
Nayla dengan cueknya, masih menggunakan pakaian rumah sakit dan selang infus yang masih terpasang sempurna di tangan kanannya, dengan seorang Bodyguard yang setia menjadi tiang infusnya. Nayla menyantap dengan lahap bakso yang menjadi langganannya.
"Doyan apa lapar lo Nay?" Tanya Endah saat Nayla sudah selesai menyantap mangkuk bakso keduanya.
"Dua-duanya, tambah satu lagi Ndah, masih muat nih perut gue." Jawab Nayla yang kembali memerintah Endah memesan semangkuk bakso untuknya.
"Ok tunggu di sini, jangan kemana-mana." Endah segera beranjak dari kursi duduknya dan memesan semangkuk bakso untuk Nayla.
Sambil menunggu pesanan baksonya. Nayla melirik bodyguard yang sangat setia memegangi botol cairan infusannya.
"Kesetiaanmu perlu diberikan apresiasi ya Boy." Ucap Nayla yang mengedipkan mata genitnya pada bodyguard itu.
"Ekhmm, saya masih mau hidup Nyonya," ucap Bodyguard itu saat mendapatkan kedipan mata genit dari Nayla.
"Hahaha...." Tawa Nayla menyahuti ucapan sang bodyguard.
Usai puas memakan bakso langganannya, Nayla dan Endah tidak menepati janjinya untuk kembali ke rumah sakit, tapi pulang ke kediaman Endah.
Sesampainya di kediaman Endah, Nayla langsung saja menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah. Dua orang asisten rumah tangga ditugaskan oleh Endah untuk menjaga Nayla di dalam kamarnya.
Tentunya kedua asisten rumah tangga itu bukan untuk menjaga keselamatan Nayla, tapi untuk menjaga cairan infusannya agar tetap mengalir dengan baik.
Perut yang kenyang setelah tiga mangkuk bakso tandas, seluruhnya masuk ke dalam perut. Nayla kembali melakukan hibernasi. Kali ini ia bisa istirahat dengan tenang.
Tepat pukul 20.00, Bayu datang ke Mansion Endah dan Jimmy, untuk menjemput istri nakalnya yang kabur dari rumah sakit.
Tentunya kedatangannya ini tidak seorang diri Ia membawa turut serta Riska dan juga seorang dokter.
"Dimana istriku?" Tanya Bayu dengan wajah juteknya kepada Endah.
"Di kamar sedang tidur. Dia butuh tempat yang aman tanpa gangguan untuk beristirahat." Jawab Endah dengan wajah datarnya.
"Sudah jam segini masih tidur?" Tanya Bayu yang tak percaya istrinya masih tidur. Ia menarik sebelah alisnya.
Saat ini Bayu pikir ini hanya sebuah jawaban akal-akalan Endah. Agar tidak dimarahi oleh Bayu.
__ADS_1
"Hai, Bay. Sini masuk! Duduk ngopilah bersama ku." Ajak Jimmy pada Bayu yang setia berdiri di depan istrinya, sedangkan seorang Dokter bernama Shanaz dan Riska sedang duduk manis di sofa ruang tamu.
"Aku datang ke sini dengan ibu mertua ku. Aku ingin menjemput istriku, Jim." Sahut Bayu pada ajakan Jimmy.
"Dia masih tidur, pulas sekali. Tadi mau dibangunkan untuk makan saja, dia menolak dan masih kenyang." Tambah Jimmy yang langsung membuat Bayu melirik tajam pada Endah.
"Berapa mangkuk bakso yang dia makan, Ndah?"
"Cuma tiga mangkuk." Jawab Endah santai.
Bayu menepuk jidatnya, ia sudah paham betul dengan kelakuan istrinya, jika ingin melakukan hibernasi, istrinya ini akan makan banyak dan ini ia lakukan saat ia sedang datang bulan.
"Dimana kamarnya? Tanya Bayu lagi.
Endah menjawab dengan menunjuk sebuah kamar tamu yang ada di tengah-tengah ruangan.
Bayu segera melangkahkan kaki menuju kamar yang ditunjukkan Endah. Ia masuk ke dalam kamar tersebut dan mendapati istrinya benar-benar masih tertidur.
Ia langsung mematikan aliran cairan infus di tangan istrinya dan segera menggendong istrinya.
Di Mansion Nayu dan Nayla.
Nayla langsung di baringkan di ranjang tidur mereka. Seorang Dokter yang memang menangani Nayla di rumah sakit langsung saja melakukan pemeriksaan pada lukanya.
"Luka Nyonya Nayla sudah cukup bagus ya Tuan Bayu. Setelah kantung cairan infus ini habis. Selang infusnya bisa di lepas. Saya akan menunggu beberapa saat di sini sembari menunggu cairan infusannya habis. " Ucap Dokter Shanaz oada Bayu.
Bayu manggut-manggut mengiyakan apa yang dikatakan Dokter Shanaz. Namun tanpa di duga Sang Mommy datang dan langsung nimbrung.
"Biar saya yang lepas saja nanti, dahulu saya pernah menjadi tim medis. Kalau hanya melepas jarum infus, saya masih bisa dan tak perlu Dokter repot-repot menunggu menantu saya dan anak saya di sini." Ucap Ratna dengan wajah tak sukanya terhadap dokter Shanaz.
Ratna langsung ikut berbaring bersama menantu satu-satunya itu dan meminta Dokter Shanaz segera pergi melalui sorot matanya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu Tuan Bayu. Hubungi saya jika Anda memerlukan bantuan." Pamit dokter Shanaz yang tak enak hati dengan tatapan tak suka Ratna padanya.
Dan sewaktu Bayu ingin mengantarkan dokter Shanaz keluar, tiba-tiba Ratna memanggil, meminta Bayu segera menggantikan pakaian istrinya.
__ADS_1
Bayu pun akhirnya tak jadi menemani Dokter Shanaz untuk keluar dari mansion.
Dokter Shanaz sedikit kecewa, tak dapat diantar oleh Bayu walau hanya sampai ke depan pintu kediaman mewah keluarga pasiennya itu.
"Mommy kenapa sih, kaya gak suka sama Dokter Shanaz?" Tanya Bayu saat mengantikan pakain Nayla.
"Kalau Nayla gak tidur ngebo kaya gini, pasti dia juga gak bakalan suka sama Dokter itu. Pantas saja perawatan menantu Mommy dilama-lamain dan sampai mau di bunuh hari ini, pasti ada hubungannya sama dia. Kamu tuh jadi laki-laki ya peka sedikit dong, kalau ada perempuan yang tertarik dan mengharapkan lebih sama kamu Bay."
"Terus kalau aku peka, dia harus aku ladenin gitu Mom?" Tanya Bayu yang hampir selesai menggantikan pakaian istrinya.
"Eh pertanyaan kamu itu. Jangan macam-macam kamu ya Bay!" Protes Ratna pada putranya.
"Nay bangun! Suami kamu niat mau selingkuh nih!" Ucap Ratna membangunkan Nayla sembari memukul pinggul sang menantu.
Sudah menjadi kebiasaan Ratna memukul pinggul menantunya yang kerap kali ngeyel dan sukit dinasehati.
"Aduh Mommy sakit," pekik Nayla sembari mengusap pinggulnya yang sakit dipukul Mommy mertuanya ini.
Nayla bangun dan menampakkan matanya yang memerah.
"Mommy kok ada di sini sih? Nay kan lagi tidur di------," ucapan Nayla terhenti ketika sadaae sudah berada di kamarnya, dimana foto pernikahannya terpajanh di dinding kamarnya.
"Lagi tidur dimana hum? Senang sekali tidur di rumah orang rupanya kamu humm? Takut ya tidur kamu Mommy dan Bunda mu ganggu." Tanya Ratna yang sudah siap mencubit paha menantunya.
"Mommy jangan siksa Nay, Mom. Ampun!" Nayla mencoba menahan tangan Ratna yang siap menyapit dirinya.
"Cubit aja Mom! Emang menantunya Mommy ini nakal banget!" Bayu terus mengompori sang Mommy untuk mencubit istrinya.
Bukannya Ratna jadi mencubit menantunya. Kini Bayu malah mendapatkan lirikan tajam dari Ratna dam juga Nayla.
"Kamu tahu tidak Nay? Kenapa Mommy bangunin kamu?"
"Nggak tahu kan Mommy belum cerita." Sahut Nayla cepat, seperti biasanya dia selalu memasang wajah bodohnya, bukan bodoh sesungguhnya tapi pura-pura bodoh.
Ratna memutar bola matanya malas lalu, menceritakan apa yang ia lihat tentang Dokter Shanaz. Bayu mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sudah harus bersiap menerimanya amukan sang istri.
__ADS_1