
"Mereka sepertinya sudah mengetahui pergerakan kita, Tuan. Anderson sudah diantarkan ke tempat yang mereka anggap tak akan tersentuh oleh kita." Ucap Dono pada Tuan Adam yang membiarkan Leon tertidur pulas di atas pangkuannya.
Ya. Leon dibawa Tuan Adam dalam keadaan tertidur, usai ia selesai menonton pertandingan bola yang di siarkan secara langsung.
"Biarkan Anderson tetap hidup, aku ingin tahu apa tindakannya saat ia sudah kembali pulih? Tetaplah awasi pergerakannya dari jarak aman Don!" Tanggap Tuan Adam.
"Baik Tuan. Kami akan laksanakan." Jawab Dono yang menerima perintah Tuannya dengan kesiapan dirinya.
"Ku biarkan anakmu tetap hidup, anggaplah ini sebagai tindakan belas kasihku pada mu, Charles. Akan tetapi jika putramu di kedepannya nanti membahayakan anggota keluargaku. Tak menutup kemungkinan aku akan melenyapkannya dari muka bumi ini. Suratan takdirnya kelak, ada ditangannya sendiri." Batin Tuan Adam.
"Angkat Leon, jangan biarkan dia terbangun!" Ucap Tuan Adam saat helikopter telah berhenti dan mendarat di atap hotel milik Tuan Adam yang berada di kota C.
Betapa sayangnya Tuan Adam pada Leon, hingga ia memerintahkan anak buahnya agar tak membangunkan keponakannya ini.
Sesampainya mereka di hotel milik Tuan Adam yang ada di kota C. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman Travis dengan sebuah mobil yang tak luput dari beberapa pengawalan.
"Leon bangunlah! Kita sudah sampai." Ucap Tuan Adam yang akhirnya membangunkan keponakannya ini.
"Hemm, sampai dimana, Paman saja masih nonton bola?" Ucap Leon yang masih berat untuk membuka matanya.
"Bukalah matamu dulu! Kita sudah sampai di medan perang Leon." Balas Tuan Adam sembari menggoncang bahu Leon.
"Medan perang?" Cicit Leon yang kemudian bangun dari posisi tidurnya.
Ya. Dia kembali tidur di atas pangkuan sang Paman yang terasa sangat nyaman. Jujur Leon adalah sosok laki-laki yang haus akan kasih sayang seorang Ayah.
Semenjak Leon kecil, tepatnya sejak adik palsu yang sempat menghilang dan ditemukan kembali. Leon tak lagi mendapatkan kasih sayang dari Nico yang terlihat kasih sayangnya lebih condong pada Cynthia. Adik palsunya itu.
__ADS_1
Dan kini meski semuanya sudah terungkap dan Nico mulai berubah, dengan berusaha adil dengan ketiga anaknya. Namun rasa kecewa di hati Leon, selalu mengusik kebersamaan dirinya dengan sang Ayah.
Leon membulatkan matanya dengan sempurna, saat ia melihat pemandangan disekelilingnya sangat tak ia kenali.
"Oh my God, Paman benar-benar membawaku ke sini." Batin Leon yang kini tengah di tatap oleh Tuan Adam.
"Kau mau mundur atau mau membuktikan dirimu adalah the real prince Adijaya, Leon?" Tanya Tuan Adam pada keponakannya yang terlihat terkejut.
"Tentu aku akan membuktikan diriku adalah the real price Adijaya, Paman. Jika adikku saja seperkasa itu dibalik casing wanitanya, tidak mungkin aku sebagai kakaknya bersikap pengecut." Jawab Leon dengan penuh keyakinan, meski jantungnya berdebar.
Kali ini lawannya bukan seorang penculik atau preman kampung tapi anggota geng mafia kelas internasional.
Paman da keponakan ini pun turun dari mobil mereka dengan gayanya yang begitu terlihat keren dan berwibawa. Ferdy dan Dono berjalan tepat di belakang para Tuan-tuan mereka.
Brak!!!
Deg!
Jantung Tuan Charles mulai berdetak tak menentu menyambut tangan malaikat kematian yang akan segera menjemputnya.
"Selamat datang, Adam. Senang sekali rasanya aku bisa bertemu denganmu lagi," ucap Tua Charles yang berusaha tetap tenang meski rasa takut sudah menguasai dirinya. Hingga nada bicaranya saja sudah sangat bergetar.
"Kau takut sekali dengan pamanku. Sampai-sampai berbicara basa-basi menyapa pamanku seperti ini saja kau bergetar. Semenakutkan itukah kau paman dimatanya?" Batin Leon.
"Mereka berapa orang Fer?" Tanya Leon dengan suara berbisik pada Ferdy asistennya.
"Mereka hanya dua orang," jawab Ferdy dengan suara berbisik pula.
__ADS_1
"Ok, berarti anak buahnya bersembunyi disekitar sini." Batin Leon.
Bola mata Leon, mulai mencari keberadaan anak buah Tuan Charles, tanpa menggerakkan kepalanya sedikitpun. Mata Leon yang begitu jeli langsung saja mendapatkan keberadaan Travis dalam hitungan detik.
Belum sempat sang Paman membalas sapaan Tuan Charles. Leon dengan gerakan tangannya yang cepat, langsung saja mengarahkan senjatanya ke arah Travis yang sudah siap menembak ke arah Tuan Adam, jika ia sampai menyentuh Tuan besarnya itu.
Dor... Dor...! [Suara tembakan meletus dari senjata Leon.]
Prank! [Sebuah kaca penuh dengan hisan bunga yang menyamarkan keberadaan Travis pecah
Brughh! [Travis terjatuh saat sebuah peluru menempus kepalanya].
Adam menatap apa yang dilakukan keponakannya. Ia terkejut dengan tindakan cepat Leon. Sedangkan Ferdy dan Doni, menatap kagum dengan kecepatan Leon menemukan musuh uang tengah bersembunyi dengan baik itu.
"Aku ngantuk dan ingin sat set sat Paman." Ucap Leon santai yang kemudian duduk di sebuah sofa yang tepat berhadapan dengan Tuan Charles.
Ferdy langsung bergerak memastikan kondisi Travis yang tertembak oleh timah panas dari senjata Leon.
Ferdy menyeret tubuh Travis yang sudah tak bernyawa dengan darah yang terus menetes dari bagian kepalanya yang telah di tembus timah panas itu. Travis gugur, sebelum melakukan rencananya untuk melumpuhkan Tuan Adam bersama dengan Tuan besarnya itu dilaksanakan.
"Sial, Adam tidak datang sendiri. Dia bawa keponakannya yang sama gilanya dengan dirinya." Batin Tuan Charles, saat melihat satu-satunya asisten yang bersamanya telah gugur.
"Kau ingin membunuh pamanku? Cih, tak akan aku biarkan itu terjadi." Ucap Leon sembari menguap, ia terlihat masih sangat mengantuk.
"Bicaralah dengan Pamanku, aku akan mempersilahkan kalian bicara untuk terakhir kalinya." Ucap Leon yang kemudian kembali memejamkan matanya.
Tuan Adam dan Tuan Charles terlihat mengerutkan alisnya melihat tingkah Leon yang tak bisa mengalahkan rasa kantuknya, meskipun dalam keadaan genting.
__ADS_1