Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 246


__ADS_3

Di sisi lain, di sudut kota C. Tuan Charles dan Travis terlihat cukup terkejut, saat mendapati kediaman Travis yang terlihat sepi tanpa penghuni.


Rumah mewah di pusat kota C itu, memang nampak tak seperti biasanya. Seorang penjaga yang biasa membukakan pintu pun tak ada.


Tuan Charles dan Travis yang merasa curiga pun memutuskan untuk tidak menurunkan Anderson. Travis malah menghubungi seorang yang ia percaya dapat mengurus dan merawat Tuan Muda Anderson, sesuai arahan Tuan Charles.


"Gio, bisakah kau datang ke kediamanku?" Ucap Travis saat panggilan teleponnya telah terhubung dengan Gio.


Salah seorang kepercayaan Tuan Charles yang sudah tak lagi bekerja untuk Tuan Charles. Pria muda ini memilih pensiun dari dunia gelap yang mensejahterakan hidupnya demi merawat kedua orang tuanya yang terbaring lumpuh.


"Ada apa Boss? Apa ada sesuatu yang penting?" Sahut Gio yang langsung melemparka pertanyaan pada Travis.


"Tuan besar sedang dalam masalah. Bisakah kau merawat Tuan Muda yang dalam kondisi sakit?" Jawab Travis, ia menanyakan kesediaan Gio untuk merawat Tuan Muda Anderson.


Besar harapan Travis, Gio mau menerima tugas yang tak mudah ini. Sejena Gio terdiam. Mungkin ia sedang berfikir untuk menerima tugas dari Tuan nesarnya yang sangat berjasa pada hidupnya.


"Bagaimana Gio? Apa kau bersedia? Tolong beri kami jawaban! Karena waktu kami sudah tak lama lagi. Kami sedang dikejar waktu." Desak Travis yang ingin segera mendengar iawaban Gio.


"Bawalah, Tuan Muda ke sini Tuan. Mohon maaf, saya tidak bisa datang menjemput Tuan Muda seperti yang Boss mau. Sungguh bukan maksudku lancang, tapi karena aku tak bisa meninggal kedua orang tuaku." Jawab Gio yang berhasil membuat Travis bernafas lega.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengirimnya ke kediamam mu." Ucap Travis yang kemudian menutup panggilan teleponnya.


Travis segera memberi tahukan kesediaan Gio untuk merawat Tuan muda Anderson. Ia juga pamit untuk meninggalkan Tuan besarnya sejenak, karena harus mengantarkan Tuan muda Anderson.


Sebelum mobil Travis yang membawa putranya pergi, Tuan Charles menyempatkan waktu untuk bicara pada putranya yang hanya bisa menatap kosong langit-langit mobil sembari menitikan air matanya.


"Anderson. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Jika selepas hari ini kamu tidak lagi bisa menemui Daddy. Itu artinya mereka telah berhasil membuang Daddy ke lautan lepas." Tuan Chares bicara dengan bibir yang cukup bergetar hebat.


Ia sudah dapat membayangkan, apa yang terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Ia paham kini ia berhadapan dengan siapa. Ia tahu, lawannya bukan lagi Tuan Brata tapi Tuan Adam.


"Dengar Nak! Sebagai seorang anak, kau berkewajiban membalaskan dendam Daddy mu ini, dan menjadi pahlawan untuk Mommy mu, dengan cara membebaskan Mommy dan para istri-istri Daddy yang tak bersalah. Jangan biarkan mereka membusuk di jeruji besi. Bersemangatlah untuk sembuh Nak!" Ucap Tuan Charles yang kemudian mengecup kening putranya yang mungkin untuk terakhir kalinya, dengan sedikit menitikan air mata.


Setelah selesai bicara dan mengucapkan selamat tinggal pada Anderson. Tuan Charles segera menutup pintu mobil. Ia membiarkan Travis membawa anaknya pergi.


"Ya Tuan muda," sahut Travis dibalik kemudinya.


"Pergilah menyelamatkan dirimu! Jangan terlalu jauh mengikuti langkah Daddyku yang salah." Ucap Anderson yang menginginkan Travis tak ikut gugur dalam permasalahan ini.


Mendengar ucapan Anderson, Travis malah tersenyum mengejek pada Tuan mudanya ini. Bahkan ia menghentikan laju kendaraan yang ia kemudikan.

__ADS_1


"Tuan muda bicara apa? Bukankah Tuan muda tahu, saya tidak mungkin meninggalkan Tuan besar, yang sudah sangat berjasa di hidup saya. Saya ini bukan siapa-siapa dan buka apa-apa. Jika saja saya tidak bertemu Tuan besar, mungkin saya akan tetap menjadi tukang semir sepatu dipinggir jalan." Balas Travis yang begitu mengingat kebaikan Tuan Charles padanya.


"Kau tidak mengenal bagaimana Daddyku, Travis. Sayangi nyawa mu, kau masih muda, kenapa memilih mati sia-sia dengan pria tua bangka itu?" Ucap Anderson yang kali ini tak sama sekali mendapatkan balasan dari Travis.


Kini Travis memilih lebih cepat, mengantarkan Anderson ke sebuah kedai miras dipinggiran kota C.


"Tolong panggilkan Anji, katakan Travis datang." Ucap Travis pada seorang wanita penjaga warung miras.


Wanita itu langsung masuk ke dalam dan tak lama kemudian Anji datang, dengan wajah senang kedatangan teman lamanya.


"Hai sobat, sudah lama tak bertemu, ku kira kau sudah melupakan ku setelah aku meninjam uang padamu untuk usaha ku ini." Sapa Anji sembari memukul lengan Travis.


"Hahahaha, aku sibuk. Bukanya tak ingin bertemu dengan mu. Nji, kali ini aku butuh bantuan mu. Kau masih ingat, rumah anak buah ku yang sering kau antarkan uang keuntungan bisnis mu ini?"


"Ya tentu saja. Kau butuh bantuan apa Vis? Aku aka siap membantumu."


"Tolong antar anak Tuan besar ku ke kediamannya. Hanya itu. Berusahalah untuk tutup mulut dengan semua ini, Nji. Lawan ku kali ini bukan orang sembarangan." Ucap Travis memohon.


Anji menganggukkan kepalanya. "Baik, aku akan menolong mu dan tutup mulut."

__ADS_1


Demi mempersingkat waktu. Travis dan Anji segera memindahkan tubuh Anderson ke mobil tua milik Anji. Setelah memastikan Anji pergi mengantar Anderson.


Travis lantas meninggalkan kedai miras milik Anji. Di pertengahan jalan dekat kediamannya. Travis membuang ponselnya ke salah satu saluran pembuangan air. Ia tak ingin jika memang malam ini nyawanya akan ikut dihabisi oleh Tuan Adam. Mereka akan menemukan ponselnya dan akan mendapatkan jalan untuk menemukan Anderson.


__ADS_2