Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 49


__ADS_3

Nayla menatap kesal wajah sahabatnya yang tak berhenti menertawakan dirinya. Tak hanya Nayla yang manatap kesal diri Amel, semua orang yang ada di kamar rawat Nayla pun memberikan tatapan kesalnya pada Amel.


Amel seakan cuek tak perduli dia tetap menertawai sahabatnya tanpa henti. Hendra yang sudah melihat adiknya bangun kembali lagi keruang tunggu keluarga yang ada di depan kamar Amel. Ia melanjutkan aktifitasnya yang tertunda.


"Tawa mulu Lo, cocok banget Lo jadi pasien RSJ," umpat Nayla yang membuang pandangan kesalnya kesembarang arah, yang malah membuatnya memandang wajah sang suami yang terlihat babak belur di sudut ruangan.


Meski wajah sang suami nampak babak belur, sama sekali tak mengurangi ketampanan wajah suaminya itu di mata Nayla. Entah jika dilihat dari sudut pandang orang lain, masih tampan atau tidak wajah suaminya itu. Sepertinya masih tampan karena buktinya Dokter Susi pun terpesona dengan wajah Bayu yang terlihat babak belur seperti itu.


"Ya Tuhan, wajah ganteng suami aku kok jadi gitu penampakannya, pasti habis di aniaya sama Mas Bayu atau Ayah. Duhh..kasian banget sih suami aku," gumam Nayla di dalam hatinya. Ia masih mengasihani suaminya meskipun suaminya sudah menyakiti perasaannya dan membuatnya jadi seperti saat ini.


Manik mata keduanya bertemu, mereka saling menatap manik mata satu sama lain. Tatapan rasa bersalah tergambar jelas di wajah Bayu. Ingin ia menghampiri istrinya untuk minta maaf dan memeluknya,namun rasa malu dan rasa bersalah membuat langkah kakinya berat untuk melangkah. Terlebih lagi banyak orang di ruangan ini. Yang pada akhirnya hanya membuatnya berdiri jauh dari sisi Nayla tanpa berbuat apa-apa.


"Gak mau ah gue masuk RSJ. Lagian kalau gue masuk RSJ nanti ada yang kangen," balas Amel yang membuat Nayla memutuskan tatapannya pada manik mata Bayu, ia kembali menatap sahabatnya yang sudah duduk di tepian ranjang tidurnya.


"Siapa? Emang Lo udah laku?" Tanya Nayla yang terpancing dengan kata-kata Amel.


"Lo lah yang kangen gue. Kalau gue udah laku gak mungkinkan gue disini buang-buang waktu gue buat sama Lo. Mending gue ngadon anak sama pasangan gue,"jawab Amel yang malah memeluk tubuh sahabatnya yang tengah berbaring itu beberapa saat.


"Nikah dulu baru ngadon, jangan mau lo jadi bahan gratisan laki-laki!" Sahut Nayla yang memukul lengan sahabatnya.


"Iya nikah dulu, kalau bisa sama Duda biar sama kaya Lo, kitakan sahabat selamanya Nay,"


"Iya mudah-mudahan Lo dapat Duda anak satu yang sayang sama Lo ya? Yang mau berbagi anaknya sama Lo, gak kaya gue. Ngakuin anaknya ajah gak boleh," Nayla membalas ucapan Amel dengan kalimat sindiran untuk Bayu yang kini duduk dengan laptop di pangkuannya.


Bayu sadar istrinya sedang menyindirnya, ia hanya tersenyum getir merasa bersalah telah mengucapkan kalimat yang menggores hati istrinya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, atas ke-khilafan mulutku ininyang menyakiti diri mu," gumam Bayu di dalam hatinya.


"Amiin... kalau suami gue kaya gitu, gue akan habisin dia di ranjang Nay, gue akan siksa dia, gue pakai asal-asalan terus gue cabein tuh mulut pedasnya dia, biar tambah pedas." Celetuk Amel yang seakan memprovokasi Nayla.


"Iya-iya kok gue gak kepikiran ngelakuin hal itu Mel, ide bagus tuh Mel, gue akan coba nanti," balas Nayla yang merasa apa yang di ucapkan sahabatnya adalah sebuah ide yang bagus.


Bayu yang mendengar pembicaraan ngaco mereka yang mulai menyimpang langsung saja berdeham keras, seakan menegur keduanya. Nayla dan Amel yang mendengar Bayu berdeham keras, sama-sama memberikan tatapan juteknya pada Bayu. Bayu terlihat kikuk karena dilihat seperti itu oleh keduanya. Ia kembali menatap layar laptopnya berpura-pura mengetik sesuatu untuk menutupi kekikukannya terhadap keduanya.


"Mengapa mereka seperti anak kembar saja sih, kelakuan tingkah, sikap. Yang membedakan hanya wajah dan kepintaran. Ah... sebenarnya istriku pintar hanya saja di malas," batin Bayu.


Amel dan Nayla kembali mengobrol sampai pada pembahasan dimana Nayla merasa heran dengan penampilan Amel malam ini.


"Mel, lo ngapah pakai baju kaya gini ke rumah sakit? Pakai kupluk segala. Penampilan lo dah kaya pembawa acara dunia lain tau gak, lu mau uji nyali di sini Mel?" tanya Nayla yang merasa heran dengan penampilan sahabatnya itu.


"Hahahahaha.... lo kira gue artis Nay?" tawa Amel kembali menggelegar.


"Tawa mulu Lo, sebel gue jadinya," kesal Nayla yang terus melihat Amel terus tertawa.


"Hahaha... gitu aja marah Lo. Ini penampilan baru gue. Lo mau liat gak di balik kupluk gue ada apa?"


"Ada apaan emangnya?" Tanya Nayla penasaran.


"Tebak dulu coba."


"O to the gah, OGAH, kepala gue lagi gak mau berpikir keras lagi pusing, gue kan habis di operasi Nyet.."

__ADS_1


"Halah, tiap hari juga lo juga ngomong gitu Blay"


"Ya udah sih cepat ngomong, bikin penasaran aja,"


"Iya-iya, sabar dong sayang, kamu udah gak sabar banget mau buka-bukaan sama aku aja. Kamu kan lagi sakit sayang, lagian aku belum siap, jangan buru-buru ya sayang, ini yang pertama buat aku loh," celoteh Amel yang seakan ingin diajak making love dengan Nayla. Bayu yang sibuk bekerja dengan laptopnya di sudut ruangan menyernyitkan kedua alisanya melihat tingkah Amel yang sama seperti istrinya, bicara menyimpang tanpa mengenal tempat.


"Sarapan ya Lo Mel otak lo," umpat Nayla yang kesal dengan tingkah Amel yang sama menyebalkan dengan dirinya.


"Sarap kali ah, mana ada sarapan malam-malam pakai otak-otak," balas Amel dengan senyum cengengesan.


"Cepet ah lama!" Pinta Nayla yang tak sabaran.


Amel kemudian membuka kancing jubah hitam yang ia kenakan, satu persatu kancing baju itu ia buka, hingga seluruhnya telah selesai ia buka, kemudian setelah itu Amel membuka kupluk yang ada pada jubah itu dengan gerakan perlahan yang makin membuat Nayla penasaran.


"Taraaaaaa...." Nayla terbelalak melihat penampilan Amel yang sudah botak halus, tak ada sehelai rambut pun di kepalanya.


Nayla membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak percaya dengan kegilaan yang Amel lakukan saat ini. Ia menitikan air matanya, ia tahu sahabatnya ingin menguatkan dirinya dengan sama-sama merasakan kehilangan rambut yang menjadi kebanggan mereka sebagai kaum hawa.


"Amel..." panggil Nayla yang merentangkan tangannya. Ia memberi ruang untuk Amel masuk ke dalam tubuhnya.


"Makasih Mel, Makasi.. Lo emang sahabat terbaik gue,"


"Yuhuuuu... jangan nangis dan jangan merasa sendiri Nay, karena gue akan selalu ada bersama lo," balas Amel dengan suaranya yang bergetar, ia berusaha untuk tidak menangis agar Nayla tak merasa sedih terlalu lama.


Tak hanya Nayla yang terkejut dengan penampilan Amel. Bayu yang juga melihat penampilan Amel dibuat tertegun. Ia melihat Amel sampai tak berkedip. Ia tak menyangka dengan apa yang dilakukan sahabat istrinya itu pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak akan ada sahabat di dunia ini yang seperti Amel. Menguatkan sahabatnya dengan cara seperti ini. Memangkas rambutnya hingga tak tersisa agar sama-sama merasakan apa yang sahabatnya rasakan. Amel memang sengaja memangkas rambutnya. Ia sangat paham jika Nayla akan kehilangan kepercayaan dirinya tanpa rambut yang menutupi kulit kepalanya. Demi mengembalikan rasa kepercayaan diri Nayla, Amel rela kehilangan rambutnya. Mengorbankan kehilangan rambutnya demi sang sahabat. Pengorbanan sahabat yang sangat berarti dan tak akan terlupakan bagi Nayla.


__ADS_2