Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Makan Malam


__ADS_3

Satu pekan berlalu tanpa kejadian yang tidak mengenakan. Semua berjalan lancar dan menjadi waktu damai yang paling lama dirasakan bagi Siera.


Siera tak ingin memikirkan tentang sikap keluarganya lebih jauh, gadis itu sudah lelah dan tak ingin berharap kepada apapun lagi.


"Lapar!" keluh Siera sambil terus memegangi perutnya.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi Nikolai belum kunjung kembali. Hujan deras diiringi suara kilat yang menggelegar, kian membuat gadis itu malas beranjak keluar untuk sekedar membeli makanan.


"Gak ada sinyal!" jerit Siera kesal sambil melihat ponsel miliknya.


Niat untuk memesan makanan secara online pun gagal, membuatnya terdorong untuk mencari bahan makanan di dalam kulkas yang terletak di dapur.


Kedua matanya pun seketika berbinar-binar melihat isi kulkas yang penuh dengan bahan makanan lengkap, dimulai dari daging hingga sayur dan buah.


"Astaga, buat apa nahan lapar dari tadi!" seru Siera kesal.


Siera memakan beberapa buah apel, tetapi tak kunjung memuaskan rasa laparnya. Hal itu membuatnya terdorong untuk memasak walaupun kemampuannya sangat berasa di bawah batas normal.


"Masak telur aja ah," ucapnya sambil mengambil dua butir telur ayam dengan daun bawang.


Gadis itu pun mulai untuk memotong segala jenis bahan yang diperlukan lalu mencampurnya menjadi satu.

__ADS_1


Rossy menggaruk kepalanya sambil menatap kompor dihadapannya. Nampaknya ia kesulitan untuk menyalakan kompor tersebut tetapi, Siera tidak bisa mencari tahu di internet karena terhalang sinyal yang buruk.


"Ini bagaimana cara nyalainnya?" gumamnya sambil garuk-garuk kepalanya.


"Kamu harus putar knopnya ke kanan dong."


Sontak saja Siera terperanjat dan menoleh ke belakangnya. Terlihat Nikolai tersenyum dengan masih memakai pakaian formal lengkap dengan dasi dan jasnya.


"Astaga, kapan Kamu masuknya?"


"Tadi pas kamu lagi sibuk mandangin kompor," jawab Nikolai sambil tertawa.


"Hampir aja Aku pukul sama penggorengan. Sudah sana, mandi dulu! Mau aku bikinin makan sekalian?" tanya Siera menawarkan.


Lima belas menit kemudian, mereka kembali bertemu di ruang makan. Di atas meja makan tersaji hidangan sederhana yang Siera buat hanya dengan menggunakan perasaannya saja.


Siera menyendokan nasi ke atas piring milik Nikolai lalu, mengambilkan sepotong telur dadar yang baru saja ia buat.


"Maaf ya, Aku cuma bisa buat ini. Habisnya aku gak pernah masak apapun. Mau beli online tapi jaringan ponselku lagi ada gangguan," ujar Siera memberikan penjelasan.


"Tapi ini bisa dimakan, kan? Gak ada racunnya, kan?" goda Nikolai tertawa.

__ADS_1


"Gak usah dimakan!" jawab Siera jengkel.


"Becanda, gitu aja ngambek," ucap Nikolai kembali.


Siera menghela napasnya, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan berkata, "Aku baru mendapat undangan Siena, Minggu depan akad nikahnya."


"Mau Aku temani?"


"Gak perlu, biar Aku sendiri aja yang datang pas acara akad nikah, tapi nanti Kamu temani pas resepsi aja. Karena Aku tidak mau ada keributan di acara akadnya," ucap Siera sambil terkekeh, membayangkan bagaimana respon sang kakak jika mengetahui dirinya berkencan dengan saingan bisnis terbesarnya.


"Hahahaha, baiklah. Apapun perintah Tuan Putri saja."


Nikolai meminum segelas air untuk meredakan rasa tawanya, lalu mulai memakan sendok nasi dan telur goreng buatan Siera.


Sontak saja raut wajah Nikolai berubah, pria itu seakan berjuang keras untuk menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


Nikolai kembali memakan dengan cepat hidangan yang dibuatkan pujaan hatinya, membuat Siera pun merasa curiga sekaligus kebingungan dengan sikap anehnya.


"Kenapa? Kok buru-buru makannya, nanti Kamu bisa tersedak," ucap Siera yang dibalas senyuman oleh pria itu.


Siera pun menyiapkan sesendok nasi dan telur ke dalam mulutnya lalu seketika menyemburkannya kembali sambil berteriak, "Asin amat! Mana kemasukan cangkang pula!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2