Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 255


__ADS_3

Jimmy bersiap mendapatkan bogem mentah yang mungkin saja di muntahkan oleh tangan besar Hendra, ia berusaha menghindar dari tubuh Hendra yang semakin lama semakin besar, tentunya bukan karena obesitas. Tapi karena Amel terus membuat otot-otot suaminya ini semakin sempurna mulai dari olahraga rutin, makanan bergizi hingga suplemen yang harus Hendra konsumsi.


"Hai, Babon. Mau kau apakan adik iparku?" Pekik Leon yang baru saja tiba diruangan kerja Andre.


Ia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang penuh membawa paperbag. Dimana paperbag itu berisikan makanan kesukaan mereka berlima.


Babon adalah panggilan sayang baru Leon yang hanya di peruntukannya pada Hendra, ketika ia kesal dan marah pada Kakak tersayang Nayla ini.


"Ingin ku telan hidup-hidup adik ipar monster mu ini." Jawab Hendra asal.


"Telan saja kalau kau berani. Berani menyentuhnya sama saja kau cari masalah dengan adikku." Sahut Leon sembari menghampiri keberadaan keempat hot Papa yang tengah menatap paper bag yang ia bawa.


Seketika Hendra tersenyum kaku dan garuk-garuk kepala. Tidak ingin lagi ia menyahuti kembali perkataan Leon, yang mengingatkannya pada sosok istri Jimmy yang terkenal kejam dan berdarah dingin, sama persis seperti dengan sang adik.


Kelimanya menyudahi perdebatan kosong mereka begitu saja. Kelimanya mulai sibuk menata makan kesukaan mereka yang tidak bisa mereka konsumsi di kediaman mereka, karena istri mereka tidak menyukainya.


"Kau beli di tempat yang sama kan, Leon?" Tanya Hendra saat ia mulai membumbui sate kambing muda dengan balutan sambal kecap di piring plastik makannya.


Piring plastik. Ya, hanya piring plastik yang bisa mereka gunakan untuk menyantap menu kesukaan mereka ini. Mereka menyantap menu kesukaan mereka ini dengan cara sembunyi-sembunyi, tanpa memerintahkan satu orang pun untuk melayani mereka. Agar kelima istri mereka tidak mengetahuinya.


"Tentu saja, aku tidak akan pindah tempat membeli makanan kesukaan kita ini, karena rasa sop kambing buatan Mbok Narti benar-benar gak ada obat. Hahaha..." jawab Leon yang diakhiri tawa menggelegar.


Semuanya ikut tertawa begitu pula dengan Bayu yang semula wajah kaku seperti kanebo kering. Acara makan siang mereka pun berlangsung begitu nikmat.


"Habis makan siang ini, aku akan langsung pulang dan jangan coba-coba menghubungi ku ya! Termasuk kau, Andre." Ucap Jimmy ketika ingin melahap sate dan Sop kambing di season keduanya.


"Jangan merasa sok penting! Aku tidak akan menghubungi mu." Sahut Andre ketus pada Jimmy.


"Aku pun demikian, tidak boleh ada yang mengganggu diriku dan perlu aku tekankan pada kalian. Jika aku tidak menerima penitipan anak hari ini titik, tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusan ku. Kediaman ku itu bukanlah Daycare ataupun Posyandu untuk anak-anak kalian." Pungkas Bayu yang tiba-tiba menambahkan dengan tampang dingin dan tatapan mata yang begitu serius menatap ketiga hot Papa dihadapannya ini.

__ADS_1


Sontak perkataan Bayu ini, membuat Jimmy, Andre dan Leon melirik ke arahnya. Mereka tersenyum kaku, menyadari kebiasaan mereka yang suka menitikkan anak ketika ingin bermadu kasih dengan istri-istri mereka tanpa gangguan.


Melihat Bayu yang berani mengungkapkan keberatannya, Hendra pun mengikuti apa yang dilakukan Bayu pada ketiga pengusaha berkuasa yang selalu bertingkah seenaknya ini.


"Aku juga- aku juga, istriku itu bukan baby sister anak-anak kalian. Apalagi saat ini dia sedang hamil besar. Dia sangat butuh banyak istirahat dan belaian suaminya. Hari ini aku akan menemaninya bobo siang tanpa gangguan krucil kalian yang selalu minta perhatian lebih darinya." Tambah Hendra yang berhasil membuat pandangan ketiga hot Papa ini berpindah padanya.


Tanpa menanggapi perkataan keduanya. Andre, Jimmy, dan Leon saling bertatapan mata satu sama lain. Seakan berdiskusi dengan sorot mata mereka masing-masing.


Ketiganya memang sering menitipkan anak-anak mereka jika tidak dengan Nayla, ya pasti pada Amel. Meski mereka sudah memiliki pengasuh, namun tetap saja. Ketika ada mereka dirumah. Anak-anak mereka mulai lengket dan tak mau jauh dari mereka. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk bermesraan dengan istri tercinta mereka masing-masing.


Usai menghabiskan seluruh menu masakan berbau kambing ini. Mereka segera membersihkan dan merapikannya sendiri. Andre segera menampahkan menyemprot pengharum ruangan yang ia sembunyikan di meja kerjanya. Seketika ruangan kerja Andre kini berbau buah lemon yang menyegarkan, hilang sudah wangi masakan berbau kambing diruangnya.


Bayu dan Hendra seperti biasa melakukan tugasnya, keduanya kebagian membuang sisa sampah makanan mereka yang tidak mungkin mereka buang di kawasan perusahaan milik Andre. Usai membuang sampah mereka berdua pun lantas pulang. Untuk melancarkan aksi mereka untuk bobo siang bersama istri, istri mereka.


Di Mansion Jessica dan Andre. Nyonya-Nyonya muda ini tengah berkumpul makan siang bersama, sembari membicarakan masalah yang tengah dihadapi Nayla dan Bayu.


"Kok dia maksa banget sih, jadi gereget gue." Ucap Anna menanggapi cerita Nayla.


"Gue bisa paham sih, kenapa mereka maksa begitu. Tapi caranya aja yang salah. Terlebih mereka udah ditolong selama ini sama Lo, Nay. Jadi hitungannya mereka itu kaya orang gak tahu diri aja. Dikasih hati minta jantung." Jessica pun ikut bersuara.


"Setuju. Gue setuju banget sama kata-kata Lo Jes. Mereka gak tahu diri. Semua fasilitas rumah sakit udah Nayla yang bayar. Kurang apalagi coba. Masih nuntut mau Sultan harus A-Z. Gak tahu aja Sultan tuh foto copiannya Pak Bayu banget." Timpal Amel.


Plak!!


Nayla memukul pundak Amel. hingga tubuhnya terhuyung dari kursi. Amel mendelik kearah Nayla. Namun dibalas Nayla dengan ocehannya.


"Jangan manggil suami gue Pak Bayu, ngapah Mel!" Protes Nayla yang tidak suka jika Amel memanggil suaminya dengan sebutan Pak. "Kesannya gue nikah sama Bapak-bapak. Laki gue tuh gak tua-tua amat Mel, cuma tuwir doang umurnya. Huahaha..."


"Yeahh mulai sableng dia. Tua sama tuwir sama aja, gak ada beda oncom. Hahaha..." sahut Anna yang segera memeriksa kening Nayla.

__ADS_1


"Panas ga Ann?" Tanya Endah dengan wajah seriusnya.


"Panas Ndah." Jawab Anna berbohong dengan wajah pura-pura khawatir.


"Wah pantes," sahut Jessica, Endah dan Amel bersamaan.


"Ah nggak kok, gue sehat-sehat aja gak panas." Sangkal Nayla yang ikut memegangi keningnya.


"Gue hubungin Septian dulu deh," tambah Jessica yang ikut-ikutan khawatir sembari menahan tawanya yang hampir pecah karena melihat tampang Nayla yang terlihat bingung.


"Hah, kenapa Septian sih? Suami gue Bayu bukan Septian. Harusnya Lo hubungin suami gue." Protes Nayla sembari menatap tajam wajah Jessica yang tengah berpura-pura menghubungi Septian.


Melihat wajah kesal Nayla pada Jessica. Amel pun kembali buka suara.


"Dia mau hubungin Septian karena dia mau nyuruh Septian ngeracik obat sableng buat Lo Nay. Hahaha..."


Sontak perkataan Amel ini memancing semua orang tertawa terkecuali Nayla.


"Hah, gak lucu lo semua. Septian tuh ahli meracik racun bukan obat sableng." Omel Nayla yang berdiri kemudian melipat kedua tangan di depan dadanya.


Tak selang berapa lama Bayu yang datang untuk menjemput anak dan istrinya dikediaman Jessica, langsung saja menggendong istrinya untuk pulang. Ketika ia melihat sang istri tengah berdiri membelakangi dirinya.


"Aaaaa...." pekik Nayla yang terkejut tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Bayu.


Pekikan Nayla berhenti ketika melihat sosok suaminya tengah menggendongnya.


"Kok tahu Mami ada di sini, Pih?" Tanya Nayla yang langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Bayu.


"Tentu, dimana pun Mami berada, Papi pasti tahu. Pulang yuk, kita bobo siang bareng-bareng!" Ajak Bayu yang lantas diangguki oleh Nayla.

__ADS_1


"So sweet....!" Ucap temen-temen Nayla yang iri dengan keromantisan Bayu pada Nayla.


__ADS_2