Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 119


__ADS_3

"Aku gak mau lanjutin kuliah, otak aku itu udah malas mikir. Mikirin kamu saja otak aku udah ngebul apalagi mikirin pelajaran, aku gak mau." Tolak Nayla yang terus memanyunkan bibirnya.


Ya. Nayla terus saja melakukan penolakan sejak Bayu memberitahukannya tentang pesan yang disampaikan Andre melalui Leon. Nayla harus mau melanjutkan kuliahnya bersama tiga teman barunya selepas melahirkan nanti. Dan kampus yang akan menjadi tempat menuntut ilmu adalah kampus milik keluarga Kusuma.


"Kalau Papi bisa menolaknya, sudah Papi tolak sejak awal Mih, tapi apalah daya suami mu ini hanya butiran debu bagi mereka." balas Bayu yang seakan pasrah tak bisa berbuat apa-apa.


Padahal ia langsung menerimanya tanpa penolakan. Di hatinya sungguh gembira, jika istrinya bisa meneruskan kuliahnya kembali. Mungkin jika bersama ketiga istri teman bisnisnya itu, Nayla akan bersemangat meneruskan kuliah.


"Nasib punya suami cemen ya gini, terima sajalah, tapi lihat saja nantilah." cicit Nayla yang membuat Bayu menatap sinis dirinya dari balik kemudi.


"Cemen dia bilang? Awas ya Mami, mulutmu itu memang harus dihukum supaya gak asal ngomong," gerutu Bayu di dalam hatinya.


Bayu tak terima dianggap cemen oleh istrinya. Ia mulai memikirkan hukuman apa yang cocok untuk istri tercintanya yang dianggap sangat menyebalkan oleh ketiga teman bisnisnya.


Sedangkan sang istri tengah berpikir keras bagaimana cara menggagalkan acara melanjutkan kuliahnya setelah melahirkan anaknya nanti. Bukan karena ia ingin berleha-leha tapi lebih kepada tak mau kehilangan masa-masa emas bersama anaknya yang tak mungkin terulang kembali.


"Kamu itu sekali-kali harus berkorban untuk kebahagiaan kakak mu Hendra. Kalau kamu gak mau lanjutin kuliah sama Geng kamu itu. Andre gak akan bantu bisnis keluarga kamu dan kamu tahu sendiri,dia itu tidak menerima penolakan." Bayu coba memberikan pengertian pada Nayla.


"Gak banget deh Pih, yang bahagia cuma Mas Hendra. Sedangkan yang menderita aku. Otak yang ngebul selama dua tahun, bukan dia tapi aku. Mikirin bisnis perhaluan gak ada duitnya itu rasanya asem banget Pih, dapat pusingnya tapi gak dapat uangnya. Dia mah bisa enak-enakan bercocok tanam di rawa-rawa sama si Amel. Lah aku bercocok tanam sama buku. Duh gimana nasib anak-anak aku, kalau Maminya sibuk nanti, sibuk nugas, sibuk kuliah? Dapat Mami pastikan tuh pisang raja juga bakal pensiun dini lebih cepat." sahut Nayla dengan kata-kata absurdnya yang masih memikirkan nasib anak-anaknya nanti.


Bayu tersenyum mendengar sahutan istrinya. Ia menghentikan laju kendaraannya tepat di depan kediaman kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kamu kuliah akan bawa anak-anak kita, karena kelas kalian akan di buat khusus dan dosen-dosen yang disiapkan juga khusus hanya untuk kalian." Ucap Bayu sembari memandangi wajah istri cantiknya itu.


Tangannya mulai membelai pipi istrinya kemudian meraba bibir Nayla yang terlihat sedikit membengkak karena hormon kehamilannya. Hasrat hati ingin bermesraan di dalam mobil sebelum bertemu anaknya yang akan mencuri perhatian istri cantiknya ini, namun sayang Bayu hanya dapat omelan dari istrinya.


"Mana ada kuliah bawa anak? Mana konsentrasi belajar Pih. Itu bukan kuliah tapi posyandu. Nanti ada anak yang minta susu, ada yang pempersnya bocor, ini itu dan masih banyak lagi. Aduh..uhhhghh ini suami otaknya udah pada konslet apa ya? Dikira jagain anak kaya jagain boneka." ucap Nayla yang langsung memilih keluar dari mobil dan meninggalkan Bayu seorang diri di dalam mobil.


Nayla langsung menemui putra sambungnya yang ternyata tengah berenang bersama kedua mertuanya. Melihat Sultan sedang asyik berenang. Nayla yang memiliki waktu luang segera menghubungi Jessica.


"Hallo Jess, suami lo dimana?" tanya Nayla yang langsung menanyakan keberadaan Andre.


"Ada di ruang kerjanya. Kenapa? Jangan bilang lo kangen sama laki gue Nay?" jawab Jessica yang mnebak hal yang tidak mungkin terjadi.


"Iya gue kangen sama laki lo. Kangen nabok suami lo pakai sepatu gue." balas Nayla sewot yang malah membuat Jessica tertawa.


"Awas lo jangan terlalu benci sama laki gue, nanti anak lo mirip dia." ledek Jessica lagi pada Nayla.


"Cih, amit-amit. Mana bisa yang nabur bibit laki gue masa muka mirip laki lo. Jess gue nelepon lo mau nanya sesuatu. Benar apa gak nih rencana lo mau lanjutin kuliah?" tanya Nayla.


"Oh, Bang Leon sudah ngomong ya sama lo? Gimana lo mau kan?" Jessica malah balik bertanya tentang kesediaan Nayla.


Memang pada dasarnya, Jesiccalah yang meminta suaminya mengatur segala sesuatunya agar Nayla mau ikut kuliah bersamanya.

__ADS_1


"Lo yang benar ajalah Jess, gue gak minat sekolah tinggi-tinggi. Satu hal yang perlu lo tahu otak gue gak nyampe,buat mikirin pelajaran, apalagi udah punya bocil. Gue gak mau kehilangan moments berharga gue sama anak-anak gue. Masa kecil mereka gak bisa di pause apalagi di repeate. Gue udah punya segalanya, gue mau cari apalagi. Gue akan tetap belajar tapi gak harus kuliah juga. Meskipun kepepet harus kuliah juga. Ya nanti, gak dalam watu dekat kaya gini. Bagi gue sebuah gelar gak penting-penting amat. karena gue hidup gak pengen dipandang gimana gitu sama orang. Gue tahu lo mau kuliah mau ngimbangin pendidikan laki lo, tapi lo bakal ngorbanin anak lo dan nyiksa diri lo sendiri Jess. Lo yakin apa bisa bagi waktu untuk semuanya, apalagi lo punya anak kembar? Mungkin bagi lo anak diasuh sama baby sister it'ok tapi gak bagi gue Jess, Gue suka cemburu kalau Sultan lagi gak mau sama gue, atau Suster Marni lebih tahu tentang Sultan ketimbang gue. Perih hati gue Jess asal lo tahu aja," jawab Nayla panjang kali lebar yang membuat Jessica terdiam.


Jessica terdiam dan berpikir apa yang dibicarakan oleh Nayla. Memang ada benar yang diucapkan Nayla, hampir tak ada yang salah satu pun.


"Jadi baiknya gimana ya Nay?" tanya Jessica yang terlihat bingung menentukan keinginannya sekarang. Ia benar-benar dilema.


"Kenapa lo yang notabennya anak pintar, berprestasi dapat beasiswa, tapi kenapa jadi kelihatan bego ya di mata gue? Kaya gini aja masih nanya sama gue," tanya Nayla yang malah meledek Jessica.


"Sialan lo. Masalah kaya gini gak ada hubungannya dengan kepintaran akademis. Jam terbang gue sama jam terbang lo, masih banyakan lo Nay. Udah cepet baiknya gimana solusinya apa nih? Gue butuh solusi bukan hinaan lo Naylul." omel Jessica yang kembali meminta solusi pada Nayla.


"Gampang saja sih gue mah orangnya, gak dibuat pusing, klo lo mau tetap lanjutin kuliah. Lo bisa lanjutin saat anak kita udah masuk sekolah dasar. Mereka sekolah, kita kuliah, kan enak tuh. Dan jam kuliah kita harus selesai dua jam sebelum anak kita pulang sekolah. Gimana baguskan ide cemerlang gue? Dia belajar, kita belajarm dia main kita main. Kan enak tuh," jawab Nayla dengan pemikiran cerdasnya.


"Ok deal. Pinter juga lo Nay," puji Jessica yang membuat hati Nayla melambung tinggi.


"Iyalah, biar kata otak gue pas-pasan. Tapi kalau dipakai buat cari solusi dia itu pasti tepat." Balas Nayla dengan sombongnya.


"Bisa aja lo. Lo tadi ketemu Anna gak di kantor abang gue?"


"Ketemu. Kenapa?"


"Ngobrol apa lo sama Anna, Nay?" Tanya Jessica yang terdengar suaranya begitu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Lo mau tahu aja, apa mau tahu banget?" Nayla balik bertanya pada Jessica. Ia berusaha membuat Jessica penasaran daan masuk kedalam perangkapnya. Nayla akan membuat Andre membantu kakaknya secara cuma-cuma tanpa embel-embel imbalan dan te.tek bengek.


__ADS_2