Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 187


__ADS_3

Nayla keluar ketika tidak terdengar lagi suara pak kepala desa terdengar di depan pintu kamar tamu, yang berada tepat di ruang tamu, di mana putra Pak kepala desa masih tergolek di lantai dengan pintu ruang tamu yang masih terbuka.


Ceklek! [Suara pintu kamar tamu terbuka].


Nayla dengan tubuh seksinya keluar dari kamar tamu, seketika mata Husein terbelalak melihat bidadari surga berada di dalam rumahnya.


"Panas sekali cuaca hari ini, aku jadi haus, ingin minum, dimana dapur ya?" ucap Nayla dengan suara manjanya, sembari mengibaskan tangannya, menyingkap rambut panjangnya yang menutupi bagian belahan dadanya yang indah.


Husein yang tengah mabuk tiba-tiba kesadarannya naik ketika melihat belahan dada Nayla yang begitu menggiurkan. Husein berkali-kali mengecap mulutnya, saat memperhatikan lekuk tubuh Nayla yang begitu indah dipandang oleh matanya. Baru kali ini Husein melihat wanita cantik dan seksi di kampung ini.


Sempurna. Itulah penilaian Husein mengenai kecantikan wajah dan tubuh indah Nayla.


Husein berusaha sadar dari rasa mabuknya yang kini tengah menguasai dirinya. Berkali-kali dia memukul pipinya untuk memastikan jika dirinya tidak bermimpi bertemu dengan wanita yang sangat cantik mempesona di hadapannya.


Nayla yang menyadari jika Husein mengagumi tubuhnya pun terus berlenggak-lenggok, mempertontonkan keindahan dan kemolekan tubuhnya, agar Husein masuk ke dalam perangkapnya.


"Cih, pantas saja jika Kak Bayu klepek-klepek sama dia, cara dia menggoda sungguh-sungguh luar biasa." Puji Endah saat melihat aksi Nayla.


"Kebanyakan nonton film blue, dia praktekin sekarang. Sinting!!" Umpat Amel yang merasa apa yang dilakukan Nayla sungguh menggelikan.


Dengan tanpa ragu Nayla mendekati Husein yang tengah berusaha bangkit dari posisinya.


"Abang kenapa Bang? Mau bangun, sini Eneng bantuin." Ucap Nayla dengan gaya lenjehnya, sembari mengelurkan tangannya bergaya seakan-akan ingin menolong Husein.


Saat Husein ingin meraih tangan Nayla yang putih mulus bagaikan susu, Nayla dengan cepat menarik tangannya dan tertawa genit pada Husein.


"Eitss... Jangan pegang-pegang belum muhrim Bang!" Ucap Nayla kembali dengan suaranya yang seksi yang begitu indah di telinga Husein yang mendengarnya.


"Hahaha, Neng emang bukan muhrimnya Abang, tapi Abang boleh icip dikit kan?" Ucap Husein yang sudah tergoda dengan Nayla.


"Boleh dong bang tapi jangan di sini, nanti orang tua Abang denger ******* Eneng... Ahh...ahhh..." Balas Nayla sembari meremas sedikit bagian dadanya.


Sontak apa yang dilakukan Nayla membuat Husein merasa tertantang dan makin ingin menikmati tubuh Nayla yang ia anggap bidadari.


"Neng, emangnya mau Abang ajak ke tempat Abang kumpul-kumpul sama teman-teman Abang?" Tanya Husein yang mulai mendekati Nayla. Husein menatap Nayla dengan penuh nafsu.


"Mau Bang, tapi Neng nggak mau digilir ya. Neng cuma punya Abang." Jawab Nayla yang begitu menggelikan di telinga Endah maupun Amel.


"Nayla, jika Kak Bayu sampai melihat ini kau akan habis dicincang olehnya." cicit Endah yang diangguki oleh Amel.

__ADS_1


"Nayla terlalu berani dia benar-benar gila," tambah Amel yang kini diangguki oleh Endah.


"Hahahaha, tentu saja Neng sayang, barang bagus gini mana mungkin Abang mau rela bagi-bagi sama mereka." Jawab Husein yang kini merangkul Nayla.


Rupanya Husein langsung mengajak Nayla pergi menuju tempat di mana dirinya suka berkumpul dengan teman-temannya yang merupakan kawanan penjahat.


Nayla pikir mereka akan naik motor menuju ke tempat tersebut, Namun ternyata Husein membawanya dengan berjalan kaki.


"Kok jalan kaki sih Bang, Neng bisa capek kalau jalan jauh-jauh." Ucap Nayla sembari mengelus kakinya dari ujung kaki hingga ke bagian pahanya yang terbuka.


Lagi-lagi Husein menengkuk salivanya, saat memperhatikan gerakan Nayla yang mengelus kakinya dari atas hingga ke pangkal pahanya.


"Benar-benar barang bagus, putih mulus, mimpi apa aku semalam bisa main sama bidadari," gumam Hussein yang terus memuji tubuh wanita di hadapannya.


"Abang udah nggak tahan kita main di sini aja gimana?" Tanya Husein yang ingin segera membuka celana yang ia kenakan, pasalnya juniornya itu terus menegang dengan tingkah Nayla yang terus menggodanya.


"Nggak mau ah, di sini kotor nggak ada kasurnya atau balai. Lagi pula Neng takut ada orang lewat mergokin kita, Neng takut di arak warga Bang." Jawab Nayla dengan alasan yang tepat.


"Baiklah Neng sayang, mari kita jalan lagi, tempatnya nggak jauh kok." Balas Husein yang kembali harus bersabar untuk menikmati tubuh bidadari yang sedang berjalan bersamanya.


Endah dan Amel terus mengikuti ke mana langkah kaki Nayla dan juga Husein menuju tempat perkumpulan para tikus-tikus kampung itu.


Nayla dan Husein tiba terlebih dahulu di rumah tua yang penerangannya tidak begitu jelas dari kejauhan, Husein mempercepat langkahnya karena tak sabar untuk menikmati tubuh indah Nayla. Sedangkan Nayla memperlambat langkahnya karena manikmatan Nayla terus memperhatikan daerah sekeliling rumah tua tersebut.


Dilihatnya oleh Nayla para pekerja yang menjadi sandera diikat di sebuah pohon besar yang ada di pelataran rumah tua tersebut, tanpa penjagaan dari kawanan mereka. Nayla segera membeli kode pada Amel dan juga Endah untuk membebaskan para pekerja terlebih dahulu yang diikat di pohon besar.


Begitu Nayla dibawa masuk ke dalam rumah tua tersebut, Nayla dapat melihat Jimmy, borney, Septian, Bowo dan Ferdy tengah diikat di sebuah kursi. Ketiga pria itu begitu terkejut dengan kedatangan Nayla dengan salah satu kawanan dari mereka. Apalagi penampilan Nayla membuat ketiganya kembali sulit menelan saliva mereka.


"Ya, Tuhan. Kenapa mata ku kembali melihat keindahan tubuh Nyonya Nayla?" Cicit Bowo di dalam hatinya. Ia merutuki juniornya yang kini meninggal sempurna hanya karena melihat keindahan tubuh sahabat Nyonya mudanya.


Husein berjalan lebih dahulu dari Nayla yang tengah mencari sosok Angel yang tak terlihat batang hidungnya. Timbul firasat buruk di pikiran Nayla tentang nasib Angel. Ia khawatir Angel mengalami pelecehan seksual di tempat ini.


"Neng ayo!" Ajak Husein yang membuka salah satu kamar kosong yang ada di rumah tua tersebut.


"Abang Neng rasanya pengen pipis kamar mandi di mana ya?" Nayla mencoba mencari alasan untuk mencari keberadaan Angel yang ia sedang khawatirkan.


"Di sana di ujung sana," jawab Husein menunjuk sebuah kamar mandi yang sangat kotor dan menjijikan.


Nayla kemudian mendekati Husein mengucapkan terima kasih sembari meraba bagian dada Husein.

__ADS_1


"Abang kalau boleh tahu mereka itu siapa kenapa diikat seperti itu?" Tanya Nayla, yang tak menghentikan gerakan cemari lentiknya di bagian dada Husein.


"Mereka itu tawanan Abang dan teman-teman," jawab Husein yang makin tak tahan untuk menikmati tubuh indah Nayla.


"Tawanan? Kenapa mereka ditawan Bang?" Tanya Nayla yang mencoba menghalangi tangan Husein yang ingin meraba bagian dadanya.


"Jangan di sini dong bang! nggak enak diliatin mereka nanti mereka kepengen lagi." Ucap Nayla dengan manjanya.


"Iya Neng, abang tunggu di dalam ya.Jangan lama-lama pipisnya!" Ucap Husein yang kemudian masuk ke dalam kamar.


Husein dengan penuh percaya diri berbaring di atas ranjang reot dengan kasur yang sudah dihuni oleh para tumila, alias kutu kasur. Sembari menunggu Nayla datang menghampirinya dan memuaskan hasratnya terhadap wanita cantik itu.


Merasa telah aman, Nayla pun mendekati Jimmy dan bertanya, kemana Angela.


"Dia ditawan di ruangan lain, karena sudah membuat salah satu diantara mereka mati karena ingin memperkosanya." Jawab Jimmy dengan suara berbisik.


"Owhh baiklah, dimana kawanan yang lain Bang?" Tanya Nayla lagi untuk memastikan keadaan tempat ini aman.


"Mereka mabuk-mabukan setelah mengambil uang di dompet kami." Jawab Jimmy lagi.


Setelah puas bertanya dengan Jimmy, Nayla mengeluarkan pisau lipat yang ia simpan di Br@ yang ia kenakan.


"Bebaskanlah diri kalian sendiri! Aku akan mengurus cecunguk itu terlebih dahulu dan mencari keberadaan Angela." Ucap Nayla saat memberikan pisau lipat tersebut ke tangan Jimmy yang diikat di depan perutnya.


"Angela ada di ruangan dekat kamar mandi. Aku mendengar mereka membawanya ke sana."


"Heem baik Bang, aku akan segera ke sana sekarang. Tolong hubungi regu sapu bersih. Pastikan mereka sampai sebelum matahari terbit. Karena kami sedang bersandiwara dengan kepala desa sebagai mahasiswi yang sedang mencari tempat untuk melaksanakan KKN dari kampus."


"Apa dia, anak kepala desa itu?" Tanya Jimmy yang sepertinya sudah mengetahui bahwa salah satu kawanan dari mereka adalah anak dari kepala desa.


"Iya Bang." Jawab Nayla.


"Kalau begitu jangan bunuh dia, kau cukup menggodanya dan kami yang akan membuat dia menjadi mayat hidup untuk selama-lamanya." Perintah Jimmy pada Nayla.


"Ok baik. Aku pergi dulu." Ucap Nayla yang langsung pergi menjauh dari Jimmy dan kawan-kawan.


Husein yang merasa terlalu lama menunggu Nayla. Berteriak-teriak memanggil Nayla dengan panggilan Neng.


"Nengggg .... Kok lama banget sih.... Abang udah gak tahan nih...."Pekik Husein berkali-kali hingga membuat telinga mereka merasa bising dan terganggu.

__ADS_1


"Nang neng nang neng... Kalau tuan Bayu mendengar istrinya dipanggil nang neng nang neng oleh pria macam dia. Aku bisa pastikan dia tak akan bisa melihat matahari esok pagi." Grutu Septi alias Septian.


__ADS_2