
Melihat bosnya jatuh terkapar berlumuran darah, anak buah Joseph malah terperangah melihat Bossnya mengerang kesakitan. Mereka tak tahu harus berbuat apa?
"Aaaaa... Si4l, sakit sekali. Aaaaa... Apa yang kalian lakukan? Menonton kesakitan ku? Anak buah b0d0h cari penembak jitu itu! Seret dia ke sini hidup-hidup. Beraninya sudah menembak ku." Pekik Joseph. Dia memerintah, mengumpat dan mengerang kesakitan.
Mendengar perintah kemarahan dan kesakitan dari Bosnya,anak buah Joseph segera bergerak. Di saat semua anak buah Joseph bergerak, tiba-tiba saja Endah berdiri kembali mengejutkan semua orang termasuk Joseph yang sedang merasakan kesakitan di bagian pinggangnya.
"Tubuhku jadi kotor!" Ucap Endah yang baru saja bangkit dan membersihkan tubuhnya dengan gerakan tangannya berkali-kali.
Di saat semua kembali terfokus pada Endah dan Joseph dengan gerakan tangannya Endah itu, tanpa di sadari oleh mereka semua, itu merupakan cara Endah memberikan kode pada Nayla dan juga Amel untuk keluar dari persembunyian. Kedua wanita yang sama perkasanya dengan Endah yang sudah siap dengan senjata Laras panjangnya dengan peluru yang dikalungkan di leher mereka pun keluar dari persembunyiannya.
Tak banyak yang menyadari kemunculan kedua wanita itu yang sudah dalam posisi siap menembak. Hanya Septian dan Borni yang melihat dengan jelas kedua teman istri Bossnya yang tak di sangka dan di duga oleh mereka. Sama perkasanya dengan istri Bossnya itu.
"Kau pikir aku akan mati secepat itu? Jangan panggil aku Endah Nicholas Adijaya, jika kau semudah itu mengalahkan ku. Sampaikan salam benci ku pada kedua orang tua angkat ku di neraka Joseph. Karena bukan aku yang aku menyusul mereka tapi dirimu " Ucap Endah yang kemudian menekan pelatuk senjata apinya tepat di dada bagian kirinya.
Door...door...door!
Tubuh Joseph menggelepar saat tembakan Endah mengenai organ tubuhnya hingga Joseph meregang nyawa.
"Daddy, mengapa jadi begini? Kenapa yang mati malah orang suruhan mu? Kenapa bukan Hendra?" Tanya Nyonya Sari yang ketakutan melihat orang suruhan suaminya meregang nyawa dengan darah yang muncrat dari dari bagian dadanya di hadapan kedua bola matanya.
Tuan Yudha tidak menjawab, ia sudah dapat mengira semua ini akan terjadi, karena ia tahu betul jika Hendra kini telah dekat dengan kedua keluarga penguasa di negeri ini.
"Daddy, kenapa diam saja? Jawab pertanyaan Mommy?" Desak Nyonya Sari pada suaminya.
Seperti biasanya. Wanita setengah abad ini selalu memaksa suaminya untuk melakukan apapun yang ia mau.
"Inilah resikonya yang harus kita hadapi Mom, Hendra yang sekarang bukanlah Hendra yang dulu kita kenal Mom. Dia sudah menjadi bagian terdekat keluarga Adijaya dan juga keluarga Kusuma. Dan keluarga itu punya keturunan yang ditakuti seluruh manusia sejagat raya ini." Akhirnya Tuan Yudha menjawab dengan suara yang lemah. Bayang-bayang kematian tengah menghantui pria berusia setengah abad ini.
"Silvi, mungkin sebentar lagi Daddy akan bertemu dengan mu." Gumam Tuan Yudha di dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa???? Tidak mungkin... TIDAK! Aku tidak mau mati! Yang harus mati bukan aku tapi Hendra."Pekik Nyonya Sari sembari melihat Hendra yang sudah tak sadarkan diri.
Melihat Joseph sudah tak bernyawa lagi, anak buah Joseph yang masih setia dengan Joseph yang telah tiada langsung saja melakukan perlawanan pada Endah. Mereka semua menodongkan senjata api pada Endah.
Di saat itulah Nayla dan Amel beraksi dengan senjata laras panjangnya. Baku tembak pun terjadi antara kawanan anak buah Joseph dengan Nayla dan juga Amel. Borni dan Septian yang sibuk memegangi Tuan Yudha dan Nyonya Sari pun dibuat terkagum-kagum dengan keahlian istri Bayu dan juga calon istri Hendra ini yang ternyata pandai menggunakan senjata api.
Baiklah di film action. Nayla berguling-guling di lantai menembak anak buah Joseph. Ia beraya seperti ini, karena Pikiran mesum Nayla membuat ia selalu mengincar bagian benda pusaka anak buah Joseph. Jeritan demi jeritan terdengar hingga keluar markas.
Keempat hot Papa yang mendengar jeritan lebih dari 20 orang yang saling bersahut-sahutan, terlihat saling memandang satu sama lain. Mereka bertanya-tanya di dalam benak mereka masing-masing. Apa yang terjadi mengapa ada suara jeritan kesakitan saling bersahut-sahutan dari dalam. Untuk memastikannya keempat hot papa tersebut akhirnya masuk dengan berlari kecil ke dalam markas Joseph.
Berbeda dengan Nayla yang menembak ke arah bagian pedang pusaka para anak buah Joseph, hingga membuat anak buah Joseph menderita karena kesakitan, Amel malah menembak mati semua bidikannya. Mereka yang mati di tangan Amel hanya merasakan sakit sesaat, tidak seperti ana buah Joseph yang ditembak oleh Nayla. Karena keberisikan yang terjadi dari pekikan kesakitan dari anak buah Joseph yang sangat banyak itu akhirnya membuat Endah dan Amel menghampiri Nayla. Keduanya ingin protes pada Nayla
"Nay, Lo mesum banget. Kenapa lo tembak benda pusaka mereka?" Protes Amel dan juga Endah ketika menghampiri Nayla yang kesenangan dengan jumlah korbannya lebih banyak dari pada Amel.
"Bukan mesum. Gue cuma nandain aja, biar Endah nggak salah hitung reward buat gue. Lagian kalau gue cuman tembak perutnya ataupun lengannya, dia masih bisa ngelawan dan bisa nembak kita di saat kita lengah, tapi kalau gue tembak bagian intinya itu, dia nggak bakalan bisa melawan lagi." Jawab Nayla dengan pemahamannya.
"Susahlah itu pake mikir dan bidik, Lo tahu gue malas mikir. Tembak ************ mah cepet gue."
"Hahaha waras loh!" Sindir Endah pada Nayla.
"Ya udah selesaiin gih! Kalau lo mau reward dari gue!" Perintah Endah pada Nayla.
"Oceh!" Jawab Nayla yang menyanggupi.
Nayla mulai mendekati anak buah Joseph yang hampir semuanya sudah jatuh tersungkur di lantai dengan gerakan yang sama-sama memegangi bagian inti mereka yang sudah berlumuran darah.
Tiba-tiba ada dua sosok pria yang mencuri perhatian Nayla. Ya. Dua sosok itu adalah Jali dan Pendi yang sama-sama sedang mengerang kesakitan. Ayla pun lebih dahulu mendekati mereka.
"Hai, bang. Ehemm... Ketemu lagi kita. Masih ingatkan sama Eneng, Bang uhummm..." Sapa Nayla dengan gaya lenjeh nan menggoda. Apalagi dengan celana pendek yang ia kenakan saat ini. Tak jauh seperti sebuah celana dal4m. Tak hanya Jimmy, Bowo dan anak buah mereka diluar yang sulit menelan salivanya melihat keseksian Nayla, tapi juga Septian dan Borni, laki-laki normal yang setiap harinya berdandan seperti wanita demi menjadi sekertaris para suami ke dua hot Mama ini, yaitu Jessica dan juga Nayla.
__ADS_1
"Kayanya Abang lupa sama Eneng. Eneng ini ibu hamil yang Abang culik waktu itu. Ibu hamil yang Abah rem3t-rem3t ininyah ahh... Saat lagi pingsan... Ahhh." Ucap Nayla yang mengingatkan keduanya dengan kejadian tempo hari di sebuah gudang kosong yang ada di pinggir pelabuhan dengan gaya seksualnya.
Tiba-tiba raut wajah Pendi dan Jali langsung bertambah pucat saat mengingat betapa beringas kedua wanita yang mereka culik.
"Ampun Neng, izinkan kami hidup Neng." Mohon Jali dengan tubuhnya yang sudah bergetar hebat.
Belum sempat Nayla menjawab, Bayu yang melihat istrinya tengah nungging sembari memegangi bagian dadanya di depan kedua penjahat itu, apalagi dengan celana yang mempertontonkan kemulusan paha hingga kaki jenjangnya itu pun berteriak memanggil nama istrinya.
"NAYLA PUTRI ATMAJA!!! JAGA BATASAN MU!!" Pekik Bayu yang segera melepaskan rompi anti pelurunya dan membuka baju yang ia kenakan. Ia menghampiri istrinya yang terperangah melihat kedatangan suaminya.
"Ndah, gue dalam masalah." Cicit Nayla yang sadar akan kesalahannya. Ia melirik Endah yang mengelengkan kepalanya berkali-kali sembari mengangkat kedua tangannya. Tanda jika ia tak ingin ikut campur dalam balada rumah tangga mereka.
Bersamaan dengan Bayu yang melangkah mendekati Nayla. Amel pun mengganti posisi Nayla, untuk menuntaskan tugas Nayla.
Bayu segera menutup bagian bokong Nayla dengan pakaiannya. Ia lebih baik tak pakai baju dari pada istrinya memamerkan bagian tubuh istrinya yang merupakan miliknya.
"Bersiaplah untuk menerima hukuman dari Papi, Mih!" Bisik Bayu dengan nada bicaranya yang menekan.
"Ampun Pih!" Cicit Nayla yang sudah tahu akan di buat ngangkang hingga pagi oleh Suaminya.
Nayla di tarik menjauh dari Jali dan juga Pendi. Dengan dibantu Leon dan Angel. Amel menyelesaikan tugas Nayla. Jika ditanya kemana Bowo. Dia sedang menghubungi tim sapu bersih untuk membawa mayat-mayat ini ke tengah laut.
Sedangkan Jimmy, ia sudah memeluk tubuh sang istri yang sudah membuatnya cemas setengah mati.
"Papa kira Mama tertembak." Ucap Jimmy saat memeluk tubuh Endah.
"Iya Mama memang tertembak, tapi berkat rompi anti peluru yang Mama gunakan di dalam pakaian, jadi peluru itu tak menembus tubuh Mama, Pah. Dan saat Joseph ingin menembak untuk kedua kalinya Nayla berhasil melumpuhkan Joseph. Ternyata Nayla seorang penembak jitu Pah." Terang Endah pada suaminya.
Mendengar keterangan Endah, Jimmy merasa berhutang nyawa dengan calon besannya yang kini sedang ketakutan dengan kemarahan suaminya.
__ADS_1