
Di ruang makan Villa milik Hendra dan Dian istrinya Silvi.
Lima pasang suami istri tengah duduk berdampingan, untuk menikmati makan pagi yang cukup telat.
Saat mereka sedang menikmati makan pagi mereka yang terlambat, karena aktivitas kompak yang mereka lakukan, yaitu bercocok tanam.
Tiba-tiba Patricia datang dengan wajah ringan pada awalnya, lalu tiba-tiba tertekuk dan terdiam, ketika ia menyadari keberadaan para istri kelima pria tampan yang semalam bersenang-senang bersama dirinya di klub malam.
"Surprise!" Ucap Nayla riang gembira, kepada Patricia yang kini menatap lengkang wajah Bayu yang duduk di samping Nayla.
"Apa-apaan ini Bay?" tanya Patricia dengan tatapan penuh amarah dan kecewa pada Bayu, yang malah terlihat acuh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Patricia dengan duara yang cukup tinggi dan menekan.
Bayu sama sekali tak terusik dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Patricia. Tak ada niat sekalipun untuk Bayu menjawab pertanyaan Patricia itu. Ia malah asik menikmati sarapan pagi buatan istrinya yaitu nasi goreng kunyit bersama dengan dua telur mata sapi.
"Uuuuuu...." Kelima istri kompak membentuk huruf U pada mulut mereka.
Saat mereka mendengar pertanyaan penuh amarah dari Patricia kepada Bayu.
Kelima para istri melirik Patricia dan juga Bayu secara bergantian. Kemudian tatapan keempat istri lainnya berakhir menatap wajah santai Nayla.
"Ingat kita masih butuh dia tetap hidup, demi membebaskan kedua orang tua kita." Pesan Amel pada Nayla yang kebetulan duduk di samping Nayla.
Amel berpesan demikian karena ia tahu betul sahabat sekaligus adik iparnya adalah seorang wanita psikopat.
"Yes, I know." Sahut Nayla.
Ia melirik dan tersenyum tipis pada Amel yang baru saja mengingatkannya.
Nayla melepaskan alat makan yang ada dalam genggaman kedua tangannya, ia beranjak dari kursinya.
Manik mata Patricia terus tertuju pada Nayla dan juga Bayu yang duduk bersebelahan. Kini manik matanya terfokus pada Nayla yang beranjak dari kursinya, berjalan sembari meraba dada bidang suaminya kemudian mengecup pipi Bayu sembari melirik ke arah Patricia dengan ciuman brutal, hingga Bayu menangkup wajah Nayla dengan satu tangannya.
__ADS_1
Patricia terlihat jijik dan marah, ketika melihat Nayla mencium pria yang ia anggap telah bersenang-senang semalam bersama dengan dirinya.
Rasa cemburu dan tidak terima hinggap pada dirinya, padahal Ia sama sekali tidak memiliki hak untuk cemburu pada Nayla yang merupakan istri dari Bayu.
Puas sudah membuat lawannya emosi Nayla melepaskan ciumannya pada Bayu. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati Patricia.
Entah mengapa Patricia merasa sangat takut ketika Nayla melangkah mendekati dirinya, setiap kali Nayla satu langkah mendekati dirinya, jujur saja jantungnya serasa ingin berhenti berdetak.
"Siapa namamu?" Tanya Nayla yang sudah berdiri di depan Patricia.
"Patricia Balson," jawab Patricia yang berusaha tenang meski kakinya nampak gemetar.
"Nama yang bagus, kau tahu siapa aku? Tentu kau tahu siapa aku. Apa perlu kita berkenalan secara formal untuk mengenal satu sama lain. Karena sepertinya Kau sangat berniat untuk menjadi madu dariku." Nayla bicara begitu tenang, namun tatapannya sungguh mematikan.
"Ya aku tahu siapa dirimu. Dan aku tahu banyak hal yang kau sembunyikan dari suamimu. Aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi madu mu. Tapi aku berniat untuk menyingkirkanmu dan mengganti posisi dirimu di hati Bayu." Jawab Patricia dengan bibir bergetar.
Sungguh sebenarnya ia takut bicara demikian, namun ia tak ingin terlihat lemah untuk menghadapi wanita psikopat seperti Nayla yang pandai menyembunyikan siapa dirinya.
"Nayla. Asal kau tahu saja aku dan suamimu telah menghabiskan malam panas kita berdua." Balas Patricia yang ingin memancing emosi Nayla.
Alih-alih terpancing emosinya dengan perkataan Patricia, Nayla yang tahu sebenarnya hanya merespon dengan tawanya yang menggelegar.
Tawa Nayla ini benar-benar menyakitkan gendang telinga orang yang mendengarnya.
"Mami. Stop it!" Pekik Bayu yang meminta Nayla menghentikan tawanya itu.
Tawa Nayla terhenti setelah mendengar permintaan suaminya. Kini ia terdiam menatap Patricia yang ada di hadapannya yang sedang menatap jijik pada dirinya.
"Jika kau memang benar-benar mengenal siapa diriku. Aku patut mengapresiasi keberaniannya. Karena kau sungguh bernyali besar sudah berani berurusan denganku." Ucap Nayla setelah cukup lama terdiam menelisik manik mata lawan bicaranya yang sedang menyembunyikan rasa takutnya.
"Kau hanya seorang manusia Nayla. Tidak lebih dari itu. Untuk apa aku takut pada dirimu." Jawab Patricia.
__ADS_1
"Hahahaha.... Kau benar aku memang hanya seorang manusia. Manusia pendosa, yang akan berbuat dosa ketika hidupnya diusik oleh manusia seperti dirimu. Sekarang katakan di mana kalian menyembunyikan kedua orang tuaku, Amel dan juga kedua mertuaku." Sahut Nayla sembari melangkah mengikis jarak antara dirinya dan juga Patricia.
Patricia berusaha menjauh dari Nayla, yang menurutnya pasti akan menyakiti dirinya demi mengetahui dimana komplotannya menyembunyikan kedua orang tua mereka.
"Aku tidak akan memberitahu di mana kedua orang tua kalian disembunyikan. Sebelum kami mendapatkan apa yang kami mau." Jawab Patricia.
Ia masih ingin bungkam dan tidak ingin memberitahu dimana keberadaan orang tua lawannya yang diculik dan disembunyikan disebuah tempat yang sangat tersembunyi. Meskipun saat ini dia dalam kondisi yang sangat membahayakan.
"Oh ya. Yakin sekali kalian akan mendapatkan apa yang kalian mau. Hahaha... Sampai dunia ini kiamat, kalian tak akan mendapatkan apapun Patricia." Sahut Nayla.
Brukkk!
Satu tendangan mendarat di perut Patricia hingga membuat ia terjatuh tersungkur di lantai.
Patricia mengerang kesakitan di atas lantai. Ia melirik Nayla dengan mata berlinang air mata.
"Sakit?" Tanya Nayla tanpa rasa berdosa apalagi bersalah pada Patricia.
Patricia diam bergeming tak menjawab pertanyaan yang tak perlu dijawab oleh dirinya.
Tentunya rasa tendangan yang dilayangkan oleh Nayla cukup menyakitkan.
"Ini belum seberapa jika kau main-main denganku. Menyentuh milikku merasakan apa yang tak boleh kau rasakan." Sebelum ia kembali menendang bibir Patricia.
Kembali Patricia terjatuh, ia terbaring di atas lantai dengan bibir dan hidung yang sudah mengeluarkan darah segar, akibat tendangan Nayla yang dilayangkan ke area wajahnya.
Patricia menjerit kesakitan luar biasa. Meskipun dia adalah salah satu anggota mafia, tapi ia tidak pernah mendapatkan perlakuan sekejam ini.
Patricia tidak seperti Angel, yang menjadi anggota mafia tapi berada di lapangan, menghadapi berbagai macam karakter musuh yang datang mendekati ataupun didekati olehnya secara langsung.
"Sebagai seorang anggota mafia. Kau terlalu lemah Patricia. Salah sekali, jika kau berniat ingin menyingkirkanku. Karena Kau bukanlah lawanku. Sekarang katakan di mana kedua orang tuaku sebelum kau menghembuskan nafas terakhirmu di tanganku?" Tanya Nayla saat ia berjongkok di mana Patricia terbaring.
__ADS_1