Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 225


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Amel telah tiba di Villa keluarga Balson. Sesuai kesepakatan Amel dan juga Nayla turun terlebih dahulu.


Endah dapat melihat dengan jelas dari dalam mobil. Beberapa pria dengan tubuh tinggi tegap telah menunggu kedatangan kedua sahabatnya ini.


Kedatangan Amel dan Nayla disambut tepukan tangan oleh kumpulan para pria tersebut. Jujur Endah bergidik ngeri dengan jajaran pria yang sedang menunggu kedua sahabatnya ini.


"Ya. Tuhan lindungilah kedua sahabatku, kembalikan mereka bersama orang tua mereka dengan selamat tanpa kurang satu apapun." Ucap Endah yang terus memanjatkan doa untuk kedua sahabatnya.


Kali ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Endah berdoa dengan tubuh bergetar. Dadanya sesak menahan tangis. Ia begitu terharu dengan ketegaran, keberanian serta ketangguhan Nayla dan Amel demi menyelamatkan kedua orang tua mereka.


Sementara itu Nayla dan Amel yang terus berjalan selangkah demi selangkah menghampiri Barnes dan kawan-kawannya.


Keduanya sama sekali tak gentar menghadapi deretan para pria bertubuh tinggi tegap dan kekar yang sudah menatap keduanya dengan tatapan memangsa.


"Welcome to the hell Nayla, Amel." Sapa Barnes sembari merentangkan tangannya dan menunjukkan sebuah tungku api yang besar.


Deg!


Jantung Nayla saat ini rasanya seperti terhunus pisau belati. Kenangan kelamnya seakan muncul kembali dalam ingatannya.


"Naufal!" Cicit Nayla lirih, saat ia kembali mengingat pria di masa lalunya, yang merenggang nyawa karena sangat menghormati dan menghargai seorang wanita.


Nayla mengepalkan kedua buku tangannya, hingga terlihat putih memucat.


"Tahan emosimu, Nay!" Cicit Amel yang paham dengan apa yang kini Nayla rasakan.


Karena Amel pun juga merasakan apa yang Nayla rasakan kini. Kecewa pada pria yang katanya mencintainya, namun malah berniat menodai dirinya dan berujung nyawa seseorang yang tak berdosa melayang karena berusaha melindunginya.


"Percayalah aku akan menghabisi mereka!' cicit Nayla geram.


"Me too, Nay." Sahut Amel dengan senyum yang sangat manis.


"Dimana kedua orang tua kami?" Tanya Amel dengan lantang pada Barnes yang malah menjadi baham tertawaan Barnes dan kawanannya.


"Sabar sayang, mereka dalam keadaan baik-baik saja. Kalian jangan mengkhawatirkan mereka. Sebentar lagi mereka akan berada di sini untuk menyaksikan kedua putri mereka di kremasi dalam keadaan hidup-hidup. Hahahaha..." Jawab Barnes dengan tawanya yang menggelegar.

__ADS_1


Tawa Barnes ini rupanya memancing Nayla untuk ikut tertawa. Suara tawa Nayla ini ternyata lebih menggelegar dari pada tawa Barnes.


"In your dreams Barnes. In your dreams. Hahahaha...."


Sementara itu di dalam Villa. Ketiga pasang orang tua ini begitu mengenali tawa khas Nayla yang sangat menyakiti gendang telinga mereka itu. Menyadari betul jika sosok putri yang selama ini bertingkah manja, menyebalkan, materialistis dan banyak maunya itu sudah datang untuk menyelamatkan mereka.


"Nayla!" Cicit mereka kompak.


"Nayla sudah datang Ayah. Sebentar lagi kita akan terbebas dari sini." ucap Riska pada Gunawan suaminya.


Berbeda dengan Riska yang senang putrinya datang. Gunawan malah terlihat sedih dan khawatir dengan nasib putrinya.


"Kenapa kamu datang ke sini Nak? Ya Tuhan tolong lindungi putriku. Sungguh mereka bukanlah lawan yang imbang untuk mu, sayang." Batin Gunawan yang kini menitikkan air mata.


Begitu pula dengan kedua besannya yang sepemikiran dengan Gunawan. Sangat kontras dengan pikiran Riska yang sangat percaya dengan skill putrinya yang tak diketahui suami dan kedua besannya.


"Nayla bunda di sini Nak!!" Pekik Riska sekuat tenaga.


Suara Riska sangat menggema di dalam Villa. Suara uang tak jaih beda dengan tawa menyebalkan Amel itu berhasil menembus pendengaran Nayla yang sangat tajam.


"Trabas! Sikat sampai habis!" Sahut Riska kembali dengan pekikan suaranya.


Rupanya sahutan Riska terhadap ucapan Nayla mengundang tatapan dari suami, kedua besannya dan juga orang tua sahabat karib putrinya, yang bertanya-tanya apa maksud dari sahutan dirinya pada putrinya itu.


"Kuy Bunda!" Kembali Nayla menyahuti balik teriakan dirinya.


"Bunda! Apa maksud dari ucapan kalian berdua? Apa itu trabas, sikat sampai habis dan kuy?" Tanya Gunawan dengan lirikan tajam pada istrinya.


"Hah? E-eee bagaimana ya? I-itu eee... sepertinya Bunda tidak bisa jelaskan detailnya Ayah. Nanti Ayah bisa lihat sendiri apa yang dilakukan putri kita untuk membebaskan kita dari sini." Jawab Riska yang merasa kesulitan untuk menjawab pertanyaan suaminya.


Tak lama kemudian beberapa pria tinggi tegap masuk ke dalam ruangan di mana mereka disekap. Mereka di bawa menuju halaman depan Villa dimana putri-putri mereka berada.


Saat para tawanan mereka dipersilahkan duduk. Barnes mulai berpidato menceritakan mengapa mereka diculik dan dijadikan tawanan.


Mereka terbelalak tak menyangka dengan apa yang dilakukan Nayla dan Amel. Mereka seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan putri-putri mereka. Terkecuali Riska yang mengetahui segala hal tentang putrinya. Tak ada yang dapat disembunyikan seorang anak dari ibu yang mengandung dan melahirkan dirinya.

__ADS_1


"Sudah cukup kultum tak berfaedah mu Barnes hahaha...." Pekik Nayla yang kemudian diakhiri dengan tawanya yang menggelegar.


"Lihatlah betapa beraninya putri kalian yang manis ini menyuruh ku untuk berhenti bicara." Ucap Barnes sembari menunjuk Nayla yang masih berdiri di posisinya.


"Tentu saja putriku berani bicara lantang pada manusia seperti mu. Kau pikir aku akan terpengaruh dengan cerita dongengmu, Barnes. Hahaha..." Sahut Riska dengan gaya bicara yang sebelas dua belas dengan putrinya.


"Aku tahu apa yang Alben dan Alvin lakukan pada Amel dan juga Naufal, sehingga memancing emosi putriku. Sebagai sahabat, mana bisa ia membiarkan sahabatnya ingin di nodai dan sebagai seorang kekasih mana bisa ia terima kekasihnya di bunuh dan di kremasi di depan matanya. Keluarga kalian yang kejam bukan putriku." Ucap Riska sengan lantang meluruskan tuduhan dan tudingam Barnes pada putrinya.


Barnes yang tak terima dengan kelancangan Riska langsung saja menampar pipi Riska.


Plakk!!


Wajah Riska seketika berpaling ke kiri. Bukannya meringis kesakitan, Riska malah tertawa menyeramkan.


"Kau memukulku? Bersiaplah mendapatkan balasan dari putriku." Ucap Riska yang belum berniat untuk kembali menatap Barnes.


"Nayla!" Pekik Riska seakan menjadi komanda bagi putrinya yang memang sudah berada tepat di belakang Barnes.


"Hallo Om Barnes, hahaha...." Nayla tertawa setelah menepuk keras pundak Barnes. Tak hanya tepukan yang Nayla berikan pada Barnes, tapi juga suntikan yang akan membunuh Barnes secara perlahan dalam satu jam ke depan.


"Kau suka panggilan ku pada mu, Om? Hahaha... Sangat manis bukan? Kemarilah! Mari kita bicara, tolong bebaskan kedua orang tuaku.dan mertua ku. Sebelum kalian menghabisiku, bagaimana kita bersenang-senang dulu humm?" Ucap Nayla yang merangkul Barnes ke kumpulan para pria tersebut.


"Ide bagus," jawab Barnes yang tergoda dengan dada Nayla yang sengaja ia tempelkan dan gesekan ke lengan Barnes.


"Ya, kita deal sepakat. Ok biarkan mereka pergi. Lalu kita bersenang-senang. Mana wine, Vodka, wiski dan Tequila yang kalian miliki keluarkan Babe.... Hahahaha.." ucap Nayla sembari berkedip pada sang Bunda.


"Sinting. Kau selau gunakan cara ini untuk mengelabuhi lawanmu Nay." Cicit Amel yang masih setia berdiri di tempatnya semula.


"Ok, aku akan membebaskan mu, asal kau mau melayaniku putraku dihadapan mertuamu Nay?" Tantang Barnes pada Nayla.


Tanpa ragu Nayla menerimanya.


"Ok, siapa takut." Jawab Nayla tanpa berpikir panjang.


"Daddy kau dengar jawaban menantu kita? Bagaimana nasib Bayu?" Cicit Ratna pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2