
"Selamat malam Tuan-Tuan, apa kedatanganku terlambat? Maaf sudah membuat kalian menunggu lama." Sapa Andrew yang terus melangkah maju, diikuti beberapa pria bertubuh tegap dibelakangnya.
Semakin Andrew melangkah, semakin terasa aura dingin yang dirasakan oleh Daniel. Tak pernah ia sangka jika seorang Andrew akan turun gunung untuk menemui dirinya.
"Hai Bang, se-senang sekali, sa-saya malam ini. Bang A-Aandrew menyempatkan waktu untuk datang ke-ke si-ni." Daniel membalas dengan tergagap.
Tubuhnya gemetar melihat ketua preman di negara ini, datang menghampirinya secara langsung.
Daniel benar-benar tidak pernah menyangka dan menduga akan kedatangan Andrew malam ini, jujur ia merasa heran dengan kedatangan Andrew. Pasalnya dia sama sekali tidak pernah merasa mengundang Andrew untuk datang.
"Cih. Kau senang apa takut bertemu denganku, Daniel? Kau bicara seperti orang sedang tersedak." Timpal Andrew.
Andrew menatap rendah kegugupan Daniel.
Daniel hanya bisa menutupi rasa takutnya dengan tersenyum kaku pada Andrew.
"Duduklah Bang, tempatku masih kosong," Dani mempersilahkan Andrew untuk duduk di sampingnya.
Namun Andrew menolak, ia malah mengangkat tangannya untuk meminta dibawakan sebuah kursi oleh anak buahnya.
Dalam hitungan detik, sebuah kursi tak biasa datang diruang itu. Andrew duduk dengan melipatkan satu kakinya di atas paha.
"Kau pikir aku sudi, duduk bersama mu Daniel? Tentu tidak." Ucap Andrew dengan tatapan sinisnya.
Tak lama setelah bicara demikian. Hanya dengan menyadarkan tangannya, dan sedikit menengadahkan tangannya di sandaran kursi, seorang pria bertubuh tinggi tegap dan kekar di belakangnya yang mengerti, langsung saja memberikan sebuah cerutu untuknya.
Tak hanya memberikan cerutu, tapi juga membantu Andrew menyalakan cerutu di tangannya. Andrew menyesap dalam cerutu ditangannya.
Lalu kembali angkat bicara. "Sebenarnya kalian melakukan pertemuan ini untuk apa?" Tanya Andrew sembari menatap kubu Jimmy dan Daniel wecara bergantiannya.
"Saya hanya seorang tamu undangan yang tak tahu diundang untuk apa." Jawab Jimmy yang membuat Andrew manggut-manggut.
Setelah itu Bayu ikut angkat bicara. "Saya ke sini karena dia mengundang saya, dan saya ke sini ingin melakukan barter dengan dia."
"Barter?" Tanya Andrew yang pura-pura tidak tahu.
"Ya Barter, kedua orang tua saya dan juga mertua saya telah diculik oleh komplotan mereka, entah dengan maksud apa. Saya tidak tahu. Yang pasti salah seorang dari mereka, ada bersama saya." Jawab Bayu dengan suara tegas dan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Deg!
Seketika Daniel membulatkan matanya. Saat Bayu bicara salah seorang dari mereka ada bersama dengan dirinya.
Ia yang sejak semalam diberikan kabar jika Patricia menghilang tanpa jejak tanpa membawa ponselnya. Langsung dapat menyimpulkan jika Patricia ada bersama dengan Bayu.
"Kurang ajar, lepaskan Patricia!" Geram Daniel yang tak bisa menahan emosinya, jika itu menyangkut Patricia. Ia berdiri dan menodongkan senjata kearah Bayu. Ia siap membolongi bagian tubuh Bayu dalam jarak cukup dekat.
Daniel ternyata memiliki perasaan lebih pada rekannya ini. Padahal dia sudah menasehati Patricia untuk berhati-hati pada kelima pria ini, jangan sampai kepincut dengan ketampanan mereka.
Namun nasehat pada Patricia sama sekali tak didengar. Ketampanan kelimanya menyilaukan Patricia, hingga ia lupa dengan niat dan tujuannya sebelumnya.
Prok... prok...prok...
Tepukan tangan Nayla mengurai ketegangan yang baru saja tercipta.
"Ada apa ini? Kami baru saja datang, kenapa sudah dimulai ribut-ributnya? Hahahaha...." Ucap Nayla sembari melangkah satu langkah demi satu langkah mendekati kursi kebesaran Andrew bersama dengan Amel.
Kedua wanita ini, mengenakan pakaian santai kaos t-shirt kebesaran berwarna putih polos dan celana hots pants yang tenggelam oleh kaos kebesaran yang mereka kenakan itu.
Mata Bayu dan Hendra makin dibuat membola ketika kedua istri mereka duduk di sandaran tangan kursi yang diduduki oleh Andrew.
"My Angels," panggil Andrews sembari melirik Amel dan Nayla secara bergantian.
Deg!
Jantung Damian tiba-tiba rasanya ingin terhenti, ketika Andrew memanggil kedua wanita yang sedang ia tunggu-tunggu kedatangannya dengan sebutan "My Angels".
"Bang Andrew, Ba-bagaimana bisa dan ke-kenapa abang panggil me-mereka dengan sebutan My Angels." Tanya Daniel dengan keheranannya.
Daniel yang tadinya menodongkan pistol pada Bayu, kini langsung menurunkan pistolnya itu.
"Tentu saja bisa, karena mereka-lah aku dan keluargaku masih bisa bernafas hingga hari ini." Jawab Andrew dengan senyum menyeringai.
Daniel terperangah cukup lama mendengar jawaban Andrew. Hingga ia tak menyadari Nayla dan Amel sudah duduk di samping dirinya.
Para ladies yang tadinya menghibur Daniel dan kawan-kawan Daniel. Tanpa kawan-kawan Daniel sadari. Para Ladies ini sudah mengambil pistol dan juga ponsel mereka.
__ADS_1
Saat ini Daniel dan kawan-kawannya sudah terjebak dalam permainan Nayla dan Amel.
"Kami sudah datang memenuhi undanganmu tampan, katakanlah! Apa maksudmu mengundang kami untuk bertemu dengan dirimu, Daniel?" Tanya Nayla sembari meraba wajah Daniel, tentunya dengan tatapan nakalnya.
Tubuh Daniel dibuat meremang dengan sentuhan tangan Nayla, yang terus menggerayangi wajah hingga ke bagian dadanya dan bermain-main dipuncak dada bidangnya.
Daniel tak mampu berkonsentrasi apalagi menjawab pertanyaan Nayla, konsentrasinya benar-benar buyar. Apa yang dilakukan Nayla membuat sesuatu di bawah sana langsung menegang dan mengeras sempurna.
"Kau ingin bermain denganku tampan?" Tanya Nayla dengan suara seksinya, suara seksi Nayla makin membuat Daniel makin berhasrat pada Nayla.
Daniel mengangguk dengan cepat. Seketika Nayla langsung tertawa.
Apa yang dilakukan Nayla kepada Daniel sama sekali tidak membuat Bayu merasa cemburu, karena dia tahu Nayla melakukan hal itu demi menyelamatkan kedua orang tua mereka. Ia hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali, saat melihat kepiawan istrinya merayu seorang laki-laki.
"Kau yakin ingin bermain-main denganku tampan?"
"Aku yakin, dan aku ingin bermain di hadapan semua orang, termasuk di hadapan suamimu." Jawab Daniel dengan beraninya.
Daniel masih tak menyangka ia sedang berhadapan dengan siapa saat ini.
Lagi-lagi jawaban Daniel membuat Nayla kembali tertawa. Sesungguhnya Daniel sudah masuk ke dalam jebakan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nayla.
"Aku akan memuaskanmu di hadapan merea dan juga suamiku, asalkan kau mau melakukan sesuatu untukku, tampan?" Ucap Nayla setelah tawanya terhenti.
"Apa? Aku akan melakukan apapun untukmu, Nayla." Sahut Daniel ia mengetahui wanita yang merayunya adalah Nayla.
"Sungguh?"
"Iya. Aku bersungguh-sungguh akan melakukan apapun untukmu." Jawab Daniel yang dengan beraninya merangkul pinggang Nayla.
"Hahaha... Ok. Aku suka jawaban mu, Daniel."
"Besan tolong bawa dia ke sini!" Pekik Nayla, yang tak lama kemudian Jessica dan Anna muncul membawa Patricia dengan keadaan yang berantakan dan banyak terdapat luka di wajahnya.
Daniel seketika berdiri, ia terkejut melihat wanita yang dicintainya dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
"Patricia!" Pekik Daniel memanggil Patricia yang sudah dalam keadaan linglung.
__ADS_1