
Suster Marni segera menyiapkan bakso yang di beli oleh Bayu sebelum mereka menuju rumah sakit tadi. Setelah bakso untuk mereka berlima siap. Bayu yang di bantu Sultan membangun Nayla yang masih tertidur.
"Mami, bangun Mih... ayo kita makan baksonya!" Sultan berusaha membangunkan Nayla dengan berbisik di telinga Nayla kemudian mendaratkan ciuman di pipi putih mulus Nayla.
"Mmm...Sultan sayangnya Mami, sudah datang ya," ucap Nayla dengan mata yang masih mengejab-ngerjab karna ia masih merasa belum puas dalam tidurnya.
"Iya sudah datang, sudah di botakin juga kaya Mami sama Papi hehehe..." sahut Sultan dengan tawanya dan tatapan matanya mengarah pada Bayu yang duduk manis di kursi yang ada di dekat ranjang Nayla.
"Bangun sayang, aku sudah bawa pesanan kamu tanpa ada yang kurang sedikit pun, anak kita dan dua porsi bakso untuk mu," tambah Bayu yang memegangi tangan istrinya, tak lupa ia daratkan kecupan hangat di punggung tangan istrinya.
Nayla pun mulai bangun dan memandangi penampilan dua jagoannya, Bayu dan Sultan. Senyum penuh arti pun terbit di wajah Nayla.
"Senyumlah yang puas istriku, aku tahu kamu pasti sedang menahan tawamu itu kan?" Batin Bayu yang sedang memandangi wajah istrinya.
"Sultan sayang anak Mami, gimana rasanya botak kaya gitu hum?" Tanya Nayla yang tak bisa melepaskan senyumnya.
"Dingin Mih, semeriwing kata Papi tadi," jawab Sultan dengan gaya menggigilnya.
"Iya kah? Tapi senang gak?" Tanya Nayla lagi.
"Senang dong Mih, Sultan jadi merasakan apa yang Mami rasakan sekarang," jawab Sultan yang kembali memeluk tubuh Nayla.
"Ah...dewasanya putraku, padahal usia mu masih kecil Nak, tapi pemikiran mu harus Papi acungkan jempol," batin Bayu yang bangga pada sikap putranya.
"Udah yuk pelukkannya, kita makan dulu, nanti baksonya keburu dingin," Bayu mengurai pelukan Sultan pada Nayla. Ia menggendong putranya dan mendudukkannya di kursi meja makan yang ada di ruang tunggu, dimana Suster Marni dan Pak Jono berada. Setelah mendudukkan Sultan disana, Bayu kembali ke kamar. Ia membantu sang istri untuk menyusul keberadaan putranya. Ya mereka akan makan bakso bersama di sana.
Bayu membantu dan menuntun Nayla dengan mendorong tiang infus Nayla menuju meja makan. Meja makan yang berada di ruang rawat Nayla cukup besar. Dari meja makan yang diletakan di dekat jendela. Mereka bisa menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi di pusat kota. Saat ini Nayla duduk diantara putra sambungnya dan suaminya. Ia memandangi betapa lahapnya Sultan menghabiskan satu mangkuk bakso.
"Enak sayang, tadi udah berdoa dulu belum hum? Kalau belum ayo berdoa dulu sama Mami," tanya Nayla yang memandangi Sultan.
"Sudah Mih," jawab Sultan sembari tersenyum menatap Nayla.
__ADS_1
Nayla membalas senyum Sultan dengan senyum yang tak kalah manisnya, setelah melihat putranya kembali memakan bakso miliknya. Nayla kemudian berdoa dan mulai menyantap bakso miliknya sendiri.
Diam-diam Suster Marni berhasil mengabadikan moment keluarga kecil itu sedang memakan bakso dengan penampilan baru mereka. Botak berjamaah. Ia segera mengirim foto tersebut ke Nyonya besarnya, siapa lagi jika bukan Nyonya Ratna.
Di kediaman orang tua Bayu, Ratna yang sedang menggunakan masker wajah, menerima pesan dari Suster Marni. Semula dirinya sedang asyik membaca portal gosip artis ter-up to date hari ini, karena ia melihat ada notifikasi pesan dari Suster Marni yang selalu ia anggap lebih penting dari gosip-gosip itu, akhirnya membuatnya menutup jendela beranda gosip itu dan membuka notifikasi pesan dari Suster yang dianggap sebagai Karlota itu oleh Nayla.
Ratna yang membuka pesan dari Suster Marni tak bisa menahan tawanya. Ia tak perduli dengan masker yang ada di wajahnya retak-retak karena ia tertawa terlalu berlebihan. Ia puas menertawakan layar ponsel yang menampilkan Anak, cucu dan menantunya dalam keadaan botak sedang menikmati bakso bersama-sama.
"Hahaha ada tiga tuyul makan bakso bersama-sama...hahaha... Bayu hahaha... kamu botak nak, ancaman apa yang diberikan istrimu itu pada mu. Hahaha... tidak pernah ada sejarahnya anak mami yang terlihat cool dan keren dibotakin seperti itu, Nak. Kamu benar-benar bucin dengan istrimu putra ku," ucap Ratna disela tawanya.
Tawa Ratna yang begitu kencang suaranya, membuat seisi rumahnya terheran-heran. Para pembantu memandangi lantai dua dari bawah anak tangga. Mereka penasaran dengan pemyebab yang membuat Nyonya besar mereka tertawa terbahak-bahak seperti itu tanpa menjaga imagenya sebagai Nyonya besar yang terkenal elegan dan intelektual.
"Nyonya kenapa? Apa beliau mulai tidak waras Wat?" Tanya Ijah pada teman satu profesinya sebagai asisten rumah tangga di rumah itu.
"Gak tau Jah, tadi baik-baik aja kok, malah lagi maskeran," jawab Wati yang juga merasa heran dengan apa yang terjadi pada Nyonya besarnya.
Mereka yang sedang asyik mengobrol di bawah anak tangga terakhir di kejutkan dengan kedatangan Tuan Brata.
"Itu Tu-tuan kami sedang dengar Nyonya___. Tuh kan Tuan dengarkan," jawab Wati yang tak lama suara tawa Ratna kembali menggelegar, membuat Tuan Brata yang baru datang segera berlari menghampiri kamarnya.
Tuan Brata khawatir istrinya mengalami depresi karena mengetahui saham perusahaannya sempat jatuh hari ini. Bayu yang sudah sampai di lantai dua dan berada di depan pintu kamarnya, segera membuka pintu kamarnya dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Mommy. Mommy kenapa? Mommy yang sabar ya, Daddy harap Mommy gak stress. Semua akan baik-baik saja." Ucap Brata yang memeluk istrinya dengan erat. Seolah ingin menenangkan kefrustrasian yang di alami istrinya.
"Ihh... Daddy apa-apa sih, siapa yang stress? Emangnya ada apa, Sampai-sampai Daddy bicara seperti itu sama Mommy? Daddy nikah lagi ya, di belakang Mommy?" Tanya Ratna yang malah menuduh suaminya menikah lagi.
"Ya, gak lah Mom, buat apa Daddy nilah lagi, kalau sudah ada Mommy yang cantik ini." Sanggah Tuan Brata yang tak mau dituduh istrinya mendua.
"Halah bisa-bisanya muji di depan Mommy, tapi diluaran sana Daddy puji-puji gadis muda yang lebih dari segalanya. Iya kan?" Tuduh Ratna lagi yang membuat Tuan Brata menyadarkan tubuhnya ke sandaran ranjangnya. Ia terlihat lemas dan lesu. Baru pulang kerja dan baru saja menghadapi masalah besar di perusahaan miliknya, harus menghadapi istri yang terus menuduhnya.
"Daddy ngapain lemes kaya gitu? Gitu tuh kalau suami udah ketahuan belangnya. Pura-pura dia yang tersakiti biar istrinya iba dan memaafkan dia, terus dia makin jadi diluaran sana." Tanya Ratna masih dengan tuduhannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan. MOMMY! Daddy baru keluar rumah sehari tanpa Mommy, Daddy udah di tuduh macam-macam. Seharusnya Mommy tuh ikut Daddy ke perusahaan tadi. Mommy gak tahukan perusahaan kita hampir dibuat bangkrut hari ini oleh seseorang? Daddy tuh ke perusahaan diminta putra kita untuk membantu menangani masalah ini di kantor. Sedang dia mencari bantuan dari luar." Jawab Tuan Brata dengan suara yang sedikit meninggi.
Ia sedikit kesal dengan sikap sang istri yang begitu posesif padanya padahal usianya sudah tak lagi muda. Pesona Tuan Brata pun sudah luntur dan berkurang. Jika pun ada wanita yang mau dengannya, dapat dipastikan wanita itu hanya menginginkan uangnya bukan dirinya.
"Bener begitu?" Tanya Ratna sekali lagi.
"Benarlah Mom, buat apa bohong," jawab Tuan Brata yang membuang pandangannya karena kesal.
"Daddy mau tahu gak kenapa Mommy tadi ketawa sekencang itu hum?" Tanya Ratna dengan memainkan alisnya.
Tuan Brata yang terlihat kesal terlihat tak tertarik lagi dengan penyebab istrinya bisa tertawa sekencang itu.
"Gak tertarik. Daddy mau bersih-bersih dan langsung tidur. Cape banget pisik dan sikis Daddy hari ini." Jawab Tuan Brata yang malah bangkit dari posisinya.
Namun belum sempat ia berdiri tegak, Ratna menarik pergelangan tangannya hingga ia jatuh kembali di atas ranjang.
"Sini dulu, liat ponsel Mommy, kalau Daddy gak lihat, Daddy pasti menyesal." Ucap Ratna saat ia menarik lengan Tuan Brata.
"Liat apa sih Mih?" Tanya Tuan Brata.
Ratna segera menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto anak, cucu dan menantunya.
"1....2...3 dan..." Ratna menghitung di dalam hatinya, detik-detik tawa suaminya itu akan pecah.
Ratna kecewa karena Tuan Brata terlihat biasa saja melihat foto itu, ia malah kembali beranjak dari posisi duduknya dan meninggalkan Ratna yang tertegun karena Tuan Brata sama sekali tak ada respon setelah melihat foto anak, cucu dan menantu mereka. Ia malah berjalan sembari melepaskan dasi dan kemeja bajunya, memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.
"Ihh,,, dasar manusia kutub, lihat foto keluarga kecil putranya seperti ini saja untuk tertawa pun sulit, apa baginya foto ini biasa saja di mata dia hah?" Batin Ratna yang merutuki suaminya.
Mata Ratna terus saja mengikuti kemana suaminya berjalan. Saat suaminya sudah masuk kamar mandi. Ratna yang merasa suaminya tidak asyik, di buat terkejut karena tiba-tiba saja tawa suaminya itu pecah di dalam kamar mandi.
"Huahahaha.... buahahahahha.... kamu menolak perjodohan tapi kamu yang bucin Bayu huahahaha... apa yang menantuku berikan hingga membuat singa seperti mu, menunduk patuh? Hahaha... mantu ku memang benar-benar pintar menaklukkan putra ku hahaha..." ucap Tuan Brata di sela tawanya yang di dengar oleh istrinya yang kembali ikut tertawa.
__ADS_1