
Setelah melalui ujian yang sangat berat, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Hendra dan Amel pun tiba.
Hari ini adalah hari pernikahan Hendra dan juga Amel. Banyaknya tamu undangan yang datang membuat acara pernikahan Hendra dan Amel semakin meriah.
Suasana begitu haru biru tatkala Amel menitikan air matanya, ia tak menyangka seakan sedang bermimpi akhirnya, ia telah sah, resmi menjadi Nyonya Hendrawan. Tak hanya Amel yang menitikan air mata begitupun dengan Nayla.
Nayla adalah saksi perjalanan hidup Amel yang tak mudah. Selalu merasa sendiri, kesepian, terabaikan, lelah tak berdaya, merasa bersalah atas keadaan itulah yang selalu Amel rasakan selama ini.
Nayla dan keluarga kecilnya kini berjalan menghampiri Amel yang berada di atas pelaminan bersama sang kakak tercinta.
"Mel, congrats ya, atas pernikahannya. Semoga pernikahan lo jadi pernikahan yang sakinah mawadah warohmah. Jadi keluarga yang harmonis sampai maut yang memisahkan," ucap Nayla sambil memegangi tangan Amel.
"Makasih Nay, udah doain gue. Semoga doa lu terijabah sama Allah ya." Sahut Amel dengan mata yang berkaca-kaca.
Tak ingin melihat sahabat yang kini sudah menjadi kakak iparnya bersedih. Nayla pun berusaha mencairkan suasana.
"Eh kalau jadi pengantin itu nggak boleh cengeng, Mel. Lo harus terlihat bahagia dan senyum terus, sampai para tamu balik kanan." Ucap Nayla sembari mencontohkan senyum yang harus Amel berikan pada tamu undangan.
Senyum cengir kuda yang Nayla contohkan, malah membuat Nayla mendapatkan hadiah jutaan dari sang suami yang tengah menggendong Bianca.
Plakk!!
"Aduhh,, sakit Papi..."
"Mami jangan bikin malu, ayo turun!" Ajak Bayu pada Nayla.
"Ntar dulu, foto dulu. Mumpung anak-anak masih kelihatan rapi."tolak Nayla dengan alasannya.
Mereka pun akhirnya berswafoto bersama, usai bersua foto Nayla membisikan sesuatu yang membuat Amel langsung memberikan pukulan yang tak main-main di lengan adik iparnya itu.
"Mel kalau Jessica, Anna dan Endah punya dua bayi kembar, itu udah biasakan?" Tanya Nayla dan Amel mengangguk.
"Nah gue harap lo bisa kasih gue setengah lusin keponakan kembar yang unyu-unyu ya, cukup sekali cetak aja, biar seru gitu." Bisik Nayla yang kemudian tertawa terbahak-bahak. Hingga dirinya menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
Amel refleks pun memberikannoukulan tak main-main pada Nayla hingga Nayla menjerit kesakitan dan lagi-lagi menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
"Lo kira gua kucing, lo aja bikin sendiri sana! Nggak kebayang hamil segede apa," ucap Amel sembari mencubit lengan sahabatnya yang sudah menjadi adik iparnya ini.
"Amel Nayla udah dong malu!"cicit Hendra yang tersenyum kaku pada semua tamu undangan yang sedang memperhatikan tingkah laku Amil dan juga Nayla.
Jangan tanya di mana Bayu saat ini, tentunya dari pada menanggung malu, dia sudah turun terlebih dahulu bersama kedua anaknya.
__ADS_1
"Lo dalam masalah besar Nay, noh lihat laki lo udah pergi sama anak-anak lo." Ucap Amel sambil menunjukkan pada Nayla di mana Bayu sekarang berada.
Melihat suaminya pergi meninggalkan acara, Nayla pun segera turun dari pelaminan, ia menyusul langkah sang suami yang sudah jauh berada di depannya.
"Bayu ngambek bro." Ucap Leon kepada kedua adik iparnya.
"Nailul emang paling-paling kalau buat malu suaminya." Sahut Andre yang menggelengkan kepalanya.
"Istri langka, harus segara dimusiumkan," tambah Jimmy yang membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak.
Mendengar suara tawa yang dikenali oleh Jessica Endah dan juga Anna. Mereka segera mencari asal suara tawa itu. Ketika ketiganya menemukan para suami Mereka senang asyik tertawa, ketiganya pun mengeluarkan taringnya.
"Bagus ya senang-senang di sini, gak tau kalau istrinya repot jagain anak-anaknya." Ucap Anna sembari berkacak pinggang.
Ia mewakili, kedua adik iparnya untuk memarahi para suami yang selalu merasa merdeka sendiri ketika ada acara seperti ini.
"Kan sudah ada Baby sister Bun," seloroh Leon mewakili suara para adik iparnya.
"Memangnya yang dicari anak-anak kalian itu baby sister, ya sudah kalau tidak mau mengurus anak, tidak apa-apa. Ayo Jes! Ayo ndah, kita cari suami baru untuk kita jadikan ayah untuk anak-anak kita. Mumpung waktu yang tepat, banyak cowok-cowok di sini, kita cari yang jidatnya masih licin." Ajak Anna pada kedua adik iparnya.
Leon yang mendengar ucapan sang istri langsung saja memeluk tubuh sang istri yang beranjak pergi. Begitu pula dengan Andre dan juga Jimmy.
"Jangan ngomong gitu dong Bun! Ayo kita ke anak-anak. Apa mereka sudah letih dan bosan? Kalau mereka sudah bosan, mari kita pulang." Ucap Leon yang berusaha mengambil hati sang istri.
Amel merebahkan tubuhnya begitu sampai di kamar pengantin mereka.
"Aku atau kamu duluan yang mandi sayang?"tanya Hendra setelah melepaskan jas yang ia kenakan.
"Kamu duluan aja deh,"jawab Amel sambil mengibaskan tangan tanpa berniat bangun atau bahkan membuka matanya.
"Kamu jangan tidur dulu, kamu harus mandi dulu sayang,"pesan Hendra pada hamil yang mulai memejamkan matanya Karena rasa lelah dan kantuk yang tak tertahankan.
"Iya ini cuma rebahan aja kok kalau aku ketiduran kan kamu bisa bangunin aku,Mas."
Hendra membuka lemari pakaiannya ia mengambil kaos hitam polos dan celana pendek lalu melenggang pergi ke kamar mandi. Selagi menunggu Hendra selesai mandi, Amel tetap setia dengan posisinya, tidak butuh waktu lama Amel pun masuk ke alam mimpinya.
Hendra yang sudah selesai mandi menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berulang-ulang ketika melihat sang istri sudah memejamkan matanya, bahkan terdengar dengkuran halus yang menandakan jika sang istri sudah tertidur pulas.
"Mel... Mel bangun Mel!" Hendra sedikit mengguncangkan tubuh Amel. Ia berusaha membangunkan Amel untuk mandi terlebih dahulu.
"Hemmm!"Amel membuka matanya perlahan, rasa kantuknya belum hilang meski ia sudah tidur kurang lebih 30 menit. Hendra adalah tipe laki-laki yang butuh waktu lama untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Mandi dulu Mel, jangan jorok jadi perempuan," Hendra yang membuat Amel mencebik bibirnya.
"Cewek jorok kayak gini kamu juga suka kan Mas,"
"Iya suka karena udah nggak ada lagi stok wanita di bumi ini yang kayak kamu." Balas Hendra sambil tersenyum meledek istrinya.
"Kalau aku nggak usah mandi gimana Mas? Soalnya aku udah ngantuk berat."
"Kalau kamu tidak mandi Kamu tidur di sofa jangan satu ranjang sama aku, aku nggak mau tidur sama orang yang bau asem." Amel kembali mencibir bibirnya. Ia segera merubah posisinya, sekarang ia duduk sembari menatap tajam Hendra yang tengah duduk di atas ranjang dengan posisi bersandar di sandaran ranjang tidur mereka.
Dengan berjalan sepoyongan, Amel mendekat ke lemari pakaiannya, ia mengambil handuk dan baju tidurnya.
"Mas Hendra jangan tidur duluan ya," ucap Amel yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi.
"Kenapa memangnya?"
"Amel takut, ini hari pertama Amel tinggal di mansion ini."
"Kamu takut apa?"
"Takut hantu lah. Memangnya takut apalagi?"
"Masa sih kamu takut sama hantu, hantunya aja takut sama kamu, kamu itu sadis, jadi hantu pun kalau melihat kamu langsung meringis." Sahut Hendra yang kemudian tertawa, sedangkan Amel kembali mencebikkan bibirnya.
"Ishhh.... Suami nyebelin." Gerutu Amel yang kemudian membanting pintu kamar mandi hingga Hendra terlonjak kaget.
Kurang lebih tiga puluh menit, Amel pun keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju tidurnya yang sudah ia kenakan. Ya menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk.
Hendra yang masih setia menunggu Amel selesai mandi sambil menonton acara televisi pun akhirnya mematikan televisi yang ia tonton. Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang, badannya terasa pegal-pegal karena berdiri berjam-jam.
Begitu pula dengan Amel yang ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di samping suaminya.
"Katanya kamu takut tapi kok kamu malah sempat-sempatan keramas, biasanya kalau orang yang takut itu mandinya cuman cepek-cepek aja." Ucap Hendra ketika ia ingin mematikan lampu kamar mereka.
"Kalau Amel nggak keramas mana mau mas Hendra tidur sama Amel." Sahut Amel.
"Kamu nggak mau ngeringin rambut kamu dulu, kok langsung mau tidur aja?" Tanya Hendra yang memegangi rambut Amel yang masih cukup basah.
"Enak seger kaya gini, biar kering alami aja."
"Nanti masuk angin,
__ADS_1
"Gak akan, aku udah terbiasa kaya gini." Jawab Amel yang tak lama ia kembali masuk ke alam mimpinya yang sempat tertunda.