
Setelah di usir para istri mereka untuk mencari keberadaan buah hati mereka. Kini keempat hot Papa ini duduk termenung di kediaman Hendra dan Amel.
Jimmy terus berusaha menghubungi anak buahnya untuk melakukan pencarian di seluruh sudut kota. Jika sampai esok pagi anak-anak mereka tidak ditemukan, terpaksa mereka akan melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Pastinya dengan konsekuensi berita kehilangan anak-anak mereka ini akan menjadi tranding topik terhangat di negara ini.
Disaat mereka semua sedang pusing dengan permasalah hidup yang mereka alami. Hendra, Kakak ipar Bayu yang laknat terus saja mengganggu dan meledek mereka. Tentunya hal ini memancing emosi Leon.
"Tutup mulutmu Hendra! Apa kau sudah bosan hidup?" Leon berkata sembari membulatkan kedua matanya. Ia menatap tajam kakak Nayla yang terus saja terkekeh geli melihat ekspresi marah Leon.
"Hahaha... Aku tak akan pernah bosan hidup untuk terus membuat mu marah seperti ini Leon." Sahut Hendra yang masih tak ingin berhenti meledek Leon.
Mendengar sahutan Hendra, Leon pun rasanya ingin sekali menjotos lambe menyebalkan milik Hendra itu. Seketika saja ia berdiri, menghampiri Hendra dengan tangan yang sudah terangkat ke udara.
"Hai, Bang Leon! Mau kau apakan suami kesayangan ku itu? Jangan berani macam-macam di kediaman ku ya!" Pekik Amel yang baru saja muncul diantara mereka.
Kedatangan Amel menghampiri mereka bertujuan untuk mengajak suaminya pergi mendatangi mertuanya. Karena hari ini Amel sudah ada janji dengan kedua mertuanya untuk menginap bersama mereka.
Sudah menjadi sebuah kebiasaan sepasang suami istri yang sebentar lagi akan memiliki momongan untuk selalu menginap bersama kedua orang tua Hendra.
Tidak hanya sekedar menemani kedua orang tua Hendra yang kesepian, tapi juga karena Amel selalu haus akan kasih sayang dari kedua mertuanya.
Maklum saja Amel dilahirkan di dalam keluarga yang super sibuk, hingga ia merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang terlalu mementingkan pekerjaan dan bisnis-bisnis mereka daripada Amel putri semata wayang mereka.
__ADS_1
Saat ini kondisi Amel yang sedang berbadan dua. Te lebih kehamilannya ini merupakan pengalaman pertama bagi Amel. Tentunya Amel sangat membutuhkan support dari kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya.
Namun sangat disayangkan, setelah kejadian tempo lalu, kedua orang tua Amel hanya sadar beberapa waktu saja. Kemudian k mbalinpada kebiasaan mereka yang gila kerja.
"Hisss, singa betinanya datang, menyebalkan sekali Hendra." Gerutu Leon yang langsung mendaratkan bokongnya kembali ke sofa, ia tak lepas menatap kesal Hendra yang tersenyum menjengkelkan karena terus meledek dirinya
Dengan manik mata yang terus menatap tajam Leon, yang ia ketahui tengah menaruh kesal pada suaminya. Amel langsung saja menarik tubuh suaminya untuk ikut dengannya, meninggalkan keempat hot Papa yang super galau itu.
"Ayo kita berangkat! Jangan perdulikan kegalauan mereka atas ulah mereka sendiri!" Ucap Amel seakan tidak perduli dengan musibah yang tengah dihadapi Keempat hot Papa itu.
Padahal musibah yang dihadapai keempat hot Papa ini berkaitan dengan kedua keponakannya yang ikut hilang seperti ditelan bumi
Belum sempat keduanya naik ke dalam mobil. Bayu segera menghadang langkah keduanya.
"Stop di situ!" Perintah Bayu dengan tatapan mata penuh selidik.
"Ishhh... Ngapain sih ni Pak Bayu." Amel berhenti sembari mendengus sebal.
Mendengar istrinya mendengus, Hendra pun hanya melirik sekilas kemudian menatap Bayu yang terus menatapnya penuh curiga.
"Ada apa Bay? Kenapa menghalangi jalan kami? Kalau mau numpang tinggal disini, tinggalah, jangan sungkan-sungkan! Anggap saja rumah kalian sendiri." Ucap Hendra dengan santainya.
__ADS_1
Bayu makin menarik kedua alisnya mendengar ucapan Hendra. Jujur Bayu makin merasa heran dengan sikap santai kedua iparnya ini. Padahal ia tahu betul karakter keduanya yang paling heboh dan hiperbola jika mengenai Nayla apalagi dengan kedua anaknya.
"Santai sekali kalian, ketika aku sedang pusing kehilangan kedua anakku dan juga kedua orang tuaku. Tidakkah kalian berempati dan berniat membantu ku?" Tanya Bayu dengan sinis.
"Sudah tenang saja. Amel sudah bantu Pak Bayu yang terhormat kok. Jadi sekarang tolong minggir! Amel mau lewat." Jawab Amel sembari menyingkirkan tubuh Bayu yang menghalangi langkahnya.
Amel dengan santainya berjalan ke arah mobilnya, begitu pula dengan Hendra.
"Sudah bantu apa kamu Mel, dari tadi kamu hanya di kamar dan bersolek saja?" Pekik Bayu pada Amel yang masih terlihat cuek.
Tebakan Bayu memang benar, sejak tadi di kamar Amel terus saja bersolek sembari bersenandung, sesekali terkikik geli. Entah apa yang sedang ia tertawakan, hingga tawanya itu terdengar oleh para hot Papa yang tengah pusing memikirkan kemana anak-anak mereka menghilang.
"Bantu doa dong Pak, apalagi." Sahut Amel dengan senyum penuh arti, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Sialan, pasti dia tahu sesuatu. Tidak mungkin tidak. Aku kenal betul Amel seperti apa. Dia terus saja memanggil ku dengan Pak Pek Pok, pasti ada yang tidak beres. Gumam Bayu dalam hatinya.
Tanpa disadari oleh Bayu, rupanya Jimmy sudah berdiri di sampingnya. Memandang penuh curiga dengan kepergian Amel dan juga Hendra.
"Sepertinya kau sedang mencurigainya Bay?"
"Tentu saja, aku tahu bagaimana karakter keduanya. Tidak mungkin mereka sesantai ini mengetahui kedua anakku menghilang. Pasti mereka tahu sesuatu." Jawab Bayu sembari menatap kepergian mobil Amel.
__ADS_1