
Berulang kali Bi Darmi dan Suster Marni berusaha membangunkan Nayla, namun usaha mereka tak kunjung berhasil. Malah tangan mereka berdua sama-sama mendapatkan hadiah dari Nayla. Sebuah cubitan maut yang membuat mereka senam wajah karena merintis kesakitan, saat mereka berusaha memisahkan dirinya dan Sultan.
Sementara itu, Bayu yang berada di kampus sudah merasa tak sabar ingin bicara dengan istrinya itu, segera kembali menghubungi Bi Darmi. Alhasil, ponsel yang berada di saku daster Bi Darmi pun berdering. Ia segera mengangkatnya.
"Hallo Den," sapa Bi Darmi.
"Bagaimana Bi? Kenapa lama sekali Bibi tidak menghubungi saya? Sebenarnya istri saya ada di rumah atau tidak Bi?" tanya Bayu yang menaruh curiga tentang keberadaan Nayla sebenarnya.
"Ada Den, tapi anu Den, susah sekali dibangunkannya. Tangan Bibi habis di cubitin sama istri Den Bayu,"jawab Bi Darmi apa adanya.
"Ok baiklah kalau begitu," ucap Bayu yang kemudian menutup panggilan teleponnya begitu saja.
Bayu kembali ke dalam kelas, tanpa banyak basa-basi. Bayu segera menyudahi jam mata kuliahnya. Sebagian besar Mahasiswa merasa senang dan sebagian kecil lagi merasa dirugikan karena Bayu memangkas waktu mengajarnya.
Dengan waktu yang relatif singkat, Bayu sudah berada di kediamannya saat ini. Entah berapa kecepatan yang ia pacu pada mobilnya saat ia kembali ke kediamannya. Pak Jono yang sedang asyik mencuci mobil, melihat kedatangan Bayu, dirinya sangat terkejut, jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Ia tahu saat ini ia sedang dalam masalah. Apalagi tatapan Bayu saat melihatmya benar-benar mengerikan.
Bayu berjalan masuk dengan langkah kakinya yang lebar, ia membuka pintu kamar pribadinya, tak ia dapati istrinya disana. Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar putranya. Di bukanya kamar itu, ia masih melihat Bi Darmi dan Suster Marni masih berusaha membangunkan Nayla yang tak kunjung mau bangun juga.
Melihat kedatangan Bayu, Suter Marni dan Bi Marni pun akhirnya menyingkir dan keluar dari kamar Sultan. Setelah memastikan kedua pembantunya itu keluar. Bayu duduk di tepi ranjang di sisi tempat dimana Nayla merebahkan dirinya.
Bayu mengguncangkan tubuh istrinya itu tanpa bersuara, Nayla yang merasa terganggu langsung saja mencubit tangan Bayu, hingga Bayu di buat meringis kesakitan.
"Auuuu.... sa-sakit..." ringis Bayu dengan suaranya yang memekik.
__ADS_1
"Ternyata benar ucapan Bi Darmi di telepon tadi, aku pun mendapatkan cubitan darinya," batin Bayu.
Suara pekikan Bayu yang begitu keras. Berhasil membuat Nayla dan Sultan terbangun. Sultan yang terkejut dengan pekikkan suara Bayu pun menangis histeris. Bayu menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja Sultan yang tak pernah ia lihat. Putranya itu tak pernah bangun dalam kondisi menangis seperti ini dalam kondisi apapun. Kehadiran Nayla merubah segalanya.
Nayla segera memeluk Sultan dan berusaha menenangkan putra sambungnya itu. Tak butuh waktu lama Sultan yang masih mengantuk kembali terpejam dan Nayla yang juga masih ngantuk juga ingin ikut terpejam, tapi saat matanya sudah ingin terlelap, ia tak bisa karena Bayu terus mengganggunya.
Kaerena kesal dengan Bayu yang terus mengganggunya, akhirnya membuat Nayla beranjak dari posisi tidurnya, ia menatap kesal suami yang sejak tadi duduk di belakang tubuhnya.
"Apa sih Mas nih? Jangan ganggu kenyaman orang bisa gak sih Mas?" Omel Nayla dengan wajah juteknya.
"Kok kamu yang marah, harusnya Mas yang marah sama kamu,"
"Emangnya kenapa Mas harus marah sama Nay, emangnya Nay salah apa sama Mas?" tanya Nayla yang seakan melupakan kesalahan yang sudah ia perbuat, ia tidak masuk kuliah dan juga kembali membuat putra sambungnya itu tidak masuk sekolah alias bolos lagi.
Bayu menghela nafas kasarnya ketika mendengarkan pertanyaan istri itu. "Kamu gak lagi berakting kan Nay?" tanya Bayu yang sudah mengetahui tabiat Nayla dari sang Ayah mertua.
"Ya kamu memang bukan seorang artis Nay tapi kamu itu ratunya Drama," jawab Bayu yang kemudian menarik tubuh Nayla untuk keluar dari kamar putranya. Bayu menarik istrinya masuk ke kamar pribadi mereka. Ia ingin mengajak Nayla bicara empat mata tanpa di dengar oleh Sultan ataupun orang lain yang kemungkinan akan masuk ke dalam kamar putranya itu.
"Aduh Mas jangan Mas... ohhh jangan Mas! Ohh...mas ahh,Jangan sekarang!" celoteh mulut Nayla dengan ekspresi wajah seperti orang yang sedang di paksa suaminya untuk bercinta. Matanya terpejam, kepalanya terus menggeleng ke kanan dan ke kiri tanpa henti.
"Kamu belum aku apa-apain Nay, ngapain kamu kaya gitu?" ucap Bayu menatap wajah istrinya dengan tatapan yang aneh.
"Oh belum ya, kirain udah," balas Nayla yang kembali bersikap wajar seperti biasanya.
__ADS_1
"Dasar Ratu Drama," celetuk Bayu masih dengan tatapan anehnya memandang sang istri.
"Makasih pujiannya Pak Suami, istri mu ini sangat tersanjung dengan sebutan yang kamu berikan,"ucap Nayla yang tersenyum sok manis dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Bayu memilih tak menanggapi perkataan sang istri, ia malah duduk di sofa panjang yang ada di kamar mereka sambil menatap istrinya yang masih setia berdiri tak jauh dari pintu kamar mereka yang sudah tertutup.
Nayla yang mengerti arti tatapan sang suami, segera berjalan menghampiri suaminya. Nayla menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan suaminya. Alih-alih duduk disamping sang suami, ia malah membalikkan tubuhnya dan mendaratkan bokongnya di paha suaminya.
"Duduk disini jauh lebih nyaman daripada di sofa," celetuk Nayla yang kemudian menarik kedua tangan suaminya untuk memeluk pinggangnya.
Bayu yang notabene-nya orang yang kaku dan dingin, di paksa Nayla menjadi pria yang romantis dengan tingkah dan pembuatan yang selalu menuntun Bayu untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
"Pegangin aku Mas, biar ga jatuh, gini nih cara pegangannya atau begini nih dan re.mas sedikit nanti aku jadi On," Nayla berkata sembari tangannya mengarahkan tangan Bayu semula ke bagian perut tapi malah naik ke atas perutnya, menuju bukit kembar kenyal kesukaan Bayu.
"Nay..." panggil Bayu, saat Nayla malah menggoyangkan pinggulnya, menggesek milik Bayu yang masih di dalam sangkarnya.
"Kenapa Mas? Enak ya?" tanya Nayla tanpa rasa malu pada suaminya.
"Enak tapi tidak sekarang. Mas ingin bicara penting dengan mu. Jangan alihkan perhatian Mas dengan cara ini Nay! Mas sudah tahu kartu As mu dari Ayah mu, Nay," cetus Bayu dengan memberikan tatapan serius pada istrinya.
"Duh, punya ayah mulut kelemesan banget, sabar Nay, siap-siap kuping panas terima ceramah Pak Suami killer," batin Nayla yang merutuki keemberan mulut sang ayah.
"Mau ngomong apa Mas? Nay siap dengerin kok,"
__ADS_1
"Siap gak siap ya kamu harus dengerin apa kata suami kamu ini."
"Iya Mas," jawab Nayla yang seakan patuh dengan suaminya ini.