
Di sisi lain Amel yang sedang berada di markas Andrew sedang membicarakan hal penting tentang club malam milik mereka.
"Jadi ini belum selesai, Bang?" Tanya Amel yang nampak begitu khawatir.
Bukan karena takut kehilangan nyali, tapi ia sangat mengkhawatirkan dampak hal ini terhadap keluarganya.
"Iya Mel, ini belum selesai. Bahkan ini baru kita mulai. Mungkin mereka tidak akan berani menyentuh keluarga Adijaya dan Kusuma karena ada Tuan Brata dan Tuan Adam yang memback-up mereka. Sedangkan kita, kita harus berjuang sendiri untuk mempertahankan milik kita dan untuk kepentingan banyak orang. Kita bisa saja memberikan club milik kalian itu demi keselamatan anggota keluarga kalian, tapi bagaimana dengan generasi bangsa ini yang akan mereka rusak dengen penjualan barang haram itu secara besar-besaran." Jawab Andrew yang membuat Amel terduduk lemas.
"Kau paham maksud Abang 'kan Mel?" Tanya Andrew.
"Paham gak paham, aku sudah terlanjur nyemplung. Aku mau pulanglah Bang. Selamat siang, semoga kita masih bisa tidur nyenyak nanti malam." Jawab Amel yang kemudian beranjak dari kursi yang ia duduki.
Ia pergi begitu saja dari kediaman Andrew meski belum sempat meminum es coffee buatan Maurin yang belum rampung dibuat itu.
"Kemana Amel, Pih?" Tanya Maurin saat ia tiba di ruangan tamu.
Dimana hanya terdapat suaminya yg senyum-senyum sendiri menertawakan sikap Amel yang pulang begitu saja, karena merasa lelah, perang belum juga usai.
"Pulang," jawab Andrew singkat.
"Lah kok pulang, Mami baru selesai buatin es kopi untuk dia nih Pih."
"Dia lelah Mih, butuh istirahat. Maklumi saja dia itu masih jadi pengantin baru. Sini es kopinya buat Papi saja." Andre mengambil es kopi untuk Amel di atas nampan yang istrinya bawa.
Sementara itu di rumah sakit Central Kusuma, Nayla yang kebetulan ditinggal sendiri di dalam ruangan rawatnya, karena Bayu tidak bisa meninggalkan meeting dengan client-nya tengah menghabiskan waktu dengan hibernasi.
Meski di tinggal seorang diri di dalam ruangan rawatnya, tapi Nayla dalam penjagaan ketat dari luar ruangan rawatnya. Anak buah Jimmy dan Andrew kompak melakukan penjagaan ketat untuk menjaga keselamatan Nayla.
Meski penjagaan sudah di perketat namun musuh yang selalu melakukan inovasi dalam strateginya, berhasil masuk ke dalam ruang rawat Nayla.
Dengan menyamar sebagai perawat dua orang wanita berhasil masuk ke dalam ruang rawat Nayla.
"Nayla, kau memang berhasil memperdaya suamiku dan menghabisi nyawanya dengan kejam, sekarang akan ku buat kau menyusul keberadaan suamiku." Gumam seorang wanita berusia tiga puluh enam tahun, yang merupakan istri muda Barnes.
Aya adalah nama istri kedua Barnes yang tahu jika suaminya tengah berurusan dengan Nayla. Bahkan Barnes pernah menitipkan pesan pada istrinya ini, jika sampai ia tak kembali dalam beberapa hari setelah ia pergi, mungkin ia sudah tiada ditangan Nayla.
__ADS_1
Kedatangan Aya ke rumah sakit Central Kusuma bersama deng istri Antonio yang usianya tak jauh berbeda dengan dirinya.
Saat ini Aya merasa mendapatkan kesempatan besar untuk menghabisi Nayla yang ia lihat tengah tertidur pulas. Dengan gerakan penuh kehati-hatian Aya mendekati ranjang tidur Nayla.
Saat Aya sudah siap mengayunkan pisau belati yang ia bawa, dan segera ingin menghunus pisau belati itu pada tubuh Nayla.
Tiba-tiba beberapa tembakan dengan peredam suara membuat Aya jatuh terjungkal ke belakang.
Blep... Blep...Blep...
"Aaaaaaa...." Pekik Aya kesakitan, tubuhnya mengelepar seperti ikan yang dibawa kedaratan.
Kella yang melihat kakak iparnya menggelepar bersimbah darah langsung saja ketakutan. Sejak awal ia sudah tak mau melakukan hal ini, ia tidak mau ikut-ikutan. Tapi Aya tetap memaksa.
"Hahahaha... Kalian pikir aku tidur ya? hahahaha... Emang tidur sih, tapi tidur-tidur ayam." Ucap Nayla dengan tawanya yang khas.
Tawa Nayla yang menyebalkan menurut sebagian orang, tapi untuk Kella tawa Nayla ini sungguh menakutkan.
Para penjaga saling diam, saat mendengar pekikan suara wanita yang tidak dikenali dan tawa Nayla yang menggelegar. Para penjaga mulai menaruh curiga dengan kedua perawatan yang baru saja masuk itu.
Keenam pria bertubuh tegap itu akhirnya masuk ke dalam ruangan Nayla, saat Kella terus menjerit meminta ampun pada Nayla.
"Sepertinya kalian kelelahan menjaga ku. Ok baiklah bersihkan dan bereskan. Setelah itu urus kepulangan ku!" Perintah Nayla santai sembari mengambil ponselnya di atas nakas.
Ia hendak menghubungi seseorang, tentunya bukan suaminya, tapi Endah.
"Hallo Nay," sapa Endah di sambungan telepon.
"Hallo Ndah, jemput dong! Pengen pulang nih. Di sini gak aman juga, gue gak bisa tidur." Balas Nayla yang langsung mengutarakan maksud dan tujuannya pada Endah yang menjadi pentolan diantara perkumpulan Geng mereka.
"Ok. Meluncur." Jawab Endah dengan cepat.
Tanpa perlu bersiap-siap, Endah langsung meluncur ke rumah sakit Central Kusuma. Dalam waktu lima belas menit Endah sudah sampai di ruangan rawat Nayla. Ia masih melihat petugas membersihkan genangan darah Aya di atas lantai.
Sedangkan keberadan Aya dan Kella, sama sekali tidak Nayla ketahui. Entah dibawa kemana mereka oleh anak buah Jimmy daj Andrew.
__ADS_1
"Wew! Ada yang menyerahkan diri rupanya." Ucap Endah sembari mendekat ke brankar Nayla.
"Hemm... Kayanya bininya Barnes dan Antonio deh, soalnya gue denger mereka menyebut nama itu."
"Mereka mau coba-coba balas dendam rupanya."
"Maybe. Ayo pulang, gue dah kangen tidur di ranjang gue."
"Tapi Mansion lo itu lagi ada bonyok dan mertua lo, mana bisa istirahat lo, yang ada di interogasi sama mereka."
"Eh, bener juga."
"Ya udah di tempat Amel deh."
"Ada bonyoknya Amel juga.
"Lah, kok pada tinggal sama kita sih?" Tanya Nayla yang belum tahu, jika Jimmy yang meminta mereka untuk tinggal di Mansion demi kesalamatan mereka bersama.
"Demi kesalamatan Nay," jawab Endah.
Nayla manggut-manggut paham.
"Nah kalalu gitu gue tidur di mansion lo dulu, gimana? Boleh kan?"
"Mau gimana? Gak ada pilihan lain lo. Kalau di tempat Jessica gak mungkin ada mertuanya juga, di Mansion Anna lo bakal perang mulu sama Abang gue."
"Ya, gitu deh... Cuslah. Ngantuk gue. Tapi sebelum pulang ngebakso dulu-lah Ndah. Gue dari kemarin pengen makan bakso, tapi suami gue gak ngasih terus."
"Cuslah. Gue panggil perawat buat lepasin cairan inpusan lo dulu ya." Jawab Endah yang melihat tangan Nayla masih menggunakan selang infus yang masih terpasang dan mengalir.
Endah pun pergi keluar ruang rawat Nayla, memanggil para perawat untuk melepas cairan infus Nayla.
"Mohon maaf Nyonya, tapi pasien belum boleh pulang, karena dokter belum mengizinkannya untuk pulang. Lagi pula Nyonya Nayla masih harus diinfus tiga kantung lagi, agar luka rusuknya tidak infeksi." Tolak Perawat itu dengan sangat sopan dan sangat ramah.
Mengetahui akan hal ini, tak menyurutkan Endah untuk membawa Nayla pulang.
__ADS_1
"Ok, kalau memang Nayla belum boleh pulang, tapi saya mau pergi makan bakso dulu dengan dia. Sekarang tolong ganti dulu cairan infusannya di sana, karena sudah mau habis." Pinta Endah pada perawat itu.
Semula perawat itu tak mengizinkan Endah membawa Nayla pergi, tapi saat Endah menunjukkan foto dirinya bersama Jimmy. Perawat itu tak bisa lagi berkata tidak.