
Dua tahun yang lalu.
Seorang wanita berjalan menyusuri rintik hujan menuju sebuah gedung perusahaan yang berada di Selatan kota Jakarta. Wanita itu tampak menundukkan kepalanya, lalu masuk ke tempat dimana ia sudah berkerja lebih dari satu tahun lamanya.
"Loh, Mbak Vel! Ada apa balik ke ke kantor lagi malam-malam begini? Bukannya tadi pulang duluan karena sakit?" tanya seorang pria paruh baya yang merupakan petugas keamanan yang tengah berjaga.
Wanita itu hanya tersenyum tipis lalu berkata, "Ada barang saya yang ketinggalan, jadi mau gak mau saya harus balik lagi, Pak."
"Walah, kenapa gak telepon minta tolong temen aja. Ya sudah silahkan, hati-hati ya, Mbak!"
"Ya, terima kasih, Pak," jawabnya dengan wajah yang jelas terlihat penuh akan beban pikiran.
Langkah kakinya menyusuri sebuah lorong menuju salah satu ruangan para eksekutif. Hingga ia berdiri tepat di sebuah ruangan yang masih dalam kondisi lampu menyala, menandakan jika sang empunya masih berada di sana.
'Bagaimana, enak gak sayang? Aku buatin khusus untuk kamu, karena aku tahu kalau kamu udah lembur pasti lupa segalanya, termasuk makan!'
Suara seorang wanita terdengar di dalam ruangan tersebut, disusul suara canda tawa yang terdengar hangat. Velly tampak gemetar sambil meremas kemeja yang dikenakannya dengan erat.
Hampir setengah jam gadis itu tetap diam mematung, seakan tengah mengumpulkan keberaniannya. Hingga akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan memperlihatkan Ricky bersama dengan Tasya, wanita yang sudah enam bulan menjadi kekasihnya.
"Loh, Mbak Velly belum pulang?" tanya Tasya terkejut karena Velly yang tiba-tiba berada di balik pintu.
Velly menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Iya, Bu Tasya. Saya ada laporan yang harus diberikan kepada Pak Ricky secara langsung."
"Ya ampun, Sayang! Kamu gimana sih, masa sekretaris kamu dikerjain begitu sampai pucat loh! Ya sudah, kamu gak usah antar aku, kasihan Velly. Lebih baik kamu urus laporannya agar dia cepat pulang dan istirahat," ucap Tasya dengan senyumannya yang ramah.
"Mbak Velly, saya duluan ya!" sambung Tasya seraya melambaikan tangannya.
Selepas kepergian Tasya, Velly masih saja berdiri mematung walaupun tatapan tajam Ricky terus-menerus menusuk dirinya. Pikiran gadis itu benar-benar kacau, rasa takut, gelisah, bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
"Masuk! Cepat katakan ada perlu apa? Kamu, kan bisa hubungi saya, biar saya yang datang ke tempat kamu!" seru Ricky dengan suara setengah berbisik.
Velly hanya duduk di sebuah sofa sambil terus menunduk, matanya berkaca-kaca seakan hendak menangis.
"Sebenarnya kamu kenapa, Velly? Sudah dua hari kamu aneh, bahkan tidak ada satupun yang dikerjakan dengan benar," ucap Ricky tak sabar.
__ADS_1
Kedua tangan gadis itu gemetar, bahkan Velly harus menggigit bibir bagian bawahnya hingga terluka. Gadis yang terkenal akan keceriaannya itu kini berubah, nyaris satu pekan Velly menjadi seorang yang pemurung dan menarik diri dari rekan kerjanya yang lain.
"Pak, s-saya ingin memastikan sesuatu," ucapnya terdengar ragu.
"Katakan saja!" jawab Ricky.
"W-waktu itu anda mengatakan j-jika a-anda akan bertanggungjawab, kan? S-saya ingin memastikan i-itu."
"Ya, saya mengatakan itu. Memang ada apa?"
Velly mengeluarkan sebuah amplop yang berlogo sebuah rumah sakit, lalu memberikannya kepada Ricky.
Dengan cepat Ricky menerimanya lalu membaca sepucuk surat keterangan dari seorang dokter spesialis.
"S-saya hamil."
Deg!
"Hamil?"
Ricky memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Diri ya tidak menyangka akan menanggung akibat dari omong kosong yang ia janjikan kepada Velly.
"S-saya hanya meminta pertanggung jawaban, Anda. Bagaimana pun ini adalah darah daging Anda," lirih Velly.
"Ha-ha-ha, apa jaminannya anak itu adalah anakku? Bisa saja kau hamil anak orang lain, dan berusaha mengambil keuntungan dengan mengaku-ngaku sebagai anakku."
Perkataan Ricky telah mencabik-cabik hati Velly. Rasa sesak sangat terasa seolah ada sesuatu yang membelit lehernya dengan kencang.
"Demi Tuhan ini adalah anak Anda! Saya tidak pernah melakukannya pada siapapun kecuali Anda!" pekik Velly tidak terima.
Harga dirinya benar-benar terinjak oleh Ricky. Sejak awal semua ini bukanlah keinginannya, walaupun Velly memang sudah memendam cinta pada Ricky sejak hari pertama dirinya bekerja.
Air mata Velly pun perlahan tumpah membasahi pipinya, rasa sakit hati, kecewa, marah terus mengaduk-aduk hatinya yang seakan menjadi racun yang siap membelenggu dirinya sendiri.
"Saya mohon, saya dan anak ini butuh pertanggungjawaban anda!"
__ADS_1
"Lalu, mau kamu apa? Kamu mau saya menikahimu?" tanya Ricky tidak senang.
Pria itu mencengkram wajah Velly lalu kembali berkata, "Kau ini tidak sebanding dengan Tasya, bahkan kau tidak bisa dibandingkan dengan ujung kuku kaki kekasihku yang sempurna itu."
"T-tapi saya ...."
Ricky kembali berjalan menuju sudut ruangannya, lalu membuka sebuah brangkas yang terbuat dari besi dan meraih secarik kertas cek.
Dengan cepat pria itu menuliskan nominalnya yang cukup besar diatas kertas cek tersebut lalu melemparkannya tepat di hadapan Velly.
"Aku tak ingin melihat anak itu! Terserah mau kau apakan anak itu, aku sama sekali tidak peduli," ucap Ricky dengan dingin.
Perasaan cinta yang bertahun mengakar di hati Velly seketika berbalik menjadi kebencian teramat sangat pada Ricky. Masih jelas tergambar, bagaimana wajah Ricky yang seakan merendahkannya dan merasa jijik padanya, padahal semua itu bukanlah kesalahannya.
Velly berjalan dengan rasa putus asa sambil memandangi secara kertas cek bernominal seratus juta tersebut. Sebuah kertas yang sekaan menjadi nilai dari harga dirinya yang sudah hancur dan terinjak di tempat paling kotor.
***
"Seandainya kakakmu itu tidak memaksaku, hidupku tidak akan hancur!" teriak Velly setelah menceritakan seluruh awal mula kebencian dirinya kepada keluarga Siera.
Velly tertawa miris dengan air matanya yang terus mengalir tiada henti sambil menatap Siera.
"Apakah kau tahu, ayahku meninggal karena terkejut saat mengetahui kehamilanku tanpa ada yang mau bertanggung jawab! Hidupku benar-benar hancur karena kakakmu yang brengsek itu!" pekik Velly histeris.
Siera sontak memeluk Velly yang menangis tersedu-sedu. Rasa amarahnya pada Velly seketika sirna bak hilang di telan bumi.
Rasa sakit yang bertahun ia sembunyikan sontak meluap-luap tak terkendali. Wanita itu itu berteriak dan mengumpat seluruh perbuatan Ricky padanya.
Hingga dirasa semua cukup tenang, Siera memberikan segelas air mineral guna menenangkan perasaan Velly.
"Kamu memang sangat berbeda dari laki-laki itu. Kamu sangat baik, tapi maaf Siera. Hanya kamu yang terjangkau olehku, aku pikir dengan menjebakmu akan membuat reputasi Ricky dan keluargamu hancur, sama seperti Ricky yang menghancurkan nama baik keluargaku," ungkap Velly seraya menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.
Siera menghela napasnya dan berusaha untuk tersenyum lalu berkata dengan lembut, "Aku sungguh minta maaf atas perbuatan kakakku. Aku sama sekali tidak tahu jika Ricky seperti itu."
"Velly, kalau boleh aku tahu, sekarang bagaimana kabar anakmu? Bagaimanapun dia adalah keponakanku, aku tidak bisa tutup mata begitu saja," tanya Siera kembali.
__ADS_1
Velly terdiam sejenak lalu menjawab ,"Dia ...."
...****************...