Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 57


__ADS_3

"Bukan ini yang aku inginkan Mel, melihat mu menitikkan air mata karena kejujuran ku. Jika saatnya tiba, aku akan kembali datang untuk berjuang mendapatkan hatimu kembali. Aku harap kau tak berlari kencang untuk pergi jauh dari ku. Agar aku lebih mudah menggapai hati mu kembali. Aku sadar banyak luka yang tergores di hati mu, maaf telah membiarkan mu menderita sendiri dengan kebodohan ku, sebenarnya jika kamu tahu, aku seperti ini karena memperjuangkan mu," Gumam Hendra yang terus memandangi lantai dua rumah itu.


Hendra beranjak dari sofa yang tadi ia duduki bersama dengan Amel. Kaki panjang Hendra melangkah pergi meninggalkan kediaman Amel dengan hati yang tak baik-baik saja. Mbok Jum yang sejak tadi menjadi penonton mereka dari balik dinding dapur, dengan segera menghapus air matanya.


Wanita paruh baya ini terlihat begitu bersedih, melihat dua insan yang saling mencintai, tapi tak bisa bersatu. Pertama karena restu kedua orang tua Amel dan sekarang status Hendra yang memiliki seorang istri.


Melihat punggung Hendra yang semakin jauh menghilang dari pandangan matanya, Mbok Jum segera menyusul langkah Hendra. Ia akan memastikan mantan kekasih majikannya itu sudah keluar dari kediaman mereka.


Mbok Jum terperangah saat ia tiba di muka pintu rumah, ia melihat Hendra sudah jatuh tersungkur di teras depan rumah, dengan Neil yang telihat marah tengah berdiri dihadapannya.


"Tugas lo belum selesai, lo jangan deketin adik sepupu gue dulu! Jangan sakiti Silvi dengan menghadirkan orang ketiga di rumah tangga kalian!" Ucap Neil dengan suara menekan. Tangannya mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh Hendra.


"Sumpah demi apapun, Lo itu orang yang jahat, dan gak punya hati Neil," balas Hendra menatap tajam manik mata Neil.


"Gue gak jahat Hend, tapi gue memang manusia yang sudah tak punya hati lagi. Semenjak gue sadar sudah menyalah artikan sikap hangat adik lo terhadap gue, dan Amel mematahkan perasaan cinta gue terhadap adik lo, sebelum gue sempat untuk mengungkapkan perasaan gue apalagi berjuang. Ingat satu hal Hend, gue hanya menunda kebahagiaan kalian. Lo tau Om dan Tante gue tipe orang yang materialistis. Buat nikahin Amel lo harus punya perusahaan yang bonafid bukan? Tugas yang gue berikan mudah dan enak tidak ada yang sulit, bayaran yang Lo dapatkan, gue rasa sangat cukup untuk menyuntik perusahaan yang lo punya saat ini, tanpa harus mencari investor. Menikahi wanita kesakitan yang cinta mati sama Lo, hidup bersama dia, mengukir hari-hari indah bersamanya. Sangat simpel Hend, ga ada yang berat. Seharusnya Lo bersyukur bukan menyebut gue sebagai orang yang jahat."

__ADS_1


"Itu menurut Lo. Gue yang jalanin hidup gue sama Silvi, gue yang merasa tersiksa karena harus berpura-pura masih mencintai dia. Seharusnya yang sekarang ada di posisi gue, mendampingi Silvi itu Lo, Neil. Karena Lo itu tunangannya dia," Sungut Hendra dengan manik mata yang masih setia menatap lawan bicaranya itu.


"Jangan lemah Hen! Gue hanya menunda kebersamaan kalian, gue pastikan lo berdua akan bersatu. Gak seperti gue yang gak akan pernah bersatu sama adik lo, dan tolong jangan bahas tentang pertunangan itu lagi, sudah gue bilang, gue gak dan rasa sama dia, gue dan dia dijodohkan, gue bantu dia mempertemukan dia sama Lo hanya sebatas kasihan dengan jalan hidup dia yang harus mengidap penyakit mematikan itu," balas Neil yang melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah baju Hendra dengan kasar.


Mbok Jum membuka mulutnya lebar, saat ia mengetahui penyebab dan alasan Hendra meninggalkan Amel. Ia tak menyangka sepupu majikannya itu ada di balik kesedihan Amel empat bulan yang lalu.


"Ya Allah, ya Gusti... Sejak kecil Non Amel sering melakukan banyak hal penting di hidupnya seorang diri, karena Tuan dan Nyonya sibuk mengejar dunia. Membuat Non Amel dewasa sebelum waktunya. Non Amel mulai bahagia sejak bersahabat dengan Non Nayla dan merajut kasih dengan Den Hendra. Tapi Tuan dan Nyonya menghancurkan kebahagiaan Non Amel dengan menolak pinangan Den Hendra. Sekarang Den Hendra bisa-bisanya menikahi wanita lain atas suruhan Den Neil, itupun dilakukan Den Hendra demi uang dan juga demi Non Amel. Kenapa kehidupan orang kaya serumit ini, ya Gusti?" Lirih Mbok Jum yang bersembunyi di balik jendela.


Ya Mbok Jum memilih bersembunyi dan menguping semua pembicaraan dua lelaki itu dari balik jendela.


"Hahahaha... Bersabarlah waktu itu akan datang, penyakit Silvi sudah masuk ke stadium akhir. Gue yakin dia tak akan bisa bertahan lama, apalagi dia memaksakan dirinya untuk hamil buah cinta Lo sama dia, itu sama saja akan memperburuk kondisi kesehatannya."


"Kau benar-benar jahat dan tak punya hati Neil, kau masih bisa tertawa di balik penderitaan orang lain." Sungut Hendra dengan pandangan matanya yang tak dapat di artikan oleh Author.


"Bukan hanya gue yang jahat Hen, apa lo gak sadar, Lo juga sedang menunggu ajal menjemput istri dan calon anak lo, bukan? Supaya Lo bisa kembali menggapai cinta adik sepupu gue itu, hum? Seumur hidup gue baru nemuin suami dan calon Ayah kaya lo, bukannya menemani istri yang sedang berjuang hidup dan mati demi buah cinta kalian, ini malah datang ke rumah mantan kekasihnya, hanya untuk mengemis sebuah cinta bullshit."

__ADS_1


"Gue bisa seperti ini karena Lo, breng.sek," umpat Hendra kesal.


"Hahahaha lo bilang gue breng.sek? Sebaiknya, sebelum lo menilai buruk orang lain, lo nilai dulu diri lo sendiri, apakah diri lo sudah lebih baik dari gue? Sampai lo merasa pantas menyebut gue breng,sek?" Timpal Neil yang tak terima dengan umpatan kasar Hendra padanya.


Kata-kata Neil yang baru saja ia ucapkan membuat Hendra terdiam sejenak. Ya, Hendra menyadari dirinya memang tak lebih baik dari Neil. Ia begitu rendah dan murahan. Pria yang tak lagi punya harga diri dihadapan seorang Neil yang telah membeli kehidupannya untuk menjadi suami seorang Silvi.


Ya, memang Hendra menikah dengan Silvi karena Neil. Neil mengambil keuntungan dari semua kebetulan ini. Dimana ia bisa menghindar dari perjodohan antara dirinya dan Silvi.


Neil dijodohkan dengan Silvi oleh sang Mommy yang merupakan teman arisan sosialita dengan Nyonya Sari, Ibunda dari Silvi. Neil menerima perjodohan ini karena terpaksa dan didesak oleh Sang Mommy.


Saat keduanya bertunangan, Silvi masih dalam keadaan sehat, ia belum merasakan penyakit yang sudah ada padanya sejak lama namun tidak terlalu ia rasakan. Penyakit Silvi mulai ia rasakan ketika kedua orang tua mereka merencanakan pernikahan untuk keduanya.


Silvi yang selama ini tidak mencintai Neil. Sangat tidak menginginkan pernikahan diantara mereka terjadi. Silvi mengalami stress berat karena desakan kedua orang tuanya yang sangat menginginkan Neil menjadi calon menantunya, hingga akhirnya Silvi ditemukan tak sadar diri di kamarnya. Ia dilarikan ke rumah sakit oleh kedua orangtuanya.


Dengan bantuan Neil, penyakit Silvi dapat segera dideteksi. Ternyata Silvi mengidap penyakit tumor otak yang berada di dalam otak kirinya. Tumor yang sudah diambil sampelnya itu terdeteksi sebagai Tumor Ganas. Menjalani operasi pun akan terasa sia-sia karena sel tumor itu sudah menjalar keseluruhan jaringan otak Silvi yang akan tumbuh kembali dalam waktu yang singkat.

__ADS_1


__ADS_2