Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 135


__ADS_3

"Biarkan si pentol korek itu senam jantung dululah sesekali, biar merasakan betapa pentingnya memanjakan suami bukannya nabokin suami setiap waktu," gumam Leon saat dalam perjalanan menuju Hotel Grands Adam.


Ia datang memenuhi permintaan Jimmy untuk megecek ketidak beresan perusahaan Monces. Sesampainya di Hotel. Kunjungan yang tiba-tiba yang dilakukan Leon membuat pejabat hotel gelagapan.


Leon melangkahkan kakinya menuju officer hotel. Ia duduk di bangku kebesaran sang Paman.


"Bawa seluruh data laporan pengunjung yang saya minta, sekarang!" pinta Leon pada salah satu manager hotel bernama Anto.


"Baik Tuan muda." jawab Anto dengan membungkukkan tubuhnya.


Ia undur diri untuk membawa laporan yang diminta oleh Jimmy. Tak berapa lama Anto kembali dengan seseorang pelayan hotel yang membawakan setumpuk laporan yang di minta Leon.


"Sebanyak itu?" tanya Leon yang tak percaya dengan data yang menempuk di meja kerjanya saat ini.


"Iya Tuan." jawan Anto.


"Aish, aku tak mau mabok dokumens." Gumam Leon di dalam hatinya.


"Hemmm... kalau begitu, Anto tolong carikan dataa tentang perusahaan Monces di hotel ini!" perintah Leon yang langsung dilaksanakan oleh Anto.


Anto memberikan data tentang perusahaan Monces. Mulai dari Ayah hingga anaknyaa yaang sering cek in di hotel ini.


"Putar CCTV tepat di kamar yang mereka pesan!" printah Leon.


"Buka CCTV yang ada di dalam kamar!" perintah Leon lagi yang membuat Anto kali ini raagu melakukannya.


"Maaf Tuan,apa ini tidak melanggar privasi?" tolak Anto secaraa halus.


"Kamu tidak mau membukanya untukku? Baiklah. Kamu boleh pulanga Anto dan jangan kembali lagi esok hari." Ancam Leon yang seketika membuat Anto sulit menelan salivanya.


"Jangan Tuan! Maafkan kelancangan saya menolak perintah Anda." Anto memohon maaf dan membungkukkan tubuhnya.


"Buka!" Perintah Leon lagi.


Anto segera membukanya, dan mereka melihat apa yang dilakukan Tyo dan Diana dari awal kedatang hingga saat ini.


"Keraskan audionya, saya ingin dengar apa yang mereka bicarakan!"


"Baik Tuan."


"Ow...owhh... ternyata wanita ini terobsesi dengan Bayu dan pria ini adaalah cinta di masalalu pentol korek. Ok Baiklah. Aku sudah paham sekarang." gumam Leon saat mendengar percakapan antara Diana dan Tyo.

__ADS_1


"Anto, tolong kirimkan bukti CCTV ini pada Jimmy adik ipar ku!" perintah Leon lagi yang kembali membuat Anto sulit menelan salivanya.


Ia harus berkomunikasi dengan Jimmy, rasanya seperti psedang berkomunikasi dengan malaikat maut.


"Ba-baik Tuan," jawab Anto dengan tergagap.


Leon mengambil telepon intercom yang ada di meja kerja pamannya itu.


"Tolong panggilkan Tri, Tama, dan Yono sekarang! Suruh mereka mendatangi ruanganku." perintah Leon pada bagian HRD.


"Baik Tuan." jawab Jasmin yang segera memanggil ketiganyaa untuk keruangan pemilik Hotel Grand Adams.


Tak berselang lama ketiganya datang dengan rasa takut dan menyadari betul tentang kesalahan mereka.


"Kalian tahu saya panggil kesini karena apa?" tanya Leon dari balik meja kerja sang paman.


"Tahu Tuan," Jawab ketiganya.


"Bagus, kalau begitu, saya sudah tak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Bukan?" ucap Leon yang menatap ketiganya dengan rasa benci dan kecewa.


"Tuan tolong jangan pecat kami!" ucap ketiganya yang berlutut memohon pada Leon.


Ketiganya pun berdiri dan menunggu Leon kembali bicara.


"Aku tak akan memecat kalian, karena aku bukan atasan yang kejam. Hanya saja setiap perbuatan pasti akan ada konsekuensinya. Hukuman kalian akan diberikan langsung dari Paman ku sendiri. Bekerjalah yang rajin dan jangan menerima suap dari siapapun." Nasehat Leon sedikit membuat ketiganya tenang.


"Sekarang kalian boleh kembali bekerja, namun nanti malam, lakukan apa yang saya perintahkan pada kalian dan terus berkoordinasilah dengan saya, apa saja yang mereka perintahkan pada kalian." Ucap Leon yang kemudian pergi meninggalkan ruang kerja sang paman.


Sedang di perusahaan Bayu. Nayla makin risau saja hatinya, menjelang pertemuan sang suami dengan Diana.


"Ughh kenapa sih, tadi udah tenang kenapa jadi gusar lagi. Sebenarnya ada apa ya?" Gumam Nayla yang berjalan bolak-balik seperti setrikaan.


"Kamu kenapa lagi Mih?" Tanya Bayu dari balik meja kerjanya. Saat ia melihat Nayla berjalan bolak-balik seperti setrikaan.


"Aduhh Papi, Mami kok gusar lagi ya, kenapa ishhh...?" Keluh Nayla pada suaminya.


Ia berjalan mendekati sang suami dan duduk di pangkuan suaminya.


"Jangan bilang mau lagi! Hari ini Papi harus lembur loh."


"Duh, kok nolak sih, Pih. Cuma itu obat yang menghilangkan kegusaran hati Mami." Ucap Nayla yang kecewa.

__ADS_1


Sontak ucapan Nayla membuat Bayu tertawa.


"Kamu istri yang paling mesum yang pernah aku temui Mih. Begitu agresif dan menggemaskan. Papi benar-benar gak nyangka loh." Ucap Bayu disela tawanya.


"Udah ah jangan ketawa terus ayo kekamar. Satu ronde lagi siapa tahu hanis ini gusar Mami minggat." Ajak Nayla yang menarik lengan Bayu untuk mengikuti Nayla ke dalam kamar pribadi Bayu.


Namun Bayu menolaknya, "Jangan di sini kita ke hotel saja. Papi takut telat kalau kita nelakukannya di sini."


"Ughhh.... harus nunggu lama deh." Gerutu Nayla yang sudah tak tahan.


Bayu hanya tersenyum melihat Nayla bertingkah meminta haknya tanpa rasa malu. Mungkin banyak istri di luar sana, malu untuk meminta haknya ataupun gengsi, tapi tidak dengan Nayla. Sepertinya dia adalah sosok wanita di muka bumi ini yang tak memiliki urat malu.


Mereka pun berangkat terlebih dahulu ke hotel tanpa di ketahui oleh siapapun termasuk Septi dan Nathan. Keduanya pergi dan menghilang tanpa memberikan kabar ataupun pesan.


Hingga malam datang Diana sudah ada di restauran bersama timnya, mereka sedang menunggu kedatangan Bayu dan anak buahnya. Sudah hampir tiga puluh menit Bayu tidak juga kunjung datang batang hidungnya.


Nathan dan Septi sudah mencoba menghubungi Bayu dan Nayla. Namun nomor keduanya tidak bisa dihubungi. Terang saja ponselnya tak bisa dihubungi karena Nayla sengaja mematikan ponsel dirinya dan juga suaminya. Ia sengaja melakukannya agar tak ada yang mengganggu mereka dan guna menghilangkan rasa gusar di hatinya.


Septi yang dalam perjalanan menuju hotel Grands Adam segera menghubungi teman-temannya sesama mafia untuk mencari keberadaan Bayu dan istrinya. Dia sudah merasa khawatir keduanya di culik oleh orang yang tidak dikenal.


Betapa kesal hati Nathan dan Septi saat mengetahui CEO mereka sedang enak-enakan tidur bersama istri tercintanya di hotel.


Prang...prang...prang [Suara tepukan


Kedua tutup panci yang dilakukan Leon].


"Bangun!!! Kerja-kerja!" Ucap Leon yang membangunkan Bayu dengan memukul kedua tutup panci yang ia pinta dari dapur restauran hotel milik pamannya.


Iseng. Itulah sifat asli Leon. Jika dulu sendal miliknya yang dipinjamkan pada Andre sengaja ia sembunyikan, dan membiarkan Adik iparnya itu pusing tujuh keliling untuk mencarinya, sekarang keisengannya ia ulang kembali pada Bayu.


"Hai, Leon mau apa kau di kamar ku? Keluar kau!" Pekik Bayu yang terkejut dengan kehadiran Leon, Nathan dan Septi di kamar hotelnya.


Kesal itulah yang saat ini Bayu rasakan.Bayu melepar mereka menggunakan bantal untuk mengusir mereka dan menutup seluruh tubuh istrinya dengan selimut.


"Keluar kalian. Ku tusuk mata kalian yang sudah melihat tubuh istriku walaupun hanya sejengkal saja!" Omel Bayu pada ketiganya.


Awal mulanya Leon bisa membangunkan Bayu adalah saat Nathan dan Septi tak berani membangunkan Bayu, meski mereka sudah mengetahui keduanya tengah berada di dalam kamar hotel yang sudah di pesan oleh Septi. Kebetulan saja Leon melewati mereka yang tengah berdiri di depan pintu kamar Bayu.


Leon pun menanyakan pada mereka ada kepentingan apa berdiri di depan kamar seperti orang bingung. Keduanya pun menceritakan kepada Leon dan Leon dengan keisengannya bersedia membangunkan Bayu.


__ADS_1


__ADS_2