Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 59


__ADS_3

"Mas, mbak Silvi kenapa?"tanya Nayla yang begitu penasaran dengan Bayu yang baru saja menutup panggilan teleponnya dengan Ayah mertuanya itu.


"Silvi sakit, sekarang dia dalam perawat di rumah sakit ini. Ayah bilang Mas Bayu sengaja mendekatkan ruang rawat kalian, jadi Ayah dan Bunda bisa menengok kalian berdua tanpa harus berjalan jauh," jawab Bayu yang membuat Nayla geregetan. Ia merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan suaminya.


"Mas, ceritanya tentang Mbak Silvi aja bisa gak, aku kan nanya Mbak Silvi, bukan nanya Ayah sama bunda," protes Nayla dengan melipat kedua tangannya tepat di depan dadanya, hingga membuat bukit kenyal kesukaan Bayu menyendul. Bayu yang sudah lama tak menyentuhnya merasa tergoda.


"Jawab ih, jangan liatin pabrik susu aku terus. aku colok juga nih matanya," ucap Nay yang sudah siap untuk mencolok mata Bayu.


"Jangan dong sayang, kalau Mas sakit mata, Mas gak bisa kerja," Bayu menahan tangan Nayla yang ingin mencolok bola matanya.


"Ya udah cepat ceritain, Mbak Silvi sakit apa?" pinta Nayla lagi dengan kedua tangan yang masih di pegang oleh Bayu.


"Dia sakit kepala kaya kamu, tapi sakit kepala yang dia derita ternyata sangat parah Nay, lebih parah dari kamu. Dia menderita tumor otak ganas dan sampai saat ini dia belum sadar, jika dia sadar dia harus banyak badrest dan tidak boleh stress," jawab Bayu yang duduk di tepi ranjang menatap serius wajah sang istri yang terlihat tegang dan takut mendengar jawaban suaminya.


Ekspresi wajah Nayla saat ini sangat menggemaskan, ingin sekali Bayu mengunci tubuh Nayla dibawah tubuhnya, menciumi seluruh bagian tubuh Nayla hingga ia bernyanyi dengan suara erotisnya yang terdengar begitu memabukkan ditelinga Bayu. Saat ini mata Nayla terlihat terbelalak, mulutnya terbuka lebar seperti mulut sebuah gua di kaki bukit. Ia terkejut dan takut saat mengetahui penyakit yang diderita kakak iparnya itu. Bukannya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Nayla malah memegangi kepalanya tepat di bagian kepala yang telah di operasi oleh Dokter.


"Mas, Nayla takut," ucap Nayla yang segera masuk kedalam pelukan suaminya masih dengan memegangi kepalanya.


"Takut kenapa?" Tanya Bayu yang membalas pelukan istrinya itu dengan memeluk erat tubuh mungil Nayla.


"Takut sakit kaya Mbak Silvi, soalnya Nay kan sakit kepala terus dari kemarin Mas," jawab Nayla yang makin bersembunyi didalam dada bidang suaminya.


"Tapi sekarang aku lihat kamu sudah gak sakit lagi sayang, kamu terlihat baik-baik saja, bahkan lebih segar," balas Bayu yang mengusap punggung Nayla dengan lembut.


"Mas sih Mas, tapi emang iya sih aku pun merasakannya, habis makan rujak mangga apel buatan Amel, pusing dan sakit kepala aku hilang begitu saja Mas, malah jadi laper terus pengen makan, mujarab bangetkan rujak buatan Amel. mungkin dikasih jompa-jampi sama dia," Jawab Nayla apa adanya.


"Husst kok jompa-jampi, memang kamu pikir Amel itu dukun humm. Mana mungkin makan rujak mangga bisa membuat mu sembuh secara instan begini Nay?" Tanya Bayu yang keheranan.


"Sepertinya ada yang tak beres, tidak mungkin hanya dengan makan rujak istriku sembuh seketika itu juga. Minum obat saja harus menunggu beberapa jam untuk mengetahui reaksinya, kenapa hanya dengan makan sebuah rujak bisa memberikan kesembuhan secara instan? Benar-benar tak masuk akal," Gumam Bayu dalam hatinya. Ia terus berpikir keras tentang kondisi sang istri. Jika istrinya berbohong dan hanya berakting, dia tak akan merasa kesakitan luar biasa seperti tadi pagi. Membuat ia yang harus pergi menemui sahabatnya di buat khawatir sepanjang waktu.


"Nay, kapan terakhir kamu datang bulan? Sekarang kamu sudah datang bulan belum?" Tanya Bayu yang mengurai pelukannya dengan Nayla. Ia menatap serius wajah istrinya yang terlihat bingung dengan pertanyaan yang diberikan Bayu padanya.

__ADS_1


"Kapan ya? Yang pasti bulan ini belum, kamu kan pakai aku terus pagi siang malam, masih pakai nanya segala aku sudah atau belum datang bulannya, mana ada orang datang bulan bisa dipakai Mas. Kamu itu libur pakai aku pas kamu lagi marah gak jelas sama aku kemarin. Itupun baru dua hari," Jawab Nayla yang seketika membuat Bayu menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya istrinya membahasakan hubungan intim diantara mereka dengan kata "dipakai," macam baju saja. Lagi-lagi meskipun kesal, Bayu harus kembali mengelus dadanya, menahan semuanya demi kebaikan dirinya dan rumah tangganya, ia harus sadar betul jika Nayla adalah istri terlangka di dunia, dan saat ini istrinya itu masih sakit dan dalam masa penyembuhan. Perasaannya terlalu sensitif dan emosional.


"Pantas saja rujak itu menyembuhkan istriku dari sakit kepala dan pusingnya, kemungkinan besar istri ku sedang berbadan dua, aku harus segera meminta Dokter Edo mempercepat mengirimkan Dokter spesial kandung untuk memastikan prasangka baikku pada kondisi istri ku saat ini." Batin Bayu yang beranjak begitu saja dari ranjang tidur Nayla.


Melihat suaminya pergi begitu saja, membuat Nayla sewot bukan main. Belum sampai lima langkah, Nayla sudan mulai teriak-teriak memanggil namanya.


"Mas... Mas... Mas Bayu... Mau kemana ihhh Mas? Sini gak! Jangan pergi jauh-jauh, Bunda sama Ayah gak ada. Mas jangan jauh-jauh dari Nay! Selangkah lagi Mas pergi Nay marah nih sama Mas," ancam Nayla yang membuat Bayu kembali menghampiri Nayla dan duduk dengan manis di ranjang tidur istrinya itu, tak lupa ia juga memasang wajah senyum manis penuh keterpaksaan di wajah tampannya.


"Ini Mas udah duduk lagi sayang. Mas gak kemana-mana kok tenang saja. Kamu jangan marah-marah terus nanti bisa cepet tua! Apa kamu gak cape ngomel-ngomel terus hum?" tanya Bayu yang mencubit gemas pipi Nayla. ia menyalurkan rasa kesalnya pada sang istri dengan mencubit pipinya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Gak cape malah seneng aja sekarang kalau habis marahin Mas, kaya punya kepuasan tersendiri gitu akunya. Terus aku tuh kaya ngerasa punya dendam kusumat aja gitu sama Mas Bayu, bawaannya pengen ngomel, marah, mukulin Mas sih kalau bisa," jawab Nayla cuek yang membuat Bayu menyeryitkan kedua alisnya.


"Ah, gawat sekali ini. Jika bawaan kehamilan mu seperti ini pada Mas, Nay. Mas harus kuatkan mental dan kuatkan gendang telinga Mas, pastinya kamu akan sering meneriaki Mas setiap waktu." Batin Bayu yang harap-harap cemas dengan bawaan hamil Nayla padanya.


"Selain pusing dan sakit kepala, ada lagi yang kamu rasakan sayang?" Tanya Bayu seperti layaknya seorang Dokter yang sedang bertanya pada pasiennya.


"Ada Mas, pengen banget makan kamu, udah lama nih enggak hehehehe...." Jawab Nayla dengan tawa dan senyum nakalnya.


"Hahahaha... Kalau itu Mas juga udah lama kepengen makan kamu sayang, kalau Mas makan kamu bisa memperkuat si dede yang ada di dalam sana loh," timpa Bayu dengan senyum dan tawa nakalnya pula.


"Mas, tunggu-tunggu! Berenti dulu ketawanya!" Ucap Nayla yang menghentikan tawa renyah Bayu.


"Apa sayang? Kenapa kamu menghentikan tawa Mas hum?" Tanya Bayu seraya membelai pipi Nayla dengan penuh cinta.


"Tadi apa maksud perkataan Mas, dengan memperkuat si Dede yang ada di dalam sana? Dede siapa yang Mas maksud hah? Di dalam mana coba, di dalam lubang hidung? Nay kok jadi mendadak Oon gara-gara denger ucapan Mas barusan ya," tanya Nayla yang membuat Bayu kembali tertawa mendengar pertanyaan polos istrinya.


"Hahahaha Nayla... Ternyata kamu gak ngerti maksud ucapan Mas, tapi kenapa kamu ketawa tadi sayang?" Tanya Bayu yang malah mendapat cubitan mematikan dari Nayla di pinggangnya.


"Sakit Nay, ampun.... Ampunn sayang," rintih Bayu yang memegangi pergelangan tangan Nayla yang mencubit pinggangnya.


"Cepet jawab, jangan ketawa mulu, Mas!" Pinta Nayla yang belum melepaskan cubitannya. Tawa Bayu sirna dari wajahnya, berganti dengan wajah meringis kesakitan atas perbuatan istrinya.

__ADS_1


"I-iya tolong lepas dulu sayang," pinta Bayu dengan wajah meringis dan memohon, yang kemudian membuat Nayla melepaskan cubitannya di pinggang Bayu.


"Sakit banget sayang, cubitan kamu tuh, nanti tolong ya, anak kita jangan di cubit kaya gini, cukup Papinya aja, kasian banget nanti anak kita,soalnya cubitan kamu sakit banget," ucap Bayu yang mengusap pinggangnya yang sakit dicubit Nayla.


"Gak janji, kalau nakal harus dapat hadiah dari Maminya lah pasti, cepet jelasin kalau gak mau jelasin, cubit lagi nih!" jawab Nayla dengan wajah juteknya.


"I-iya jangan-jangan, cukup cubitannya sayang, Mas akan jelasin ya sama kamu, tentang makaud ucapan mas tadi," ucap Bayu yang ketakutan dengan cubitan Nayla. Kedua tangannya menahan tangan Nayla yang hendak mencubit pinggangnya kembali.


"Sini sayang, peluk Mas! Mas akan jelasin sambil peluk kamu hum," tangan Bayu yang menahan kini menarik lengan Nayla agar masuk kedalam pelukannya.


Nayla pun masuk kedalam pelukan Bayu yang hangat dan nyaman itu. Ia membenarkan posisi kepalanya di dada bidang suaminya, hingga ia merasa nyaman di dalam sana.


"Begini sayang, sepertinya Mas menduga rasa sakit kepala dan pusing yang kamu rasakan sekarang ini bukan karena penyakit berbahaya yang ada di diri kamu pasca operasi yang kamu jalani, tapi Mas rasa kamu tengah mengandung buah cinta kita. Adik Sultan sepertinya akan segera launching sayang," terang Bayu yang mengusap lembut punggung Nayla.


Nayla yang mendengar penjelasan Bayu, langsung saja mengurai pelukannya pada sang suami. Ia menatap lengkang wajah bahagia yang terpancar dari wajah suaminya itu.


"Serius Mas, cebong kamu udah tumbuh di dalam rawa-rawa aku?" Tanya Nayla dengan bahasa Absurdnya.


"Gak ada sebutan yang lebih indah dari kecebong sayang, ini calon anak kita loh?" Tanya Bayu yang berusaha lebih sabar menghadapi Nayla sekarang.


"Gak ada, ntar aku ganti kalau udah tahu jenis kelaminnya." Jawab Nayla cuek dan malah mengusap perutnya yang masih rata.


"Baik-baik disini ya sayang, besok kita akan minta ibu Amel untuk buatin rujak mangga lagi ya, oh iya sama rujak kangkung," ucap Nayla sembari mengusap-usap perutnya.


"Mas, kira-kira Sultan senang gak yah punya adik? Soalnya dia kayanya belum mau punya adik, Mas?" Tanya Nayla yang menatap Bayu yang tengah menatap tangan Nayla yang sedang mengusap-usap perutnya.


"Nanti akan Mas kasih pengertian, asal kita tidak berubah dan terkesan mengabaikannya, dia pasti akan bisa mengerti." Jawab Bayu dengan menatap hangat wajah istrinya.


"Ok deh kalau gitu Mas, tapi kita belum periksa loh sama Dokter kandungan, aku hamil itu kan baru apa kata kamu, bukan kata Dokter," sahut Nayla yang mengingatkan Bayu, tentang rencananya mencari Dokter Edo untuk segera mendatangkan Dokter spesialis kandungan untuk memeriksa kehamilan istrinya.


"Iya sayang, tadi Mas mau pergi itu mau cari Dokter Edo. Sebenarnya Dokter Edo sudah merencanakan pemeriksaan kamu dengan Dokter spesial kandungan, tapi kamu____" ucapan Bayu terpotong karena Nayla menyelanya.

__ADS_1


"Udah gak usah banyak tapi, sekarang pergi deh sana Mas, cari Dokter Edo. Jangan balik kesini kalau gak bawa Dokter kandungannya. Aku udah penasaran pengen tahu aku beneran hamil apa gak Mas," sambung Nayla yang memerintahkan suaminya seenak jidatnya sendiri saja.


Bayu yang sekarang sudah tak punya taring dihadapan Nayla, segera patuh dan menurut dengan perintah istrinya yang berlagak seperti Bos itu.


__ADS_2