Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 200


__ADS_3

Tak lama berselang dari Andre yang berangkat bekerja. Anna pun ikut-ikutan pergi meninggalkan Jessica di ruang makan seorang diri. Sebelum meninggalkan Jessica, Anna sempat menghampiri Jessica hanya untuk menitipkan kedua anaknya.


"Jass aku titip anak-anakku, aku ada janji dengan Endah." Ucap Anna yang hanya diangguki oleh Jessica.


Jessica sudah tahu pasti gaya keduanya yang pasti akan main hakim sendiri. Jika Anna menitipkan kedua anaknya dengan Jessica, berbeda dengan Endah yang menitipkan kedua anaknya dengan Nayla dan juga Anna.


"Titip anak gue dan calon mantu lo ya! Gue ada misi penting sama Anna. Sekarang gue gak bisa cerita, nanti pas balik gue akan cerita saa kalian berdua. Lo berdua jangan ke Mansion Jessica. Di Mansion dia lagi dijaga ketat sama para bodyguard."


"Hah, ada apa sih? Jadi kepo deh gue?" Tanya Amel yang begitu bersemangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Berbeda dengan Nayla yang sudah mendengar curhatan Jessica dan juga Anna semalam. Ia lebih memilih diam pura-pura tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kalaupun ia akan bercerita pada Amel, ia akan menunggu Endah pergi terlebih dahulu.


"Udah anti aja ceritanya, gue pergi dulu ya. Makasih ya jeng, sudah mau jagain bocil gue." Ucap Endah sebelum pergi meninggalkan mereka.


Nayla hanya manggut-manggut menanggapi ucapan Endah sedari tadi. Usai Endah pergi, Amel yang merasa sikap Nayla tak seperti biasanya pada calon besannya itu pun bertanya. Ada apa gerangan yang membuat adik iparnya bersikap seperti itu pada Endah.


"Anna punya masalah rumah tangga sama Bang Leon. Tapi Anna gak dewasa. Dia libatkan Kak Andre dalam masalah intern keluarganya sendiri." Nayla coba menjelaskan pada Amel.


"Apa masalah Intern-nya kalau gue boleh tau?" Tanya Amel mengulik lebih dalam.


"Cinta pertama Bang Leon di masa SMA datang lagi, dan beberapa waktu lalu Bang Leon sempat berubah dingin dan sering menyendiri. Anna rasa itu karena kehadiran wanita dari masa lalu Bang Leon." Jawab Nayla.


Amel langsung memegangi dadanya, ia seakan bisa merasakan apa yang kini Anna rasakan.


"Menurut gue, apa yang dilakukan Anna wajar. Dia butuh sandaran untuk permasalahan yang dia hadapi. Gak semua orang sama seperti kita Nay. Bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia terbiasa bergantung pada Kak Andre. Seperti gue yang dulu selalu bergantung pada Bang Neil, dan elu yang kadang juga suka bergantung sama suami gue. Jadi jangan suka menyimpulkan seseorang tidak dewasa dalam menghadapi masalah yang sedang dia hadapi. Karena kalau sampai dia dengar, itu hanya akan menambah luka dihatinya." Ucap Amel yang berusaha menasehati Nayla, sahabat yang kini menjadi adik iparnya.


"Gue gak mikir sampai sana, Mel." Ucap Nayla yang sedikit menarik senyum dibibirnya.


"Ya, itulah gunanya teman bicara, Nay." Balas Amel sembari menimang-nimang putri Endah yang mulai rewel.


Sementara itu, di apartemen Louis Zahra yang baru saja membasuh air matanya karena perlakuan kasar Andi. Kini menaiki sebuah lift bersama suami dinginnya. Suami yang tak sudi untuk menyentuhnya dan bahkan semua barang-barang pribadinya pun tak sudi di sentuh oleh Zahra. Istri sah yang kemarin baru saja ia nikahi.


Seharusnya sebagai sepasang suami istri yang baru saja menikah, mereka pastinya sedang bermadu kasih, bukan seperti saat ini. Memilih bekerja tanpa mengambil cuti dari perusahaan masing-masing.

__ADS_1


Saat mereka berada di lobby, sebuah mobil sedan cukup mewah terparkir di pintu lobby apartemen. Zahra mengetahui jika itu adalah mobil milik Andi, suaminya. Zahra memelankan langkah kakinya, membiarkan Andi berjalan lebih dahulu dari dirinya.


Benar saja dugaan Zahra, Andi tak berniat mengajaknya untuk ikut bersamanya. Dengan tersenyum kecut, Zahra melihat mobil Andi yang menjauh dari pandangan matanya.


Saat ia ingin kembali melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja, seorang pria berbaju hitam menghampirinya dan mengatakan bahwa seseorang ingin bertemu dengannya. Percaya atau tidak, ternyata orang yang ingin menemuinya adalah istri dari mantan kekasihnya dan adik dari mantan kekasihnya sendiri.


Rupanya Endah dan Anna pergi menitipkan anak-anak mereka hanya untuk menemui Zahra.


Dan di sinilah Zahra sekarang, di salah satu unit apartemen mewah, milik keluarga Kusuma.


"Nyonya, Nona Zahra sudah datang," ucap pria berbaju hitam itu kepada Anna dan juga Endah.


Kedua wanita super kaya ini menoleh ke arah sumber suara, di mana seorang bodyguard sudah berdiri bersama dengan Zahra di sampingnya.


Zarra tersenyum manis melihat kehadiran Anna di sana. Meskipun mereka tidak saling mengenal, namun Zahra tahu jika Anna adalah istri dari mantan kekasihnya.


"Duduklah Nona Zahra!" Perintah Endah dengan mata yang terus menelusuri diri Zahra.


"Rupanya kau sudah menikah, pria semalam itu adalah suamimu bukan?" Tanya Anna pada Zahra.


"Iya, dia suami ku. Kita belum berkenalan, kau istri Leon bukan? Namaku Zahra, teman SMA Leon." Cara menjulurkan tangan kanannya, mengajak Anna untuk berjabat tangan.


Anna yang memang pada dasarnya bukanlah orang yang sombong pun menerima ajakan Zahra untuk berjabat tangan.


"Kau bukan sekedar teman SMA bagi Leon. Kau mantan kekasihnya bukan?" Ucap Anna saat berjabat tangan dengan Zahra.


"Hanya sekedar mantan tak lebih dari itu, tak ada yang special dari hubungan kami. Gaya pacaran kami hanya untuk belajar bersama tidak lebih dari itu." Terang Zahra yang mengetahui jika istri mantan kekasihnya ini, ingin mengetahui hubungan mereka sedalam apa dahulunya.


"Apa kau masih mencintai suamiku?" Tanya Anna langsung pada keintinya.


"Aku masih mencintai suamimu, itulah jawaban jujur dari hatiku. Tapi aku tak ingin memilikinya. Karena dia sudah bahagia bersamamu. Kau tak perlu takut, aku tak akan merebutnya darimu. Jika saja aku berniat untuk merebutnya, mungkin sejak awal aku sudah melakukannya, saat dia belum menikahimu. Karena saat itu kesempatan besar bagiku untuk merebutnya darimu. Seperti yang kau tahu aku satu kantor dengannya. Aku bekerja dengannya."


Anna tersenyum miring mendengar penjelasan yang sangat jujur dari Zahra.

__ADS_1


"Aku tahu perusahaan orang tuamu bangkrut bukan, dan kalian terlilit hutang. Hingga orang tuamu menjualmu demi uang kepada keluarga suamimu. Aku pun tahu suamimu tak menginginkan dirimu bukan?" Ucap Anna yang mengetahui tentang kehidupan Zahra dari anak buah yang diminta oleh Jimmy untuk mencari informasi mengenai Zahra.


"Iya Kau benar. Sangat mudah orang-orang seperti kalian mendapatkan informasi tentang diriku. Aku ini wanita yang sudah tidak ada harganya lagi di mata semua orang. Aku tanpa sengaja menyakiti sahabatku. Aku menikah dengan pria yang sangat dicintai oleh sahabatku. Aku melukainya, ingin aku lari dari kenyataan ini. Tapi aku tak punya daya dan upaya untuk itu." Jawab Zahra dengan linangan air mata.


Anna dan Endah, yang awalnya ingin memberi pelajaran pada Zahra. Setelah mengetahui informasi dari anak buah Jimmy. Mereka pun mengurungkannya. Keduanya malah mengasihani jalan hidup Zahra yang tak mudah untuk dilalui. Keduanya malah berniat akan memberi bantuan pada Zahra untuk terlepas dari penderitaan yang ia derita selama ini, terutama terlepas dari pernikahan paksa dengan pria kasar seperti Andi.


"Jika kau punya uang banyak apa yang akan kau lakukan Zahra?" Tanya Endah yang kali ini buka suara.


"Jika aku punya uang banyak tentunya aku akan menebus diriku, mengembalikan uang tante Sonya, yang kini menjadi ibu mertuaku. Aku akan minta cerai dengan suami yang tak menganggapku sebagai seorang istri. Aku juga akan memberikan modal usaha untuk kedua orang tuaku, setelah itu aku akan pergi hidup menepi di suatu tempat untuk memulai hidupku yang baru." Jawab Zahra sembari tersenyum getir.


Ia seperti membicarakan angan-angan yang tak mungkin ia lakukan, Karena untuk mengembalikan pinjaman uang di perusahaan saja, ia tidak memiliki kemampuan.


"Aku akan mengabulkan apa yang kau katakan tadi. Mulailah hidupmu yang baru dengan seseorang yang akan aku perintahkan untuk menemanimu di tempat yang baru." Ucap Endah yang membuat Zahra terperangah tak percaya.


"Hutang ku dan keluarga ku sangat banyak, aku tak ingin berhutang pada kalian. Biarkanlah hutang-hutang ini aku bayar dengan penderitaanku sekarang."tolak Zahra yang tak ingin merepotkan keduanya.


"Kau belum mengenalku Zahra, aku adalah adik Leon, adik kandung Leon yang tak pernah kau kenal. Mungkin dahulu Kau hanya tahu jika adik Leon adalah Cynthia dan juga Jessica. Cynthia bukanlah adik kandung Leon yang sebenarnya. Aku pernah hidup dalam kesulitan dan menderita seperti dirimu, saat aku hidup seorang diri karena keegoisan seseorang yang telah sengaja menukar diriku. Dan sekarang aku berniat untuk membantu dirimu. Uang tak akan jadi masalah bagiku. Asal kau mengikuti semua perintahku dan jangan coba-coba menghianati diriku. Anna adalah sahabatku, begitu pula dengan Jessica. Kami bertiga bersahabat. Aku tak akan segan-segan untuk menghabisimu jika kau berani mengusik rumah tangga kakakku bersama sahabatku." Ucap Endah sembari mengeluarkan pistol dari belakang pinggangnya.


Endah berusaha menggertak Zahra, agar menuruti apa yang Endah inginkan dari dirinya.


"Kau sedang mendengar ku?" Tanya Zahra yang kini berusaha menyembunyikan rasa takutnya pada Endah, yang memang terlihat begitu sangar tidak seperti Anna.


"Aku tidak menggertak mu, hanya mengingatkan dirimu aku bisa baik dan juga bisa kejam." Jawab Endah dengan santainya.


"Jika kau bisa membebaskanku hidup dari penderitaan ini, aku akan ikuti semua maumu." Jawab Zahra yang sudah muak dengan penderitaannya selama ini.


"Bagus kudengar kau pandai menggambar, kau bisa mengembangkan keahlianmu setelah pergi jauh dari kota ini bersama dengan orang kepercayaanku. Sekarang yang pertama kau harus lakukan adalah, datanglah seperti biasanya ke perusahaan kakekku. Bekerjalah selama satu minggu kedepan di sana, setelah itu buatlah surat pengunduran diri. Aku akan membantumu mengurus pembatalan pernikahan mu dengan suami mu itu. Dan aku rasa hari ini kau akan bertemu dengan adik iparku dan juga suamiku. Kau hanya perlu mengiyakan semua kata-kata mereka. Turuti saja semua perkataan mereka berdua. Jika mereka meminta dirimu untuk berhenti bekerja. kau harus menjawab di depan kakakku kalau kau memang ingin mengundurkan diri dalam waktu dekat,karena diri mu ingin fokus pada rumah tanggamu. Jangan sampai suamimu tahu kalau kau sudah berhenti bekerja di perusahaan kakekku. Ini nomor teleponku berkabarlah jika ada sesuatu yang terjadi pada dirimu." Ucap Endah panjang lebar sembari mengeluarkan kartu namanya dan meletakkannya di atas meja.


Zahra segera mengambilnya, dan memasukkan nomor telepon Endah ke dalam ponselnya. Kemudian Ia kembalikan kartu nama itu di atas meja kembali.


"Pergilah ke kantor kakekku dengan supir yang sudah menunggumu di lobby apartemen sekarang. Mulai hari ini kau akan diantar jemput dengan supir itu. Kau bisa katakan pada suamimu jika kau mendapatkan fasilitas mobil kantor dari perusahaan, itupun jika dia menanyakannya." Ucap Endah lagi memberikan perintah pada Zahra.


Zahra pun segera beranjak dari posisi duduknya, ia undur diri dari hadapan keduanya, tak lupa Ia pun mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati keduanya pada dirinya. Ia tak menyangka sama sekali jika yang menjadi dewi penolong hidupnya adalah istri dan adik dari mantan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2