
Brukk! [Suara Jimmy terjatuh].
"Aduh!" rintih Jimmy yang mengaduh kesakitan. Ia menatap tajam dua pria yang kompak mendorong tubuhnya. Sementara itu yang lainnya hanya terdiam dan terperangah melihat kejadiaan ini.
"Hai Leon, Bayu. Apa-apaan kalian? Sakit tahu." Tanya Jimmy sembari memegangi jidatnya yang menyium lantai.
"Kamu yang apa-apaan, lihat jidat kami akibat perbuatan kamu, kening kami sampai benjol seperti ini. Dasar adik ipar gak ada akhlak!" jawab Leon sembari menunjukkan keningnya dan kening Bayu yang benjol dan memar.
"Memangnya aku ngapain, aku gak ngapa-ngapain?" tanya Jimmy yang sudah berdiri berhadapan dengan keduanya. Ia masih tak menyadari kesalahannya.
"Ngapain? Hai Mister Mafia, kamu bikin surat izin mengemudi dimana? Dikelurahan atau kecamatan hah? Sebenarnya kau itu bisa bawa mobil tidak?" tanya Bayu yang membrondong pertanyaan pada Jimmy. Kali ini Bayu berani melawan Jimmy karena ia bersekutu dengan Leon, kakak ipar Jimmy yang Jimmy takuti.
"Hei Bayu, kenapa pertanyaan mu menyudutkan aku hah? Tentu saja aku mendapatkan surat izin mengemudi di kantor polisi. Memangnya kalian kenapa sih? To the poin saja lah?"
"Kau turun dari mobil tanpa menarik tuas rem tangan, meninggalkan kami dan membiarkan kami di dalam yang masih menggunakan sabuk pengaman karena kamu bawa mobil ugal-ugalan tadi, mobil mu itu menabrak pagar rumah sakit dan membuat kepala kami jadi seperti ini." Jelas Leon yang malah membuat mereka menahan tawa begitu pula dengan Jimmy.
"Eh... haha... oh, itu... Mmm..itu semua karena Andre, salahkan saja dia, dia yang membuat aku jadi ikut tergesa-gesa dan membuat kalian seperti ini." ucap Jimmy yang kembali menyalahkan Andre.
"Teruslah menyalahkan aku terus.. Mommy kenapa Daddy selalu mereka salahkan?" ucap Andre yang akhirnya malah bermanja-manja di perut Jessica tanpa melihat tempat.
"Daddy. Geli jangan ngusel di sini. Banyak orang, malu." Jessica menampilkan senyum keterpaksaannya karena ulah manja suaminya.
Fabian dan Clara yang berada di tengah-tengah mereka hanya menjadi pendengar dan penonton keharmonisan keluarga mereka. Tak lama kemudian Dokter Nisa datang dengan nafas yang terengah-engah.
"Maaf telah membuat Tuan dan Nyonya lama menunggu," ucap Dokter Nisa sembari merundukkan tubuhnya.
"Jangan diulangi lagi, atau saya akan beri surat pemecatan untuk Anda!" cetus Jimmy yang membuat Dokter Nisa sulit menelan salivanya dan merasa sesak di dada.
__ADS_1
Jimmy terlampau tegas sedang Andre terlampau santai, seakan tak perduli. Ia hanya perduli jika menyangkut Jessica.
"Baik Tuan Jimmy," ucap Dokter Nisa yang masih merundukkan pandangannya.
"Jadi siapa dulu yang mau di periksa kali ini?" tanya Dokter Nisa yang langsung dijawab kembali dengan cepat oleh Jimmy.
"Biarkan dia dulu," jawab Jimmy sembari menunjuk ke arah Clara.
"Baik Tuan," sahut Dokter Nisa yang kemudian mempersilahkan Fabian dan Clara untuk masuk ke ruangannya bersama dirinya.
Bayu duduk di samping istrinya, ia menunjukkan keningnya yang benjol karena perbuatan Jimmy, begitu pula dengan Jimmy dan Leon. Mereka mengadu pada istri mereka tentang rasa sakit yang kini mereka rasakan.
Nayla mencium kening suaminya yang benjol dan memar itu dengan penuh cinta.
"Muachh...dah sembuh, pusing gak Pih, hum?" tanya Nayla dengan penuh rasa perhatian.
"Bisa ae Papi, kalau pusing gak ada jatah menjatah ya, harus minum obat dan tidur." ucap Nayla yang membuat Bayu seketika lemas.
Tak berapa lama Clara dan Fabian keluar dengan senyum sumringah. Keduanya nampak bahagia telah mengetahui perkembangan cabang bayi yang berada di dalam kandungan Clara. Fabian nampa telah berubah, ia tak lagi egosi memikirkan perasaan dan dirinya sendiri. Kehilanga istri dan ketiga anaknya sekaligus membuatnya sangat menghargai kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padanya. Meski pun hatinya masih menaruh hati pada Jessica.
Setelah Fabian dan Clara pergi, Jessica, Endah dan Andre masuk ke dalam ruang periksa. Melihat Endah ikut masuk Nayla menatap penuh tanya pada Anna yang duduk tak jauh darinya.
"Jangan aneh Nay! Dimana ada Jessica di situ pasti ada Endah, mereka sulit dipisahkan. Endah selalu ingin menjaga Jessica, adiknya. Begitu pula dengan Jessica yang tak mau jauh dari Endah, Kakaknya. Jadi besok tinggal kita berdua di perumahan." terang Anna yang mengerti tatapan penuh tanya Nayla.
"Ooohhh... jadi nanti giliran Endah yang diperiksa, Kak Andre yang keluar dong?"
"Iya kurang lebih begitu, Nay."
__ADS_1
" Terus kalau Lo gimana Ann? Pas Lo yang periksa mereka ikut ga?"
"Ikut. Pas gue periksa mereka akan heboh dan suami gue berubah jadi Lion bukan Leon hahaha.." jawab Anna yang seketika mendapat lirikan tajam dari suaminya.
"Kondisikan mulut mu itu, kalau tak mau dihukum." ucap Leon yang masih milirik tajam Anna yang duduk disampingnya.
"Aku selalu suka hukuman mu itu Mas," balas Anna yang malah di rangkul Leon kedalam pelukkannya.
"Ahh...aahhh so sweetnya kalian." celoteh Nayla yang melihat sikap manis Leon pada Anna. Pasalnya sedingin-dinginnya Jimmy dan Bayu suaminya, masih lebih dingin sikap Leon.
Dua jam kemudian mereka telah selesai dengan acara pemeriksaan kehamilan mereka bersama. Mereka tak lagi pulang bersama seperti kedatangan mereka ke rumah sakit. Karena hari ini Jessica dan Endah beserta para suami mereka segera bertolak ke kota D dengan menggunakan jalur darat.
Sebuah mobil RV telah terparkir di lobby rumah sakit. Bowo dan Angela telah siap untuk mengantarkan kedua cucu Abraham Adijaya ke kota D. Suasana haru biru terjadi ketika Sultan menangis di tinggal oleh Jessica dan Endah.
"Mommy dan Bunda gak akan lama-lama kan ninggalin Sultan. Cuma untuk melahirkan Prince dan Princess." Ucap Sultan yang tak mau melepaskan pelukkannya pada Jessica.
"Tentu sayang, kamu akan datangkan saat Mommy lahirkan Prince dan Pricess nanti?" tanya Jessica yang terus mengusap kepala plontos Sultan.
"Tentu Mommy, Sultan akan datang." jawab Sultan yang masih terisak.
"Ya sudah, kalau begitu Mommy tunggu kamu di sana ya. Ingat Mommy tidak suka pria yang tidak setia."
"Iya Mommy, Sultan akan selalu setia dengan Princess dari sekarang." jawab Sultan yang masih saja terisak.
Sikap hangat Jessica pada anak-anak membuatnya sangat mudah dicintai dan disayangi oleh Sultan. Anehnya Nayla tak merasa cemburu dengan kasih sayang yang diberkan Jessica pada Sultan, malah ia terlihat bahagia. Karena apa? Karena dia berhasil mendapatkan besan terbaik, tanpa perlu cari-cari ataupun melakukan sayembara.
Ya, Nayla memang Nayla. Selain banyak maunya dia akan tetap menjadi emak-emak yang matre. Melihat sesuatu selain dari hati juga dari isi dompetnya.
__ADS_1