
Keadaan Nayla kembali sehat, setelah kedatangan rombongan Andre. Bayu menjelaskan dengan jelas dan rinci pada Nayla maksud kedatangan Andre menjenguk dirinya.
Nayla yang sudah mendapatkan penjelasan sebelumnya dari Endah dan Jessica pun langsung paham, dengan penjelasan suaminya yang menambahkan keyakinannya, jika tak akan pernah terjadinhal yang buruk pada hidup sang kakak.
Sepulangnya Nayla dari rumah sakit, Hendra pun sudah memulai aktifitasnya seperti biasa. Meskipun saat ia pulang dari kantor dengan tak adanya sosok Silvi menyambut kepulangannya, menjadi tekanan sendiri untuknya.
Kehilangan hal yang terbiasa kita terima adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, meski hati tak mencintai, namun jiwa akan merasa kosong. Penyesalan adalah salah satu sakit yang tak akan terobati.
Semua foto Silvi yang terpasang di dinding sudah di turunkan dan di ambil oleh keluarganya. Tak ada satu pun barang milik Silvi yang tersisa di rumah ini. Seolah keluarganya tak mengizinkan Hendra untuk mengenang wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu.
Sebuah tulisan "rumah ini dijual" menjadi pemandangan pedih yang Hendra lihat setiap kali ia ingin pergi ataupun baru saja kembali ke rumah ini.
Ya rumah ini akan dijual atas keputusan bersama antara Hendra dan keluarga Silvi. Hendra tak mau menerima bayaran yang harusnya ia dapatkan dari orang tua Silvi. Ia merasa tak berhak menerimanya.
Meskipun rumah ini sudah ingin dijual, Hendra tak langsung meninggalkan rumah ini, ia masih ingin menempatinya hingga rumahya ini memiliki pemilik baru.
Sementara itu, kegiatan Nayla setelah sembuh tak jauh berbeda dengan sebelumnya, ia masih ikut kemana pun Bayu pergi, beserta Sultan sang putra sambung yang nempel bersamanya seperti sebuah perangko.
Hari-hari Nayla jauh lebih berwarna karena ia mendapatkan teman baru yaitu Jessica dan juga Endah. Dua ibu hamil yang selalu bertengkar karena hal sepele di depannya yang ujungnya akan menjadi sebuah pertengkaran diantara para suaminya, karena masing-masing diantara mereka saling membela pasangan masing-masing.
Hari ini adalah jadwal Nayla mengecek kandungan, bertepatan dengan tiga ibu hamil bersaudara yang juga terjadwal untuk mengecek kandungannya.
Nayla yang selalu ditemani Bayu kini berjalan menuju ruang Dokter spesialis obgyn wanita bernama Nisa. Di depan ruang pemeriksaan eksklusif itu tengah duduk tiga ibu hamil tanpa di temani oleh para suami-suami mereka yang hari ini ada meeting penting. Hanya ada dua pengawal setia yang tengah berdiri di sofa si bontot dari tiga bersaudara ini.
"Hai, Jess, Ndah. Kalian juga periksa hari ini ya. Pantas saja gue jadi dapat nomor empat karena kalian rupanya." Sapa Nayla yang kemudian duduk di sebuah sofa yang cukup untuk diduduki untuk dua orang.
"Ya, hari ini jadwal kita periksa, " jawab Endah yang melihat iri keromantisan Bayu dan Nayla.
__ADS_1
"Sialan, nasib banget punya suami jadi jongos, jadi gak bisa nganter istri mau periksa kandungan." Gumam Endah di dalam hatinya.
Hal yang sama pun juga dirasakan oleh Jessica dan Anna. Mereka sibuk dengan oerasaan dan pikirannya sendiri, hingga tak menjawab sapaan Nayla.
"Kok, dia aja orang yang sibuk bisa nganterin istrinya periksa kandungan, tapi suami gue yang punya segalanya, malah lebih milih pekerjaannya dibanding nemenin istrinya cek kandungan, benar-benar miris." Gumam Jessica dan Anna di dalam hatinya. Tanpa sadar keduanya menggelengkan kepalanya bersamaan.
"Kalian berdua kenapa?" Tanya Nayla yang heran dengan gerakan kepala keduanya.
"Gak kenapa-kenapa, beruntung ya lo Nay, punya suami yang siap siaga sama lo." Jawab Jessica yang terus memandanginya keduanya penuh iri.
Gelagat iri yang terbaca oleh Angel dan Bowo. Membuat mereka segera menghubungi Tuan muda mereka. Karena hal kecil ini akan menjdi besar kalau dibiarkan begitu saja.
"Ya harus siap siaga, kalau gak dia harus terima konsekuensinya," balas Nayla yang kemudian tersenyum kearah suaminya dan meremas paha Bayu yang duduk sambil memangku Sultan.
"Iya kan sayang?" Ucap Nayla yang malah makin meremas kuat cengkraman tangannya di paha Bayu.
"Hahahaha... " Tawa Endah menggelegar seperti tawa Nayla. Membuat Bayu menutup daun telinganya, begitu pula dengan Sultan.
"Papi Tante Endah, ketawanya mirip Mami," ucap Sultan yang di angguki oleh Bayu yang sedang menutup telinganya.
"Berisik!!! Anak gue bangun nih di dalam perut, jadi nendang-nendang kan, adu-duhh sakit mmmmm.... Nikmat banget sih kalau lagi nendang begini," ucap Jessica yang membuat Sultan turun dari pangkuan Bayu.
"Mami mau ke Mommy Jessica boleh?" Tanya Sultan yang meminta izin pada Nayla.
Sultan memang memanggil Jessica dengan sebutan Mommy, karena Jessica yang memintanya. Jessica selalu bilang Sultan adalah calon menantunya di masa depan. Jessica begitu menyukai sikap dan sifat Sultan yang menggemaskan dan juga manis.
Jessica bisa bicara seperti itu karena anak yang di kandung Jessica saat ini adaah anak kembar tak identik, bisa di pastikan ia akan memiliki satu anak laki-laki dan juga satu anak perempuan nantinya..
__ADS_1
"Boleh, tapi jangan minta di pangku ya!"
"Iya Mami." Jawab Sultan yang terus berlari ke arah Jessica yang duduk di tengah-tengah antara Anna dan Endah.
"Mommy, mau elus-elus perut dede bayinya boleh?" Tanya Sultan yang meminta izin pada Jessica.
"Boleh dong sayang, sini duduk." jawab Jessica yang medorong tubuh Anna,kakakk iparnya untuk sedikit memberi ruang untuk Sultan duduk diantara mereka. Suktan naik sofa dan duduk manis menghadap perut Jessica.
"Hai princes and princess, Kak Sultan ada di sini nih mau sapa kalian," ucap Sultan yang tersenyum manis pada Jessica. Lalu meletakan jemari kecilnya di perut Jessica yang merespon dengan terus berdenyut.
Melihat Sultan semanis ini, Anna yang baru pertama kali ketemu dengan Sultan, mencubit gemas pipi Sultan yang terlihat sedikit gembil.
"Mmmmm... Manisnya sikap mu ini perayu cilik," ucap Anna saat mencubit pipi Sultan.
"Eh, lo belum kenalan ya sama Nayla ya Ann?" Tanya Endah pada Anna.
"Belum," jawab Anna sambik menggeleng.
"Kenalan dululah biar gak selek." Balas Endah yang kemudian berdiri berjalan menghampiri Anna dan juga Nayla. Ia berdiri tepat di antara keduanya.
"Nayla ini kenalin, sahabat sekaligus kakak ipar gue, dia ini istrinya abang gue Leonardo Adijaya," ucap Endah memperkenalkan diri Anna pada Nayla.
"Hallo Kak Anna, senang berkenalan dengan istri seorang pebisnis ternama di negri ini seperti kakak," ucap Nayla yang menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Hahahaha... Biasa aja, jangan panggil kakak, panggil aja Anna seperti mereka. Jangan kaku-kaku ya sama kita." Ucap Anna yang menerima ajakan jabatan tangan dari Nayla.
__ADS_1