
Tidak ada pernikahan yang berjalan datar begitu saja, pasti akan ada gelombang ombak yang datang tanpa diundang. Pastinya semua orang menginginkan rumah tangga yang tenang tanpa ujian. Seperti pernikahan Anna dan juga Leon. Mereka berharap tak akan ada badai yang menerpa keluarga mereka namun sayang. Cobaan rumah tangga mereka datang bersamaan dengan wanita di masa lalu Leon. Yang kembali hadir di antara mereka.
Zahra Patricia bekerja di bagian marketing perusahaan Adi jaya group. Dia sudah bekerja di sini selama 4 tahun dan proposal yang ia selesaikan selalu menarik minat para klien. Dan satu tahun belakangan ini ia berhutang sebesar 200 juta pada perusahaan dan baru dibayar setengahnya. Hutangnya dia bayar dengan sebagian gaji dan bonusnya.
Ya, Zahra Patricia. Wanita di masa lalu Leon saat mereka masih duduk di bangku SMA. Seorang gadis cantik, berkepribadian menarik penuh dengan kesederhanaan. Dahulu pernah memikat hati Leon.
Hubungan mereka menggantung begitu saja, setelah mereka lulus dari SMA. Zahra Patricia menghilang tanpa jejak dan kabar. Leon sudah berusaha mencari keberadaan Zahra Patricia saat itu, namun Zahra tak dapat ditemukan. Zahra tidak sama sekali memberikan kabar jika dirinya telah pindah rumah. Zahra hilang seperti ditelan bumi.
Saat ini Zahra telah kembali. Kembali di hadapan Leon. Zahra mengetahui betul jika dirinya bekerja di perusahaan milik pria yang sangat ia cintai dahulu dan hingga saat ini. Namun Zahra sadar diri, jika Leon sekarang sudah beristri. Dia tak pernah muncul di hadapan Leon, meski mereka berada di dalam satu gedung yang sama. Tuhan juga begitu baik tidak pernah mempertemukan mereka.
Namun kali ini takdir berkata lain, Ferdi asisten Leon, mempromosikan dirinya kehadapan Leon. Membuat ia mau tak mau bertemu dengan pria yang selama ini ia hindari.
"Kau tidak salah menyebutkan nama Ferdi?" Tanya Leon ketika Ferdi menyebut nama Zahra Patricia di hadapannya.
"Tidak tuan muda, staff marketing yang selama ini membantu Anda adalah Zahra Patricia. Saya baca dari arsipnya, dia satu SMA dengan Anda. Mungkin Anda tidak asing dengan namanya bukan?"
"Ya aku tidak asing dengan namanya. Jadi dia yang selalu membantuku memenangkan tender karena gagasannya yang berkualitas itu?" Ujar Leon seraya meletakkan tangannya di atas meja kerjanya.
"Benar, gagasannya memang banyak membantu Anda selama ini Tuan Leon." Jawab Ferdi.
"Baiklah akan aku pikirkan kembali gagasanmu tentang promosi yang ingin kau tawarkan padanya." Jawab Leon yang kemudian terdiam dan merenung.
Ferdi yang sudah tahu akan sifat Tuan mudanya itu segera pergi dari ruangan kerja Leon. Ia kembali meneruskan pekerjaannya di ruangannya sendiri.
__ADS_1
Sementara Leon hanya menghabiskan waktu untuk melamun. Hatinya gundah ketikan nama Zahra Patricia terdengar kembali di telinganya.
"Kaukah itu Zahra? Kenapa kau kembali di hidup ku? Kenapa kau harus hadir di tengah kehidupanku yang sudah bahagia ini?Takdir macam apa ini Tuhan? Apakah kedatangan mu akan menghancurkan kehidupanku yang telah bahagia ini? Kau masih bertahta di hatiku, walau rasa cintaku padamu sudah pudar, namun masih ada sedikit tersisa rasa di hati ini. Aku takut ketika kita akan sering bertemu, rasa yang sedikit ini akan tumbuh kembali dan aku akan menghianati istriku jika sampai ini terjadi." Gumam Leon dalam lamunannya.
Waktu jam pulang kantor pun telah tiba.
"Zahra ayo kita pulang!" Ajak Mona kepada Zahra yang masih seperti biasa berkutat dengan komputer dan berkas-berkas yang diberikan manajernya tadi siang padanya.
"Sepertinya aku lembur Mona,"ujar Zahra pada Mona sembari menunjukkan berkas-berkas yang masih bertumpuk di atas meja kerjanya.
"Tapi ini sudah pukul 07.00 malam Zahra, kau harus pulang dan beristirahat. Kok bisa lanjutkan besok. Aku sudah cukup lelah dan tak bisa menunggumu lagi." Pinta Mona pada Zahra.
Sebenarnya Mona tidak ada lembur hari ini, namun Mona sahabat baik Zahra sengaja lembur tidak jelas hanya untuk menemani Zahra menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Burhan manajer marketing mereka.
"Maafkan aku Mona terima kasih kamu sudah menungguku, tapi pekerjaanku belum selesai. Aku janji tidak akan pulang larut malam, satu jam lagi aku akan pulang." Ucap cara meyakinkan sahabatnya.
Satu jam pun berlalu, Zahra telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Pak Burhan manajer marketingnya. Suasana kantor cukup sepi meski masih ada beberapa kaleng juga memilih untuk lembur seperti dirinya.
Saat ia ingin masuk ke dalam lift, tiba-tiba lift khusus karyawan yang biasa ia gunakan itu tidak bisa digunakan seperti biasanya. Karena hari sudah larut, dan Zahra pikir tidak ada petinggi perusahaan yang masih ada di perusahaannya ini.
Sehingga dengan lancangnya dia menaiki lift khusus petinggi perusahaan. Tanpa rasa gugup cara menekan tombol lift yang biasanya hanya di gunakan oleh petinggi perusahaan, termasuk Leon sebagai pemilik dan pemimpin perusahaan Adijaya group.
Ting! [Pintu lift terbuka]
__ADS_1
Betapa terkejutnya Leon dan juga Zahra ketika manik mata mereka saling bertemu satu sama lain.
"Zahra!" Cicit Leon memanggil nama Zahra dengan suara yang begitu pelan hampir nyaris tak terdengar. Begitu pula dengan Zahra iya memanggil nama Leon. Zahra mundurkan beberapa langkah kakinya dari pintu lift.
Zahra tak menyangka pilihannya untuk lembur malam ini membuatnya harus bertemu dengan cinta lamanya.
"Kau ingin pulang? Masuklah!"ucap Leon yang meminta Zahra untuk tetap masuk ke dalam lift yang hanya ada dia seorang diri.
Zahra ragu untuk memasuki lift bersama dengan Leon, namun ketika ia melihat jam pada tangannya sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Cara pun mau tak mau memasuki lift tersebut.
Deg!!
Detak jantung Zahra berdetak tak menentu saat ia berdiri bersama dengan pria yang belum pernah mengatakan jika hubungan mereka telah berakhir.
"Bagaimana kabarmu sekarang Zahra?" Tanya Leon yang berdiri di depan Zahra tanpa melihat ataupun melirik Zahra yang berdiri di tepat belakangnya.
"Aku baik-baik saja, Tuan Leon." Jawab Zahra singkat.
"Baguslah jika kabarmu baik-baik saja. Aku sudah menikah dan sudah memiliki dua orang putra kembar, pernikahanku dan istriku sangat bahagia. Istriku adalah sahabat adikku. Aku sengaja mengatakan ini padamu, agar kau tahu betapa bahagianya aku saat ini. Aku juga ingin mengatakan yang belum sempat aku katakan padamu. Zahra Patricia, mulai hari ini kau dan aku tidak ada hubungan apapun. Lupakan semua masa lalu yang pernah kita lalui. Anggaplah kita tak pernah mengenal satu sama lain." Dengan kata-kata yang menusuk hati relung jiwa Zahra Patricia. Seorang wanita yang dalam kesakitan yang masih menyimpan rasa pada dirinya.
Ting!
Pintu lift pun kembali terbuka, mereka telah sampai di lantai dasar. Leon segera meninggalkan Zahra yang masih berdiri terpaku di dalam lift. Zahra tengah merasakan kehancuran hati yang sedemikian dalam dari kata-kata Leon yang ia dengar.
__ADS_1
Ia tak merasa sakit hati ketika melihat Leon bersanding dengan Anna, Putri seorang pengusaha ternama. Ia tak sakit hati ketika melihat Leon dari kejauhan sangat berbahagia dengan keluarga kecilnya. Bahkan ia merasa turut bahagia melihat kebahagiaan pria yang sangat ia cintai. Namun kali ini ia tak bisa menahan rasa sakit hatinya, ketika Leon mengatakan apa yang tak ingin ia dengar selama ini.
"Akhirnya dia mengatakan apa yang harus dia katakan beberapa tahun yang lalu. Tindakannya sungguh benar, nggak rasa sakit ini sungguh salah. Tuhan maafkan aku, yang terlalu mencintainya." Ucap Zahra dengan liriknya sembari beritikan air mata yang jatuh membasahi pipi.