
Pukulan demi pukulan di dapati Bayu, hingga wajahnya dipenuhi luka lebam. Aksi Hendra berhenti ketika Gunawan telah selesai meratapi keadaan putrinya.
"Hendra cukup! Hentikan!" Pekik Gunawan yang tak diindahkan oleh putranya.
"Kamu mau pukul dia sampai kapan Hendra? Apa sampai dia mati dan kamu mendekam di penjara? Ingat dia itu suami adikmu dan istrimu sedang hamil! Kamu mau adikmu jadi janda dan istrimu melahirkan tanpa diri mu disisinya?" Pekik Gunawan yang kali ini langsung menghentikan aksinya.
Hendra melepaskan Bayu dan mendorong tubuh Bayu hingga kembali jatuh ke lantai. Nafas Hendra terlihat tak beraturan, tangan kanannya masih mengepal dan memerah. Bercak darah Bayu pun terlihat menempel pada buku-buku jemarinya.
Silvi yang ingin menghampiri suaminya, langkahnya tercekal oleh sang ibu mertua. Riska melarang menantunya untuk mendekati sang putra.
"Jangan di samperin! Biarkan dia membersihkan dirinya dulu," ucap Riska pada menantunya.
"Ya Bunda," jawab Silvi patuh.
"Hendra, Bayu, sana bersihkan diri kalian! Kembalilah kesini jika kalian sudah merapikan penampilan kalian yang berantakan seperti ini!" Pekik Riska yang mengusir keduanya.
Keduanya tak juga mengindahkan perintah Riska, mereka tetap pada posisi mereka berdua. Keduanya merasa enggan meninggalkan ruang rawat Nayla. Bayu masih duduk di lantai, dan Hendra berdiri tak jauh dari posisi Bayu.
"Kalian mau dilihat Nayla dalam kondisi seperti itu hum?" tanya Riska pada keduanya dengan nada meninggi.
Belum sempat keduanya menjawab pertanyaan Riska. Suara amarah Riska yang cukup keras, akhirnya menyadarkan Nayla dalam tidurnya.
"Bunda berisik banget, ganggu Nayla tidur aja ya Allah," ucap Nayla dengan mata yang masih terpejam dengan suara yang pelan dan sedikit bergetar.
"Nayla kamu sudah sadar?" Tanya Gunawan yang tersenyum melihat putrinya sudah siuman.
"Belom Yah, belum sadar masih dalam mode males bangun. Kalian ngapain sih berisik banget di kamar Nayla? Ganggu aja Nayla lagi tidur juga." Jawab Nayla masih dengan suara yang lemahnya. Sepertinya Nayla belum sdar akan keberadannya di rumah sakit. Ia masih mengira dirinya tengah tertidur di kamar pribadinya.
Mendengar suara istrinya, Bayu segera beranjak dari posisinya. Ia segera menyusul Hendra yang sudah lebih dahulu menghampiri ranjang Nayla.
__ADS_1
"Mana yang sakit De?" Tanya Hendra yang begitu khawatir pada Nayla.
"Sakit?? Nayla baik-baik aja kok Mas," jawab Nayla masih dengan suara lemahnya. Nayla sepertinya masih dalam pengaruh anastesi, ia belum merasakan sakit pasca operasi di kepalanya.
"Serius gak sakit?"
"Ya serius Mas, Nayla gak ngerasain sakit apa-apa."
"Memang hebat tubuh kamu itu ya De, kamu habis operasi besar di kepala kamu loh,"
"Kepala?" Nayla seketika meraba kepalanya yang penuh dengan lilitan perban dengan kedua tangannya.
"Hah, rambut gue? Rambut gue kemana ini?" Ekspresi wajah Nayla berubah yang tadinya biasa saja, tiba-tiba terlihat begitu terkejut.
"Ayah, Bunda dimana rambut Nayla?" Tanya Nayla pada kedua orang tuanya yang ia tatap dengan wajah sedihnya.
Nayla menangis histeris sejadi-jadinya, bagaimanapun Nayla sangat mencintai rambut panjangnya yang selalu ia rawat dengan baik. Rambut kebanggannya kini sudah tidak ada lagi.
"Sudah cep jangan nangis! Nanti rambut kamu akan tumbuh lagi kok. Mas janji akan kasih uang yang banyak untuk perawatan rambut kamu nanti, kalau perlu nanti Mas siapin hair stylist khusus untuk kamu," ucap Hendra yang berusaha menenangkan adiknya, dengan memeluk tubuh Nayla yang terbaring sambil meronta-ronta ingin dilepaskan dari pelukannya.
"Mas Hendra jangan peluk-peluk, Mas Hendra bau bandot," ucap Nayla yang merasa tak nyaman dengan tubuh berkeringat Hendra yang habis memukuli suaminya.
Hendra melepaskan tubuh Nayla, ia memandang kesal adiknya yang menghina aroma tubuhnya dengan sebutan bandot. Padahal ia selalu menggunakan parfum bermerk terkenal kelas dunia. Memang Nayla saja yang tak suka di peluk siapapun dengan kondisi berkeringat, hanya satu orang yang ia suka saat memeluknya dalam kondisi tubuh berpeluh keringat, siapa lagi orang itu jika bukan Bayu, suaminya yang selalu memeluk dirinya dalam peluh keringat setelah selesai memompa tubuhnya dalam kungkuannya di ranjang panas mereka.
'Untung kamu lagi sakit De, coba kalau gak, mulut kamu tuh selalu minta di cabein,' batin Hendra yang kesal dengan Nayla.
"Tuhkan Bunda bilang apa Hendra, cepat sana bersihkan dirimu! Ingat adikmu itu sedang sakit, jangan ladeni ucapannya!"
"Hemmm," jawab Hendra singkat, ia menatap kesal kearah Bayu yang sedikit mengambil jarak dari ranjang tidur adiknya.
__ADS_1
Ya. Bayu memang sengaja mengambil jarak dari ranjang Nayla, ia sejak tadi hanya memperhatikan Nayla dan keluarganya dari sana.
"Silvi, ayo kita pulang! Suami mu ini harus ke kantor cari uang buat adik demit yang kehilangan rambutnya," ajak Hendra yang memancing Nayla untuk mengumpatinya.
"Mas Hendra, kakak Dajal kalau gak ikhlas gak usah sok baik dan repot-repot cari uang buat gue, gue masih ada Ayam. Eh salah Ayah yang kasih gue duit," pekik Nayla yang membuat kepalanya cenat-cenut kesakitan.
"Haduh Ayah kepala Nayla kok sakit jadinya, ini karena Mas Hendra nih, Ayah sakit banget yah, tolongin Yah, semuanya berputar seperti komedi putar Yah," rintih Nayla yang memegangi kepalanya yang mulai sakit. Sepertinya pengaruh obat anestesi mulai menghilang dari tubuhnya.
Melihat Nayla kesakitan, semua orang panik tidak dengan Hendra dan Silvi yang sudah pergi meninggalkan ruang rawat Nayla sebelum Nayla merasakan sakit di kepalanya tadi.
"Bayu jangan diam saja, segera panggil Dokter!" Perintah Gunawan pada menantunya itu.
Bayu dengan keadaan berantakan segera lari keluar mencari seorang dokter untuk memeriksa kondisi Nayla. Tak butuh waktu lama Bayu mendapati seorang Dokter jaga yang segera datang menghampiri ruang rawat Nayla.
Dokter itu segera memeriksa Nayla yang terus merintih ke sakitan. Hati Bayu merasa tersayat-sayat saat melihat istrinya merasa kesakitan yang luar biasa seperti itu dalam pelukan ibu mertuanya.
Dokter yang menangani Nayla pun segera menyuntikan obat pereda nyeri yang membuat Nayla kembali tertidur dengan cepatnya.
"Terima kasih atas bantuannya Dok," ucap Bayu saat Dokter itu ingin meninggalkan ruangan Nayla.
Dokter Susi yang membantu menangani Nayla menghentikan langkah kakinya dan menatap sejenak wajah Bayu yang penuh luka.
"Sepertinya luka Anda harus segera di obati, Tuan. Jika Anda tidak keberatan saya bisa mengobati luka-luka Anda," ucap Dokter Susi yang menawarkan dirinya membantu memgobati luka di wajah Bayu.
"Terima kasih atas tawarannya Dokter, biar nanti saya obati sendiri saja. Saya takut istri saya mencari keberadaan saya, jika saya pergi jauh-jauh dari dirinya," tolak Bayu yang seakan memberitahukan Dokter itu tentang statusnya dengan pasien yang baru saja ia tolong.
"Oh, baiklah kalau begitu, saya permisi Tuan," pamit Dokter Susi yang terlihat kecewa.
Ya, dia kecewa. Sebenarnya Dokter Susi terpana dengan ketampanan wajah Bayu, meski wajahnya di tutupi dengan luka-luka hasil maha karya kakak iparnya itu.
__ADS_1