Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 171


__ADS_3

"Dasar wanita mesum. Lihat saja semua korbannya, ditembak tepat dibagian Junior mereka. Tak dapat dibayangkan rasa sakitnya seperti apa." Oceh Leon saat mengeksekusi korban-korban Nayla.


Sedangkan Angel Baru kali ini dia mengeksekusi sambil tertawa terbahak-bahak, karena mendapati sesuatu yang tak pernah Ia lihat sebelumnya selama ia menjadi seorang anggota mafia.


Biasanya seorang penembak jitu ataupun pembunuh bayaran akan langsung menembak bagian dada sebelah kiri targetnya, tapi Nayla tidak. Dia malah menembak seluruh targetnya tepat di bagian Juniornya.


Usai menghabisi seluruh anak buah Joseph, kini giliran Endah dan juga Amel mendekati Tuan Yudha dan juga Nyonya Sari. Sedangkan Amel dan Bowo segera membawa Hendra ke rumah sakit sentral Kusuma untuk segera mendapatkan pertolongan.


"Kau ingin sekali melihat calon suamiku mati, padahal di sini yang pantas untuk mati adalah suami Anda nyonya Sari." Ucap Amel dengan nada penuh emosi.


"Kau ini wanita pelakor. Setelah Hendra mati di tanganku, selanjutnya kau yang akan kubunuh."balas Nyonya Sari berapi-api pada Amel.


"Benarkah? Apa kau punya keberanian untuk membunuhku? Melihat pembantaian ini saja kau sudah terkencing-kencing nyonya." Sahut Amel yang melihat dengan jelas bagian bawah Nyonya Sari sudah basah karena air seninya.


"Cepat habisi mereka berdua jangan buang-buang waktu, Mel!" Perintah Endah sembari menepuk bahu Amel.


Kembali Nyonya Sari merasa ketakutan dan akhirnya ia terkencing-kencing kembali.


"Kalian sangat ingin membunuh calon suamiku yang berhati baik dan mulia pada kalian, jika saja bukan karena dia mungkin saat ini kalian berdua sudah mendekam dan membusuk di penjara. Apa kalian pikir aku tidak tahu bagaimana kalian menekan Neil atas kematian Putri kalian? Neil itu adalah sepupuku, ia dekat denganku. Aku sudah membaca semua pesan kalian yang mendorongnya melakukan bunuh diri karena tak kuat dengan tekanan yang kalian berikan dan ancaman yang begitu mengerikan untuk sepupuku. Entah terbuat dari apa hati kalian hingga tega berlaku demikian pada dua pria yang terpenting di dalam hidupku." Ucap Amel panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Ia kembali membuka luka hatinya atas kehilangan saudara sepupu yang selalu ada untuk dirinya, ketika kedua orang tuanya sibuk dengan urusan dunia.


"Jika dulu aku bisa memaafkan kalian karena mas Hendra, tapi tidak dengan sekarang. Aku tidak bisa memaafkan kalian, karena sudah membuat calon suamiku terluka dan tak sadarkan diri, entah dia bisa selamat atau tidak nantinya. Tapi yang pasti hari ini adalah hari terakhir kalian melihat indahnya dunia." Ucap Amel, yang segera menodongkan pistol tepat di dada kiri Nyonya Sari. Nyonya Sari tak dapat lagi menghindari kebengisan Amel karena tubuhnya tercekal oleh Borni.


" DADDY!!! TOLONG MOMMY!!" Pekik Nyonya Sari penuh dengan rasa ketakutan, tubuhnya bergetar hebat rasanya ia ingin pingsan, sebelum ia jatuh pingsan Amel segera melepaskan tembakan tepat di bagian dada kiri Nyonya Sari.


Dor dor dor...!


Tiga tembakan dimuntahkan dari senjata api yang ada di tangan Amel. Nyonya Sari jatuh tersungkur di lantai setelah Borni melepaskan tubuhnya yang tak lagi bernafas.


Tuan Yudha merasa syok melihat istrinya telah tiada di depan mata kepalanya sendiri.


Amel berjalan perlahan menghampiri Tuan Yudha, yang sadar akan malaikat kematian sebentar lagi menjemput dirinya.


"Tak perlu aku menjawab pertanyaanmu. Tentunya kau sudah tahu apa yang sedang aku rasakan. Kau belum pernah menjadi orang tua sepertiku. Aku sangat mencintai putriku dan selalu ingin putriku bahagia. Semua yang aku lakukan demi kebahagiaan putriku."


"Ya kau memang ingin putrimu bahagia dan membiarkan orang lain menderita di atas kebahagiaan putrimu. Istrimu mengatakan jika aku adalah pelakor, padahal di sini yang menjadi pelakor adalah putrimu, dan penyebab yang menjadikan Putri mu menjadi pelakor adalah dirimu sendiri. Karena kau, aku pernah merasa berada di titik terendah di dalam hidupku. Dicampakkan oleh orang yang aku cintai, karena orang yang aku cintai memilih menikahi putrimu karena paksaan dari dirimu. Sungguh beruntung menjadi putrimu karena memiliki seorang Daddy yang sangat peduli tentang kebahagiaan putrinya, tidak seperti diriku yang harus mencari sendiri kebahagiaannya, yang malah direnggut paksa oleh dirimu! Dan kau sekarang mau menghancurkan kebahagiaanku lagi? Tak akan kubiarkan!" Ucap Amel yang kemudian dengan emosi menodongkan kembali senjata apinya tepat di dada sebelah kiri tuan Yudha.


"Tembaklah aku! Jangan kau ragu-ragu untuk menembakku!" Sahut Tuan Yudha yang menatap lekang menik mata Amel yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Tuan Yudha memahami isi hati Amel saat ini, penderitaan Amel bukanlah sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh orang banyak. Bagaimana watak kedua orang tua Amel sudah menjadi pembicaraan orang banyak, di mana mereka mengabaikan Putri tunggal mereka hanya demi mengejar harta, kekuasaan dan kekayaan dunia.


"Aku takkan pernah ragu menembakmu, Tuan Yudha. Tolong sampaikan pada putrimu, jika aku tidak pernah merebut mas Hendra dari dirinya tapi dirinyalah yang telah merebut mas Hendra dariku." Ucap Amel yang kemudian menekan pelatuk dari senjata api yang ada di tangannya.


Dor dor dor


Kembali Amel melepaskan tiga tembakan tepat di dada kiri Tuan Yudha. Tubuh Tuhan Yudha jatuh tersungkur bersimbah darah ketika Septian melepaskan tubuh tua itu.


"Bereskan semuanya ini!" Perintah Jimmy pada seluruh anak buahnya yang sudah memenuhi ruangan markas Joseph yang penuh dengan genangan darah segar.


"Sudah selesai kita harus cepat kembali ke mention, untuk membersihkan diri kemudian ke rumah sakit untuk melihat keadaan Hendra." ucap Andre pada Amel.


Sungguh tak hanya Andre, tapi semua orang yang ada di ruangan tersebut mendengar percakapan antara Amel dan juga tuan Yudha merasa ikut sedih dengan penderitaan yang Amel rasakan kala itu. Pantas saja jika kepribadian dan karakter Amel begitu keras tegas dan bringas seperti ini. Karena faktor lingkungan dan keadaan mempengaruhi karakteristik hidup seseorang.


Beberapa Mobil truk pembersih pun datang, satu persatu mayat yang ada di dalam markas Joseph diangkut oleh anak buah Jimmy. Jika kalian bertanya di mana sekarang Nayla dan juga Bayu tentunya Bayu sudah membawa Nayla pulang ke mansion mereka.


Di dalam perjalanan Bayu terus saja menceramahi istrinya tiada titik tiada, dan tiada henti hingga mereka sampai di mension.


"Mami pikir, kalian bertiga itu Charles Angel hah? Gaya-gayaan ikut misi penyelamatan. Mami itu sadar diri dong mami itu udah punya anak tugas mami itu di rumah ngurusin anak apalagi. Suruh ngelanjutin kuliah nggak mau tapi gaya-gayaan bertingkah kayak preman." Oceh Bayu yang terus mengomel.

__ADS_1


Tak hanya telinga Nayla yang sakit tapi juga anak buah Jimmy yang mengantar keduanya merasakan sakit di gendang telinganya karena omelan Bayu yang tiada henti dengan suara yang begitu keras, seperti seorang dosen yang tengah mengajar di dalam kelas.


__ADS_2