisa melupakannya? Dia tak lebih cantik dari ku, dia juga ___" ucapan Silvi yang menyombongkan dirinya terhenti karena dipotong oleh Hendra. Ya Hendra memotong ucapan Silvi. Ia tak terima wanita yang ia cintai akan dibandingkan dan direndahkan oleh istrinya itu.


"Dia memang tak lebih baik dari mu dan tak lebih sempurna dibandingkan diri mu, tapi dia selalu menjadi dirinya sendiri dibalik kekurangannya. Meskipun dia banyak kekurangan tapi dia selalu berusaha mengerti diriku, hingga membuatnya tak ada kekurangan di mata ku, dia nyaris sempurna dimata ku. Aku sering menyakitinya, aku tak pernah menjaga perasaannya seperti aku yang selalu menjaga perasaan mu. Aku tak pernah memiliki rasa takut saat bersama dengannya, tidak saat bersama dengan mu seperti saat ini. Aku memiliki rasa takut yang begitu besar. Aku sangat takut untuk menyakiti mu. Dia selalu meletakkan kebahagiaan ku di atas segalanya, sedang diri mu, seperti orang yang hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Kamu egois Silvi, tapi kamu tak menyadari itu," turut Hendra panjang lebar dengan air mata yang menggenang di kelopak matanya, ia mengutarakan apa yang ia rasakan selama ia hidup bersama istrinya.


Silvi mendengar penuturan Hendra dengan linangan air mata, ia tak bisa berkata apa-apa, ketika suami yang dicintainya terus memuji wanita lain dihadapannya secara terang-terangan.

__ADS_1


"Kamu tahu Sil, saat aku terang-terangan menyakitinya dia, dia malah seakan masa bodoh dengan apa yang aku lakukan padanya, aku tahu dia pasti sakit hati dengan apa yang aku lakukan, seharusnya dia bisa marah atau pun protes pada ku tapi dia tak pernah melakukan itu. Ia selalu menerima kelakuan baik buruknya diriku dengan berlapang dada. Dia lebih memilih mengalah dengan tetap diam disamping ku. Tak pernah sedikit pun dia menuntutku harus mengerti dirinya, seperti dirimu yang selalu meminta ku mengerti dan melayani mu, bahkan kedua orang tua ku pun, jadi aku repotkan karena kemanjaan mu dan kekanak-kanak mu."


"Mas!!" Panggil Silvi yang tak terima disebut manja dan kekanak-kanakan oleh Hendra.


"Perlu kamu tahu. Aku meninggalkannya hanya untuk menikah dengan mu, apa menurut mu dia marah? Seperti diri mu pada ku saat ini? Tidak Silvi, dia tidak seperti itu. Bahkan kamu dapat melihatnya, bagaimana dia terlihat bahagia di hari pernikahan kita. Seharusnya dia bisa marah pada mu, karena merebut ku darinya, ia juga bisa membatalkan atau memporak-porandakan acara pernikahan kita, tapi apa? Dia membiarkan diriku menikah dengan mu, tanpa menuntut penjelasan atau apapun itu pada ku." Sambung Hendra yang menatap sendu Silvi dengan air mata yang membasahi rahang tegasnya.


Silvi terdiam menatap manik mata Hendra yang terus mengalirkan air matanya. Melihat Silvi terdiam Hendra kembali berbicara, agar Silvi mengerti apa yang ia dan Amel rasakan.


"Kamu perlu tahu satu hal, sayang. Aku dan dia, hingga hari ini tak pernah mengakhiri hubungan kami. Tapi dia yang begitu sadar diri dengan status ku saat ini. Menjauhi ku tanpa membenci diriku. Padahal dengan apa yang aku lakukan padanya, aku adalah pria yang patut ia benci. Jangan bilang aku tak berusaha melupakannya! Aku sudah berusaha keras melupakannya, tapi semua itu terlalu sulit bagi ku. Aku begitu mencintainya bahkan aku sangat merindukannya. Maafkan aku telah melukai mu dengan perasaan terlarang ku ini, aku tahu, aku dan kamu sama-sama hancur dengan takdir yang kita jalani saat ini," lanjut Hendra, ia bicara tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Silvi sekarang.


"Jika kamu mau aku melupakannya demi mendapatkan maaf dari mu, itu hanya akan sia-sia saja. Namanya terlanjur terpatri dihatiku, sulit bagi ku melupakannya. Meski hati ku telah hancur karena perpisahan kami, tapi serpihan hati yang hancur ini, selalu merajut rasa cinta dan kerinduan ku makin bertambah padanya." jawab Hendra yang begitu mengecewakan Silvi.


"Hah, Hahahaha...bertambah kata mu?" Silvi tertawa dengan tangisannya, saat ia mendengar ucapan Hendra. Silvi seakan mengejek apa yang dirasakan Hendra pada Amel.

__ADS_1


"Jika kamu mencintainya, kenapa kamu mendatangi hidupku kembali, seakan ingin mengulang kisah kita kembali Mas? Kamu seakan sengaja mempermainkan perasaan kami. Sebenarnya apa motif mu kembali pada ku? Apa karena kamu mengasihani kondisi ku yang penyakitan ini?" Tanya Silvi dengan isak tangisnya.


"Aku bisa kembali pada mu, karena ada seseorang yang mendatangi ku. Memohon pada ku untuk mewujudkan permintaan terakhir mu yang ingin menghabiskan sisa hidupmu yang tak lama lagi bersama dengan diri ku." jawab Hendra jujur.


Silvi tahu betul, siapa orang yang mendatangi Hendra demi mengabulkan permintaan terakhirnya. Yang pasti bukan kedua orang tuanya. Melainkan Neil, mantan tunangannya. Karena hanya dengan dirinya Silvi mengutarakan keinginannya.


"Neil, Aku tak tahu harus mengucapkan terima kasih atau marah pada mu saat ini, yang pasti hidup ku saat ini tak baik-baik saja dengan permintaan terakhir ku yang ku ucapkan padamu tempo dulu. Sepertinya memang tak harus memaksa sebuah keinginan yang akhirnya membuat ku kecewa dan terluka. Ini sekua tak sesuai dengan harapan ku. Salah! Ternyata aku salah terlalu berekspektasi tinggi pada Mas Hendra yang nyatanya sudah tak mencintai mu aku lagi," Batin Silvi yang seakan menyesali semua ini.


"Sekarang aku mengerti Mas. Pantas saja kamu tak mau melupakannya dan melepaskan perasaan mu terhadapnya demi diriku. Karena kamu mengharapkan kematian ku untuk kembali dengannya. Bukan begitu?" Tebak Silvi yang sama sekali tak ditanggapi oleh Hendra.


Hendra hanya diam tanpa kata-kata dan mengalihkan pandangannya, ia tetap duduk di tepi ranjang Silvi namun kini ia duduk membelakangi tubuh Silvi. Silvi terus memperhatikan Hendra yang terdiam membeku dengan isak tangisnya yang tak kunjung reda.


"Diam mu seolah-olah mengatakan iya dengan semua praduga ku Mas. Teganya kamu pada ku, Mas. Apa sebenarnya kamu juga tak menginginkan anak yang sedang ada di dalam kandungan ku ini?" Decit Silvi dengan kembali melayangkan tuduhan pada Hendra.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, Silvi! Kamu sangat suka menduga-duga dan menuduh seseorang secara tidak langsung. Aku sangat membenci kebiasaan mu yang seperti ini," Hendra membalikkan badannya menatap tajam Silvi yang masih terisak dengan nafas tersengal-sengal.


__ADS_2