
Waktu pun terus berjalan, Angel pun kembali sehat seperti sedia kala. Dia kembali pada rutinitasnya, bekerja pada keluarga Andre. Sedangkan Ferdy sudah mulai bekerja bersama Leon.
Leon sengaja meminta Ferdi untuk menjadi asistennya, karena sang mertua Tuan Santoso mulai memberikan kepercayaannya untuk mengelola perusahaan miliknya. Itu karena kakak iparnya Claudia masih betah melajang hingga saat ini.
Semenjak Leon dipercaya untuk mengelola perusahaan Tuan Santoso, sang mertua. Kehidupan Leon nyaris berubah. Tidak ada waktu baginya untuk kegiatan sang istri bersama teman-teman sosialita sang istrinya.
Hari ini setelah 3 jam berkeliling mall, Anna memutuskan untuk pulang. Baju-baju branded dan tas-tas branded yang dibeli Anna dan Endah sudah membuat Bowo dan juga Angela kualahan untuk membawanya.
Sampai-sampai sopir pribadi Nayla yaitu Pak Jono, juga harus ikut kerepotan membawa sebagian belanjaan Anna dan juga Endah.
"Lo kenapa sih belanja sebanyak ini? Mau buka toko?" Tanya Nayla pada Anna dan juga Endah.
"Gue sih cuma nemenin doang. Kata dia bagus ya gue ambil." Jawab Endah santai.
Sedangkan Anna malah menjawab dengan tatapan sedihnya.
"Kenapa lo Ann, sedih gitu?" Tanya Nayla yang bisa membaca raut kesedihan Anna.
"Suami gua sibuk jarang ada di rumah jarang ada waktu buat gue. Gue belanja untuk ngelampiasin rasa kesepian gue."
"Dia sibuk kerja Ann, bukan lagi sibuk main cewek. Ini juga kan karena bokap lo. Bang Leon kerja keras demi lo dan keluarga lo loh. Jadi jangan sedih Ann. Lo harus bersyukur Bang Leon masih mau bersedia bantu perusahaan Bokap lo yang ga kecil itu. Banyak tanggung jawab yang dia pegang, jadi jangan curigain dia apalagi murung di depan dia. Kasian." Sambar Jessica yang berusaha memberikan pengertian pada kakak iparnya sekaligus sahabatnya itu.
"Heum... Tapi gue belum terbiasa tanpa dia yang sibuk banget Jess." Sahut Anna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gue rasa Bang Leon juga belum terbiasa dengan kesibukannya sekarang, lo tunggu aja sih Ann, kalau dia udah terbiasa nanganin perusahaannya dan perusahaan bokap lo dalam waktu bersaman, pasti akan ada waktu banyak lagi buta lo." Tukas Amel yang juga berusaha menguatkan Anna untuk tidak sedih berlarut-larut.
...*****...
Tepat pukul 22.00 malam. Leon baru saja tiba di mansionnya. Sebelum pulang ke Mansionnya. Ia terlebih dahulu mengantarkan Papi mertuanya pulang ke Mansion kedua orang tua Anna, hingga akhirnya ia pulang selarut malam seperti saat ini.
Saat Leon berada di lantai atas. Leon terkejut mendengar suara televisi masih terdekat menyala di ruang tv lantai atas. Leon pun berjalan menuju ruangan itu dan mendapati istrinya Tengah tertidur di sofa dengan posisi yang sangat tidak nyaman.
Leo menatap wajah Anna dengan perasaan tidak tega. Pastinya istrinya itu sudah menunggunya pulang sampai ketiduran di sofa. Leon mematikan televisi terlebih dahulu lalu berjongkok di samping sofa. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
Nampak jelas dilihat oleh manik matanya, wajah sembab sang istri yang habis menangis. Leon tahu pasti istrinya sangat kesepian dan menangisi kesibukannya akhir-akhir ini yang hampir tidak memiliki waktu banyak untuk sang istri juga kedua putra kembarnya.
__ADS_1
"Sayang bangun yuk! Kita pindah ke kamar." Ajak Leon saat ia berusaha membangunkan istrinya.
Perlahan Anna membuka kedua matanya. Anna menatap suaminya dengan keadaan setengah sadar.
"Jam berapa sekarang,Ayah?" Tanya Anna dengan suara seraknya.
"Jam 10.00 malam Bunda," jawab Leon sembari mengusap penuh cinta pucuk kepala Anna.
"Kamu baru pulang jam segini?"
Leon mengangguk dan tersenyum tipis sambil mengusap pipi istrinya. Anna mengubah posisinya, ia duduk dengan mata yang masih terlihat mengantuk. Leon pun ikut bergabung duduk di samping sang istri. Leon menarik kepala sang istri agar bersandar di bahunya.
"Apa anak-anak sudah tidur, Bun?" Tanya Leon yang juga sangat merindukan kedua putranya.
"Mereka sudah tidur, mereka sedikit rewel karena merindukanmu."jawab Anna dengan raut wajah sedihnya.
"Kalau anak-anak sudah tidur kenapa kamu nggak tidur di kamar aja Bun?"
"Aku menunggu kamu, rasanya sangat berbeda tidur tanpamu, Ayah." Jawab Anna dengan kedua mata yang kembali terpejam di sandaran bahu Leon.
"Kamu udah makan belum Bun?" Tanya Leon saat mendengar suara berisik dari perut Anna.
"Mau aku buatkan sesuatu untuk kamu makan Bun?" Tawar Leon pada istri.
"Aku udah ngantuk, gak nafsu dan nggak pengen makan. Aku cuma pengen tidur sama kamu, dipeluk sama kamu." Tolak Anna pada tawaran suaminya. Yang makin membuat Leon kembali merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan dunia pekerjaannya. Hingga membuat istrinya kesepian.
Entah kelelahan atau bagaimana, suhu badan Leon meningkat begitu saja saat mereka sudah tertidur di kamar.
"Kamu kenapa Ayah?" Tanya Anna. Ketika ia merasakan suaminya bergerak tidak nyaman di sampingnya.
Begitu Anna membuka matanya, Anna mendapati Leon sudah duduk bersandar di Ranjang. Anna melirik jam dinding masih pukul 02.00 dini hari ternyata.
"Badan aku demam, aku tidak bisa tidur dan sedikit sesak nafas," jawab Leon yang sedikit membuka mulutnya untuk berusaha bernafas melalui mulut.
"Apa hidung kamu mampet ayah?" Tanya Anna sembari menempelkan punggung tangannya di kening Leon.
__ADS_1
Leon hanya mengangguk menjawab pertanyaan istrinya. Anna mengubah posisinya, menyamakan posisinya dengan sang suami yaitu bersandar di kepala ranjang.
"Sini!" Pinta Anna yang menyuruh Leon agar tidur dalam pelukannya.
Leon menurut ia menyandarkan kepalanya di dada anak dan memeluk pinggang istrinya itu.
"Berusahalah untuk tidur sayang, besok kalau keadaanmu tidak membaik, kita akan pergi ke rumah sakit atau memanggil dokter untuk datang kemari." Ucap Anna kembali mengusap rambut suaminya.
Leon pun mengganggu menuruti semua perkataan yang keluar dari mulut istrinya. Tak butuh waktu lama dengan belaian kasih sayang sang istri. Leon pun kembali tidur dengan nyenyak.
Pagi harinya Anna terbangun dengan susah payah. Punggungnya terasa sakit karena semalam Ia tidur dengan duduk bersandar di kepala ranjang. Dengan perlahan Anda memindahkan kepala sang suami sebelum ia menghampiri kedua putranya yang terdengar sudah memecahkan keheningan dimension mereka.
Rupanya para jagoan Anna sudah bangun dari tidurnya. Segera Anna menghampiri kedua putranya tersebut. Usai mengurus kedua putranya dan menyerahkan kedua putranya pada kedua pengasuh yang ia pekerjakan untuk membantu dirinya menjaga sang putra. Anna kembali ke kamar.
Betapa terkejutnya iya saat membuka pintu kamar. Melihat Leon sudah rapi dengan setelan kantornya.
"Kamu mau ngapain ayah?" Tanya Anna sambil meletakkan nampan di atas nakas. Rupanya istrinya itu kembali ke kamar dengan membawakan semangkok bubur dan juga susu hangat.
"Aku ada meeting penting di kantor Papi mu hari ini, jadi aku harus segera datang ke perusahaan Papi mu." Jawab Leon sembari memasangkan dasi di lehernya.
"Kamu itu sadar nggak sih lagi sakit? Kenapa sih kamu harus mikirin pekerjaan terus? Aku nggak suka ya kamu gila kerja kayak gini. Kamu tuh bukan robot." Omel Anna yang berusaha melepaskan dasi yang suda terpasang di leher suaminya
"Bunda apa yang kamu lakukan? Aku sudah di tunggu Papi mu." Protes Leon saat Dasi yang ia selesai kenalan di lepas paksa oleh sang istri.
"Nggak. Pokoknya kamu diam di rumah, aku gak izinin kamu ke kantor." Ucap Anna sembari berkacak pinggang.
"Bun, please jangan begini. Aku nggak apa-apa. Badan aku pun sudah tidak panas lagi mungkin semalam aku cuman kecapean aja."
Mendengar jawaban Leon, Anna berjalan menghampiri sang suami, Anna mengikis jarak di antara mereka, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi sang suami.
"Kamu bilang sudah nggak panas! Badan kamu masih panas kayak gini. Udah deh gak usah sok kuat, ya. Jangan gila kerja kayak gini aku nggak suka." Ucap Anna sembari melepaskan kembali kemeja yang dipakai oleh sang suami.
"Gak bisa sayang.... Tolong jangan melarang ku untuk pergi ke kantor, aku ini benar-benar ada meeting penting bersama dengan papi mu." Ucap Leon sembari menahan pergerakan tangan sang istri.
"Oke. Kalau kamu maksa seperti ini. Kamu coba aja berangkat ke kantor, aku pastikan saat kau pulang aku dan anak-anak sudah tidak ada di rumah." Ucap Anna yang menjadi senjata pamungkasnya.
__ADS_1
Leon pun akhirnya terduduk lemas di tepi ranjang, membiarkan sang istri membuka pakaian kantor yang telah Ia kenakan dan menggantinya dengan pakaian tidur.
"Urusan Papi biar jadi urusanku sekarang kamu makan buburnya minum susu lalu tidur, satu jam lagi dokter akan datang memeriksakan kondisi mu, Ayah." Perintah Anna yang langsung diangguki oleh Leon.