Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Teman Laknat


__ADS_3

Aroma harum nan lezat semerbak tertangkap oleh Indra penciuman Siera. Sontak saja semua membuat perut gadis itu tidak dapat menahan dan menuntut untuk segera diisi.


Siera pun bergegas untuk segera merapihkan penampilannya, lalu keluar dari dalam kamar dan berjalan ke arah sumber aroma lezat itu berasal.


Semakin dirinya berjalan ke arah dapur, maka semakin pekat aroma tersebut dan bahkan kini diiringi suara spatula dan wajan yang saling bersinggungan satu sama lainnya.


Terlihat Nikolai dengan lihainya meramu bahan makanan tanpa kesulitan sama sekali, seakan dirinya sudah terbiasa melakukan hal tersebut.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Siera berusaha untuk membantu Nikolai.


Menyadari kehadiran Siera, pria itu pun tersenyum lalu berkata, "Kau hanya perlu duduk, biar semuanya serahkan saja padaku."


"Tapi, kan!"


"Sssttt ... Tuan putri ku tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini. Jadi lebih baik kamu duduk menunggu dan biarkan aku bekerja sendiri," ucap Nikolai sambil menarik sebuah kursi di depan meja makan.


"Ah ya sudah, terserah kau sajalah. Gini-gini aku juga bisa masak kok, menyesal kau tidak makan masakan buatanku," ucap Siera menggerutu lalu meminum segelas air mineral yang baru saja ia ambil.


Gadis itu pun duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Nikolai, sambil memerhatikan Nikolai yang memasak dengan mengenakan sebuah apron berwarna putih dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku.


Tubuh proporsional, kulit putih bersih, hidung mancung, rahang yang terlihat tegas, rambut pirang, dilengkapi dengan bibir merah dan lensa mata kehijauan, sungguh membuat Siera nyaris terpana akan ketampanan seorang Nikolai. Fisik pria itu seolah perwujudan sempurna atas selera dirinya saat tengah membaca sebuah visual tokoh karakter fiksi yang tengah ia gandrungi.


Mau dicari celah apapun, tampaknya tak ada bagian fisik sekecil apapun yang membuat pria itu tak layak dikatakan sebuah mahakarya sempurna.


Dilihat dari mobil dan penthouse milik pria itu, Siera menduga jika pria itu bukanlah orang sembarangan, ditambah dengan wajah tampan dan kepribadiannya yang menurut Siera terbilang ramah, cukup aneh jika pria itu tidak memiliki kekasih dan tertarik pada gadis biasa sepertinya. Namun Siera tidak mau ambil pusing dan ikut campur akan kehidupan pria itu. Baginya cukup menumpang sementara waktu lalu ia akan segera pergi dari hidup Nikolai meninggalkan ucapan terima kasih.


"Jangan ditatap terus seperti itu, nanti wajahku bisa bolong," ucap Nikolai bergurau. Pria itu berjalan ke arah Siera dengan masakan yang sudah siap disajikan.


Hidangan yang terlihat cantik dengan aroma yang menggugah selera sontak mengalihkan perhatian gadis itu dari Nikolai, hal tersebut kembali membuat pria itu tersenyum kala melihat wajah menggemaskan Siera yang terlihat lebih tertarik pada makanan dibandingkan dirinya.


"Boleh dimakan?" tanya Siera bersemangat bahkan ia sampai tidak mengindahkan perkataan Nikolai yang menggodanya. Fokusnya benar-benar teruji pada hidangan tersebut, seolah dirinya siap untuk menghabiskan semua makanan itu seorang diri.

__ADS_1


"Tentu saja, makanlah yang banyak."


"Dengan senang hati," jawab Siera yang tidak segan langsung mengambil piringnya dan menyendok lauk pauk yang tersedia.


Gadis itu tampak lahap dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya, seakan dirinya tidak tertarik pada apapun kecuali makanan.


"Bagaimana, enak?" tanya Nikolai sambil terus memandangi Siera.


Siera mengangguk lalu berkata seusai ia menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Enak, sering-sering ya."


"Ha-ha-ha oke, apapun untukmu! Hah ... aku benar-benar tidak menyangka jika rumah ini terasa ramai hanya karena bertambah satu orang penghuni saja." Nikolai menghela napasnya sambil menatap langit-langit ruangan yang terang benderang.


Untuk pertama kalinya ia merasa unitnya terlalu luas untuk ditinggali seorang diri, karena biasanya ia tidak terlalu memerhatikan karena terlalu sering bekerja hingga bermalam di kantor.


"Memangnya keluargamu dimana?" tanya Siera.


"Kalau pacar?" tanya Siera kembali.


P


"Di depan mataku."


Jawaban yang terlontar dari bibir Nikolai sontak saja membuat Siera tersedak, segera ia meraih segelas air mineral dan meneguknya hingga tandas.


"Kau ini ya!" omel Siera sambil melotot ke arah Nikolai hingga membuat pria itu tertawa terbahak-bahak. Wajah Nikolai pun bahkan terlihat memerah dengan napas yang tersengal-sengal.


"Ha-ha-ha so-sorry ha-ha-ha."


Dengan raut wajah yang masih ditekuk, Siera memutuskan kembali menyantap hidangan makan malamnya, seakan dirinya tidak rela menyisakan makanan itu walaupun hanya sedikit saja.

__ADS_1


"Oh ya, aku mendapatkan rekaman CCTV di klub itu. Apakah kamu mau lihat?"


"Iya aku mau lihat!" seru Siera antusias.


"Ok, selesaikan dulu makananmu, nanti kau bisa tunggu aku di ruang tv. Aku akan mempersiapkan seluruh buktinya dulu."


***


Seusai makan malam dan beristirahat sejenak, tiba waktunya untuk Siera melihat dengan jelas akan apa yang terjadi di klub malam itu. Apakah spekulasi mereka benar jika Velly tega melakukan ini semua untuk menjebak dirinya.


Terlihat Nikolai sudah menunggu terlebih dahulu dengan laptop yang berada di atas meja. Dengan rasa penasaran yang makin menggebu-gebu gadis itu pun segera bejalan cepat untuk menemui Nikolai.


"Niko, sudah selesai?"


"Oh iya, duduk sini!" seru Niko sambil menepuk sofa yang berada di sebelahnya.


Siera pun menuruti perkataan pria itu, dengan pandangannya yang menatap fokus pada layar laptop. Terlihat beberapa gerak gerik mencurigakan dari Velly dan pria-pria yang ditemuinya malam itu, hingga akhirnya terkuak sudah apa yang terjadi kala kesadaran Siera mulai menghilang.


"Velly!" seru Siera yang tidak menyangka jika temannya yang sudah ia percaya, dengan tega ingin mencelakai dirinya. Entah dosa apa yang sudah ia perbuat dengan Velly, Siera sungguh tidak mengerti karena ia selalu memperlakukan Velly dengan baik.


"Wanita ini teman kamu, kan?"


"Ya, dia teman kantorku. Tadi siang aku juga dari tempat kost dia. Aku berharap ia bisa membantuku tapi entah kenapa sifatnya tiba-tiba berubah," ungkap Siera yang masih tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui.


"Lantas, kamu mau bagaimana? Saranku kita lanjut jalur hukum saja, karena bagaimanapun tindakannya sudah masuk ke ranah kriminal. Beruntung aku melihatmu, bagaimana jika tidak? Entah apa yang sudah terjadi pada kamu." ujar Nikolai memberi saran.


Siera termenung sejenak seakan tengah berpikir akan tindakan yang harus ia lakukan. Pikiran dan hatinya saling berseteru. Disatu sisi ia setuju dengan saran Nikolai, tetapi disisi lain ia merasa tidak sampai hati untuk menjebloskan Velly ke dalam jeruji besi, karena bagaimanapun saat dulu ia sedang dilanda masalah hanya Velly yang siap mendengarkan keluh kesahnya.


"Besok aku akan bertemu Velly, aku ingin menanyakan semuanya dulu," ucap Siera yang membuat Nikolai menghela napas akan sifat lembut gadis itu.


Pria itupun menepuk-nepuk lembut pucuk kepala Siera dan berkata, "Sekarang kamu jangan takut jika merasa sendiri, karena sekarang ada aku yang akan selalu di sisi kamu. Aku berjanji akan hal itu!"

__ADS_1


__ADS_2